
"Sudahlah, Sayang. Jangan dibahas lagi, kamu juga tahu kalau Mom sudah melakukan kesalahan yang besar di masa lalu, biarkan sekarang daddy bahagia dengan cintanya," ucap Lindsay dengan tegas.
Leandra yang masih merasa tidak setuju jika daddynya memilih untuk berpisah dengan Lindsay langsung melayangkan protesnya, dia masih ingin berusaha agar kedua orang tuanya bisa bersatu tanpa ada Lili.
"Tapi, Mom. Apakah Mom sudah benar-benar ikhlas melepaskan daddy untuk tante Lili?" tanya Leandra dengan sedih.
"Harus Lea, Sayang. Mom harus bisa melepaskan daddy kamu, karena walau bagaimanapun juga Mom dulu sudah merebut daddy kamu dari Lili. Jika memang daddy kamu mau kembali kepada istrinya, Mom sudah ikhlas."
Leandra langsung memeluk Lindsay dengan erat, dia sangat tahu jika saat ini Lindsay sedang bersedih. Walaupun bibirnya berkata ikhlas.
"Apa pun keputusanmu, Mom. Aku akan selalu mendukungnya," ucap Leandra pasrah.
Leandra dan juga Lindsay terlihat berbicara dari hati ke hati, bahkan mereka juga membicarakan masalah pernikahan Leonel dan juga Leandra yang akan dilaksanakan esok hari.
Berbeda dengan Leonel, setelah Leonel mengantarkan Leandra kediaman Axton, dia kembali ke makam Leana. Dia berbicara kepada istrinya tersebut jika dia ingin menikahi adiknya.
Dia meminta restu dan meminta maaf karena tidak bisa terus menduda, dia harus menikahi adik dari almarhumah istrinya tersebut.
Setelah itu, dia segera pulang ke kediaman Harold. Saat tiba di kediaman Harold, dahi Leonel nampak mengernyit dalam ketika dia melihat mobil milik tuan Lincoln masih terparkir dengan cantik di halaman rumahnya.
Leonel langsung menegur sopir pribadi tuan Lincoln yang sedang bercengkerama dengan security yang berjaga di sana, karena dia merasa penasaran.
"Pak, apakah daddy masih berada di sini?" tanya Leonel.
"Iya, Tuan. Katanya mau berbicara dulu dengan nyonya Lili, saya disuruh menunggu," jawab Pak sopir.
"Oh," jawab Leonel.
Setelah mengatakan hal itu, Leonel tampak masuk ke dalam rumahnya. Dia mencari sosok tuan Lincoln dan juga Lili, tetapi setelah dia mengitari seluruh isi rumahnya dia tidak menemukan kedua insan tersebut.
"Ke mana mereka? Ataukah mungkin mereka sedang berbicara di dalam kamar ibu?" tanya Leonel.
Leonel yang merasa penasaran langsung melangkahkan kakinya menuju kamar dari Lili, dia sempat mencoba untuk membuka pintu kamar tersebut.
Sayangnya pintu itu terkunci, ingin sekali Leonel mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh Lili dan juga tuan Lincoln. Sayangnya kamar itu kedap suara.
Namun, sempat terlintas di pikirannya jika tuan Lincoln dan Lili bukan sedang berbicara dari hati ke hati. Akan tetapi, mereka sedang meluapkan kerinduan yang sudah lama terpendam.
Dua puluh tiga tahun tidak bertemu bukanlah waktu yang sebentar, mereka pasti benar-benar saling merindukan.
"Ck! Mereka pasti sedang bercinta," ucap Leonel yang merasa iri dengan apa yang sedang dilakukan oleh sepasang suami istri itu.
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Leonel nampak melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, lalu dia menarik selimut dan menariknya sampai sebatas dada.
