
Beberapa bulan kemudian.
"Kakak! Tolongin aku, ini sakit banget!" teriak Leandra dari dalam kamar mandi.
Leonel yang masih terlelap dalam tidurnya terjingkat kaget, dia bahkan sampai terjatuh dari tempat tidur ke atas lantai.
"Aduh! Sakit sekali,'' ucap Lionel seraya mengelus bokongnya yang terasa sangat sakit. Karena pria itu jatuh terduduk.
Leandra yang sudah kesakitan merasa tidak sabar karena Leonel tidak kunjung menghampiri dirinya, wanita yang perutnya sudah terlihat begitu besar itu kembali berteriak.
"Kakak! Cepat kemari, perutku sakit sekali!" teriak Leandra.
Leonel yang mendengar suara Leandra langsung berlari menuju kamar mandi, dia begitu kaget ketika melihat Leandra yang sedang terduduk di atas kloset yang tertutup dengan kakinya yang sudah berlumur darah.
"Sayang, kamu kenapa? Kamu nggak keguguran, kan?" tanya Leonel dengan sedih.
Tubuhnya langsung lemah seketika melihat keadaan istrinya, dia begitu takut jika Leandra akan mengalami keguguran. Lalu, kapan dia akan memiliki buah hati jika Leandra malah keguguran, pikirnya.
Leandra memelototkan matanya dengan napas yang terengah-engah, usia kandungan Leandra sekarang sudah memasuki minggu ke tiga puluh delapan.
Perutnya sudah terlihat begitu besar, dua hari berturut-turut bahkan Leandra mengalami kontraksi palsu. Bagaimana bisa suaminya menanyakan jika dirinya keguguran.
"Aku mau lahiran, Kakak. Cepat bawa aku ke Rumah Sakit, rasanya aku sudah tidak tahan ingin segera melahirkan baby kita!" Leandra langsung mencengkeram lengan Leonel dengan kuat.
Leonel meringis kesakitan mendapatkan perlakuan seperti itu dari Leandra, dia bahkan langsung melayangkan protesnya.
"Aduh! Sakit, Sayang. Sebentar," ucap Leonel.
Leonel melepaskan cekalan lengan Leandra, lalu dia dengan cepat mengangkat tubuh istrinya dan berlari untuk keluar dari dalam kamarnya.
Namun, langkahnya terhenti ketika Leandra mencubit perut Leonel dengan begitu kencang. Pria bertubuh kekar itu kembali meringis kesakitan.
"Sakit, Sayang. Kamu tuh hari ini galak banget," keluh Leonel.
Leandra mengerucutkan bibirnya seraya mengusap perut besarnya yang terasa melilit, lalu dia melayangkan protesnya.
"Bukannya begitu, Kamu ngga pake baju. Yakin mau keluar dengan tubuh polos seperti ini?" tanya Leandra.
Mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, Leonel langsung melihat tubuhnya sendiri. Dia langsung menghela napas berat ketika menyadari jika kini tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun.
Leonel juga nampak mengerjapkan matanya dengan tidak percaya ketika melihat Leandra yang masih menggunakan lingerie, karena memang tadi malam Leonel meminta haknya sebagai seorang suami.
"Sebentar, Sayang." Leonel menurunkan tubuh istrinya ke atas sofa.
Lalu, dengan cepat dia memakai bajunya. Dia juga memakaikan istrinya baju yang longgar tanpa pakaian dalam, setelah itu dengan cepat dia berlari dari dalam kamar tersebut untuk segera pergi ke Rumah Sakit.
__ADS_1
Karena dia benar-benar merasa gugup dan juga takut, akhirnya dia meminta pak sopir untuk mengantarkan mereka menuju Rumah Sakit. Karena dia tidak mungkin menyetir sendiri.
''Ayah, Dedeknya udah pengen keluar," ujar Leandra.
Leandra kembali mengalami kontraksi, kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Leandra bahkan sampai menjenggut rambut suaminya, tetapi Leonel tidak marah. Terlebih lagi saat melihat wajah cantik istrinya yang semakin memucat.
"Sabar, Sayang. Kamu pasti kuat," ucap Leonel menyemangati.
Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit, Leandra terus saja berteriak seraya mencengkram lengan suaminya dengan begitu kuat. Sesekali dia menjambak dan menggigit lengan kekar Leonel.
Tentu saja Leonel tidak keberatan sama sekali mendapatkan perlakuan seperti itu dari Leandra, walaupun terasa sakit, tapi dia merasa rasa jika sakit yang dia derita tidak sebanding dengan rasa sakit yang Leandra rasakan.
"Ayah!" rengek Leandra.
"Tahan ya, Sayang. sebentar lagi kita akan sampai di Rumah Sakit," ucap Leonel berusaha untuk menenangkan istrinya.
Leandra tidak menjawab ucapan dari Leonel, dia hanya menghela napas panjang lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Berkali-kali dia melakukan hal itu agar bisa merasa lebih tenang lagi.
Namun, bukannya merasa lebih tenang, justru dia merasa jika dirinya malah mengalami kontraksi yang begitu hebat. Rasanya dia sudah sangat tidak tahan dan ingin melahirkan buah hati mereka saat itu juga.
"Dedeknya udah mau keluar, Ayah. Bunda udah ngga tahan," ucap Leandra seraya mengelusi perutnya.
Leonel benar-benar terlihat was-was mendengar apa yang dikatakan oleh Leandra, dia bahkan langsung menatap perut besar istrinya dan berkata.
"Sabar ya, Sayang. Jangan keluar dulu, ini masih di jalanan, nanti nggak ada yang tolongin kamu," ucap Leonel seraya mengelus lembut perut istrinya.
