
Leandra benar-benar tidak habis pikir jika Leonel akan bertingkah aneh saat ini, pria itu bahkan berkata jika dia tidak ingin diganggu dan menyuruh dirinya untuk beristirahat.
Wajah Leonel nampak pucat, sepertinya pria itu sedang tidak enak badan. Namun, yang Leandra bingungkan pria dewasa itu seakan tidak mau diganggu oleh siapa pun.
"Lebih baik mencari pekerjaan yang berguna, dari pada tidur atau hanya melamun di dalam kamar." Leandra melangkahkan kakinya menuju kamar.
Sebenarnya Leandra merasa lelah, tapi dia tidak ingin berdiam diri di dalam kamar. Dia hanya masuk ke dalam kamar untuk menyimpan tasnya, lalu dia melangkahkan kakinya menuju dapur.
Senyum di bibirnya nampak mengembang ketika dia melihat Lili yang sedang menyiapkan bahan untuk membuat kue, Leandra langsung menghampiri wanita tersebut dan menyapanya.
"Hai, Tante. Mau buat apa?" tanya Leandra.
Mendengar ada yang bertanya kepada dirinya, Lili langsung menolehkan wajahnya ke arah Leandra. Dia tersenyum hangat, lalu dia pun berkata.
"Eh? Kok kamu sudah pulang? Leon mana, Sayang?" tanya Lili seraya menolehkan wajahnya ke arah pintu.
Leandra langsung mengerucutkan bibirnya ketika mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Lili, karena wanita paruh baya itu bukannya menjawab pertanyaannya, tapi malah kembali bertanya.
Padahal, untuk saat ini rasanya Leandra tidak ingin membahas tentang Leonel. Karena pria dewasa itu benar-benar terlihat begitu aneh dalam berprilaku.
"Haish! Aku tuh bertanya, tapi Tante malah balik nanya!" keluh Leandra.
Lili langsung tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Leandra, tentu saja dia bertanya karena Leandra sudah pulang. Pastinya Leonel pun sudah pulang, pikirnya.
Padahal waktu masih menunjukkan pukul 14:27, rasanya sangat wajar jika dirinya bertanya. Karena Leonel biasanya akan pulang jika hari sudah larut.
Dia paham kenapa Leonel melakukan hal itu, pasti itu terjadi karena dia tidak ingin terus teringat akan kejadian yang begitu menyakiti hatinya.
Karena dia pun merasakan hal yang sama, kehilangan putri satu-satunya membuat dirinya begitu bersedih.
"Maaf, Sayang. Tante mau membuat kue bolu, kamu mau bantu?" jawab Lili disertai ajakan.
Wajah Leandra nampak berbinar mendengar kata bolu, karena dia memang sangat menyukai makanan manis. Terutama kue bolu.
__ADS_1
Leandra dan juga tuan Lincoln adalah penggemar makanan manis, terutama bolu gulung pelangi dengan tiga rasa di dalamnya. Coklat, keju dan juga kacang.
"Boleh, kebetulan aku tidak ada pekerjaan. Tuan Leonel mau istirahat dulu, katanya sih gitu. Aku diminta untuk menemani dirinya menemui temannya nanti malam, jadi... sekarang aku ada waktu untuk membantu Tante," jelas Leandra panjang Lebar.
Mata Lili nampak berkaca-kaca mendengar apa yang dikatakan oleh Leandra, gadis muda itu begitu mirip sekali dengan Leana ketika berbicara dengan dirinya.
Lili benar-benar merasa tidak paham, kenapa Leandra begitu mirip dengan Leana. Dari mulai cara bicaranya, cara menatap dirinya dan juga cara berbicara dengan dirinya.
Lili menjadi bertanya-tanya di dalam hatinya, apakah mungkin reinkarnasi itu ada? Ataukah mungkin hanya jasadnya Leana saja yang terkubur di dalam tanah, tapi jiwanya tertinggal di dalam tubuh Leandra?
Leandra yang melihat perubahan raut wajah Lili merasa tidak enak hati, gadis itu langsung memeluk Lili dan berkata.
"Eh? Kok Tante malah nangis? Apakah aku menyinggung perasaan, Tante?" tanya Leandra seraya menepuk-nepuk punggung Lili dengan begitu lembut.
Lili langsung menggelengkan kepalanya, dia juga terlihat melerai pelukannya. Lili berusaha untuk tegar dan mengusap air matanya yang terus saja mengalir di kedua pipinya.
"Tidak apa-apa, Tante hanya teringat sama putri Tante yang sudah tiada," jawab Lili dengan jujur.
Leandra merasa tidak enak hati mendengar jawaban dari Lili, karena Lili pernah bercerita kepada dirinya jika Leana meninggal karena dibunuh oleh mantan kekasih dari Leonel sendiri.
