Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 95


__ADS_3

"Ah! Seger," ucap Leandra ketika air dingin sudah mengalir di tenggorokannya.


Leandra memilih untuk duduk sejenak seraya memakan buah apel, saat sedang asik mengunyah apel. Tanpa sengaja dia mendengar suara Lili yang sedang memuntahkan isi perutnya, dengan cepat Leandra bangun dan segera melangkahkan kakinya menuju kamar Lili.


"Bu, ibu kenapa? Ibu sakit atau--"


Leandra tidak meneruskan ucapannya, dia malah membulatkan matanya dengan sempurna seraya menatap pintu kamar Lili yang tertutup.


Selama beberapa hari ini Lili pergi bersama dengan tuan Lincoln, tentu saja Leandra paham dengan apa yang sudah dilakukan oleh kedua insan yang sudah tidak muda lagi itu.


Mereka berdua pasti sudah melakukan anu-anu seperti yang sudah dia lakukan bersama dengan Leonel, memadu kasih dengan penuh gairah agar bisa sampai ke puncak nirwana.


Namun, jika dugaannya benar Lili tengah hamil, rasanya Leandra akan bingung harus mengatakan apa. Ia benar-benar bingung harus bahagia atau sedih.


Terlebih lagi saat mengingat ibunya, Lindsay. Pasti wanita itu akan kecewa dan terluka, walaupun dia tidak banyak bicara, pikirnya.


Walaupun Lindsay berkata akan berusaha untuk melupakan tuan Lincoln dan akan mencoba kehidupan barunya, tetap saja Leandra takut jika Lindsay akan terluka.


Tidak lama kemudian, pintu kamar Lili nampak terbuka. Wajah Lili terlihat begitu pucat, dia bahkan berjalan dengan sempoyongan.


"Ada apa, Sayang? Kenapa malam-malam seperti ini kamu masih belum tidur?" tanya Lili seraya memperhatikan penampilan Leandra.


Tidak lama kemudian dia tersenyum karena Leandra hanya memakai kimono mandi saja, bahkan sepertinya Leandra memakai kimono mandinya dengan tergesa.


Karena talinya tidak terikat dengan sempurna, hal itu membuat belahan dada Leandra terpampang dengan nyata.


Beruntung Leonel memang tidak memperbolehkan pekerja laki-laki untuk masuk ke dalam rumah, jika menginginkan apa pun mereka harus meminta kepada pelayan untuk diambilkan.


"Eh? Itu, aku mendengar Ibu muntah-muntah. Apa Ibu hamil?" tanya Leandra to the poin.


Lili langsung tertawa mendengar pertanyaan dari Leandra, selama satu minggu ini tuan Lincoln memang selalu saja meminta haknya sebagai suami.


Bahkan, pria tua itu kembali puber. Dia selalu saja meminta haknya kapan pun dan di mana pun jika ada waktu luang.


Akan tetapi, keduanya sudah sepakat untuk tidak memiliki bayi kembali. Walaupun pada awalnya tuan Lincoln berkata jika mereka harus memiliki bayi, agar kehidupan mereka lebih sempurna karena Leana sudah tiada.


Namun, Lili berkata jika dia sudah tidak pantas untuk hamil. Usianya sudah tua, lagi pula Leandra juga sama saja seperti Leana, sama-sama putrinya walaupun tidak lahir dari rahimnya.


Melihat Lili yang tertawa, Leandra langsung memicingkan matanya. Dia bahkan langsung menggoyang-goyangkan lengan Lili dan bertanya.


"Kenapa ibu malah tertawa? Apakah pertanyaan dariku sangatlah aneh? Memangnya aku salah kalau aku nanya ibu hamil? Soalnya tadi aku kan, denger ibu muntah-muntah. Ibu sama daddy pasti it--"


Leandra tidak meneruskan ucapannya, tetapi gadis itu malah mengangkat tangannya lalu menautkan kedua jari telunjuknya. Hal itu semakin membuat Lili tertawa.