"Oh ya ampun Leonel, besok kamu akan menikah dengan gadis nakal itu. Ingat Leonel, Ini adalah sebuah pernikahan. Bukan sebuah permainan, sepertinya aku harus merubah gadis nakal itu menjadi istri yang baik. Karena aku tidak mungkin menceraikannya," gumam Leonel.
Leonel tersenyum ketika mengingat jika besok adalah hari pernikahannya, hari di mana dia akan menjadi seorang suami kembali.
Leonel sudah bertekad di dalam hatinya, jika dia tidak akan mempermainkan pernikahannya dengan Leandra. Karena walau bagaimanapun juga mereka akan menikah, itu artinya harus berumah tangga dengan baik dan benar.
"Lea, aku harap kamu tidak marah jika besok aku akan menikah dengan adikmu. Semoga kamu ikut bahagia di surga sana," ucap Leonel.
Sebenarnya kondisi tubuh Leonel belum fit, dia kini masih mengalami flu. Maka dari itu Leonel memutuskan untuk tidur, agar esok hari tubuhnya terasa fit saat acara pernikahannya dengan Leandra dilakukan.
Di dalam kamar Lili.
Awalnya Lili tidak ingin berduaan bersama di dalam kamarnya dengan tuan Lincoln, karena merasa tidak enak hati dengan Lindsay dan juga Leandra.
Akan tetapi, Lindsay berkata jika wanita itu tidak keberatan, karena memang Lili berhak sepenuhnya atas tuan Lincoln.
Setelah kepergian Lindsay, tuan Lincoln mengajak Lili untuk berbicara. Tentu saja Lili menyanggupi, tetapi ternyata tuan Lincoln langsung mengajak Lili ke dalam kamar wanita itu dan mengunci pintu kamar tersebut.
Tuan Lincoln yang begitu merindukan istrinya itu langsung memeluk dan mencumbui Lili dengan begitu mesra, awalnya Lili memberontak.
Rasanya dia sudah tidak pantas lagi untuk melakukan hal itu dengan tuan Lincoln, tetapi lama-kelamaan Lili pun melemah. Karena ternyata sentuhan pria itu mampu membuat dirinya lupa akan segalanya.
Setelah hampir 3 jam di dalam kamar tersebut, kini kedua insan berbeda jenis kelamin itu terlihat sedang duduk di atas sofa seraya berpelukan.
Lili hanya menggunakan bathrobe saja, sedangkan tuan Lincoln terlihat menggunakan handuk kecil yang melilit di pinggangnya.
Jangan tanya apa yang sudah mereka lakukan, tentu saja mereka melepas rindu dengan percintaan yang begitu panas di atas tempat tidur.
Tempat tidur milik Lili bahkan sampai tidak terbentuk, bed covernya sudah tidak ada di atas tempat tidurnya. Sedangkan spreinya sudah berantakan, bantal dan juga guling sudah teronggok cantik di atas lantai.
"Lili, Sayang. Terima kasih karena sampai saat ini ternyata kamu masih begitu mencintaiku," ucap Tuan Lincoln dengan begitu tulus.
Dia begitu senang karena bisa kembali bercinta dengan istrinya tersebut, bahkan Lili juga terlihat begitu menikmati percintaan panas mereka.
"Aku tahu kita masih memiliki rasa yang sama dan tidak pernah berubah, tetapi aku juga merasa tidak enak hati jika kita harus bersatu tetapi menyakiti hati Lindsay dan juga Leandra."
"Jangan pikirkan mereka, Lindsay sudah berkata jika dia ikhlas kalau kita kembali bersama. Sedangkan Leandra sebentar lagi juga akan menikah dengan Leon, kamu tidak usah memikirkan mereka."
"Tapi, Alex. Aku tidak bisa seperti itu, aku--"
__ADS_1
"Sudahlah, Sayang. Sekarang aku mau bertanya kepadamu, apakah kamu ingin tetap tinggal di rumah Leon atau ingin aku belikan rumah yang baru?" tanya Tuan Lincoln.
