
Berbeda dengan Leonel dan juga Leandra, mereka langsung mengatupkan mulutnya menahan tawa, karena mereka merasa lucu dengan kejadian yang baru saja mereka lihat.
"Sayang? Kenapa kamu malah melihatku seperti itu? Apakah kamu tidak senang bisa melihat aku lagi?" tanya Liliu merajuk.
Lucky menatap Liliu dengan tatapan tidak percaya, sejak kapan mereka jadian, sejak kapan gadis itu memanggil dirinya dengan sebutan sayang, pikirnya.
"Sayang? Aku? Maksudnya?" tanya Lucky kebingungan dan suara terbata
Liliu tersenyum mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Lucky, reaksi Lucky saat dia menyebutnya dengan panggilan sayang terlihat begitu menggemaskan di matanya.
"Bukankah beberapa tahun ini aku selalu mengejar cintamu? Terus, tadi malam kamu menerima cintaku. Bahkan kita menghabiskan waktu sampai tengah malam untuk berbicara berdua, apa kamu lupa?" tanya Liliu.
Semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut nampak saling pandang, mereka sungguh tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Liliu. Di saat semua orang dilanda kebingungan, seorang dokter masuk untuk memeriksa keadaan dari Liliu.
"Ah, kebetulan sekali anda datang, Dok. Tolong periksa keadaan putri saya, apakah ada yang salah dengan dirinya atau bagaimana," pinta Tuan Leonard.
Dokter tersenyum lalu menganggukan kepalanya, dia menghampiri Liliu dan mulai memeriksa keadaan dari gadis tersebut. Tidak lama kemudian dokter berkata.
"Keadaan Nona Liliu sangat baik, tinggal menunggu masa penyembuhan saja," jelas Dokter .
"Tapi, Dok--"
Tuan Leonard pada akhirnya menceritakan apa yang sudah terjadi, dia menceritakan jika Liliu seolah kehilangan sebagian ingatannya. Terlebih lagi anak gadisnya seperti keliru dalam mengenali seseorang.
"Sepertinya putri anda mengalami trauma yang sangat dalam, dia terlalu kecewa dan juga ketakutan. Maka dari itu, saat kepalanya terbentur, ingatan yang dia rasa menyakitkan seolah ingin dia hapus dari memorinya," jelas Dokter.
"Apakah itu berbahaya, Dok?" tanya Tuan Leonard.
Dia takut itu akan menjadi pengaruh yang buruk untuk putrinya, terlebih lagi putrinya itu selalu saja marah-marah dengan berlebihan ketika dia mengalami sebuah kekecewaan.
"Tidak, anda tidak perlu khawatir. Putri anda ada dalam keadaan yang sangat baik," jelas Dokter.
"Lalu, apakah dia akan kehilangan ingatannya untuk selamanya?"
Dokter tersenyum hangat mendengar pertanyaan dari tuan Leonard, dia sangat paham saat melihat kegelisahan di mata tuan Leonard.
"Bisa iya, bisa juga tidak. Tergantung dari keseharian yang putri anda alami ke depannya," jawab Dokter.
__ADS_1
"Oke, terima kasih, Dok." Tuan Leonard menghela napas panjang.
Dia tidak menyangka jika putrinya akan mengalami hal itu, mungkin karena dia terlalu kecewa dengan apa yang dia alami sehingga dia ingin melupakan hal-hal tersebut.
Namun, satu hal yang dia sadari. Putrinya kini terlihat begitu manis, tidak terlihat sama sekali sorot mata tajam yang selalu ingin berkuasa. Tatapan matanya terlihat damai dan menenangkan.
Setelah kepergian dokter, tuan Leonard duduk tepat di samping putrinya. Lalu, dia mengusap puncak kepala putrinya dengan penuh kasih.
Liliu tersenyum mendapatkan perlakuan seperti itu dari ayahnya, lalu dia menolehkan wajahnya ke arah Lucky dan tersenyum dengan sangat manis.
"Kemarilah, Sayang. Apa kamu tidak senang melihat aku yang sudah sadar? Atau... kamu malu ya, karena ada Daddy?" tanya Liliu seraya terkekeh.
Lucky menjadi serba salah dibuatnya, dia tersenyum canggung seraya menolehkan wajahnya ke arah Leonel dan juga tuan Leonard secara bergantian. Dia seolah meminta pendapat apa yang harus dia lakukan saat ini.
Tuan Leonard malah tertawa melihat tingkah dari Lucky, dia bisa merasakan jika pria itu pasti kebingungan mendapatkan panggilan sayang dari putrinya.
"Kemarilah, Tuan Lucky. Temani putriku, dia sudah tidak sabar untuk bisa bersama dengan anda." Tuan Leonard sengaja menggoda pria lajang itu.
"Iya, Tuan," jawab Lucky gugup saya menghampiri Liliu.
