
"Hastaga, Leandra! Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu tidak memakai baju? Apakah kamu sengaja ingin menggodaku?" tanya Leonel tanpa mengalihkan pandangannya dari tubuh Leandra.
Inti tubuh Leandra terlihat sangat cantik, putih bersih tanpa ada warna hitam yang menghalangi. Sepertinya Leandra begitu merawat area intinya.
Leandra begitu kebingungan untuk menjelaskan, yang pasti tidak ada niatan sedikit pun untuk menggoda pria yang sudah menjadi suaminya tersebut.
"Eh? Aku--"
"Aku apa, hem?" tanya Leonel seraya menyingkap selimut yang dia pakai. Lalu dia turun dari tempat tidur dan hendak menghampiri Leandra.
Leandra yang benar-benar malu dan juga takut langsung bangun dan mengambil handuk yang tersampir di atas sofa, dengan cepat dia pakai handuknya agar menutupi tubuh polosnya.
"Maaf, Kak. Aku tidak berniat menggoda, baju aku tidak ada. Kakak simpan baju aku di mana? Maksud aku koper aku di mana?" tanya Leandra.
Seingatnya kemarin malam dia sudah merapikan bajunya, dia juga sudah memberikan bajunya kepada sopir agar keesokan harinya dia tidak perlu memikirkan baju lagi.
Namun, sejak dia datang ke kediaman Harold, dia tidak melihat koper miliknya. Entah disimpan di mana, dia pun tidak tahu.
"Ya ampun, Leandra. Baju kamu ada di dalam lemari, sudah dirapikan sama ibu. Kemarin pagi ada sopir yang nganterin baju kamu, jadinya ibu langsung merapikannya di dalam lemari," jelas Leonel.
Leandra nampak menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa gatal, seharusnya memang dia bertanya akan hal itu. Lagi pula ada ponsel miliknya, dia bisa bertanya menggunakan ponselnya jika memang tidak mau keluar dari dalam kamar Leonel.
"Oh, aku kira masih di dalam mobil." Leandra tersenyum kecut.
Leonel menghela napas panjang, untuk kali ini dia akan berusaha untuk memahami Leandra. Karena walau bagaimanapun juga ini adalah hari pertama di mana Leandra tinggal di dalam rumahnya.
Namun, tetap saja dia merasa jika dirinya harus memberikan peringatan kepada wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu.
"Dengar Leandra, aku ini adalah lelaki normal. Jangan sekali-sekali kamu tidak berpakaian seperti ini, aku tidak yakin bisa menahan diri jika kamu terus menggodaku."
Leandra semakin takut mendengar apa yang dikatakan oleh Leonel, terlebih lagi dia sering mendengar apa yg dikatakan oleh Lana dan juga Lingga.
Kedua sahabatnya itu selalu berkata bahwa seorang pria bisa meniduri wanita tanpa cinta dan juga ikatan, pria akan meniduri wanita hanya karena napsu yang sedang menguasai dirinya.
Leandra langsung bergidig ngeri mengingat perkataan kedua sahabatnya itu, bagaimana jika dirinya nantinya dijadikan bahan pemuas napsu saja oleh Leonel, pikirnya.
Tentu hal itu tidak ingin terjadi terhadap dirinya, sepertinya mulai hari ini dia harus benar-benar berhati-hati. Karena dia dan Leonel tinggal dalam satu kamar yang sama.
"Eh? Maaf, Kak. Lain kali aku tidak akan melakukannya lagi," ucap Leandra.
Setelah mengatakan hal itu, Leandra langsung berlari ke kamar mandi. Karena Leonel terus saja menatap tubuhnya tanpa berkedip, dia menjadi takut.
__ADS_1
"Oh Tuhan, ini sangat bahaya. Tidak bisa dibiarkan, mulai besok aku harus membiasakan diri untuk memakai baju saat tidur," ucap Leandra.
Setelah mengatakan hal itu, Leandra dengan cepat mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Dia harus segera mandi dan bersiap untuk pergi ke kampus.
Selesai dengan ritual mandinya, Leandra dengan cepat memakai bathrobe. Lalu, dia keluar dari kamar mandi.
Gadis nakal itu mengedarkan pandangannya, dia bisa bernapas dengan lega karena ternyata suaminya tidak ada di dalam kamar.
Entah Leonel berada di mana, tapi Leandra tidak peduli. Yang dia ingin lakukan saat ini adalah, dia ingin segera memakai baju tanpa ada gangguan dari pria itu.
"Aku harus segera memakai baju, nanti keburu kak Leon datang," ucap Leandra lirih.
