
"Mohon maaf, orang yang anda panggil sedang marah. Silakan tinggalkan pesan," jawab Leandra seraya menirukan gaya operator.
Hal itu dia lakukan karena Leandra merasa sebal kepada suaminya itu, pria itu selalu saja berusaha untuk menggoda dirnya.
Leonel langsung berdecak sebal mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, dia tidak tahu jika Leandra akan semarah itu terhadap dirinya.
"Leandra, Sayang. Buka pintunya," ucap Leonel mengiba.
Dia tidak tahu jika istrinya akan semarah itu, padahal biasanya istrinya hanya akan menanggapi ulahnya dengan wajah cemberutnya.
"No! Aku sedang marah dan sedang tidak ingin bicara dengan Kakak. Jadi, Kakak pergi aja," ucap Leandra dengan kesal.
Leonel menghela napas panjang, mungkin istrinya itu sebentar lagi akan pms, pikirnya. Makanya gampang marah dan tersinggung, tidak seperti biasanya sampai menutup pintu seperti itu.
"Ya udah, aku berangkat kerja dulu. Siang jangan lupa ke kantor, abis makan siang kita ke luar kota. Ngga usah bawa baju, nanti kita beli saja di sana," ujar Leonel dengan lemas.
Leonel berdo'a di dalam hatinya, semoga Leandra mau ikut pergi ke luar kota. Karena ada kejutan yang sudah dia siapkan untuk istrinya.
"Hem! Nanti aku ke kantor Kakak, tapi Kakak harus kirim pesan chat setiap sepuluh menit. Kalau ngga aku ngga bakalan dateng," jawab Leandra.
Wanita itu berbicara masih dengan nada kesalnya, Leonel kembali menghela napas panjang. Mempunyai istri yang usianya jauh lebih muda darinya memang harus ekstra sabar, pikirnya.
"Oke, tapi buka dulu pintunya. Aku mau dikasih sun dulu sebelum berangkat, biar akunya semangat." Leonel mengetuk pintu kamar utama beberapa kali.
Masih saja dia mengharapkan bisa mendapatkan ciuman mesra dari istrinya, karena itu akan menjadi mood booster baginya.
"Tapi sun aja, ngga boleh cium." Leandra mengajukan syarat.
"Iya, Sayangku." Leonel tersenyum, walaupun cuma dapet sun ngga masalah. Yang terpenting tiga hari ke depan dia akan menghabiskan waktu untuk berlibur dan bercinta dengan istrinya.
Ceklek!
Pintu nampak terbuka, Leandra langsung menghampiri Leonel. Dia berjinjit lalu mengecup kening suaminya.
"Udah, jangan macem-macem. Nanti aku marah lagi," ucap Leandra.
Leonel tersenyum, walaupun istrinya marah Leonel selalu suka, karena Leandra selalu berusaha untuk berdamai dengan rasa kesalnya.
"Iya, Sayang. Aku berangkat, ya. Aku ngga akan nakal lagi," ucap Leonel seraya menunduk lalu mengecup kening istrinya cukup lama.
"He'em," jawab Leandra.
Setelah berpamitan kepada istrinya, Leonel langsung berangkat ke kantor bersama dengan Lucky.
__ADS_1
"Bagaimana? Apakah semuanya sudah siap?" tanya Leonel.
Lucky langsung menganggukan kepalanya mendengar pertanyaan dari atasannya, tentu saja semuanya sudah dia persiapkan jauh-jauh hari agar Leonel tidak kecewa.
"Sudah, Tuan. Penginapan sudah siap, semuanya juga sudah siap."
"Bagus, setelah meetingnya selesai kamu jangan pulang."
Lucky langsung mengernyikan dahinya mendengar permintaan dari atasannya tersebut, kenapa tidak boleh pulang, pikirnya.
"Kenapa tidak boleh pulang? Bukankah anda akan berada di sana selama 3 hari? Untuk apa saya di sana? Di sini banyak pekerjaan," ucap Lucky.
"Sekali-sekali kamu juga harus berlibur, untuk urusan pekerjaan sudah ada Liliana. Biarkan dia yang mengerjakan, untuk meteeng kita bisa laksanakan secara online."
Leonel meminta sekretaris yang sudah berpengalaman dan tentunya sudah berumur, hal itu dia lakukan agar Leandra tidak merasa cemburu jika suatu saat dia pergi meeting dengan sekretarisnya itu.
"Untuk apa saya berlibur? Mending saya pulang kampung, libur juga percuma. Hanya sendirian," jawab Lucky.
Pasangan hidup belum punya, pacar pun tidak ada. Lebih baik pulang kampung untuk bertemu dengan kedua orang tuanya, pikir Lucky.
"Hastaga! Kamu tuh jawab terus, tidak ada tawar menawar. Pokoknya kamu juga harus berlibur, nikmati kesendirianmu itu," ucap Leonel seraya terkekeh.