"Jangan gugup seperti itu, Daddy tidak akan menggigit kamu. Oiya, Dad. Dia sudah menjadi pacarku, bolehkan dia panggil Daddy dengan sebutan Daddy?" tanya Liliu
"Sebenarnya sejak kapan kalian jadian?"
"Saya tidak jadian dengan putri anda, Tuan." Lucky berkata jujur karena takut tuan Leonard akan memarahinya.
"Bisakah aku meminta sesuatu kepada kamu?" tanya Tuan Leonard lagi.
Pria paruh baya itu menatap Lucky dengan tatapan penuh permohonan, hal itu membuat asisten pribadi dari Leonel itu menghela napas berat.
"Selama permintaannya tidak sulit, pasti akan aku pertimbangkan." Lucky menjawab dengan logis, tuan Leonard langsung terkekeh.
"Jangan kecewakan putriku, jika kamu bersedia. Jadilah kekasih dari putriku, sampai ke jenjang pernikahan pun akan aku restui."
Tuan Leonard sengaja mengatakan hal itu tentunya untuk kebahagiaan putrinya, lagi pula jika Liliu menikah dengan Lucky, dia sungguh tidak keberatan.
Karena dia sangat tahu bagaimana debut pria itu di dalam dunia bisnis, walaupun hanya seorang asisten pribadi, tetapi pria itu terkenal jujur dan juga tegas dalam bekerja.
__ADS_1
Untuk urusan keturunan, dia tidak peduli jika Lucky hanya anak kampung keturunan dari petani. Karena yang terpenting baginya, Lucky mau menerima putrinya apa adanya dan mau belajar untuk mencintai putrinya dengan tulus.
"Eh? Tapi dia menganggap aku sebagai kekasih karena hanya sedang dalam keadaan amnesia, kalau dia sadar, aku yakin aku pasti akan dibuang." Lucky terkekeh.
"Tidak akan, karena aku yakin kamu bisa membuat dia benar-benar jatuh cinta terhadap dirimu." Tuan Leonard menepuk pundak Lucky selalu menyuruh pria itu untuk duduk tepat di samping putrinya.
"Kamu tuh lama banget, aku minta ditemenin aja kaya orang malu-malu. Peluk!" pinta Liliu seraya merentangkan kedua tangannya.
Lucky mengerjapkan matanya dengan tidak percaya saat Liliu meminta dirinya untuk memeluk wanita itu, dia bahkan langsung menolehkan wajahnya ke arah Leandra, Leonel dan juga tuan Leonard secara bergantian.
Dia kebingungan dengan apa yang harus dia lakukan, tuan Leonard tertawa melihat ekspresi dari wajah Lucky. Kemudian pria paruh baya itu berkata.
"Turutilah permintaan dari putriku, jika hal itu memang membuat dirinya merasa bahagia. Asal, jangan pernah mengambil kesempatan dalam kesempitan."
Lucky langsung membulatkan matanya dengan sempurna mendengar apa yang dikatakan oleh tuan Leonard, jangankan mengambil kesempatan dalam kesempitan, untuk memulai sebuah hubungan saja dia merasa susah.
Hatinya terlanjur kecewa karena ditinggalkan, justru dia selalu ketakutan jika ingin memulai hubungan dengan wanita mana pun.
"Eh? Mana ada aku yang seperti itu," ketus Lucky yang merasa tidak terima.
Melihat Lucky yang malah berbicara dengan sang ayah, hal itu membuat Liliu merasa kesal. Saat ini dia sedang sakit, ingin diperhatikan dan disayangi oleh pria yang dia anggap kekasihnya itu.
"Sayang! Lama," protes Liliu yang merasakan tangannya sudah pegal karena tidak mendapatkan sambutan dari pria yang dia anggap kekasih itu.
"Iya, Nona." Lucky langsung membungkukkan badannya, lalu dia memeluk Liliu seraya mengusap puncak kepalanya dengan lembut.
Liliu langsung mengerucutkan bibirnya mendengar Lucky menyebut dirinya dengan sebutan nona, dia benar-benar tidak senang dengan apa yang dia dengar.
"Jangan panggil aku, Nona. Aku itu kekasihmu, bukan majikanmu," protes Liliu.
Lucky menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia menjadi bingung sendiri menghadapi situasi seperti ini. Dia menjadi bertanya-tanya di dalam hatinya, haruskah dia bahagia atau bersedih.
"Maaf, Sayang. Maaf," ucap Lucky dengan canggung karen lidahnya seakan tidak enak setelah mengucapkan kata sayang.
Melihat interaksi antara Liliu dan juga Lucky, Leonel, Leandra dan tuan Leonard langsung tertawa dengan terbahak-bahak. Lalu, Leonel menghampiri Lucky dan berkata.
"Selamat menikmati harimu sebagai seorang kekasih, aku akan pergi untuk--"
__ADS_1
Leonel tidak meneruskan ucapannya, dia malah menolehkan wajahnya ke arah Leandra seraya menaik turunkan alisnya.