Sudah pasti Lili akan merasa sangat sakit hati dan juga mengalami kehilangan yang teramat sangat, Lili pasti sama seperti Leonel, pikirnya.
"Maaf kalau aku sudah--"
"Tidak, Nak. Sudah jangan di bahas lagi, mending kita buat kue bolu saja. Besok adalah hari ulang tahun ayahnya Leana, Tante mau membuatkan kue kesukaannya."
Lili berkata dengan bibir yang bergetar, dia seolah sedang menahan kesedihan yang begitu mendalam.
Leandra bisa melihat akan hal itu, tetapi dia berusaha untuk tidak membuka mulutnya dan bertanya lebih jauh lagi. Dia takut jika dirinya akan menyinggung perasaan dari Lili.
"Wah, ulang tahun suami Tante'nya besok. Tapi, Tante sudah membuatkan kue bolunya sekarang. Terus, aku dapat jatah kue bolunya tidak?" tanya Leandra.
Lili tertawa mendengar ucapan dari Leandra, awalnya dia memang hanya ingin membuat satu kue bolu saja. Namun, setelah adanya Leandra dia jadi berpikir jika dirinya harus membuat dua kue bolu kesukaan suaminya.
__ADS_1
"Hem! Kita buat dua kue, yang satu khusus untuk ayahnya Leana. Yang satu lagi untuk kita makan bersama-sama," jawab Leandra.
"Haiya! Tante baik banget deh, aku jadi senang tinggal di sini. Eh? Daddy juga besok ulang tahun, tapi dia sedang di kota B. Aku belum bisa kasih kado," keluh Leandra dengan bibir yang mengerucut.
Padahal jika dirinya yang berulang tahun, tuan Lincol pasti akan menuruti apa pun yang dia inginkan. Bahkan, tuan Lincoln akan menyiapkan pesta ulang tahun yang begitu meriah untuk dirinya.
Namun, di saat tuan Lincoln yang akan berulang tahun, justru dia tidak bisa bertemu secara langsung dengan ayahnya tersebut.
Hal itu dikarenakan ayahnya sedang begitu sibuk dalam mengurusi project kerjasama bersamanya dengan Leonel, project besar yang tidak bisa diwakilkan.
"Wah! Kebetulan sekali, kalau begitu nanti malam kamu telpon ayah kamu. Ucapkan do'a dan harapan yang terbaik untuk ayah kamu," usul Lili.
"Tante benar, oh iya, Tante. Kue bolu apa yang akan Tante buat?" tanya Leandra seraya memperhatikan Lili yang sudah mulai mengaduk telur, gula dan dicampur sedikit pengembang dengan mixer.
"Bolu gulung pelangi isi coklat, kacang mede dan juga keju," kekeh Lili.
"Waah! Itu kue bolu kesukaan aku sama daddy, hem. Sungguh beruntung aku tidak tidur, karena dengan seperti itu aku bisa memakan bolu gulung buatan Tante," seru Leandra.
Untuk sesaat Lili terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Leandra, karena semua yang Leandra suka sama seperti yang disukai oleh Leana dan juga suaminya.
Hal itu benar-benar membuat dirinya tidak habis pikir, mungkinkah ini sebuah kebetulan semata, pikirnya.
"Tante, kok malah diam?" tanya Leandra.
Gadis itu merasa tidak enak hati saat melihat raut wajah Lili, wanita paruh baya itu selalu saja bersedih. Lili seakan memiliki luka yang dalam, luka yang berusaha keras untuk dia sembunyikan dari siapa pun.
"Eh? Tidak apa-apa, ayo kita buat kue bolunya!" ajak Lili seakan mengalihkan perhatian Leandra.
"Oke!" jawab Leandra dengan penuh semangat.
Leandra dan juga Lili langsung membuat kue, sedangkan Leonel yang berada di dalam kamarnya hanya terdiam saja seraya menatap foto istrinya yang sudah tiada.
Wajah Leonel begitu sendu, air matanya bahkan luruh membasahi kedua pipi mulusnya. Tidak lama kemudian dia nampak mengambil ponselnya, karena ada pesan masuk dari Lucky.
__ADS_1
Setelah membaca pesan dari Lucky, rahang Leonel langsung mengeras. Bahkan kedua tangannya mengepal dengan sempurna, kemarahan nampak jelas dari wajah pria dewasa itu.
"Ini semua karena kamu, Lyra. Kamu yang sudah meninggalkan aku, tapi malah kamu yang datang untuk menghancurkan hidupku. Jadi, jangan salahkan aku dengan apa yang sudah aku lakukan terhadap kamu," ucap Leonel dengan seringai yang nampak mengerikan di bibirnya.