Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 37


__ADS_3

"Lukas, apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Leonel dengan begitu penasaran.


Lukas begitu salah tingkah ketika Leonel bertanya kembali kepada dirinya, untuk sesaat dia terdiam seolah sedang mencari jawaban yang tepat agar sahabatnya itu tidak curiga terhadap dirinya.


Namun, tidak lama kemudian Lukas nampak memaksakan diri untuk tersenyum. Lalu, dia pun mulai bersuara.


"Eh? Anu, itu---"


Lukas kembali terdiam, dia berusaha untuk memutar otaknya. Dia sedang mencari jawaban yang tepat yang akan dia katakan kepada Leonel, sahabatnya.


Saat dia sedang berusaha berpikir dengan keras, tanpa sengaja Lukas malah melihat Leandra dengan wajahnya yang terlihat begitu aneh.


Tidak lama kemudian, Lukas nampak melebarkan senyumnya karena merasa memiliki alasan apa yang akan dia katakan kepada Leonel. Kemudian, dia menepuk lengan Leonel dan berkata.


"Hey! Lihat anak tuan Lincoln itu, dia terlihat aneh. Wajahnya terlihat memerah, gerakan badannya juga terlihat aneh!" ujar Lukas seraya menunjuk ke arah Leandra.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Lukas, Leonel langsung menolehkan wajahnya ke arah Leandra. Dia langsung mengernyitkan dahinya ketika melihat wajah Leandra yang memang terlihat aneh, bahkan dia bergerak seperti cacing kepanasan.


Satu hal yang membuat dia kesal, tangan Lana terlihat mengelus-ngelus lembut punggung Leandra. Walaupun Leandra berkali-kali menepisnya, tapi Lana tetap melakukannya kembali.


Begitupun dengan Lingga, sahabat dari Leandra itu terlihat mengusap paha Leandra seraya menatapnya dengan tatapan nakalnya.


Entah kenapa, saat melihat akan hal itu emosi yang dirasakan oleh Leonel terasa memuncak sampai ke ubun-ubun.


Matanya memancarkan kilatan amarah, bahkan rahangnya mengeras dengan kedua telapak tangannya yang mengepal dengan sempurna.


''Aku pergi dulu, nanti kita bicara lagi!" ucap Leonel tanpa memedulikan kecurigaan yang sejak tadi ingin dia ketahui.


Setelah mengatakan hal itu, Leonel langsung menghampiri Leandra. Dia menepis tangan Lana dan juga Lingga dengan begitu kasar.


Dia tidak suka saat tangan-tangan nakal itu menyentuh dan mengusap bagian tubuh Leandra, dia merasakan hatinya seakan terbakar.


"Apa yang sedang kalian lakukan terhadap Leandra, hah?" tanya Leonel dengan tatapan penuh amarah saat menatap wajah Lingga dan juga Lana.


Baik Lana ataupun Lingga begitu kaget saat melihat kedatangan Leonel yang secara tiba-tiba, bahkan mereka hanya bisa diam seraya mengusap-usap tangan mereka yang terasa sakit karena ditepis dengan begitu kasar oleh Leonel.


"Eh? Anu, Om. Saya tidak ngapa-ngapain, Kok. saya--"


Lana terlihat kebingungan untuk menjawab, sedangkan Lingga terlihat terdiam tanpa berani mengatakan hal apa pun.


Dia hanya mampu menatap Leonel dengan tatapan penuh tanya, karena dia merasa belum pernah bertemu dengan pria dewasa di hadapannya.


Untuk apa Leonel berusaha menyelamatkan Leandra dari jerat dirinya dan Lana, pikirnya. Karena pria dewasa itu bukanlah saudara dari Leandra.

__ADS_1


Leonel yang begitu emosi berusaha untuk meredam emosinya, dia tidak ingin membuat kekacauan dengan memukul kedua anak muda di hadapannya.


Lagi pula dengan melakukan hal itu hanya akan merusak reputasinya, lebih baik dia membalas perbuatan kedua sahabat Leandra itu dengan caranya.


Tanpa banyak bicara, Leonel langsung mengangkat tubuh Leandra dan membawanya keluar dari dalam Kafe tersebut.


Tepat di saat dia keluar dari Kafe tersebut, Lucky baru saja sampai. Dia terlihat begitu kaget kala melihat Leonel yang membopong tubuh Leandra.


Lucky bahkan merasa begitu aneh ketika melihat Leandra bergerak begitu liar di dalam gendongan tuannya, ini sangat membingungkan bagi Lucky.


Padahal, dia hanya meninggalkan Leandra dan juga Leonel dalam waktu sebentar saja. Hanya untuk mengisi perutnya yang terasa keroncongan karena belum makan malam.


"Ada apa, Tuan? Apa yang terjadi dengan Nona Leandra?" tanya Lucky seraya membukakan pintu mobil untuk tuannya.


Leandra memeluk Leonel dengan erat, lalu dia mengecupi cerukan leher Leonel. Gadia itu nampak tersenyum nakal seraya mengusap-usap bibir Leonel.


Leonel berusaha untuk menghindar, dia memundurkan wajahnya karena bibir Leandra semakin mendekat ke bibirnya.


"Tidak usah banyak bicara, lebih baik segera kita pulang saja," jawab Leonel.