Pria itu membaringkan tubuh istrinya di atas brangkar, lalu dia meminta tolong kepada dokter untuk memeriksa kondisi Istrinya.
"Tolong istri saya, Dok. Sepertinya dia--"
"Owaaa... Owaaa...."
Leonel tidak bisa meneruskan ucapannya karena mendengar suara tangisan bayi yang begitu nyaring, justru dia langsung menghampiri istrinya karena saat ini Leandra sudah melahirkan seorang bayi berjenis kelamin perempuan.
Bayi merah berlumur darah itu terdengar menangis dengan begitu kencang, Leonel merasa terharu, bingung dan entah perasaan apalagi yang dia rasakan saat ini.
Karena dia tidak melihat bagaimana cara Leandra mengeluarkan bayi mereka dari dalam perutnya, dia sampai terbengong-bengong.
Dokter yang melihat Leandra sudah melahirkan, dengan cepat dia membantu Leandra untuk mengeluarkan ari-ari si jabang bayi dari perut wanita itu.
"Selamat ya, Nyonya. Padahal anda belum masuk ke dalam ruang bersalin. Bahkan, diperiksa pun belum. Tapi sepertinya putri kalian sangat tidak sabar untuk segera melihat dunia," jelas Dokter.
Setelah mengatakan hal itu, dokter langsung memberikan bayi cantik itu kepada suster untuk dibersihkan. Sedangkan dirinya membersihkan darah yang mengalir dari inti tubuh Leandra.
"Iya, Dok. Dia itu tidak sabar sekali, untung tidak jatuh ke lantai," jawab Leandra ketika mengingat dirinya hanya tiduran di atas brangkar.
__ADS_1
"Tetapi dia sangat pandai karena tidak mau berlama-lama membuat Bundanya kesakitan," puji Dokter.
"Heem, dia sangat pandai." Leandra setuju dengan ucapan Dokter.
Leandra nampak tersenyum dengan begitu riang ketika melihat bayi mungil miliknya dibawa oleh suster dan langsung dibaringkan di atas dadanya. Kini dia menjadi seorang ibu.
Padahal, selama perjalanan dari rumah menuju Rumah Sakit, perutnya begitu sakit luar biasa. Akan tetapi saat ini rasa sakit itu hilang entah ke mana, hanya ada rasa bahagia yang bersarang di dalam hati mereka.
"Aduh!" ringis Leandra ketika baby mungilnya menyesap ujung dada Leandra.
"Eh? Sakit ya?" tanya Leonel yang langsung tersadar jika istrinya kini benar-benar sudah melahirkan dan sedang menyusui putri mereka.
Ya, sejak tadi Leonel malah terlihat kebingungan dengan apa yang harus dia lakukan. Dia memang merasa bahagia, tetapi kakinya seakan begitu sulit untuk bergerak. Hanya bibirnya saja yang terlihat tersenyum dengan begitu bahagia.
"Apanya yang sakit, Sayang?" tanya Leonel seraya mengusap puncak kepala istrinya, lalu dia menunduk dan mencium bibir istrinya.
"Itunya, tadi sakit. Dia kuat sekali enennya," jawab Leandra.
"Dia tidak mau kalah dengan Ayah-nya," jawab Leonel.
"Kakak!" ucap Leandra pelan tapi penuh penekanan, karena kini suster dan juga dokter sedang menatap mereka berdua seraya tersenyum.
"Eh? Iya, maaf, Sayang. Dia sangat cantik, wajahnya mirip aku." Leonel tersenyum bangga, lalu dia mengelus pipi babynya dengan jari telunjuknya.
"Heem, mirip Kakak. Jadi, nanti kita bikin lagi yang mirip kaya aku," celetuk Leandra.
Sontak dokter dan suster yang ada di sana langsung tertawa, berbeda dengan Leonel. Dia nampak memelototkan matanya dengan bibir yang menganga lebar. Dia sangat tidak percaya jika istrinya mengatakan hal itu.
"Kakak! Jangan menatap aku seperti itu, aku jadi takut." Leandra memukul lengan Leonel.
"Eh? Bukannya seperti itu, tapi... kamu serius mau punya anak lagi?" tanya Leonel dengan tidak percaya.
Istrinya baru saja melahirkan, dia bahkan sangat ingat ketika melihat Leandra berteriak kesakitan, tetapi sekarang istrinya sudah membahas untuk memiliki anak kembali.
Dia merasa jika wanita itu sangatlah aneh, berteriak-teriak ketika kesakitan. Akan tetapi, lukanya belum sembuh saja dia sendiri yang ingin kembali memiliki anak. Sungguh wanita itu makhluk yang sangat unik, pikirnya.
"Sangat serius, aku mau punya anak yang banyak. Kalau perlu aku tidak perlu kuliah lagi, karena aku tidak mau meninggalkan bayi mungilku ini," jelas Leandra.
"Benarkah?" tanya Leonel dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Memiliki anak dan diasuh oleh ibunya sendiri merupakan kebahagiaan tersendiri untuk suami, itulah yang saat ini Leonel rasakan.
"Ck! Kakak itu berisik, bisakah tidak bertanya terus? Aku sudah mau dipindahkan, lalu... mana baju baby kita? Dia harus memakai bajunya," jelas Leandra.
"Astaga! Aku lupa bawa," ucap Leonel seraya menepuk jidatnya.
__ADS_1
***
Hai pembaca setiaku, terima kasih sudah mengikuti cerita Othor yang satu ini. Kisah Babang Leon sama Neng Lea berakhir di sini, nantikan Ekstra part-nya, ya. Hanupis, Love sekebon jengkol 💖