Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 80


__ADS_3

"Tidak usah, aku sudah sembuh," ucap Leandra.


Leandra sudah mengatakan jika pernikahan mereka tidak ingin diketahui orang banyak, maka dari itu dia tidak mau jika Leonel ikut bersama dengan dirinya ke kampus.


Jika Leonel ikut ke kampus, itu artinya pasti akan banyak orang yang menanyakan tentang siapa Leonel. Dia takut nantinya malah akan keceplosan, dia akan mengatakan jika Leonel adalah suaminya.


Untuk sesaat Leonel terdiam, dia memperhatikan wajah istrinya yang seakan enggan untuk berdekatan dengan dirinya.


"Jangan bilang kalau kamu malu jika aku temani?" tanya Leonel.


Leandra baru berusia delapan belas tahun, sedangkan dirinya sudah berusia dua puluh tujuh tahun. Selisih usia diantara mereka saja mencapai 9 tahun, Leonel jadi merasa jika Leandra malu jika dia berdekatan dengan istrinya tersebut.


"Eh? Aku tidak malu, hanya saja aku merasa risih kalau kamu tungguin. Kamu tuh suami aku, bukan bodyguard aku. Jadi, lebih baik aku kuliah dan kamu bekerja." Leandra berusaha untuk tersenyum dengan begitu manis.


Senyum di bibir Leonel terlihat begitu merekah mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, hatinya terenyuh ketika Leandra mengatakan kata suamiku.


"Beneran?" tanya Leonel.


Leandra menganggukan kepalanya dengan cepat, karena dia tidak ingin Leonel merasa ragu dengan apa yang sudah dia katakan.


"Iya, sebaiknya kamu kerja aja yang bener. Biar bisa ajak aku liburan, maksud aku kalau kamu kerja nanti kamu bisa mengajak aku untuk berbulan madu," ucap Leandra yang merasa konyol dengan ucapannya sendiri.


Hanya berdiam diri di dalam rumah saja Leonel sudah membuat dirinya tidak berdaya, bagaimana nasibnya jika Leonel benar-benar mengajak dirinya untuk pergi berbulan madu, pikirnya.


Andai saja mereka sedang berada di dalam rumah, sudah dapat dipastikan jika Leonel pasti akan memeluk istrinya dengan begitu erat.


Kalau perlu, Leonel ingin mengajak istrinya untuk bergumul di atas tempat tidur. Rasanya tidak ada puasnya dengan apa yang sudah mereka lakukan sebanyak dua kali itu.


"Oh ya ampun, kamu ini manis sekali. Kalau sudah begini, jangan salahkan aku kalau--"


"Sudah jangan banyak bicara lagi, Kakak pergi sana. Aku mau kuliah," pungkas Leandra dengan cepat.


Dia takut jika Leonel akan mengatakan hal yang tidak-tidak, atau bahkan pria itu akan mengeluarkan kata-kata yang akan membuat dirinya ingin merasakan kembali kenikmatan dalam bercinta.


"Baiklah, aku akan bekerja. Kamu kuliah yang bener, kalau itunya sakit lagi langsung telpon aku," ucap Leonel.


"He'em," jawab Leandra.


Leonel tersenyum dengan hangat, lalu dia mengusap puncak kepala istrinya dengan penuh kasih. Setelah Itu, dia terlihat hendak masuk ke dalam mobilnya, tetapi hal itu dia urungkan.


Hal itu terjadi karena dia melihat Liam yang datang menghampiri Leandra, tanpa rasa ragu sedikit pun dia langsung merangkul pundak Leandra.


"Akhirnya elu datang juga, ada yang mau gue tunjukkin sama elu. Gue ju--"


Plak!

__ADS_1


Leonel yang merasa tidak terima saat melihat Liam langsung merangkul pundak istrinya, langsung memukul lengan Liam dengan cukup kencang.


"Aww!" jerit Liam seraya mengibas-ngibaskan lengannya yang terasa sakit.


Leonel tersenyum senang melihat Liam yang kesakitan, jika saja tidak ingat dengan umurnya saat ini, dia pasti sudah melayangkan bogem mentah pada rahang Liam.


"Itu hukuman karena kamu sudah seenaknya merangkul pundak istriku!" geram Leonel tanpa sadar.


Liam yang sedang mengibas-ngibaskan lengannya langsung menghentikan gerakannya, dia menatap Leonel dengan tidak percaya.


Liam terlihat mengerjapkan matanya dengan bibir yang menganga lebar, tidak lama kemudian dia mengusap telinganya. Sungguh Liam takut jika dia sudah salah mendengar dengan apa yang dikatakan oleh Leonel.


Begitupun dengan Leandra, dia tidak percaya dengan apa yang sudah Leonel katakan. Padahal, Leandra sudah berkali-kali mengatakan jika hubungan mereka harus dirahasiakan.


Leandra menatap wajah Leonel dengan raut kekecewaan yang tersirat di matanya, kemudian wanita itu pun berkata.


"Kakak!" panggil Leandra dengan suara tertahan dan penuh dengan penekanan.


Leonel yang belum sadar dengan apa yang sudah dia katakan tersenyum hangat ke arah istrinya, lalu dia pun berkata.


