Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 75


__ADS_3

Anda kenapa, Tuan Leonel? Saya mengajak Putri untuk pergi, kenapa anda tidak memperbolehkan? Memangnya ada hubungan apa antara anda dan juga Putri?" tanya Liam.


Leonel begitu geram mendengar pertanyaan dari Liam, kalau saja Leandra tidak meminta dirinya untuk menyembunyikan hubungan mereka, sudah dapat dipastikan jika Leonel akan berkata jika Leandra adalah istrinya.


"Katakan kepada saya, kenapa anda terlihat begitu posesif terhadap Putri?" tanya Liam lagi.


Untuk sesaat Leonel terdiam, dia bingung harus mengatakan apa. Akan tetapi, jika tidak menjawabnya dia takut jika Leandra akan pergi bersama dengan Liam.


Walaupun Leonel menikahi Leandra tidak didasari dengan rasa cinta, tetapi saat melihat kedekatan Liam dengan Leandra rasanya dia tidak ikhlas.


Terlebih lagi Liam memanggil istrinya dengan sebutan Putri, panggilan yang terdengar seperti panggilan sayang. Padahal, nama lengkap istrinya memang Leandra Putri Axton.


Sangat wajar rasanya jika Liam memanggil Leandra dengan nama tengahnya, kecuali jika Liam memanggil Leandra dengan ucapan sayang.


"Kenapa diam saja? Anda tidak bisa menjawab pertanyaan dari saya, kan? Kalau begitu anda tidak perlu repot-repot untuk menahan Putri atau mengajak Putri pergi dengan anda, karena dia akan pergi dengan saya," ucap Liam seraya menarik pergelangan tangan Putri dengan lembut.


Melihat akan hal itu, bahkan mendengar apa yang dikatakan oleh Liam, rasanya hati Leonel benar-benar panas. Dia pun langsung melayangkan protesnya.


"Tidak bisa! Ayahnya sudah menitipkan Leandra kepada saya, jadi anda tidak berhak pergi dengan Leandra. Satu hal lagi, jangan pernah memanggil dia dengan sebutan Putri. Saya tidak suka," ucap Leonel seraya merengkuh pundak Leandra lalu menuntunnya agar masuk ke dalam mobilnya.


Leandra tidak berani mengatakan apa pun, karena walau bagaimanapun juga Leonel adalah suaminya.


Lagi pula Leonel tidak bersikap kasar, dia hanya menuntun Leandra dengan begitu lembut dan mendudukkannya dengan hati-hati.


Liam begitu kesal melihat akan hal itu, tapi dia tidak bisa melakukan apa pun. Karena Leonel kini sudah pergi dari Kafe tersebut.


Leonel dan juga Leandra terlihat duduk di bangku penumpang, sedangkan Linda duduk di samping Lucky yang sedang asyik mengendarai mobil.


Saat di dalam mobil, Leonel berusaha untuk mengontrol emosinya. Entah kenapa dia merasa kesal saat berhadapan dengan Liam, apalagi melihat cara Liam menatap dan memperlakukan Leandra.


Dia ingin sekali langsung mengatakan sesuatu hal yang berada di dalam pikirannya, tapi dia berusaha untuk menahannya.


"Lucky, tolong antarkan aku terlebih dahulu. Setelah itu kamu dan Linda kembalilah ke kantor," pinta Leonel.


Leonel membuka kemeja yang dia pakai, lalu dia juga membuka dasi yang dia pakai karena terasa mencekik lehernya.


"Ya Tuan," jawab Lucky.


Lucky langsung mengantarkan atasannya tersebut ke kediaman Harold, selama perjalanan menuju kediaman Harold semuanya nampak terdiam dengan pemikiran masing-masing.


Setelah tiba di kediaman harol Lucky dengan cepat turun dan membukakan pintu untuk Leonel, dia. membungkukkan badannya lalu berkata.


"Silakan, Tuan," ucap Lucky.


Leonel berusaha untuk tersenyum, lalu dia menganggukkan kepalanya.


"Ya," jawab Leonel seraya turun dari dalam mobilnya dan menarik lembut tangan Leandra agar mengikuti dirinya untuk segera masuk ke dalam kamar utama.


