Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 64


__ADS_3

''Kak, jangan macam-macam!" kesal Leandra.


Leandra mencoba mendorong dada Leonel, karena pria itu kini semakin mendekat ke arahnya. Bahkan, jarak di antara mereka kini semakin terkikis.


Leonel tersenyum melihat ketakutan dari sorot mata gadis nakal itu, gadis yang selalu bersikap barbar dan berusaha untuk mencari ribut dengan dirinya.


"Hanya satu macam saja, aku hanya akan--"


Sebenarnya hati Leandra benar-benar merasa was-was dengan apa yang kini Leonel lakukan terhadap dirinya, tetapi gadis itu berusaha untuk bersikap tenang karena takut Leonel akan mengejek dirinya.


Tanpa Leandra ketahui, justru dengan bersikap seperti itu Leonel malah semakin menyukai gadis itu.


Leonel sangat suka akan sifat dari Leandra yang selalu berusaha untuk memperlihatkan jika dia adalah wanita yang kuat, Leandra tidak lemah.


"Hanya akan apa, Kak? Kamu jangan macam-macam!" ketus Leandra.


Leonel merasa begitu senang bisa mempermainkan gadis kecil di hadapannya itu, gadis yang selalu bersikap bar-bar dan juga suka mengerjai orang itu.


Kini Leonel merasa jika dirinya harus mengerjai gadis itu kembali, karena lagi-lagi Leandra sudah membahayakan nyawanya.


"Untuk saat ini aku tidak akan melakukan apa pun, tetapi besok setelah aku menikahimu... bersiap-siaplah. Karena setelah itu aku akan langsung memerawani kamu," celetuk Leonel.


Sontak Leandra langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada, matanya bahkan membulat dengan sempurna.


Bibir mungilnya pun terlihat menganga dengan lebar, Leandra begitu kaget dengan apa yang dikatakan oleh Leonel.


Dia tidak menyangka jika pria dewasa yang ada di hadapannya itu kini akan berkata seperti itu, sungguh ini di luar dugaan dari Leandra.


"Ja--jangan, Kak. Aku masih anak-anak, tungggu aku dewasa dulu. Baru Kakak boleh melakukan itu padaku," pinta Leandra memelas.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Leandra, Leonel terlihat memundurkan langkahnya beberapa kali.


Lalu, Leonel memindai penampilan Leandra dari atas kepala hingga ujung kaki. Tidak lama kemudian, dia tersenyum dan berkata.


"Tubuh kamu tidak terlalu kecil, walaupun memang kamu lebih pendek dari Lea. Dada kamu juga lumayan besar, pinggul kamu juga oke. Pasti kamu sudah sangat siap jika aku perawani," seloroh Leonel.

__ADS_1


Sontak ucapan dari Leonel membuat Leandra kesal, dia langsung menghampiri Leonel dan memukuli dada pria dewasa itu.


Leandra benar-benar kesal dengan apa yang dikatakan oleh Leonel, karena bisa-bisanya pria itu mengatakan hal tersebut. Hal yang dia rasa jika ucapan dari pria itu sangatlah vulgar.


"Dasar pria mesyum, bisa-bisanya kamu berkata seperti itu, hah?" kesal Leandra.


Mendapatkan perlakuan seperti itu dari Leandra, sontak Leonel langsung mencekal kedua pergelangan tangan dari gadis itu.


"Aduh! Ampun Leandra, ini sangat sakit. Apa kamu lupa kalau tadi aku hampir mati?" tanya Leonel dengan wajah dibuat semenyedihkan mungkin.


Melihat wajah Leonel yang seperti itu, hati Leandra merasa tidak tega. Dia bahkan berusaha untuk melepaskan diri dari Leonel dan membungkukkan badannya beberapa kali.


"Eh? Maaf, maaf. Habisnya aku kesal, Kakak juga sih yang ngomongnya ngelantur kaya gitu." Leandra menegakkan tubuhnya lalu mengusap-usap dada Leonel.


Leonel ingin sekali tertawa saat melihat wajah cemas Leandra, tetapi hal itu dia tahan karena takut Leandra akan marah kepada dirinya.


"Hem, sekarang mending kita temui daddy. Nanti dia keburu datang lagi ke sini," ajak Leonel seraya menarik lengan Leandra untuk keluar dari dalam kamarnya.


Leandra yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Leonel hanya terdiam seraya mengikuti langkah dari pria itu, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi karena mereka memang harus segera menemui tuan Lincoln dan mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh pria paruh baya itu.


