
Sebenarnya Leonel memang tidak pergi kemana pun, karena setelah dia pikir-pikir lebih baik dia mengerjakan tugasnya saja di dalam ruangannya.
Atau mungkin, dia sebaiknya beristirahat saja. Karena kemarin dia sudah pergi ke luar kota, tubuhnya masih terasa sangat lelah.
Maka dari itu dia langsung masuk kembali ke dalam ruangannya, lalu dia kembali duduk di atas kursi kebesarannya.
Untuk sesaat dia duduk seraya memperhatikan ponsel milik Leandra, ponsel yang sedari tadi begitu asik Leandra mainkan.
Tidak lama kemudian dia mengambil ponsel milik Leandra. Dia yang merasa penasaran langsung membuka aplikasi hijau untuk memeriksa pesan apa yang dibaca oleh Leandra, karena Leandra terlihat tertawa-tawa saat membaca pesan yang masuk.
Dalam seketika dia merasa kesal, karena ternyata Leandra berbalas pesan dengan Lana, sahabat yang mengajak Leandra untuk pergi ke puncak.
"Haish! Beraninya dia bertukar pesan dengan kedua anak itu!" kesal Leonel.
Saat melihat sorot tajam dari mata tuan Lincoln ketika menatap Lana dan juga Lingga, Leonel merasa jika kedua sahabat dari Leandra itu merupakan pria yang tidak baik.
Sangat terlihat dari bagaimana cara menatap Lana dan Lingga terhadap Leandra, tatapan mereka menyiratkan penuh keinginan.
Dia adalah seorang pria, dia juga bisa merasakan sahabat mana yang tulus dan sahabat mana yang modus.
Menurut Leonel, saat Lana dan Lingga menatap Leandra, tatapan kedua pria remaja itu terlihat begitu lain. Tatapan keduanya seperti harimau yang sedang memindai daging segar.
Setelah membaca pesan chat antara Leandra dan juga Lana, akhirnya dia pun segera masuk ke dalam ruang pribadinya.
"Lebih baik aku istirahat saja dulu di sini," ucap Leonel seraya duduk tepat di depan meja rias.
Dia tatap foto pernikahannya dengan Leana yang berada di atas meja rias, dia ambil dan dia peluk dengan begitu erat.
"Kenapa setiap aku melihat Leandra aku selalu mengingat dirimu, Sayang? Kenapa bibirnya dan juga matanya begitu sama dengan kamu?" tanya Leonel dengan bingung.
Entah kenapa, Leonel merasa jika tatapan mata Leandra begitu sama dengan Leana. Bahkan ketika Leandra tersenyum, senyum keduanya seakan sama.
Namun, ada yang beda dari keduanya. Leandra terkesan lebih manja tapi nakal, sedangkan Leana sangat mandiri tapi sangat lembut.
__ADS_1
Sepertinya rasa bersalah yang sangat besar karena tidak bisa menjaga istrinya membuat Leonel seakan melihat sosok istrinya pada diri Leandra, begitulah pikirnya.
"Sepertinya aku butuh minum air putih, aku terlalu stres dengan pekerjaan. Aku terlalu terpuruk karena sudah kehilangan istriku," ucap Leonel.
Setelah mengatakan hal itu Leonel nampak menyimpan kembali foto pernikahannya di atas meja rias, kemudian dia terlihat keluar dari dalam ruang pribadinya tersebut.
Namun, saat Leonel membuka pintunya, Leonel terlihat menutup pintunya kembali. Dia langsung memundurkan langkahnya seraya memegangi dadanya.
Saat Dia melihat Leandra yang sedang duduk seraya menggunakan dress yang dia pakai dengan rambut yang terurai, dia merasa melihat istrinya sendiri.
Leana, sosok wanita yang begitu dia cintai dan begitu dia rindukan keberadaannya. Walaupun Leana sudah tiada, tapi hatinya masih dipenuhi oleh wanita yang saat ini sudah berada di bawah gundukkan tanah itu.
Leonel benar-benar merasa syok, dia merasa sudah salah karena memesankan baju itu untuk Leandra. karena dia malah seakan-akan melihat sosok istrinya pada diri Leandra.
"Ya Tuhan! Apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa dengan semua ini? Atau mungkin aku terlalu begitu mencintai Leana, maka dari itu aku seakan melihat sosok Leana pada diri Leandra?" tanya Leonel dengan tidak percaya.
