Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 58


__ADS_3

Karena, semakin lama dia berdekatan dengan tuan Lincoln. Rasa cintanya terasa tumbuh semakin besar, padahal mereka sudah berpisah sangat lama.


"Tidak apa-apa, aku---"


"Aku ingin berbicara dengan Kakak ipar," putus Leandra.


Sebenarnya Leandra berkeinginan untuk mempertemukan tuan Lincoln, Lili dan juga Lindsay dalam satu ruangan yang sama. Karena menurut Leandra, mereka bertiga itu perlu bicara dari hati ke hati.


Harus ada salah satu di antara Lili dan juga Lindsay yang memberikan keputusan, agar tuan Lincoln bisa mengambil sikap.


Awalnya Leandra memang tidak ingin jika Lindsay berpisah dengan tuan Lincoln, tetapi saat melihat tatapan mata dari Lili dan juga tuan Lincoln, Leandra sadar jika keduanya masih memiliki rasa cinta yang begitu kuat dan begitu besar.


"Baiklah, nanti aku akan pulang. Jangan lupa suruh sopir untuk menjemputku," ucap Lili.


Leandra tersenyum lalu menganggukan kepalanya, tentu saja dia tidak akan menyuruh sopir untuk menjemput Lili. Karena dengan seperti itu, rencananya pasti akan berhasil.


"Ya, Tante," jawab Leandra.


Leandra menghampiri tuan Lincoln dan juga Lindsay, lalu dia memeluk ayah dan ibunya secara bergantian.


"Aku antar kakak ipar pulang dulu, Mom, Dad." Leandra melerai pelukannya.


Tuan Lincoln setuju jika Leonel lebih baik diantar pulang saja, karena keadaan pria itu terlihat tidak baik-baik saja.


Tuan Lincoln bahkan malah teringat akan dirinya yang dulu kehilangan Lili, dia menjerit dan menangis seperti orang gila.


Apalagi ketika dia melihat tespek dengan garis 2 berwarna merah yang menandakan jika Lili sedang hamil, dia merasa menjadi seorang pria yang gagal karena tidak bisa melindungi istrinya.


Melindungi istrinya dari kekejaman ayah kandungnya sendiri, jika mengingatkan hal itu rasa bersalahnya terhadap Lili semakin memuncak.


Tuan Lincoln ingin segera menebus kesalahannya di masa lalu, tetapi dirinya harus benar-benar memikirkan semuanya dengan sebaik-baiknya.


Karena dia tidak ingin menyakiti ketiga wanita yang begitu penting di dalam hidupnya itu, dia tidak ingin menyakiti siapa pun. Namun, dia ingin berusaha untuk membahagiakan ketiganya.


Walaupun dulu Lindsay sudah melakukan kesalahan yang fatal, tetapi selama dua puluh tiga tahun ini Lindsey menemani dirinya dengan sabar.


Bahkan, Lindsay selalu memperlakukan dirinya dengan baik. Walaupun dirinya selalu memperlakukan Lindsay dengan kurang baik, tetapi wanita itu begitu sabar menghadapi sikapnya.


"Hem, pergilah. Jangan macam-macam, oke?" ucap Tuan Lincoln.


"Tidak akan, satu macam saja. Paling aku akan mengerjai kakak iparku yang jelek itu," jawab Leandra.


"Lea!" sentak Tuan Lincoln.

__ADS_1


"Hanya bercanda," ucap Leandra seraya mengelus lembut lengan ayahnya.


Setelah mengatakan hal itu, Leandra nampak menghampiri Leonel. Kemudian dia mengajak Leonel untuk pulang ke kediaman Harold.


Awalnya Leonel tidak mau pergi dari pemakaman Leana, karena dia berkata jika dirinya masih ingin bersama dengan istrinya tersebut.


Dia masih berharap jika istrinya itu akan kembali menemui dirinya, dia merasa tidak masalah harus menunggu Leana dengan lama.


Satu hal yang terpenting bagi Leonel, Leana datang untuk memberikan senyuman terbaiknya dan memberikan pelukan hangatnya.


"Bodoh! Dasar bodoh, kamu itu terlalu berhalusinasi. Orang yang sudah meninggal itu sudah pulang ke surga, tidak mungkin dia masih berkeliaran di sekitar pemakaman!" sentak Leandra mengingatkan Leonel.


"Tidak Leandra, tadi dia datang. Dia sangat cantik sekali, dia memakai gaun berwarna biru langit. Dia datang dengan senyum manisnya, Lea-ku pasti akan datang lagi. Aku akan menunggunya," jawab Leonel.


Pantas saja Lukas dan juga Lyra bisa dengan mudah membohongi Leonel, karena ternyata pria yang berada di hadapannya itu benar-benar gampang dibutakan oleh cinta.


Jika Leonel sudah mencintai seorang wanita, maka pria itu akan bertingkah seperti orang yang kehilangan akal sehatnya.


"Ayo cepat pulang saja," kata Leandra seraya membantu Leonel untuk bangun.


Tanpa banyak bicara Leonel langsung menuruti apa yang Leandra katakan, pria berusia dua puluh tujuh tahun itu pun mengikuti langkah Leandra menuju parkiran.