__ADS_1


"Ibu nyebelin!" ketus Leandra yang mendengar Lili kembali tertawa.


Leandra langsung mengerucutkan bibirnya, dia ingin mendapatkan jawaban dari bibir wanita itu. Bukan ditertawakan.


"Bukan, Sayang. Ibu muntah-muntah karena masuk angin, beberapa hari ini memang Ibu kurang istirahat. Ibu tidak hamil, lagi pula mana ada orang bisa hamil setelah beberapa hari berhubungan. Setidaknya memerlukan waktu 1 bulan untuk memastikan apakah wanita yang sudah melakukan hubungan suami istri itu sudah positif hamil atau belum," jelas Lili.


Leandra langsung mengerucutkan bibirnya, menurut dia, Lili terlalu percaya diri. Jika mengatakan wanita itu tidak hamil, bisa saja bukan Lili hamil jika Tuhan sudah berkehendak.


"Tapi tadi ibu muntah-muntah, masa masuk angin doang muntah-muntahnya sampai begitu banget?" tanya Leandra dengan raut wajah tidak percaya.


Leandra masih saja tidak percaya dengan apa yang Lili katakan, dia masih menyangka jika istri tua dari ayahnya itu sedang mengandung.


"Serius, Sayang. Ibu tidak hamil, karena Ibu dan daddy kamu sudah sepakat tidak akan memiliki bayi. Jadi, kamu tahu dong ibu melakukan apa?" tanya Lili meyakinkan.


Leandra langsung mengangguk-anggukan kepalanya mendengar pertanyaan dari Lili, jika seperti itu Leandra yakin jika Lili pasti mengkonsumsi pil KB.


"Oh gitu ya, Bu. Jadi, beneran Ibu nggak hamil? Aku nggak bakal punya dede bayi, kan?" tanya Leandra yang masih saja merasa penasaran.


Lili tersenyum hangat mendengar ucapan dari Leandra, putri sambungnya itu terlihat masih belum sepenuhnya percaya kepada dirinya.


"Dengar, Sayang. Ibu sudah tua, ini saatnya untuk kamu memiliki bayi dengan Leon. Bukan Ibu yang memberikan kamu adik, tapi kamu yang memberikan bayi untuk suami kamu," ucap Lili seraya mengelus lembut perut Leandra.


Lalu Lili membenarkan ikatan tali kimono madi Leandra seraya tersenyum jahil kepada putri sambungnya, Leandra pura-pura tidak paham.


Awalnya dia memang belum ingin hamil, karena dia merasa jika dirinya masih begitu muda. Akan tetapi, setelah berkali-kali dia melakukan hubungan suami istri dengan Leonel, muncul keinginan di dalam hatinya untuk memiliki buah hati.


Bayi-bayi mungil yang akan meramaikan rumah tangganya bersama dengan Leonel, bayi-bayi mungil yang akan memberi warna di dalam hidupnya.


"Pasti, Sayang. Pasti dia akan senang, terlebih lagi dia sudah kehilangan calon buah hatinya bersama dengan Leana. Pasti saat kamu hamil nanti dia akan sangat senang," ucap Lili seraya meneteskan air matanya.


Dia malah teringat akan putrinya, Leana. Rasa sedih langsung menyeruak ke dalam hatinya, tanpa banyak bicara Leandra langsung memeluk Lili.


Dia merasa bersalah karena sudah membuat Lili bersedih, wanita itu tidak akan menangis jika dia tidak menanyakan hal tersebut.


"Maafkan aku, Ibu pasti sedih karena mengingat kak Leana. Maaf, maafkan aku," ucapkan Leandra seraya mengelus lembut punggung Lili.


"Tidak apa-apa, ini sudah takdir. Sekarang kamu pergilah beristirahat kembali, takutnya suami kamu bangun dan mencari kamu," ucap Lili.


Lili melerai pelukannya, lalu dia mengusap lengan Leandra. Walaupun Leana sudah tiada, dia merasa senang karena putri dari suaminya itu menikah dengan menantunya. Dengan seperti itu hatinya merasa terhibur, terlebih lagi wajah Leandra dan juga Leana begitu mirip.