Saat Leonel dan juga Leandra tiba di ruang keluarga, tuan Lincoln sudah duduk bersama dengan Lindsay dan juga Lili.


Baik Leandra atau pun Leonel, mereka hanya terdiam seraya menundukkan kepala. Tidak ada yang berani berkata apa pun, mereka seolah sudah pasrah dengan apa pun yang akan dikatakan oleh pria paruh baya itu.


Awalnya tuan Lincoln sempat menatap Leandra dengan tatapan berbeda, karena dia melihat putrinya memakai baju yang tidak biasa.


Terlebih lagi dia seakan melihat senyuman yang lain dari bibir Leandra, tetapi tidak lama kemudian tuan Lincoln nampak menggelengkan kepalanya.


Senyuman manis yang dia lihat hanya bayangan semu saja, karena pada kenyataannya Leandra tidak sedang tersenyum.


Leandra justru terlihat memberenggut, dia terlihat kesal. Namun, ada juga kesedihan dan penyesalan yang tuan Lincoln lihat dari raut wajah putrinya.


Tuan Lincoln hanya bisa menghela napas panjang, karena walau bagaimanapun juga dia merasa syok dengan apa yang tadi sudah dia lihat.


Walaupun dia sangat percaya jika Leonel bukanlah pria yang mampu melakukan hal yang tidak-tidak kepada Leandra, tetapi Leonel tetap harus bertanggung jawab dengan menikahi putrinya.

__ADS_1


Karena mereka sudah tidur bersama dalam keadaan polos, walaupun mereka berkata tidak melakukan apa-apa.


"Besok kita ke Gereja, kalian menikahlah di depan pendeta. Nanti setelah usia Leandra cukup, barulah kalian mendaftarkan pernikahan ke pencatatan sipil," ucap Tuan Lincoln pada akhirnya.


Usia Leandra baru menginjak delapan belas tahun, tentu saja di usia Leandra yang seperti itu belum memenuhi syarat nikah. Karena di tanah air syarat nikah untuk perempuan ketika perempuan itu berusia sembilan belas tahun.


"Yes, Dad," jawab Leonel.


Mendengar jawaban dari Leonel, Leandra langsung menatap Leonel dan juga tuan Lincoln secara bergantian.


Dia merasa tidak setuju jika harus menikah esok hari, karena dia tidak melakukan apa pun dengan Leonel. Walaupun pada kenyataannya memang mereka sudah tidur bersama dalam keadaan polos.


Namun, keperawanan yang masih tetap terjaga. Seharusnya mereka tidak usah menikah saja, pikirnya.


"Tapi, Dad. Kami tidak melakukan apa pun, kenapa harus menikah?" tanya Leandra.


Gadis nakal itu masih saja berusaha untuk membela diri, siapa tahu ayahnya itu tidak akan menikahkan dirinya dengan Leonel, pikirnya.


"Jangan bicara apa pun lagi, Lea! Sekarang pergilah ke butik bersama calon suami kamu," putus Tuan Lincoln.


Leandra benar-benar merutuki apa yang sudah dia lakukan, karena ternyata efek dari apa yang dia lakukan tidak main-main.


Dia harus menikah dengan pria yang tidak dia cintai, lebih parahnya lagi di harus menikah dengan kakak iparnya sendiri.


Leandra ingin kembali melayangan protesnya, tetapi ketika melihat wajah serius sang ayah, dia tidak berani mengatakan apa pun lagi. Akhirnya Leandra hanya bisa menghela napas panjang, lalu dia pun berkata.


"Baiklah, Daddy. Apa pun keinginan kamu, akan aku turuti," ucap Leandra pada akhirnya.


Setelah mengatakan hal itu, Leandra menolehkan wajahnya ke arah Leonel. Dia tersenyum kecut ke arah pria itu, lalu dia pun bertanya kepada pria itu.


"Kaka, apakah kamu sudah siap lahir batin menikah denganku? Aku ini bukan gadis manis, ayu dan penurut loh? Aku hanya gadis nakal yang suka membahayakan nyawa orang lain, Kakak serius mau nikah sama aku?" tanya Leandra seraya mengedip-ngedipkan matanya.


Jika tuan Lincoln tidak mau membatalkan pernikahannya dengan Leonel, setidaknya dia berusaha untuk mencoba menjelekkan dirinya agar Leonel tidak mau menikah dengannya.


Siapa tahu dengan Leandra berkata seperti itu, Leonel berubah pikiran dan memutuskan untuk tidak menikah dengan dirinya.

__ADS_1


Leonel yang mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Leandra langsung terkekeh, kemudian dia berkata.


"Aku---"


__ADS_2