Lucky menurut, dia segera masuk ke dalam mobil dan duduk di balik kemudi. Tanpa banyak bicara dia langsung melajukan mobilnya menuju kediaman Harold.


Leonel yang duduk di bangku penumpang nampak tidak tenang, pasalnya Leandra kini bertingkah seperti cacing kepanasan.


Bahkan, tanpa Leonel duga tiba-tiba saja Leandra naik ke atas pangkuannya. Lalu, dia memeluk leher Leonel dengan sangat kencang.


Begitupun dengan Lucky, dia merasa tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Leandra. Gadis itu seakan lupa diri, dia seperti bukan dirinya.


"Turun, Leandra!" sentak Leonel dengan begitu kesal, karena kini tangan kanan Leandra mulai turun dan mengusap dada Leonel lalu ke perutnya.


Leonel yang sudah lama tidak mendapatkan sentuhan seperti itu, membuat tubuhnya panas dingin.


Apalagi saat ini Leandra sedang membuka kancing kemejanya, tentu saja hal itu membuat Leonel was-was.


Dengan cepat Leonel menangkap kedua tangan Leandra dan menepisnya dengan kasar, sungguh kelakuan Leandra ini benar-benar di luar dugaannya.


"Ah! Sakit!" ucap Leandra seraya memajukan tubuhnya dan membusungkan dadanya, hal itu membuat wajah Leonel menempel pada dada gadis itu.


"Sial! Turun, Leandra!" umpat Leonel ketika merasakan dada Leandra yang begitu kenyal.


Bukannya turun dari atas pangkuan Leonel, justru Leandra malah menunduk dan menatap wajah tampan Leonel.


"Aku tidak mau turun, wajah anda sangat tampan. Dada anda juga sangat nyaman untuk disentuh, anda tidak mau menyentuh aku, Tuan?" tanya Leandra seraya menarik tangan Leonel untuk meremat dadanya.

__ADS_1


Leonel benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang Leandra lakukan, yang dia tahu Leandra memang nakal. Namun, tidak nakal seperti saat ini.


"Hastaga! Apa yang kamu lakukan?" tanya Leonel dengan kaget.


Leonel terpaku saat tangannya kini sudah menyentuh dada Leandra, mau dia lepaskan rasanya sangat sayang. Namun, kalau mau dia teruskan, rasanya sangat tidak masuk akal.


"Hihihi! Sentuh aku, Tuan. Aku mau disentuh dan dibelai," ucap Leandra seraya menggoyangkan pinggulnya.


Leonel langsung menahan napasnya, rasanya di antara kedua selangkangannya seakan ada yang menggeliat.


Lucky yang sedang mengemudi sempat memperhatikan apa yang Leandra lakukan lewat kaca tengah, dia mengatupkan mulutnya menahan tawa.


Baru kali ini dia melihat Leonel tidak berdaya, Leonel seakan terus saja menimang-nimang apa yang harus dia lakukan kepada Leandra.


"Lucky, apa kamu tahu dia kenapa?" tanya Leonel dengan suara yang mulai serak.


"Sepertinya Nona Leandra terpengaruh obat perangsang, Tuan," jawab Lucky.


"Shiitt!" umpat Leonel kala merasakan miliknya yang sudah berdiri tegak karena Leandra tidak hentinya menggoyangkan pinggulnya.


Bahkan, bibir Leandra tidak hentinya mengecupi cerukan lehernya. Hal itu benar-benar membuat gairah kelelakiannya bangkit.


Lucky yang melihat akan hal itu langsung tertawa dengan terbahak-bahak, dia merasa lucu saat melihat wajah Leonel yang memerah karena merasakan hasratnya yang sudah memuncak.


"Lucky! Jangan pernah berani menertawakan aku," kesal Leonel.


"Maaf, Tuan. Tahanlah sebentar," ucap Lucky.


"Cepatlah!" seru Leonel karena kini tubuh Leandra mulai merosot dan Leandra malah mengusakkan wajahnya pada miliknya.


"Leandra!" teriak Leonel seraya mendorong wajah gadis nakal itu dengan kencang.


Sontak hal itu membuat tubuh Leandra terpental, bahkan kepalanya terbentur kursi yang sedang Lucky duduki.


"Hastaga! Anda ternyata menginginkan permainan yang kasar, baiklah! Akan aku turuti," ucap Leandra seraya menggigit bibir bawahnya.


Leandra naik kembali ke atas pangkuan Leonel, lalu dia menyatukan bibirnya dengan bibir Leonel. Leonel yang kaget hanya terdiam seraya mencengkram lengan Leandra dengan kuat.


"Aduh! Sakit," keluh Leandra ketika tautan bibirnya dia lepaskan karena hampir kehabisan oksigen.


"Makanya jangan macam-macam!" kesal Leonel seraya mendorong wajah Leandra karena gadis itu malah menunduk dan mengecupi lehernya kembali.


Leonel menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, hal itu dia lakukan agar terhindar dari bibir Leandra yang membuat hasratnya semakin terpancing.

__ADS_1


"Lebih cepat lagi Lucky, aku bisa gila!" keluh Leonel kala Leandra kini mulai mengotak-atik gesper mahal milik Leonel.


"Hihihi, anda sangat munafik. Milik anda sudah bangun dan terlihat sangat--"


__ADS_2