
Setelah tautan bibir mereka terlepas, Leandra mengecup kening Leonel dengan cukup lama. Leonel terkekeh mendapatkan perlakuan seperti itu dari Leandra, padahal awalnya Leonel merasa takut sekali jika Leandra akan mengamuk.
Dia pikir Leandra akan menjambak Liliu dan mengajak Liliu untuk bergulat, tetapi dia salah. Ternyata Leandra bisa bersikap dengan begitu dewasa, Leonel menolehkan wajahnya ke arah Liliu, kemudian dia berkata.
"Maaf, Nona Liliu. Anda bisa langsung pulang, saya ingin memakan istri saya terlebih dahulu. Eh? Maksudnya, saya ingin makan siang dengan istri saya," ucap Leonel.
Liliu begitu kesal mendengar ucapan dari Leonel, dia merasa jika ucapan dari Leonel sungguh keterlaluan.
"What? Jadi Kak Leon beneran ngusir aku?" tanya Liliu.
Dia menatap sengit ke arah Leandra, dia merasa terhina karena Leandra dengan mudahnya bisa mengambil hati Leonel.
Berbeda dengan dirinya, dia begitu sulit mencari celah agar bisa masuk ke dalam kehidupan pri itu.
"Bukannya mengusir, aku dan istriku mau--"
Leonel tidak meneruskan ucapannya, dia malah menatap Leandra seraya mengelus lembut paha istrinya.
"Ck! Aku akan segera pergi," ucap Liliu yang merasa panas melihat kemesraan di antara mereka.
Gadis itu mengambil tas miliknya dan juga berkas yang sudah ditandatangani oleh Leonel, setelah itu dia pergi dari ruangan Leonel seraya menghentak-hentakkan kedua kakinya.
Leonel dan juga Leandra langsung tertawa melihat tingkah dari Liliu, kemudian pria dewasa itu mengangkat tubuh mungil istrinya dan mendudukkannya di atas meja.
"Tunggu sebentar," ucap Leonel seraya melangkahkan kakinya.
Pria itu langsung menutup pintu dan menguncinya, dia juga menutup semua tirai yang ada di ruangan tersebut.
"Kakak mau ngapain?" tanya Leandra.
Tiba-tiba saja Leandra merasa was-was dengan apa yang Leonel lakukan, dia takut jika dirinya akan diterkam saat ini juga oleh Leonel.
"Mau makan kamu," jawab Leonel seraya mendekati istrinya.
Gleg!
Leandra menelan salivanya dengan susah, terlebih lagi saat melihat tatapan mata dari Leonel yang penuh dengan hasrat.
__ADS_1
"Eh? Aku mana enak, yang enak makanan yang sudah dibuatkan oleh Ibu. Ayo ki--"
Leandra tidak bisa meneruskan ucapannya, karena Leonel sudah membungkam bibir istrinya dengan bibirnya.
Leandra yang awalnya memberontak, langsung terdiam ketika Leonel mulai menyentuh area sensitifnya.
"Kak," panggil Leandra lirih ketika pagutan bibir mereka terlepas.
Leonel tersenyum, lalu dia mengangkat tubuh istrinya dan menidurkannya di atas sofa. Leonel menatap wajah istrinya dengan penuh hasrat.
Dia sudah menahannya sejak semalam, kali ini dia tidak akan membiarkan Leandra pergi sebelum dia bisa mengajak istrinya untuk berpeluh.
Di lain tempat.
Liliu yang merasa kesal langsung mengadukan apa yang sudah terjadi kepada ayahnya, dia merasa tidak terima diperlukan seperti itu oleh Leonel.
Dia juga berkata tidak rela karena Leonel sudah mempunyai istri yang masih anak-anak itu, Liliu berkata jika dirinya lebih pantas bersanding dengan Leonel.
"Daddy! Pokoknya aku kesal, anak kecil itu harus diberikan pelajaran!" adu Liliu.
Tuan Leonard menghela napas berat, lalu dia menatap wajah cantik putrinya. Selama ini dia selalu menuruti apa pun keinginan dari putrinya tersebut, tetapi kini dia merasa sangat lelah.
Liliu langsung memberenggut kesal, dia bahkan menatap wajah ayahnya dengan tatapan penuh kekesalan.
