Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 24


__ADS_3

"Jangan pernah mengatakan ini adalah makanan yang aneh, karena ini adalah makanan kesukaan istriku!" sentak Leonel.


Leandra terlihat begitu kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Leonel, dia bahkan terlihat menyembunyikan dirinya di balik tubuh Lili.


Lili terlihat menghela napas berat, karena dia tahu kalau Leonel menyentak Leandra karena tersinggung dengan ucapan gadis itu.


"Maaf jika aku salah berucap," ucap Leandra dengan tubuhnya yang masih dia sembunyikan di balik tubuh Lili.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Leandra, Leonel terlihat menghela napas sepenuh dada lalu dia mengeluarkannya dengan perlahan.


Dia mencoba untuk menenangkan dirinya, karena memang dia tidak seharusnya mengatakan hal itu kepada Leandra.


Istrinya memang begitu menyukai makanan yang kini sedang dia santap, tapi tidak sama halnya dengan Leandra. Gadis manja itu pasti tidak akan menyukai makanan seperti yang istrinya sangat suka itu, pikirannya.


Setelah merasa lebih tenang, Leonel terlihat meminum segelas air putih hingga tandas. Selalu dia menghampiri Lili dan berkata.


"Bu, aku sudah selesai makan. Jika pukul lima pagi aku belum bangun, tolong dibangunkan. Karena pukul enam pagi aku harus pergi ke kantor, ada hal yang harus aku kerjakan."


"Iya, Nak. Ibu pasti akan membangunkan kamu, ucap Lili seraya mengelus lembut lengan Leonel. Dia berusaha untuk meredakan hati Leonel yang masih terlihat gundah.


Leonel tersenyum terhadap mertuanya yang sudah seperti ibu kandungnya itu, wanita berusia empat puluh lima tahun itu selalu saja bersikap lembut seperti Leana.


"Terima kasih, Bu. Satu hal lagi, suruh dia besok bangun pagi. Karena dia juga harus ikut pergi denganku ke kantor," ucap Leonel tanpa menatap wajah Leandra.


"Iya, Sayang. Ibu paham," ucap Lili.


"Terima kasih, Bu," ucap Leonel.


Setelah mengatakan hal itu, Leonel terlihat mengecup pipi Lili lalu dia segera pergi dari dapur menuju kamarnya.


Selepas kepergian Leonel, Leandra terlihat bisa menghela napas lega. Lili terlihat membalikkan tubuhnya lalu mengelus lembut kedua pundak Leandra dengan senyuman hangat di bibirnya.


"Jangan takut seperti itu, dia itu aslinya baik kok. Hanya sedikit dingin seperti tidak bisa meraba perasaan orang lain, ayo kita masak. Kamu mau dimasakin apa? Biar Tante tahu apa yang kamu inginkan," tawar Lili.


"Iya, Tante. Aku tahu, dia galak seperti itu karena aku yang sudah menyinggung perasaannya," sadar Leandra.


"Hem, jangan diambil hati. Mau dimasakin apa jadinya?"


"Sebenarnya aku sangat menyukai sea food, tapi karena ngga ada, jadinya aku mau dimasakin ini saja," ucap Leandra seraya membuka lemari pendingin lalu mengambil Ayam fillet yang ada di sana.


Karena Leonard memang alergi sea food, maka dari itu di lemari pendingin milik keluarga Harold tidak pernah menyediakan bahan makanan tersebut.

__ADS_1


Jika Lili menginginkan makanan itu pun, dia akan pergi ke suatu tempat di mana dulu dia dan ayah dari Leana sering mengajak dirinya ke sana.


"Baiklah, Tante akan memasaknya untukmu," jawab Lili seraya mengambil Ayam fillet dari tangan Leandra.


"Tante sangat baik, Lea sayang Tante," ucap Leandra seraya memeluk erat wanita itu.


Hati Lili menghangat mendapatkan perlakuan seperti itu dari Leandra, entah kenapa Lili merasa jika Leana dan juga Leandra mempunyai banyak kemiripan.


Bahkan saat Leandra tersenyum, gadis itu terlihat seperti Leana. Lili menjadi sedih dibuatnya, menyadari Lili yang malah terdiam, Leandra langsung mengurai pelukannya dan menatap Lili yang malah asik dengan lamunannya.


"Tante kenapa?" tanya Leandra.


"Ah, tidak apa-apa," jawab Lili.


Setelah mengatakan hal itu, dengan cepat Lili terlihat memasak apa yang diinginkan oleh Leandra. Gadis itu terlihat berusaha untuk membantu sebisanya.


Setengah jam kemudian, apa yang Leandra inginkan pun sudah tersaji di atas meja. Leadra kini sudah duduk seraya menikmati apa yang sudah dibuatkan oleh Lili.


"Ini sangat enak, makasih ya Tante," ucap Leandra dengan mulut yang penuh dengan makanan.


"Iya, makanlah yang banyak. Setelah itu cepatlah tidur, karena pagi-pagi sekali kamu harus bangun dan ikut ke kantor," ingat Lili.


"Iya, Tante. Aku paham," jawab Leandra.


Tidak lama kemudian Leandra terlihat sudah menghabiskan makanannya, lalu dia terlihat meminum air putih dan menyaka ujung bibirnya.


