Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 57


__ADS_3

Leonel langsung memutarkan bola matanya dengan malas ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Leandra, dia mengusap nama istrinya lalu berkata.


"Aku ngga jelek dan aku kuga ngga suka godain orang, Sayang. Aku---"


Tiba-tiba saja Leonel terdiam, dia tidak bisa berkata apa-apa karena dia merasa seperti melihat Leana yang sedang berjalan dan mendekat ke arahnya.


"Lea," ucap Leonel dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


Dia benar-benar merasa tidak menyangka jika Leana akan datang, Leonel sangat senang dan menatap Leana dengan mata yang tidak berkedip.


Leana membalas senyuman dari Leonel, lalu dia menghampiri tuan Lincoln dan memeluknya dengan begitu erat. Leonel langsung meneteskan air matanya ketika melihat akan hal itu.


Istrinya pasti begitu merindukan ayah kandungnya, pikirnya. makanya Leana memeluk tuan Lincoln seakan tidak mau berpisah lagi dengan pria paruh baya itu.


Anehnya, tuan Lincoln hanya diam saja saat mendapatkan pelukan dari Leana. Tuan Lincoln bahkan seolah tidak melihat kedatangan dari Leana.


Tidak lama kemudian, dia melihat Leana melepaskan pelukannya dari tuan Lincoln dan menghampiri Leandra.


Leana mengusap puncak kepala adiknya itu dengan penuh kasih sayang, lalu memeluknya dengan erat. Entah kenapa, Leonel merasa kesal melihat akan hal itu.


Jika Leana Memeluk Tuan Lincoln, dia sangat paham. Karena pasti istrinya itu begitu rindu dengannya, tetapi ketika melihat Leana memeluk Leandra, rasanya dia tidak ikhlas.


Karena gadis itu selalu saja mengajak dirinya untuk adu mulut, bahkan Leandra itu terasa begitu menyebalkan bagi dirinya.


"Lea, kamu jangan peluk dia. Aku iri, ayo peluk aku aja!"


Leonel langsung menghampiri Leana dan memeluknya dengan begitu posesif, dia bahkan menghirup aroma tubuh istrinya itu dengan sangat rakus.


Senyum di bibirnya langsung mengembang karena wangi tubuh istrinya masih tetap sama, Leonel sangat suka.


Satu bulan lebih tidak bisa memeluk istrinya, rasanya membuat Leonel begitu merindukan istrinya tersebut.


Dia benar-benar merasa bahagia, tetapi tidak lama kemudian rasa bahagia itu berubah menjadi rasa kesal yang luar biasa.

__ADS_1


Karena tiba-tiba saja dia merasakan ada orang yang sedang memukul punggungnya secara membabi buta, rasanya kemarahan di otaknya sudah sangat siap untuk meledak.


"Aduh! Aduduh, sakit!" keluh Leonel seraya melerai pelukannya.


Dia begitu kaget karena ternyata yang dia peluk adalah Leandra, gadis itu sedang menatap dirinya dengan tatapan tajamnya.


''Makanya, jadi orang itu jangan suka nyari kesempatan dalam kesempitan!" sentak Leandra seraya menginjak kaki Leonel.


Leonel langsung memelototkan matanya mendapatkan perlakuan seperti itu dari Leandra, dia tidak menyangka akan kembali merasakan kakinya diinjak oleh Leandra.


Apalagi saat melihat Leandra yang menginjak dirinya dengan menggunakan sepatu, sedangkan dirinya hanya menggunakan sendal rumahan. Dia lupa untuk mengganti sandalnya karena terburu-buru untuk menghampiri Leandra.


Perbuatan yang sudah Leandra lakukan benar-benar menyakiti kakinya, Leonel bahkan langsung menjerit kesakitan.


"Aaw! Sakit, Leandra. Siapa yang ingin memeluk kamu, aku hanya sedang memeluk istriku. Tadi aku--"


Leonel tidak meneruskan ucapannya, dia malah menolehkan wajahnya ke kanan dan ke kiri. Dia bahkan terlihat berjalan dan mencari istrinya yang sejak tadi dia peluk tapi tiba-tiba saja kini Leana tidak terlihat dari pandangannya.


"Leana!" teriak Leonel.


