
"Ya, kita akan pergi ke kantor. Bukan mau pamer paha seperti itu, ganti baju dengan yang lebih tertutup!" ucap Leonel dengan nada penuh perintah.
"Tapi, Tuan. Ini--"
Belum juga Leandra menyelesaikan ucapannya, Leonel terlihat menggebrak meja makan lalu dia kembali bersuara.
"Ganti bajunya atau aku akan merobek baju yang kamu pakai itu!" seru Leonel seraya menatap tidak suka karena Leandra terlihat hendak membantah dirinya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Leonel, Leandra sampai terjingkat kaget. Dia tidak menyangka jika pria dewasa yang berada di hadapannya akan semarah itu ketika melihat cara dia berpakaian.
"Kenapa malah diam saja? Cepat ganti pakaian kamu itu!" titah Leonel.
Leandra terlihat kebingungan, dia merasa tidak paham dengan baju yang seharusnya dia pakai untuk pergi bekerja saat ini. Tentunya baju yang sesuai dengan keinginan dari Leonel.
Karena pada dasarnya dia tidak membawa baju yang banyak, dia hanya membawa 5 setel baju yang memang dia bawa untuk pergi berlibur ke kota B.
''Tapi, Tuan. Hanya ada celana jeans dan kemeja, masa ke kantor pake celana jeans?" keluh Leandra seraya tertunduk tanpa berani menatap Leonal.
Lili yang melihat kemarahan di wajah menantunya terlihat menghampiri Leonel, lalu dia mengusap kedua bahu menantunya itu dengan begitu lembut.
Dengan seperti itu dia berharap jika kemarahan Leonel akan segera mereda, Leonel terlihat memejamkan matanya.
Dia menarik napas sepenuh dada dan mengeluarkannya dengan perlahan, setelah merasa cukup tenang dia membuka matanya dan kembali bersuara.
"Itu lebih baik, dari pada kamu memakai baju kurang bahan seperti itu."
Leandra terlihat menghela napas berat dengan apa yang dikatakan oleh Leonel, dalam hati dia bertanya-tanya.
Bukankah wanita yang bekerja di kantoran itu memang dituntut untuk berpenampilan menarik dan juga harus merias wajahnya dengan secantik mungkin?
Lalu, kenapa Leonel terkesan tidak memperbolehkan dirinya untuk berpenampilan cantik?
Bagaimana kalau misalkan dia mendampingi Leonal untuk bertemu klien? Pasti klien yang bertemu dengan Leonel tidak akan suka kalau melihat penampilannya yang biasa saja, pikirnya.
Namun, dia sama sekali tidak bisa membantah apa yang dikatakan oleh Leonel. Dia hanya bisa menahan kekesalan dan rasa penasaran disertai banyak pertanyaan, dia memilih untuk mengalah.
__ADS_1
"Iya, iya. Aku akan mengganti bajunya," ucap Leandra.
Lebih baik mengalah bukan, dari pada dia harus terus berdebat dengan Leonel. Menurutnya, jika dia terus meladeni Leonel. Maka mereka tidak akan pergi untuk bekerja.
"Bagus, kamu ganti dengan pakaian biasa saja. Kalau tidak ada, mending kamu pake daster ibu aja," ucap Leonel.
Leandra terlihat begitu kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Leonel, menurutnya jika untuk tidur memakai daster pun dirasa tidak apa.
Namun, jika harus memakai daster saat pergi ke kantor, rasanya itu akan menjadi hal yang begitu memalukan.
Walaupun pada kenyataannya di zaman sekarang ini sudah banyak daster kekinian yang terlihat begitu menarik, banyak motif dan nyaman untuk dipakai. Namun, jika untuk dipakai ke kantor rasanya itu sangat tidak sopan, menurut Leandra.
"Mana ada kek kantor pake daster," ucap Leandra. 'Dasar pria gila!' rutuk Leandra dalam hati.
Setelah mengatakan hal itu Leandra terlihat masuk kembali ke dalam kamar dan segera mengganti bajunya, karena dia tidak mau mendapatkan ocehan lagi dari pria yang beberapa hari ini akan selalu berada dekat dengan dirinya.
Setelah mengganti bajunya dengan kemeja lengan panjang dan juga celana jeans panjang, Leandra terlihat menatap wajahnya dari pantulan cermin.
Lalu, dia terlihat mengikat rambutnya secara asal dengan hati yang terasa kesal. Dia benar-benar selalu merasa kesal jika berhadapan dengan Leonel.