"Kenapa, Sayang?" tanya Leonel seraya mengusap lengan Leandra.


Mendapatkan perlakuan seperti itu dari Leonel, Leandra semakin kesal dibuatnya. Dia merasa jika Leonel tidak pengertian, dia menjadi tidak enak hati terhadap Liam.


"Kakak sudah lupa dengan kesepakatan yang sudah kita buat?" tanya Leandra.


Tidak lama kemudian, Leonel menepuk jidatnya. iya benar-benar lupa jika pernikahan mereka harus dirahasiakan.


"Maaf, Sayang. Habisnya aku ngga tahan lihat dia pegang-pegang kamu seenaknya," ucap Leonel penuh penyesalan.


Sungguh Leonel merasa takut saat menatap wajah Leandra yang terlihat begitu marah kepada dirinya, dia takut jika hubungan yang sudah menghangat di antara keduanya akan merenggang kembali.


"Sayang, maafkan aku. Aku---"


"Kakak nyebelin, aku pergi dulu!"


Leandra menatap sinis ke arah Leonel, lalu dia berlalu begitu saja tanpa menolehkan wajahnya ke arah Liam.


"Ya Tuhan, tamat sudah riwayatku." Leonel menatap nanar kepergian istrinya, lalu dia mengusap dahinya yang berkeringat.


Liam yang sedari tadi terdiam, menghampiri Leonel karena dia ingin bertanya kepada pria itu. Dia ingin memastikan jika apa yang dia dengar bukan hal yang salah.


Liam masih berharap jika Leandra bukan istri dari Leonel, dia masih berharap jika apa yang dia dengar adalah hal yang tidak benar adanya.


"Brother, jadi... kalian beneran suami istri? Kalian beneran sudah menikah?" tanya Liam dengan raut wajah kecewa.

__ADS_1


Leonel menghela napas berat, kemudian dia menolehkan wajahnya ke arah Liam. Lalu, dia menepuk pundak Liam beberapa kali.


"Hem, dia istriku. Kami sudah menikah dan kami sudah--"


Leonel tidak meneruskan ucapannya, dia malah menatap Liam dengan senyum penuh arti di bibirnya seraya menaik turunkan alisnya.


Terlanjur sudah Liam mengetahui jika dirinya dan juga Leandra sudah menikah, jadi... apa salahnya jika Leonel mengatakan hal yang sejujurnya, pikirnya.


Dengan seperti itu, dia berharap jika Liam tidak akan mendekati Leandra lagi. Dia berharap jika Liam tidak akan mengejar cinta Leandra lagi.


Melihat gelagat dari Lionel, Liam seolah paham jika pria itu sedang mematahkan harapannya.


Wajahnya kini terlihat memucat, karena wanita yang dia sukai sejak lama ternyata sudah bersuami.


"Jadi... kalian sudah--"


Liam menautkan kedua jari telunjuknya, dia seolah bertanya jika Leonel dan juga Leandra sudah melakukan hubungan suami istri.


"Hem, kami sudah melakukannya. Bahkan, sebelum pergi kuliah saja kami kembali melakukannya." Leonel tersenyum penuh kemenangan.


Rasanya dadanya begitu sesak mendengar apa yang dikatakan oleh Leonel, karena ternyata Leandra bukan hanya sudah menikah. Tetapi Leandra sudah menjadi milik dari Leonel seutuhnya.


"Ya Tuhan, hatiku patah," keluh Liam seraya berlalu dari hadapan Leonel.


Leonel benar-benar merasa puas melihat raut kekecewaan di wajah Liam, dengan seperti itu dia berharap jika Liam tidak akan mendekati istrinya lagi.


"Lebih baik aku ke kantor saja," ucap Leonel seraya masuk ke dalam mobilnya.


Selama perjalanan menuju perusahaan Harold, Leonel terus saja mengembangkan senyumnya. Dia merasa bahagia karena bisa mengatakan yang sejujurnya di hadapan Liam.


Sesampainya di perusahaan Harold, dia langsung melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya. Semua karyawan yang bekerja di sana memandang Leonel dengan tidak berkedip, tetapi pria itu nampak acuh.


Tentu saja hal itu terjadi karena Leonel yang biasanya memakai baju formal, kini dia memakai kaos panjang berwarna biru muda dipadupadankan dengan celana jeans dengan warna yang sama.


Leonel terlihat jauh lebih muda dari usianya, dia terlihat seperti anak kampus yang hendak magang di perusahaan tersebut.


"Lucky, aku---"


Leonel tidak meneruskan ucapannya, karena kini dia melihat ada Lucky dan juga Lukas yang berada di dalam ruangannya tersebut.


"Lukas ada apa kamu kemari?" tanya Leonel.


Biasanya jika Lukas akan bertemu dengan dirinya, pria itu akan menghubungi dirinya terlebih dahulu. Setelah itu, baru mereka akan memutuskan untuk bertemu di mana.


Lukas yang sedang duduk tepat di samping Lucky langsung bangun untuk menghampiri Leonel, kemudian dia tersenyum canggung ke arah sahabatnya itu dan berkata.

__ADS_1


"Leon, aku--"


__ADS_2