Leandra langsung berdecak ketika Leonel berteriak memanggil nama istrinya, dia bahkan langsung menepuk pundak Leonel dan berkata.


"Hey! Kakak ipar, jangan mencari-cari alasan. Jelas-jelas tadi tiba-tiba saja kamu datang menghampiriku dan memelukku, apa maksud kamu, hah?" tanya Leandra dengan begitu ketus.


Leonel merasa jika Leandra seolah menuduh dirinya sudah melakukan hal yang tidak-tidak, padahal dia hanya ingin memeluk istrinya saja.


"Tadi... tadi aku melihat Leana. Di sini, dia memeluk ayahmu lalu memeluk kamu!" sentak Leonel yang merasa kesal karena Leandra seakan meragukan dirinya.


Leandra terdiam mendengar sentakkan dari Leonel, dia hanya diam seraya memperhatikan wajah pria di hadapannya yang menatap dirinya dengan kesal.


Berbeda dengan Lindsay, tuan Lincoln dan juga Lili terlihat saling pandang mendengar apa yang dikatakan oleh Leonel.


Mereka berpikir jika Leonel begitu merindukan istrinya, maka dari itu dia seakan berhalusinasi dengan melihat kedatangan istrinya tersebut.

__ADS_1


"Lea! Kamu di mana, Sayang. Aku masih rindu, peluk aku lagi Lea!" seru Leonel.


Leonel begitu bersedih karena tidak menemukan Leana, air matanya terus saja berurai membasahi kedua pipinya. Bahkan kini Leonel berlari mengelilingi area pemakaman hanya untuk mencari sosok wanita yang dia rindukan.


Dia mencari sosok istrinya yang tadi baru saja dia peluk, dia ingin bertemu kembali dengan istrinya dan memeluknya dengan begitu erat.


Dia juga ingin meminta maaf karena di awal-awal pernikahan dia memperlakukan Leana dengan tidak baik, dia ingin meminta maaf karena tidak bisa menjaga Leana dan calon buah hati mereka dengan baik.


"Lea, jangan bersembunyi, Sayang. Mas rindu," ucap Leonel seraya meluruhkan tubuhnya di atas tanah. Dia terisak dan begitu meratapi kesedihannya.


Leandra yang awalnya merasa kesal, kini dia merasa iba pada Leonel. Padahal, pria yang berada di hadapannya itu biasanya begitu angkuh. Namun, saat ini Leonel begitu kacau.


Lili yang melihat keadaan Leonel merasa iba, dia tersenyum kecut ke arah Lindsay dan tuan Lincoln. Kemudian. Lili berkata.


"Sebaiknya aku mengajak Leon untuk pulang saja," usul Lili ketika melihat keadaan Leonel yang nampak kacau.


Pria muda yang sedari kecil dia asuh, pria yang sudah memperistri putrinya, kini terlihat begitu menyedihkan. Lili tidak tega membiarkan Leonel berlama-lama di pemakaman.


Mendengar Lili yang akan mengajak Leonel untuk pulang, Leandra merasa kasihan kepada Lili. Karena dia baru saja datang ke pemakaman, Lili bahkan belum sempat menyapa putrinya.


"Biar aku saja yang mengajak Kakak ipar pulang, Tante di sini saja temenin Dad sama Mom," usul Leandra.


Mendapatkan usulan seperti itu dari Leandra, tuan Lincoln tersenyum dengan begitu tipis. Sampai-sampai Lindsay dan juga Lili tidak menyadari akan hal itu.


Berbeda dengan Lili yang terlihat sangat canggung, karena dia merasa tidak ingin berdekatan dengan tuan Lincoln dan juga Lindsay.


Karena, semakin lama dia berdekatan dengan tuan Lincoln. Rasa cintanya terasa tumbuh semakin besar, padahal mereka sudah berpisah sangat lama.


Jadi, Lili merasa jika dirinya lebih baik pergi saja. Dia lebih baik menghindar dari Lindsay dan juga tuan Lincoln, agar dia bisa merasa tenang.


Berdekatan dengan pria yang begitu dia cintai, membuat jantungnya berdebar dengan begitu kencang dan perasaannya begitu sulit untuk dikendalikan.


"Tidak apa-apa, aku---"

__ADS_1


"Aku ingin berbicara dengan Kakak ipar," putus Leandra dengan cepat.


__ADS_2