Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 61


__ADS_3

"Berpikirlah Leandra, berpikir. Apa yang harus kamu lakukan saat ini? Haruskah aku memeluknya?" tanya Leandra dengan bingung.


Di saat kebingungan seperti itu, Leandra teringat akan dirinya yang sedang demam di saat dia kecil. Lindsay membuka bajunya dan membuka baju Leandra, kemudian Lindsay memeluk Leandra seraya mengecup puncak kepala Leandra.


"Oh ya Tuhan, haruskah aku melakukan hal itu? Haruskah aku membuka baju dan memeluk kak Leon?" tanya Leandra


Berulang kali dia menatap wajah Leonel dan juga menatap ke arah pintu secara bergantian, dia benar-benar merasa cemas kepada Leonel.


Namun, dia juga merasa kesal karena ketiga pelayan itu tidak kembali datang dengan membawa dokter sesuai dengan permintaannya.


"Skin to skin, ah ya. Sepertinya aku harus melakukannya, tidak apa-apa bukan? Toh hanya untuk menghangatkan tubuhnya dan juga untuk menurunkan suhu tubuhnya," ucap Leandra.


Dengan cepat Leandra membuka kancing kemejanya, lalu dia melemparkan kemejanya dengan asal. Dia juga membuka semua kain yang melekat di tubuhnya, karena memang baju yang dia pakai juga basah.


Setelah itu, dia masuk ke dalam selimut dan ikut merebahkan tubuhnya di samping Leonel. Tidak lama kemudian, dia memeluk pria itu dengan begitu erat.


Leonel membalas pelukan dan dari Leandra, Leonel bahkan terlihat menunduk seraya mengecupi puncak kepala gadis nakal itu.


"Lea, Mas nggak kuat lagi. Dingin banget, ajak Mas pergi bersama kamu, Sayang. Mas nggak mau dipeluk doang, Mas mau kamu ajak pulang. Bawa Mas ke surga," pinta Leonel dengan air mata yang terus saja mengalir dari sudut matanya.


Hal itu membuat Leandra semakin bersedih dan juga merasa bersalah, Leonel mengatakan hal itu karena dirinya yang sudah berbuat tidak-tidak terhadap Leonel.


"Maafkan aku kakak ipar, maafkan aku," ucap Leandra seraya merapatkan tubuhnya.


Lalu, dia mengusap punggung Leonel dengan begitu lembut. Dia berusaha untuk menyalurkan kehangatan untuk Leonel.


Ada rasa kasihan, kesal dan juga marah di dalam hati Leandra. Karena dirinya kembali membahayakan nyawa orang lain.


Akan tetapi, Leandra juga benar-benar merasa risih ketika dia merasakan ada sesuatu yang menggeliat di bawah sana.


Bahkan, semakin lama benda itu terasa begitu keras dan mengganjal di perut bagian bawahnya.


Jika saja keadaan Leonel tidak sedang seperti ini, leandra pasti akan segera menegur pria itu. Sayangnya, Leonel seperti ini pun karena akibat dari perbuatannya.


"Oh Tuhan, maafkan aku. Semoga saja cara ini ampuh untuk menyembuhkan kakak iparku," do'a Leandra.


Cukup lama dia merasakan tubuh Leonel yang terus saja bergetar dan menggigil karena kedinginan, tidak lama kemudian dia merasakan Leonel lebih tenang.


Pria itu bahkan terlihat tertidur di dalam pelukannya, Leandra bisa bernapas dengan lega. Dia terlihat mengurai pelukannya dengan Leonel, dia berusaha untuk turun dari tempat tidur dan ingin segera berpakaian.


Namun, baru saja dia hendak turun dari tempat tidur, Leonel malah menarik Leandra kembali ke dalam pelukannya. Dia seolah takut ditinggalkan oleh Leandra.


"Kak, lepasin aku. Aku mau turun," pinta Leandra seraya berusaha untuk melepaskan tubuhnya dari pelukan Leonel.


Bukannya melepaskan pelukannya, justru Leonel malah semakin mempererat pelukannya. Hal itu membuat Leandra menjadi bingung dan juga kesal.


"Jangan tinggalkan aku, Lea. Mas mau kamu, Sayang," pinta Leonel seraya mengeratkan pelukannya.


Karena tidak mau membuat Leonel terganggu atau merasa sedih karena dia tinggalkan, akhirnya Leandra memilih untuk tetap diam saraya memeluk pria itu.