"Tapi, Dad. Aku menyukai kak Leon, dia tampan tapi sulit didapatkan. Aku kesal, tidak bisakah Daddy membantuku?" tanya Liliu dengan wajah masamnya.
Tuan Leonard kembali menghela napas berat, dia tidak paham dengan pemikiran dari putrinya. Karena dia selalu saja meminta hal dan harus dituruti.
"Sepertinya terlalu beresiko, Sayang. Terlebih lagi istri dari Leonel adalah putri dari tuan Lincoln, dia pasti dijaga dari kejauhan." Tuan Leonard mencoba membujuk putrinya.
Menurut tuan Leonard, sudah cukup putrinya itu berlaku semaunya. Dia harus mulai belajar mengerti jika semua yang ada di dalam dunia ini tidak bisa dia genggam dengan tangannya.
"Oh Tuhan! Sejak dulu Daddy selalu mewujudkan keinginanku, kenapa sekarang begitu sulit?" tanya Liliu.
Liliu benar-benar merasa sangat kesal, karena kini tuan Leonard terkesan tidak mau berusaha dan tidak mau membantu dirinya.
"Sulit, Sayang. Karena yang kita hadapi sekarang bukan orang sembarangan," jelas Tuan Leonard seraya meninggalkan putrinya.
__ADS_1
Dia sudah tidak mau lagi berdebat dengan Liliu, dia takut akan hilang kendali dan memukul putrinya. Lebih baik menghindar daripada berakhir dengan kekerasan, pikirnya.
Selepas kepergian tuan Leonard, Liliu nampak marah. Dia langsung melemparkan semua barang-barang yang ada di dalam ruangan kerja milik ayahnya tersebut.
"Brengsek! Kalian semua brengsek!" teriak Liliu dengan tangannya yang tidak tinggal diam.
Di perusahaan Harold.
Lucky yang ingin menemui Leonel malah terbengong karena pintu ruang kerja milik Leonel terkunci dengan rapat, ingin sekali dia menguping dengan sebenarnya apa yang terjadi di dalam ruangan tersebut.
Sayangnya ruangan Leonel kedap suara, dia hanya bisa menghela napas berat. Kemudian dia pergi ke ruang meeting untuk mewakili Leonel.
Beruntung siang ini hanya ada meeting dengan petinggi perusahaan, sehingga pria berusia dua puluh lima tahun itu bisa mewakili tuannya yang sepertinya sudah mulai bucin akut.
"Ck! Sepertinya hari ini aku akan lembur kerja," ucap Lucky dengan lesu.
Dua jam kemudian.
Lucky berjalan seraya memijat tengkuk lehernya, hari ini dia benar-benar merasa sangat lelah. Saat dia hendak masuk ke dalam ruangannya, dia melihat ada seorang OB baru saja keluar dari ruangan Leonel.
"Hey! Kemarilah!" panggil Lucky seraya melambaikan tangannya.
"Ada apa, Tuan?" tanya OB itu seraya menghampiri Lucky.
"Ngapain kamu ke ruangan bos?" tanya Lucky.
"Oh! Tadi saya dimintain tolong buat beliin baju buat nyonya Leandra," jawab OB tersebut.
Setelah menjawab pertanyaan dari Lucky, OB tersebut nampak tersenyum malu-malu. Bahkan, dia terlihat memilin ujung baju yang dia pakai.
"Baju? Bukannya tadi dia memakai baju? Kenapa minta dibeliin baju?" tanya Lucky keheranan.
Lucky yang begitu lelah karena sudah bekerja dengan sangat keras seakan tidak bisa menebak apa yang sudah terjadi di dalam ruangan Leonel, dia mendadak susah dalam berpikir.
"Hihihi, sepertinya mereka habis anu-anu. Anda tahu, Tuan? Aku lihat kemeja punya nyonya Leandra sudah sobek," ucap OB itu disertai kikikan geli.
Wajah OB tersebut bahkan sampai memerah ketika mengingat dia masuk ke dalam ruangan Leonel, ruangan kerja milik atasannya itu nampak berantakan.
__ADS_1
Berkas-berkas yang seharusnya berada di atas meja sudah berjatuhan, baju milik Leonel dan juga Leandra nampak teronggok dengan mengenaskan di atas lantai.
"Hastaga!" ucap Lucky seraya menepuk jidatnya.