Leandra tidak melakukan perlawanan, dia hanya pasrah dengan apa yang suaminya. lakukan kepada dirinya.

__ADS_1


Jujur saja mendapatkan perlakuan yang begitu posesif dari Leonel membuat Leandra senang dan juga kesal dalam waktu bersamaan.


Ada perasaan senang yang menyeruak ke dalam hatinya, karena dia merasa menjadi istri yang sesungguhnya untuk Leonel.


Akan tetapi, di lain sisi dia juga merasa kesal karena Leonel terkesan begitu mengatur dirinya dengan apa yang ingin dia lakukan.


"Dia sangat aneh!" keluh Leandra dengan suara lirih.


Hal itu sengaja dia lakukan agar Leonel tidak mendengar apa yang dia keluhkan, sayangnya Leonel sudah mendengar apa yang Leandra katakan. Walaupun tidak terdengar dengan begitu jelas.


"Kamu bilang apa?" tanya Leonel menghentikan langkahnya.


"Aku tidak mengatakan apa pun, aku hanya ingin istirahat," jawab Leandra seraya nyengir kuda.


Leonel hanya menggelengkan kepalanya, kemudian dia mengajak Leandra untuk segera masuk ke dalam kamar utama.


Saat tiba di dalam kamar utama, Leonel langsung mendorong tubuh Leandra sehingga gadis itu langsung jatuh terduduk di atas sofa.


Leandra sampai kaget dibuatnya, dia tidak menyangka jika Leonel akan memperlakukan dirinya seperti itu.


Ingin dia menduga jika Leonel akan melakukan hal yang tidak-tidak terhadap dirinya, tetapi wajah pria itu tidak terlihat messum. Leonel terlihat kesal dan marah.


"Kakak nakal!" keluh Leandra.


"Ck! Diamlah, aku mau bicara. Dengarkan aku, Leandra. Walaupun kamu ingin hubungan kita tidak diketahui oleh siapa pun, aku berharap kamu bisa menjaga batasan kamu!"


Entah kenapa Leonel merasa tidak ikhlas jika Leandra dekat-dekat dengan pria mana pun, dia merasa harga dirinya sebagai suami diinjak-injak.


Leandra merasa sangat heran ketika suaminya mengatakan hal seperti itu, terdengar begitu aneh di telinga Leandra.


"Maksud Kakak apa? Bagaimana sih, Kak? Aku tidak paham," protes Leandra.


Dahi Leandra nampak mengernyit heran, matanya menyipit dan tangan Leandra nampak menggoyang-goyangkan lengan Leonel. Gadis itu nampak tidak sabar untuk mendapatkan jawaban dari Leonel.


"Kamu tidak boleh berdekatan dengan pria mana pun, karena kamu sudah memiliki suami. Paham?" tanya Leonel.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Leonel, Leandra langsung mengerucutkan bibirnya. Dia tidak terima mendengar Leonel berkata seperti itu.


"Tapi, Kak. Liam itu adalah Kakak kelasku, kami sudah kenal sejak lama. Masa dia menyapaku, tapi aku tidak membalas sapaannya?" ucap Leandra yang merasa tidak suka dengan teguran dari suaminya.


Leonel berdecak sebal, karena Leandra terus saja membantah ucapannya.


"Jangan pernah mengatakan hal itu lagi, Leandra. Aku adalah lelaki, aku paham jika Liam menyukai kamu. Aku tidak mau kamu nanti dicap sebagai wanita jelek karena sudah dekat dengan Liam, padahal kamu sudah bersuami."


Leandra merasa jika Leonel sangat berlebihan, walaupun dia tidak menikah dengan Leonel, dia tidak akan berpacaran dengan Liam. Karena Leandra tidak menyukai pria itu.


"Hais! Mana ada yang seperti itu, Kakak ini aneh-aneh aja. Lagian siapa juga yang mau selingkuh sama kak Liam, kalaupun kami dekat itu karena kami bersahabat. Bukan karena aku mau berselingkuh," jelas Leandra.


Leonel duduk di samping Leandra, dia membuka tiga kancing kemejanya karena merasa gerah sudah berdebat dengan Leandra.

