
Sinar mentari sudah menampakan diri, dia sudah melaksanakan tugasnya dengan sangat baik. Bumi terlihat terang, bahkan cahayanya terasa hangat saat bersentuhan dengan kulit.
Sayangnya, cerahnya sinar mentari tidak secerah wajah Leandra. Pagi ini wajah Leandra begitu muram, dia merasa sangat kesal terhadap suaminya.
Leandra yang takut akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, akhirnya memutuskan untuk tidak meminum pil kontrasepsi. Leonel paham, pria itu berjanji akan mengeluarkan cairan cintanya di luar.
Sayangnya, karena keenakan Leonel melupakan hal itu. Di saat Ledakan gairah itu siap untuk dimuntahkan, Leonel malah memperdalam miliknya dan langsung mengerang panjang seraya mengeluarkan cairan cintanya di dalam.
Sontak Leandra yang sedang melenguh penuh nikmat langsung marah dan mendorong tubuh Leonel dengan kencang, dia benar-benar marah pada pria itu.
Kini, Leandra sedang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia terus saja memunggungi suaminya, karena merasa masih tidak ingin menatap wajah pria itu.
Walaupun Leonel sudah meminta maaf berkali-kali, dia masih saja mendiamkan suaminya. Leonel tidak pantang menyerah, dia terus saja merayu istrinya.
"Sayang, maafkan aku. Habisnya punya kamu tuh enak banget, jadinya aku lupa." Leonel ikut merebahkan tubuhnya, lalu memeluk Leandra dari belakang.
Dia elus perut rata Leandra, lalu dia kecup pipi istrinya dengan sangat lembut. Entah kenapa, dia merasa begitu menyayangi Leandra. Karena istrinya itu dengan suka rela memberikan haknya.
Leandra hanya diam saja, dia tidak menyahuti ucapan suaminya sama sekali. Jika saja area intinya tidak sakit, sudah dapat dipastikan jika Leandra akan menendang tubuh pria itu.
"Sayang, maaf. Kamu ngomong dong, akunya harus apa biar kamu maafin aku?" tanya Leonel.
Istri kecilnya itu ternyata masih diam saja, hal itu membuat Leonel frustasi. Dia merasa bingung harus melakukan apa, dia bahkan berencana untuk tidak bekerja agar istrinya tidak marah.
"Ya sudah, kalau kamu diemin aku terus, aku bakalan pergi dan ngga akan pulang lagi. Percuma satu kamar dengan istri, tapi didiemin terus."
Leonel langsung melerai pelukannya, kemudian dia turun dari tempat tidur. Dia akan melakukan aksi protesnya, karena Leandra tidak mau juga berbicara dengan dirinya.
Leandra mulai gelisah, karena sepertinya Leonel benar-benar akan pergi. Pasalnya dia mendengar Leonel membuka lemari pakaiannya, sepertinya pria itu akan mengganti bajunya.
Leandra yang merasa penasaran langsung membalikkan tubuhnya, dia ingin melihat apa yang suaminya lakukan.
Sesuai dugaannya, Leonel sedang berganti pakaian. Leandra yang ketakutan berusaha untuk bangun dan turun dari tempat tidur.
"Aww!" jerit Leandra ketika merasakan sakit di area intinya.
Leonel yang sedang berganti baju langsung menghentikan aktivitasnya, kemudian dia menghampiri Leandra dan menatapnya dengan khawatir.
"Kamu kenapa, hem?" tanya Leonel.
Dengan perlahan Leandra duduk di tepian tempat tidur, karena jika dia terus berdiri, area intinya terasa berdenyut nyeri.
__ADS_1
"Itunya sakit, ini gara-gara, kakak." Leandra memanyunkan bibirnya dengan kepala yang mendongak menatap Leonel dengan tidak suka.
Leonel menghela napas panjang, dia tahu jika dirinya salah. Akan tetapi, dia melakukannya karena sudah mendapatkan persetujuan dari istrinya tersebut.
Namun, dia harus sadar jika istrinya itu memang masih anak-anak. Dia harus lebih sabar menghadapi istrinya tersebut.
"Hem, gara-gara aku yang terlalu bersemangat. Tapi, seingat aku tadi malam kamu juga menikmatinya. Malahan kamunya sampai keluar ber--"
Leonel tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena Leandra sudah membekap mulut Leonel. Dia merasa malu dengan apa yang dikatakan oleh Leonel, karena pada kenyataannya dia memang menikmati setiap sentuhan dan juga hujaman dari suaminya.
Leandra yang baru pertama kali merasakannya sampai merasakan tubuhnya begitu ringan, dia merasa tubuhnya terbang ke atas awan.
Jeritan kenikmatan begitu menggema di dalam kamar utama, beruntung kamar itu kedap suara. Jika tidak, seluruh penghuni rumah pasti akan mendengar jeritan Leandra.
''Jangan diomongin lagi, aku malu. Hari ini aku masuk kampus jam sepuluh, akunya mesti gimana, Kak? Ini sangat sakit," keluh Leandra.