Lucky tidak berkata apa pun lagi, dia terdiam dengan tangan yang begitu kencang memegang setir.
Setelah cukup lama mereka terdiam, akhirnya mobil yang Lucky kendarai sudah sampai di perusahaan Harold.
"Silakan, Tuan," ucap Lucky seraya membukakan pintu mobil untuk Leonel.
"Terima kasih," ucap Leonel seraya turun dari mobil mewahnya tersebut.
Dengan tergesa dia langsung menuju ruangannya, karena Leonel ingin menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.
Dia ingin saat siang hari tiba semuanya sudah selesai dan dia sudah siap untuk pergi ke tempat yang menurutnya cocok untuk berlibur dengan Leandra.
***
"Bekal makan siang sudah siap, aku berangkat dulu ya, Bu," pamit Leandra kepada Lili.
Leandra siang ini sengaja belajar memasak bersama dengan Lili, hal itu dia lakukan karena wanita muda itu ingin berusaha menjadi istri yang baik untuk Leonel.
"Iya, hati-hati. Jangan lupa bawa oleh-oleh buat ibu," goda Lili.
"Dih! Ibu apaan sih? Orang cuma mau nemenin meeting doang pake minta oleh-oleh," keluh Leandra.
__ADS_1
Lili langsung tertawa menanggapi apa yang dikatakan oleh Leandra, padahal Leonel sudah menceritakan semuanya.
Dia akan mengajak istrinya pergi ke kota B setelah acara meeting selesai, hitung-hitung acara honeymoon, begitulah kata Leonel.
"Iya, maaf. Oiya, Sayang. Jangan lupa bawa minyak hangat takutnya dibutuhkan, kalian akan ke tempat yang dingin." Lili menepuk pundak Leandra.
"Ibu Benar, kota B memang dingin. Kak Leon punya alergi dingin, alergi udang dan debu. Ck! Dia itu menyusahkan sekali," keluh Leandra.
"Eits! Ngga boleh ngomong gitu, walaupun menyusahkan tetapi dia tetap suami kamu. Pria yang harus selalu kamu hormati," nasihat Lili.
Leandra langsung mengerucutkan bibirnya mendengar apa yang dikatakan oleh Lili, karena dia sudah paham betul jika dirinya harus menghormati suaminya.
"Iya, Ibu. Aku selalu menghormati suamiku, walaupun dia memang sangat menyebalkan," keluh Leandra.
"Nyebelin juga bikin kamu jatuh cinta," goda Lili.
Apaan sih Ibu ini, aku tidak mencintai dia." Leandra tersipu, lalu dia memeluk Lili dan menenggelamkan wajahnya di pundak wanita paruh baya itu.
Leandra terlihat begitu nyaman saat berada di dekat Lili, dia terlihat tidak canggung sama sekali. Leandra dan Lili sudah seperti ibu dan anak saja.
"Kamu boleh berkata jika kamu tidak mencintai Leonel, tetapi raut wajah kamu, sorot mata kamu dan cara kamu berperilaku tidak bisa berbohong. Di sini sudah ada benih cinta untuk suami kamu," ucap Lili.
Lili melerai pelukannya dengan Leandra, lalu dia menunjuk dada Leandra dan wanita itu berkata.
"Ibu tahu jika di sini sudah ada rasa cinta untuk suami kamu, Ibu bisa melihatnya." Lili tersenyum penuh arti.
Berbeda dengan Leandra, dia nampak tersipu mendengar apa yang dikatakan oleh ibu sambungnya tersebut.
"Apaan sih, Ibu? Ibu itu sok tahu deh!" keluh Leandra dengan wajahnya yang kini sudah memerah karena malu.
Sungguh Leandra juga tidak akan menyangka jika dia akan merasakan rasa nyaman saat bersama dengan Leonel. Bahkan, mungkin benar dengan apa yang dikatakan oleh Lili.
Dia sudah mencintai Leonel, Karena dia sudah merasakan cemburu ketika suaminya berdekatan dengan wanita lain.
Terlebih lagi saat dia melihat Liliu yang begitu gatal saat mencoba untuk mendekati suaminya, rasanya hatinya begitu panas.
"Cie... ada yang sudah merasakan cinta tapi malu untuk mengaku," ujar Lili.
"Ibu!" pekik Leandra dengan kesal.
Lalu dengan cepat dia mengambil bekal untuk makan siang suaminya dan segera berlalu dari sana, dia sudah tidak tahan berhadapan dengan ibu sambungnya tersebut.
"Lihatlah Lea, Sayang. Adik dan suami kamu sudah bahagia, semoga kamu turut bahagia di sana," ucap Lili seraya mengusap air mata yang luruh begitu saja di kedua pipinya.
__ADS_1