"Iya, Bu," jawab Leandra.


Lili tersenyum, lalu masuk ke dalam kamarnya untuk kembali beristirahat. Karena tubuhnya terasa begitu lelah dan lemah.

__ADS_1


Setelah memastikan Lili masuk ke dalam kamarnya, Leandra kembali ke dapur untuk meminum air putih. Setelah itu, dia memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamarnya.


Namun, baru saja dia hendak membuka pintu, pintu kamar tersebut sudah terbuka dari dalam. Nampaklah Leonel yang menatap Leandra dengan wajah cemasnya.


"Kamu dari mana, Sayang?" tanya Leonel.


Melihat wajah panik suaminya, Leandra langsung merasa bersalah. Padahal dia hanya meninggalkan Leonel sebentar saja.


"Aku... tadi haus, Kak. Makanya aku ke dapur untuk mengambil minum," ucap Leandra yang langsung menubrukkan dirinya ke tubuh suaminya tersebut.


Terdengar helaan napas lega dari bibir Leonel, dia merasa tenang karena sudah menemukan istrinya. Dia mengira Leandra pergi meninggalkan dirinya.


Saat dia membuka mata, dia begitu kaget karena di sampingnya tidak ada Leandra. Dia yang kaget langsung turun dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi.


Akan tetapi, istrinya tidak ada di sana. Dia benar-benar takut jika Leandra pergi karena marah terhadap dirinya.


Tadi sore Leandra memang sempat cemberut karena Leonel mengajak istrinya untuk bercinta sebanyak 3 kali, maka dari itu dia mengira jika Leandra pergi meninggalkan dirinya karena takut akan diajak kembali bercinta oleh dirinya.


"Besok aku akan membelikan lemari pendingin dan menyimpannya di dalam kamar utama, nanti kalau kamu haus kamu nggak usah keluar." Leonel memeluk istrinya dengan posesif.


Pernah kehilangan seorang istri yang begitu baik seperti Leana membuat Leonel ketakutan jika dia berjauhan dengan Leandra, karena dia takut jika dirinya akan ditinggalkan kembali.


"Iya, maaf kalau tadi aku meninggalkan Kakak cukup lama. Ayo kita tidur," ajak Leandra seraya menuntun suaminya untuk segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Sayang, kamu janjikan nggak bakal ninggalin aku?" tanya Leonel seraya mengeratkan pelukannya.


"Kakak ini aneh, kenapa sih nanya-nanya kayak gitu? Lagian siapa juga yang mau ninggalin Kakak?" tanya Leandra.


"Bukan gitu, setiap kamu berjauhan dari aku, rasanya hati ini selalu takut jika kamu akan meninggalkan aku," jawab Leonel dengan jujur.


"Jangan suka lebay, enggak usah mikirin yang aneh-aneh. Aku nggak bakal ninggalin Kakak, bukankah kita sudah sepakat akan menjalani rumah tangga ini dengan sebaik-baiknya?" tanya Leandra lagi.


"Hem, aku percaya sama kamu. Awas aja kalau kamu berani tinggalin aku," ancam Leonel.


Walaupun mereka baru menikah dalam hitungan minggu, tetapi Leonel sudah merasa sangat nyaman beristrikan seorang wanita muda bernama Leandra Putri Axton.


"Hem, kalau Kakak ngga nakal, aku ngga bakal ninggalin Kakak. Tapi, kalau Kakak nakal. Jangan harap aku mau tinggal sama Kakak lagi!" ancam Leandra.


Bukan tanpa sebab Leandra mengatakan hal itu, mungkin Leonel berkata jika dia tidak akan nakal dengan wanita lain.


Akan tetapi, saat Leandra mengingat Liliu yang begitu ganjen untuk mendekati suaminya, dia takut jika perasaan suaminya itu akan goyah.


"Tidak akan, aku tidak akan nakal. Kamu juga ngga boleh nakal, kalau nakal. Aku akan---"

__ADS_1


__ADS_2