Selain area intinya masih sakit, paha dan juga betisnya terasa sangat pegal. Leandra merasa ragu untuk pergi kuliah, tetapi dia juga merasa tidak enak hati jika tidak masuk kuliah.
Ini adalah hari keduanya masuk kuliah, setelah kemarin melakukan perkenalan. Hari ini Leandra dan juga teman-temannya ditugaskan untuk berkeliling kampus.
"Ini baru jam 7, kita sembuhkan dulu. Mau tidak?" tanya Leonel.
Leandra mengernyitkan dahinya, Leonel berkata akan menyembuhkan miliknya yang terasa begitu sakit. Dengan cara apa, pikirnya.
Leonel tertawa mendengar apa yang ditanyakan oleh istrinya, lagi pula tidak mungkin dia memberikan Betadine pada area inti istrinya.
Itu terdengar sangat konyol, bukan yang menyembuhkan yang ada pasti malah menambah penyakit.
"Ada cara yang lain, Sayang. Mau?" tanya Leonel.
Leonel berusaha untuk merayu istrinya, dia berdalih akan berusaha untuk menyembuhkan milik istrinya. Setahunya, jika milik Leandra terasa begitu sakit, maka dia bisa menyembuhkannya dengan melakukannya kembali.
"Kalau bikin sembuh, aku mau." Leandra tersenyum hangat, sedangkan Leonel langsung tersenyum penuh arti.
Tanpa banyak bicara Leonel langsung mendekatkan wajahnya pada wajah istrinya, Leandra langsung mendorong wajah Leonel.
"Yang sakit bukan wajah aku, Kak," ucap Leandra dengan polos.
"Ck! Kalau mau sembuh kamu harus diem," ucap Leonel.
"Oke!" jawab Leandra pasrah.
__ADS_1
Senyum di bibir Leonel semakin merekah mendengar jawaban dari istrinya, inilah saatnya untuk dia beraksi, pikirnya.
Satu jam kemudian.
"Kakak jahat ih, katanya mau sembuhin itu. Tapi kok Kakak malah ngelakuin itu lagi?" keluh Leandra dengan napas tersengal-sengal.
Mereka baru saja melakukan pergumulan panas di atas tempat tidur untuk kedua kalinya, Leandra merasa begitu lelah. Akan tetapi, sisa kenikmatan yang Leonel berikan masih sangat berasa.
Leonel tertawa seraya menarik lembut tubuh Leandra ke dalam pelukannya, dia kecup puncak kepala istrinya dengan penuh kasih.
"Inilah caranya, tadi aku dengar kamu menjerit keenakan. Aku rasa pasti punya kamu sudah sembuh," jawab Leonel.
Leandra tidak berbicara lagi, dia malah mengeratkan pelukannya kepada Leonel. Dia merasa sangat lelah dan tidak ingin berdebat lagi.
Tidak lama kemudian, Leonel merasakan deru napas yang teratur dari hidung istrinya. Leonel tersenyum karena ternyata istrinya sudah terlelap dalam pelukannya.
"Terima kasih, Sayang. Maaf," ucap Leonel seraya menunduk dan mengecup kening istrinya.
Setelah memastikan Istrinya terlelap, Leonel mengurai pelukannya. Lalu, dia dia turun dari tempat tidur dan menarik selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya.
Leonel tersenyum lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, dia ingin membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket setelah kembali bergumul dengan Istrinya.
"Sepertinya aku harus menyiapkan sarapan untuknya, aku juga harus menemaninya kuliah. Takutnya nanti dia merasa sakit lagi," ucap Leonel seraya menggosok tubuhnya.
Setelah selesai mandi, Leonel segera berpakaian dan meminta bibi untuk membawakan sarapan ke dalam kamar. Hal itu dia lakukan agar Leandra tidak terlalu banyak bergerak.
"Terima kasih, Bi," ucap Leonel ketika melihat bibi yang telah selesai menata makanan di atas meja.
"Ya, Tuan," jawab Bibi seraya tertunduk malu karena dia melihat baju Leonel dan juga baju Leandra yang berserakan di atas lantai.
Wanita paruh baya itu merasakan pipinya memanas, Leonel yang menyadari hal itu langsung tersenyum dan berkata.
"Bibi sudah boleh keluar, nanti kalau aku sudah selesai sarapan akan aku panggil lagi," ucap Leonel.
"Iya, Tuan." Bibi membungkuk hormat, lalu pergi dalam kamar Leonel.
Setelah kepergian bibi, Leonel langsung menghampiri istrinya. Dia duduk di tepian tempat tidur, kemudian dia elus puncak kepala istrinya dengan penuh kasih. Leonel bahkan terlihat menunduk dan mengecupi puncak kepala istrinya.
"Bangun, Sayang. Sudah mau jam 9, ayo sarapan dulu. Setelah itu kamu mandi," ucap Leonel.
Leandra menggeliatkan tubuhnya, lalu dia membuka matanya yang terasa sepat dan menatap Leonel dengan lekat.
__ADS_1
"Kakak jangan deket-deket, nanti Kakak malah--"