"Ya, aku tidak akan pergi kemana-mana. Aku akan tetap di sini," ucapnya seraya memejamkan mata. Leandra berusaha untuk mengontrol perasaannya yang kini sudah mulai tidak karuan.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang," ucap Leonel dengan mata yang tetap terpejam.


Di lain tempat


Setelah berziarah ke makam Leana, Lindsay mengajak tuan Lincoln dan juga Lili untuk berbicara dari hati ke hati.


Dia mengajak pasangan suami istri itu untuk berbicara di sebuah Kafe yang tidak jauh dari pemakaman, karena menurut Lindsay mereka tidak bisa terus seperti ini.


Saat tiba di Kafe, ketiganya hanya terdiam. Tidak ada yang memulai pembicaraan, terlebih lagi dengan Lili. Dia seakan begitu enggan untuk bersuara.


Tidak lama kemudian, Lindsay menghela napas panjang lalu dia menatap Lili dan juga tuan Lincoln secara bergantian.


"Maaf, aku minta maaf atas kesalahanku di masa lalu. Karena ulahku, kalian terpisah dalam waktu yang sangat lama," ucap Lindsay memberanikan diri untuk mengeluarkan suara.


Baik Lili ataupun tuan Lincoln hanya bisa menghela napas panjang, kemudian mengeluarkannya dengan perlahan. Mereka terlihat menatap Lindsay dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan.


"Aku sudah memaafkan kamu, lagi pula itu hanyalah kejadian di masa lalu. Tidak usah diungkit lagi," ucap Lili.


Lindsay benar-benar merasa bersalah karena sudah memisahkan Lili dan tuan Lincoln, dulu dia terlalu berambisi untuk mendapatkan tuan Lincoln.


Dulu dia terlalu berambisi untuk menjadikan tuan Lincoln suaminya, lelaki yang akan menjadi ayah dari anak-anaknya.


Sayangnya, semuanya tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan, tuan Lincoln memang menjadi suaminya. Dia memiliki tubuh dan bisa menikmati harta dari tuan Lincoln.


Sayangnya, cintanya tetap untuk Lili. Lindsay tidak pernah mendapatkan hati dari pria itu. Rasanya ini lebih menyedihkan dari apa pun.


Dia sekarang begitu menyadari kenapa suaminya itu begitu mencintai Lili, karena ternyata Lili adalah sosok wanita yang begitu baik, sabar dan juga mampu mengontrol emosinya dengan baik.


"Aku akui jika aku sangat salah sejak dulu, jika kalian ingin bersatu kembali maka aku akan menyetujuinya. Namun, biarkan leandra tinggal denganku. Jangan mengambil putriku," ucap Lindsay dengan penuh permohonan seraya menatap wajah tuan Lincoln dan Lili secara bergantian.


Ada gurat bahagia dari wajah tua tuan Lincoln mendengar apa yang dikatakan oleh Lindsay, walaupun seperti itu dia tidak bisa menerima keputusan Lindsay begitu saja.


Ada Leandra dan juga Lili yang harus dia tanya terlebih dahulu, ada Lindsay juga yang harus dia pikirkan. Karena walau bagaimanapun juga Lindsay sudah menemani dirinya selama ini.


"Dua puluh tiga tahun aku berpisah dengan suamiku, aku sudah terbiasa hidup sendiri. Jadi, ceraikan saja aku. Agar kamu bisa berbahagia bersama dengan keluarga kamu," ucap Lili seraya menggenggam tangan tuan Lincoln yang berada tepat di sampingnya.


Pria tua itu dengan cepat menggelengkan kepalanya, rasanya dia tidak ikhlas jika dia harus melepaskan Lili. Wanita yang begitu dia cintai dan dia cari selama ini.


Dua puluh tiga tahun dia mencari Lili dan saat ini dia sudah bertemu dengan istrinya, tentu saja tuan Lincoln ingin bersama dengan Lili. Bukan melepaskan wanita itu.


"Aku tidak akan pernah siap untuk berpisah dengan kamu, Sayang." Tuan Lincoln menarik Lili ke dalam pelukannya dan mengecup puncak ke kepala wanita paruh baya tersebut.


Lili sempat menolehkan wajahnya ke arah Lindsay, wanita itu berusaha untuk tersenyum dengan sangat manis.