__ADS_1


"Terserah apa kata kamu, tapi aku nggak suka kamu deket-deket sama pria yang tadi." Leonel menggulung kemeja yang dia pakai sampai ke siku.


Leandra tersenyum melihat tingkah dari Leonel, entah mengapa dia merasa jika Leonel sedang cemburu kepada dirinya. Dia merasa ingin menggoda suaminya tersebut.


"Pria yang mana lagi yang tidak boleh aku dekati?" tanya Leandra seraya merapatkan tubuhnya.


"Ck! pria yang tadi, pria yang jadi rekan bisnisku. Aku tidak mau kamu dekat dengan dia," ucap Leonel.


Setelah mengatakan hal itu, Leonel langsung menarik pergelangan tangan Leandra yang tadi ditarik oleh Liam. Lalu dia usap dengan begitu lembut.


"Aih! Kenapa tanganku diusap-usap kayak gitu, geli tau." Leandra berusaha untuk menarik tangannya kembali.


Usapan lembut dari tangan Leonel membuat sekujur tubuhnya seakan meremang, dia merasa tidak tahan.


"Tunggu sebentar, apalagi yang tadi dia pegang?" tanya Leonel seraya mengusap-usap kedua pundak istrinya.


"Aih! Kakak ih, jangan kaya gitu dong, Kak. Aku beneran merinding," ucap Leandra jujur.


"Habisnya kamu tadi malah asik banget ngobrol sama dia, aku ngga suka." Leonel menurunkan tangannya dari pundak istrinya.


Mendapatkan perlakuan seperti itu dari Leonel, dia malah teringat saat menonton serial drama TV tentang bagaimana perlakuan seorang suami terhadap istrinya.


"Ck! Tingkah Kakak sudah seperti suami sungguhan saja," ucap Leandra seraya terkekeh.


Leonel yang merasa tersinggung dengan ucapan Leandra langsung mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu, Leandra bahkan sampai memundurkan wajahnya.


"Dengar istriku, Sayang. Kita memang sudah menikah dan aku suamimu yang sebenarnya, pernikahan adalah hal yang sakral dan tidak untuk dimainkan. Jika untuk saat ini kamu memang belum mencintaiku, itu tidak masalah. Tetapi, berhentilah bersikap konyol atau bersikap terlalu ramah terhadap pria lain."


Leandra terdiam, entah kenapa di saat mereka berdekatan seperti ini jantung Leandra terasa akan berdetak dengan lebih cepat. Dia bahkan bisa mendengar sendiri detak jantungnya.


"Leandra, Sayang. Jantung kamu berdebar dengan sangat kencang, kenapa?" tanya Leonel seraya mengangkat tubuh Leandra dan mendudukkannya di pangkuannya.


Leandra merasa tidak nyaman dengan apa yang Leonel lakukan, tetapi saat dia hendak melayangkan protesnya, dia merasa tidak perlu melakukan hal itu karena Leonel adalah suaminya.


"Aku... aku hanya kaget mendengar ucapan Kakak," jawab Leandra.


"Benarkah?" tanya Leonel seraya memeluk pinggang Leandra dengan erat, lalu dia mengusakkan wajahnya pada dada Leandra.


Leonel bahkan langsung menghirup aroma tubuh Leandra, terasa wangi dan juga membuat dirinya seakan mabuk karena mencium aroma ganja.


"Iya, Kak. Sekarang aku mau mandi, turunin aku, Kak." Leandra yang merasa tidak nyaman berusaha untuk mendorong wajah Leonel.


"Jangan didorong, Leandra." Leonel mendongakkan wajahnya lalu dia menatap Leandra dengan lekat.


Leandra menjadi salah tingkah dibuatnya, dia benar-benar merasa jika dirinya kini menjadi orang bodoh yang tidak mampu berpikir dengan jernih.


"Leandra!" panggil Leonel.


"Ya," jawab Leandra.

__ADS_1


"Maukah kita memulainya dari awal? Maksudku, maukah kamu menjadi istriku yang sesungguhnya? Kita akan berumah tangga layaknya pasangan suami istri lainnya, kamu mau, kan?" tanya Leonel.


__ADS_2