Setelah mengatakan hal itu, Leandra nampak melangkahan kakinya untuk menemui Leonel yang ternyata masih berada di ruang makan.
Tanpa banyak bicara langsung duduk dan segera mengambil roti isi seperti yang Leonel sempat makan, baru saja dia hendak memasukkan roti isi itu ke dalam mulutnya, tapi Leonel langsung menahan tangan Leandra.
Pria itu menatap wajah cantik Leandra, lalu dia menurunkan tangan Leandra dan dia pun berkata.
"Ini sudah pukul tujuh pagi, kamu sarapannya di mobil saja," ucap Leonel.
Setelah mengatakan hal itu, Leonel terlihat mengambil kotak bekal dan memberikannya kepada Leandra.
Leandra sangat paham dengan apa yang dimaksud oleh Leonel, dia langsung memasukkan roti isi ke dalam kotak bekal tersebut dengan bibir yang mengerucut.
Melihat akan hal itu, Leonel merasa ingin mengerjai Leandra. Wanita yang pagi ini sudah membuatnya merasa kesal.
Leonel tersenyum sangat tipis sekali, sampai-sampai Leandra tidak bisa melihat senyuman di bibir Leonel. Tidak lama kemudian Leonel nampak menunduk, lalu dia mendekatkan bibirnya pada cuping telinga Leandra.
__ADS_1
"Jangan cemberut seperti itu, karena bibir kamu terlihat sangat seksi. Nanti aku cium tau rasa kamu," bisiknya. Lalu Leonel terlihat meniup leher jenjang Leandra dengan perlahan.
Mendapatkan perlakuan seperti itu dari Leonel, Leandra merasakan tubuhnya langsung meremang. Seperti ada desiran aneh yang membelai sampai ke dasar hatinya.
Leandra terlihat menolehkan wajahnya ke arah Leonel, dia terlihat menelan salivanya dengan begitu susah saat melihat wajah Leonel yang begitu dekat dengan dirinya.
Leandra terlihat memundurkan wajahnya, dia mengambil kotak bekalnya dan dengan cepat berlari dari sana.
Sungguh dia merasa takut saat mendengar ucapan dari Leonel, dia benar-benar merasa takut dengan tatapan dari pria dewasa itu.
Melihat Leandra yang begitu ketakutan, Lili terlihat menolehkan wajahnya ke arah Leonel. Lalu, dia pun bersuara.
"Apa yang terjadi terhadap Leandra? Kenapa dia terlihat ketakutan seperti itu?" tanya Lili.
Lili takut jika Leonel sedang berencana untuk mengerjai gadis itu, karena dia bisa melihat saat Leonel menatap Leandra dengan tatapan yang tidak biasa.
"Entah!" jawab Leonel seraya menggedikkan kedua bahunya.
Dalam hati Leonel begitu bahagia karena sudah bisa mengerjai Leandra, ini baru permulaan, pikirnya. Karena akan ada lagi hal yang akan dia lakukan di kantor untuk mengerjai gadis itu.
Setelah mengatakan hal itu Leonel terlihat menghampiri Lili, dia mengecup pipi mertuanya tersebut lalu segera berpamitan untuk pergi bekerja.
"Aku pergi, Bu. Jangan melakukan hal yang akan membuat kamu kelelahan," pamit Leonel.
Walaupun Leana sudah tiada, tapi tetap saja menurutnya Lili merupakan wanita yang begitu baik dan merupakan wanita pengganti untuk ibunya yang sudah tiada.
Lili adalah wanita yang selalu menyayanginya dengan penuh kasih dan tanpa pamrih, Leonel selalu merasakan kasih sayang yang tulus yang selalu diberikan oleh Lili terhadap dirinya.
"Ya, pergilah. Hati-hati," ucap Lili dengan penuh perhatian.
Setelah berpamitan kepada Lili, Leonel langsung melangkahkan kakinya untuk menyusul Leandra yang sudah keluar terlebih dahulu dari kediaman Harold.
Senyuman yang terlihat sangat manis tidak pernah memudar dari bibirnya, karena dia sudah tidak sabar untuk mengerjai Leandra kembali.
Selepas kepergian Leonel, Lili nampak duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Dia terlihat terdiam dengan dahi yang mengernyit dalam.
__ADS_1
"Kenapa setiap aku melihat Leandra, aku seperti melihat Leana? Kenapa juga wajah Leandra seperti tidak asing?" tanya Lili dengan suara yang begitu lirih.