"Silakan, Tuan!" ucap Pak sopir seraya membukakan pintu mobil untuk Leonel.


Setelah Leandra dan juga Leonel masuk ke dalam mobil dan duduk dengan nyaman, pak sopir langsung melajukan mobilnya menuju kediaman Harold.


Leonel pulang ke kediaman Harold dengan perasaan campur aduk, padahal pagi ini dia ke makam istrinya karena ingin mengenalkan tuan Lincoln sebagai ayah dari Leana.


Dia ingin memberitahukan istrinya jika Leana masih memiliki ayah, sejak kecil Leana selalu bertanya di mana ayahnya. Lili hanya menjawab dengan senyuman.


Tidak pernah sama sekali Lili menjelaskan siapa ayah dari Leana, hal itu membuat selalu membuat Leana menangis.


Jika sudah seperti itu, Lili hanya akan membawa Leana ke dalam pelukannya. Dia akan berusaha untuk menenangkan hati putrinya. Beruntung Leana merupakan anak yang baik.


Namun, justru dengan pergi ke makam malah membuat dirinya mendapatkan kesedihan yang luar biasa. Karena tidak bisa memeluk istrinya dengan waktu yang lama.


"Mau langsung pulang atau mau pergi ke suatu tempat yang mungkin akan membuat hatimu merasa tenang?" tanya Leandra ketika melihat Leonel yang hanya diam saja.


Leonel menolehkan wajahnya ke arah Leandra sesaat, kemudian dia kembali menolehkan wajahnya ke arah jalanan.


Leandra hanya bisa menghela napas berat melihat kelakuan dari Leonel, karena itu artinya Leonel tidak ingin pergi ke mana pun.


Sepertinya, Leonel hanya membutuhkan waktu untuk masuk ke dalam kamar dengan memejamkan matanya untuk beristirahat.

__ADS_1


"Kalau begitu kita langsung pulang saja," ucap Leandra.


Beberapa saat kemudian, Leandra dan juga Leonel sudah sampai di kediaman Harold. Leonel langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


Leandra langsung mengikuti langkah pria itu, dia merasa khawatir jika Leonel akan melakukan hal yang tidak-tidak.


Tiba di dalam kamar, Leonel langsung mengambil foto pernikahannya dengan Leana. Kemudian, dia memeluk foto itu dan duduk seraya memejamkan matanya.


"Lea, aku rindu. Kenapa kamu pergi dengan sangat cepat, kenapa kamu bawa anak kita juga!" keluh Leonel.


Air matanya luruh kembali tanpa di minta, Leandra yang melihat akan hal itu langsung duduk tepat di samping Leonel. Lalu, dia menepuk-nepuk punggung Leonel dengan perlahan.


"Sudahlah, jangan menangis terus. Malu tau, punya badan gede tapi hati melankolis kaya gini," keluh Leandra.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Leandra, Leonel langsung membuka matanya. Lalu dia menatap Leandra dengan tatapan sangit.


"Sekarang kamu bisa berkata seperti itu, karena kamu tidak merasakan yang namanya kehilangan. Berbeda denganku yang kehilangan orang yang begitu aku cintai," kata Leonel.


Leandra langsung menghela napas dengan berat mendengar ucapan dari Leonel, tahukah Leonel sangat tahu jika wanita yang begitu dia cinta itu adalah kakaknya.


Bahkan, Leandra belum sempat bertemu dengan Leana semasa wanita itu hidup. Sudah barang tentu Leandra juga merasakan kehilangan yang luar biasa, belum bertemu tapi sudah kehilangan.


"Ya, kamu benar. Aku tidak pernah merasakan kehilangan, dahlah. Aku mau pulang saja, males nemenin cowok cengeng kaya kamu," ucap Leandra.


Setelah mengatakan hal itu, Leandra bangun dan hendak pergi meninggalkan Leonel. Sepertinya pulang ke kediaman Axton adalah hal yang lebih baik, pikirnya.


Karena Leonel juga sudah terlihat lebih tenang, tidak berteriak-teriak seperti saat di makam Leana.


"Tunggu sebentar, kamu mau pulang?" tanya Leonel.


"Iya, bosen aku tuh tinggal di sini. Bosen liatin kamu nangis," seloroh Leandra.


Leonel hanya menghela napas berat mendengar ucapan dari Leandra, kemudian pria itu kembali bersuara.


"Parfum kamu, kenapa begitu sama dengan Lea? Kamu mengingatkan aku pada wangi tubuh istriku, kenapa kamu harus memakai parfum yang sama?" tanya Leonel.


"Eh? Jangan kamu pikir aku memakai parfum ini karena meniru Lea-mu itu, aku memang menyukai wanginya. Dahlah, jangan nanya terus. Aku pulang dulu, jaga diri baik-baik. Jangan bunuh diri!" ucap Leandra yang terdengar sangat menyebalkan di telinga Leonel.


"Mana ada seperti itu, aku bukan lelaki lemah," ucap Leonel dengan kesal.


Leandra memandang Leonel dengan tatapan meremehkan, pria itu berkata jika dirinya tidak lemah. Namun, Leonel terus saja menangis seraya mendekap foto pernikahannya dengan Leana.


"Hilih! Ngga lemah emang, tapi---"

__ADS_1


__ADS_2