Leonel yang merasakan dadanya begitu sesak memutuskan untuk tidur, dia berharap dengan seperti itu bisa melupakan kejadian yang baru saja terjadi.
Tiga jam kemudian.
"Ya Tuhan, berapa lama aku tidur?" tanya Leonel ketika dia melihat waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang.
Setelah kepalanya terasa lebih baik, Leonel memutuskan untuk keluar dari dalam ruang pribadinya.
Saat dia mengedarkan pandangannya, dia tidak menemukan Leandra di dalam ruangannya. Dia terlihat mengernyitkan dahinya dengan hati yang resah.
Dia takut jika Leandra memutuskan untuk pulang karena merasa kesepian, tapi setelah dia pikirkan, rasanya itu tidak mungkin. Karena setahunya Leandra tidak memiliki uang, Leandra tidak dibekali uang karena takut kabur.
"Kemana dia? Ah, lebih baik aku cuci muka dulu."
Leonel terlihat melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, lalu dia mencuci mukanya dan segera keluar dari dalam kamar mandi tersebut.
"Sebaiknya aku ke ruangan Lucky saja, aku yakin Leandra di sana. Biar sekalian berangkat untuk makan siang sekaligus meeting," ucap Leonel seraya memakai jasnya.
__ADS_1
Leonel terlihat hendak masuk ke dalam ruangan Lucky, tapi niatnya dia urungkan. Karena dia serasa melihat bayangan istrinya pada tubuh Leandra yang sedang duduk seraya memangku laptop.
Saat tadi pagi Leandra masuk ke dalam ruangan Lucky, asisten pribadi dari Leonel itu menyuruh Leandra untuk masuk kembali ke dalam ruangan Leonel.
Sayangnya Leandra tidak bersedia, dia malah berkata lebih baik membantu Lucky saja. Akhirnya Lucky pun meminta Leandra untuk membantu dirinya dalam bekerja.
Leandra tentu saja bersedia, dia dengan cepat mengerjakan apa yang Lucky suruh. Bahkan gadis itu dengan cepat bisa langsung paham dengan apa yang dia ajarkan.
"Eh? Tuan, kenapa anda malah melamun di ambang pintu?" tanya Leandra yang menyadari kehadiran dari Leonel.
Leonel terlihat tersenyum canggung, lalu dia masuk seraya melepaskan jas yang dia pakai dan memakaikannya pada Leandra.
Leandra sampai diam terpaku, karena merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Leonel.
"Ehm! Kamu seperti sundel bolong, punggung kamu terlihat sampai ke bawah. Sepertinya akan lebih baik jika memakai jasku," ucap Leonel dengan gugup.
Lucky yang melihat kelakuan dari tuannya terlihat kebingungan, tapi dia tidak berani mengatakan apa pun. Dia hanya diam saja seraya menatap Leonel dan juga Leandra secara bergantian.
Begitupun dengan Leandra, dia merasa aneh dengan tingkah dari Leonel. Ingin mulutnya mengatakan sesuatu hal, tapi seakan tidak mampu.
Cukup lama Leandra menatap Leonel, hingga tidak lama kemudian dia nampak berdehem beberapa kali lalu dia pun mulai mengeluarkan suaranya
"Oh!" hanya itu pada akhirnya kata yang mampu keluar dari bibir Leandra.
Karena jujur saja dia merasa bingung harus berkata apa, Leandra hanya bisa menatap wajah Leonel tanpa berkedip.
"Hey! Jangan menatapku seperti itu, aku hanya takut kamu masuk angin. Tidak ada niat lain," ucap Leonel karena merasa risih ditatap terus oleh Leandra.
Leonel menjadi salah tingkah dibuatnya, dia bahkan terlihat mengendurkan dasinya yang tiba-tiba saja terasa mencekik lehernya.
"Eh? Maaf, aku hanya aneh saja. Kenapa pipi anda terlihat begitu merah? Apa anda demam?" tanya Leandra.
Leandra terlihat mematikan laptopnya, lalu dia bangun dan menghampiri Leonel. Leonel langsung memundurkan langkahnya, lalu dia berkata.
__ADS_1
"Jangan mendekat! Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja," ucap Leonel seraya mengusap-usap kedua pipinya yang terasa memanas.