Menurutnya, jika dia membelikan rumah baru untuk Lili, maka dia akan leluasa untuk menemui istrinya tersebut.
"Aku akan tinggal di sini saja, nanti kalau Leandra sudah menikah dengan Leon, bukankah dia juga akan tinggal di sini? Setidaknya dengan melihat Leandra aku merasa putriku masih ada," jawab Lili.
"Baiklah, tapi... apakah aku boleh menemui kamu kapan pun?" tanya Tuan Lincoln.
"Tentu, tentu saja. Temuilah aku kapan pun kamu mau, aku adalah istrimu. Halal bagi dirimu untuk menyentuhku, bahkan menggauliku."
Tuan Lincoln terlihat begitu bahagia, dia bahkan langsung mempererat pelukannya seraya menunduk dan mengecupi bibir wanita yang begitu dia rindukan itu.
Jika saja usianya masih muda, dia ingin menghabiskan waktunya bersama dengan Lili untuk bercinta. Sayangnya, tuan Lincoln sudah tua, jika bercinta dalam waktu yang lama dia takut akan mengalami sakit pinggang.
"Kalau begitu, aku pulang dulu. Kamu jaga kesehatan, jangan sampai sakit. Oiya, Sayang. Sepertinya aku akan datang setiap hari untuk menemui kamu," ucap Tuan Lincoln.
"Jangan setiap hari juga, nggak enak sama Leon," ucap Lili keberatan.
Justru yang diinginkan pria paruh baya itu adalah selalu bersama dengan Lili, kalau bisa tuan Lincoln ingin tinggal bersama dengan Lili di dalam satu rumah yang sama.
Sayangnya, Lili tidak mau tinggal satu atap dengan tuan Lincoln. Tentu saja alasannya karena dia takut menyinggung perasaan Lindsay.
"Biarkan saja aku datang, kenapa juga kamu harus merasa tidak enak. Leon pernah menikah, dia juga pernah merasakan--"
"Sudah, sudah. Kamu itu berisik, lebih baik cepat pakai baju dan segera pulang. Males aku ngomong terus sama kamu, kamu tuh arah-arahnya terus ke situ aja," pungkas Lili.
Tuan Lincoln tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, sekarang dirinya diusir. Sedangkan tadi, Lili meminta dirinya untuk terus bergerak di atas tubuhnya seraya mengerang dan melenguh dengan penuh nikmat.
"Habisnya aku rindu, apa lagi setelah dua puluh tiga tahun kita baru bercinta kembali. Kamu benar-benar terasa seperti perawan, kalau saja umurku masih muda, aku akan membawamu pergi liburan dan akan menghabiskan waktu untuk bercinta sepanjang hari," celetuk Tuan Lincoln.
"Mana ada yang seperti itu, dasar lelaki messum!"
"Biar, biarkan saja aku messum. Aku begini juga sama istri sendiri, halal, Yang," ucap Tuan lincol seraya bangun dan melepaskan handuknya begitu saja.
Lili hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat milik suaminya, benda tidak bertulang itu sudah membuat dirinya merasakan sakit dan juga nikmat dalam waktu yang bersamaan.
Berbeda dengan tuan Lincoln, dia terlihat begitu santai dalam memakai bajunya. Setelah itu dia menghampiri Lili, lalu dia memberikan ciuman yang begitu mesra sebelum dia berpamitan untuk pergi.
Walaupun usia tuan Lincoln sudah tidak muda lagi, tetapi rasa ciumannya tetap terasa begitu manis dan memabukkan.
"Aku pergi dulu, besok sore jangan lupa dandan yang cantik untuk menghadiri acara pernikahan Leandra. Setelah acara pernikahan selesai aku ingin membawa kamu ke suatu tempat," ungkap Tuan Lincoln.
__ADS_1
"Ke mana?" tanya Lili.
"Aku akan mengajak kamu ke--"