"Terima kasih, Tante. Masakan Tante sangat luar biasa," ucap Leandra seraya mengangkat kedua jempolnya di depan wajah Lili.


Lili terlekekeh dibuatnya, karena menurutnya Leandra sangatlah lucu. Sikapnya begitu ceria sama seperti putrinya, Leana.


Hanya saja Leana selalu bersikap dewasa, dia tidak pernah bersikap kekanak-kanakan seperti Leandra. Mungkin karena keadaan, itulah pikir Lili.


"Sama-sama, Nak. Kalau begitu sekarang cepatlah ke kamar, karena hari sudah malam."


"Iya, aku akan ke kamar. Tapi, bolehkah aku bertanya satu hal?" pinta Leandra.


Leandra benar-benar merasa penasaran dengan kisah rumah tangga dari Leonel, rasanya bertanya kepada Lili adalah hal yang tepat, pikirnya.


"Apa? Katakan saja, kalau bisa akan aku jawab," ucap Lili.


"Bukankah tuan Leonel sudah menikah, bahkan dia terlihat begitu mencintai dan mengagumi istrinya. Lalu, di mana dia sekarang? Kenapa dia tidak terlihat di rumah ini?" tanya Leandra dengan hati-hati.

__ADS_1


Mendengar apa yang ditanyakan oleh Leandra, Lili terlihat begitu bersedih. Karena dia menjadi teringat akan putrinya yang sudah tiada.


"Eh, kok ibu malah sedih kayak gitu? Kalau pertanyaanku menyinggung tidak usah dijawab, maaf," ucap Leandra dengan tidak enak hati.


Lili tersenyum walaupun air matanya kini sudah menetes di kedua pipinya, wanita muda yang berada di hadapannya itu hanya ingin tahu saja, bukan sedang menyinggung dirinya.


"Leon menikah dengan putriku dua tahun yang lalu. Rumah tangga mereka terlihat begitu bahagia, tapi--"


Akhirnya Lili pun menceritakan apa yang sudah terjadi terhadap Leana, putrinya. Leandra mendengarkan apa yang diceritakan oleh wanita paruh baya itu dengan begitu sedih.


Bahkan dia terlihat menitikan air matanya bercampur dengan kekesalan yang tersirat di wajahnya ketika Lili menceritakan bagaimana peristiwa yang menimpa Leana, sungguh dia merutuki perbuatan dari Lyra.


"Maaf, maafkan aku, Tante. Maaf karena sudah membuat Tante bersedih dan mengingat-ingat kembali apa yang sudah terjadi terhadap putri Tante," ucap Leandra seraya memeluk wanita paruh baya tersebut.


Dia benar-benar tidak menyangka jika istri dari Leonel mengalami nasib yang begitu naas, jika dia menjadi Leonel pun dia pasti akan mengalami luka yang begitu dalam.


Leandra pasti akan mengalami kesedihan yang begitu dalam, begitupun dengan Lili. Pasti Ibu dari Leana itu merasakan sakit yang luar biasa saat ditinggalkan oleh putrinya itu, pikir Leandra.


"Tidak apa-apa, sekarang kamu pergilah ke kamar dan tidur. Ini sudah malam," ucap Lili.


Setelah mengatakan hal itu Lili terlihat meninggalkan Leandra sendirian, karena dia ingin menenangkan hatinya yang kembali bersedih.


Leandra benar-benar merasa tidak enak hati dibuatnya, jika saja dia tahu kejadiannya seperti itu, dia tidak akan bertanya. Karena hanya akan membuat luka yang sudah mengering basah kembali, rasanya pasti akan sangat sakit.


"Ya Tuhan, seharusnya aku tidak menanyakan hal ini," ucap Leandra.


Gadis itu terlihat bangun dan hendak merapikan piring kotor bekas dia makan, tapi seorang pelayan datang dan menghentikan apa yang akan dilakukan oleh Leandra.


"Anda segeralah beristirahat, Nona. Karena ini adalah tugas saya," ucap pelayan tersebut.


Leandra tersenyum saya menggaruk tengkuk lehernya yang tiba-tiba saja terasa gatal mendengar perkataan dari pelayan tersebut, dia menjadi bertanya-tanya di dalam hatinya.


Sejak kapan ada pelayan di sana, karena sejak dia ke dapur dan melihat Leonel memasak, dia sama sekali tidak melihat ada pelayan satu pun di sana.


"Iya, terima kasih Bi," ucap Leandra seraya tersenyum hangat.


Setelah mengatakan hal itu, Leandra nampak melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar yang berada tepat di samping kamar Leonel.


Namun, sebelum dia masuk ke dalam kamarnya. Dia sempat memperhatikan pintu kamar Leonel yang sudah tertutup dengan rapat.


Rasa bersalah menyeruak ke dalam dasar hatinya, karena dia sudah menyinggung pria dewasa itu. Pria dewasa itu pasti sangat terpukul karena sudah kehilangan istri tercintanya, pikir Leandra.

__ADS_1


"Ck! Ternyata di balik sikap kamu yang menyebalkan itu, ada luka yang sedang berusaha untuk kamu sembunyikan," ucap Leandra lirih.


__ADS_2