Lindsay benar-benar terlihat siap untuk berpisah dengan tuan Lincoln, sudah cukup dia menyakiti hati tuan Lincoln dan juga Lili.


Karena menjauhkan dua insan yang saling mencintai itu, hanya akan menambah rasa sakitnya. Karena tuan Lincoln tetap tidak bisa menempatkan Lindsay di dalam relung hatinya.


Lili merasa tidak enak hati, dia berusaha untuk melerai pelukannya. Lalu dia tersenyum dan menatap tuan Lincoln dengan lekat.


"Maaf, Alex. Tapi aku---"

__ADS_1


Belum juga selesai Lili mengutarakan isi hatinya, tiba-tiba saja ponsel milik tuan Lincoln berdering.


Dengan cepat pria tua itu mengangkat panggilan telepon tersebut, karena ternyata panggilan itu dari Lucky.


"Iya, ada apa Lucky?" tanya Tuan Lincoln dengan dahi yang mengernyit dalam.


"ini urgent, Tuan. Tolong segera datang ke kediaman Harold, ini sangat penting. Ini. tentang putri anda dan tuan Leonel," jawab Lucky.


Dia benar-benar merasa takut akan ada sesuatu hal yang buruk telah terjadi terhadap Leonel dan juga Leandra, karena saat ini Leandra berada di kediaman Harold.


"Jangan membuatku cemas, cepat katakan ada apa yang sebenarnya?" tanya Tuan Lincoln dengan tidak sabar.


"Datanglah ke kediaman Harold dan lihat sendiri, aku tidak bisa berkata apa pun," jawab Lucky.


Walaupun tuan Lincoln merasa kesal karena Lucky tidak mau langsung mengatakan apa yang sedang terjadi, tetapi pada akhirnya dia terlihat menghela napas panjang lalu dia pun berkata.


"Baiklah, baiklah. Aku akan segera datang, tunggu sebentar lagi."


"Ya," jawab Lucky.


Setelah menutup panggilan teleponnya, akhirnya dia mengajak Lili dan juga Lindsay untuk pergi kediaman Harold. Sepanjang perjalanan menuju kediaman Harold, tidak ada yang berbicara di antara mereka bertiga.


Ketiganya hanya terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing, mereka seolah tidak tahu harus berbuat apa.


Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan rumah megah yang selama ini menjadi tempat berlindung untuk Leonel.


"Ada apa, Lucky?" tanya Tuan Lincoln dengan tidak sabar kala ia bertemu dengan Lucky di pintu utama.


"Mari ikut saya," jawab Lucky seraya membungkuk hormat.


"Hem," jawab Tuan Lincoln.


Tuan Lincoln, Lindsay dan juga Lili terlihat mengikuti langkah dari Lucky. Mereka benar-benar merasa penasaran dengan apa yang sebenarnya sudah terjadi.


Lucky terlihat melangkahkan kakinya dengan lebar menuju kamar utama, hati tuan Lincoln, Lindsay dan juga Lili terasa berdebar dengan sangat kencang.


Mereka benar-benar merasa takut akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, karena dilihat dari gelagat Lucky yang benar-benar sangat aneh, menurut mereka.


"Silakan anda lihat sendiri!" ucap Lucky seraya membuka pintu kamar utama.


Baik tuan Lincoln, Lindsay dan juga Lili terlihat begitu kaget saat mereka melihat Leandra yang sedang tertidur dengan sangat pulas di atas tubuh Leonel.


Leandra menyandarkan kepalanya dengan sangat nyaman di atas dada Leonel, begitupun dengan Leonel.


Pria dewasa itu terlihat begitu nyaman saat tertidur, bahkan Leonel terlihat begitu posesif saat memeluk tubuh Leandra.


Selimut yang menutupi tubuh Leandra hanya sebatas pinggang saja, sehingga hal itu membuat keempat orang dewasa yang kini berada di ruangan tersebut bisa mengetahui jika Leandra sedang tidak berpakaian.


Melihat akan hal itu, tuan Lincoln begitu marah. Dia terlihat mengepalkan kedua tangannya dengan sempurna, matanya menyalang merah menyiratkan kemarahan yang begitu besar.


Rahang tuan Lincoln juga nampak mengeras, dia benar-benar sangat marah, Namun, masih berusaha untuk menahan emosinya. Sayangnya tidak bisa.

__ADS_1


"Leandra!" seru Tuan Lincoln dengan suara yang menggelegar.


__ADS_2