Seperti biasanya, Leandra memakai kemeja panjang dipadupadankan dengan celana jeans panjang. Karena memang itulah pakaian yang memang dia rasa cocok untuk dia kenakan.
"Sudah cantik," ucap Leandra setelah dia memoleskan gincu berwarna merah muda dan mencepol rambutnya.
Setelah mengatakan hal itu, Leandra langsung keluar dari dalam kamar utama. Lalu dia melangkahkan kakinya menuju ruang makan.
"Kakak kapan mandinya? Kok udah rapi aja?" tanya Leandra seraya duduk tepat di samping suaminya.
Leonel yang baru saja duduk dan hendak mengambil roti isi langsung menolehkan wajahnya ke arah Leandra, dia tersenyum kecut lalu berkata.
"Karena kamu mandinya lama, aku mandi di kamar tamu," jawab Leonel.
Dia mengalah dengan mandi di kamar tamu dan segera bersiap, setelah itu baru dia pergi ke ruang makan untuk sarapan.
Berlama-lama satu kamar dengan Leandra membuat adik kecilnya pusing, dia takut khilaf dan memerkosa istrinya.
"Idih! Kakak kok gitu, padahal tadi aku mandinya sebentar doang loh. Alasan pasti, Kakak masih marah ya, sama aku?" tanya Leandra seraya mengambil roti isi dan menyimpannya di atas piring milik Leonel.
Leonel tersenyum, karena Leandra ternyata sedang berperan sebagai istrinya.
"Tidak, Leandra. Aku tidak marah," jawab Leonel.
"Oh, syukur deh kalau Kakak tidak marah." Leandra tersenyum, lalu dia kembali mengambil roti isi dan langsung melahapnya.
Mulut Leandra penuh dengan roti isi, Leonel langsung menggelengkan kepalanya melihat tingkah dari Leandra. Dia merasa jika wanita yang sudah menjadi istrinya itu tidak ada anggunnya sama sekali.
"Hastaga! Tidak bisakah kamu makan dengan benar?" tanya Leonel.
"Maaf, Kak. Aku sangat lapar," jawab Leandra dengan mulut yang penuh dengan makanan.
__ADS_1
Leonel tidak berkata apa pun lagi, dia meneruskan sarapannya lalu meminum susu putih hangat yang sudah tersaji.
"Eh? Tunggu sebentar deh, aku tidak melihat ibu. Di mana dia?" tanya Leandra seraya mengedarkan pandangannya.
Leonel tersenyum kecut ketika dia mendapatkan pesan singkat dari Lili kemarin sore, perempuan yang sudah seperti ibunya itu berkata jika dia akan menginap di rumah lamanya bersama dengan tuan Lincoln.
Leonel bisa membayangkan jika kedua insan yang sudah tidak muda lagi itu akan melepas rindu dengan bercinta semalam suntuk, Leonel iri.
"Ibu sedang di rumah lamanya," jawab Leonel singkat.
"Oh, sepagi ini?" tanya Leandra lagi.
"Tidak! Ibu sudah pergi dari kemarin sore, lagian kamu tuh berisik. Diam dan cepat habiskan sarapan kamu, sebentar lagi aku akan mengantar kamu ke kampus."
Leandra mengerucutkan bibirnya, dia hanya bertanya. Tetapi Leonel seakan begitu enggan untuk menjawab pertanyaannya.
"Iya, iya. Kakak jadi cerewet," protes Leandra.
Setelah mengatakan hal itu, Leandra melanjutkan sarapannya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Leonel.
Seusai sarapan, Leonel langsung mengantarkan Leandra menuju kampus di mana tempat gadis itu menimba ilmu.
Leonel sempat tidak menyangka jika Leandra akan masuk di sebuah universitas negeri ternama di ibu kota, karena mengingat Leandra yang begitu nakal dan juga jahil.
Namun, setelah Leonel melihat nilai-nilai yang didapatkan oleh Leandra semasa duduk di bangku SMA, ternyata Leandra termasuk murid yang berprestasi.
"Sudah sampai, ini ada uang jajan buat kamu." Leonel menyodorkan sebuah kartu kepada Leandra.
"Kok kartunya ngga yang warna hitam?" tanya Leandra.
"Ck! Kamu itu masih kecil, belum bisa mengolah keuangan. Jadi, pake kartu ini saja dulu," jawab Leonel.
'Cih! Bilang aja kamu tuh pelit, dasar suami tidak ada akhlak!' rutuk Leandra dalam hati.
"Tidak usah mengumpat dalam hati, kalau sudah waktunya nanti kartunya aku ganti." Leonel berkata seolah pria itu bisa membaca isi hati dari Leandra.
"Eh? Kakak kok ngomong gitu? Padahal aku tidak seperti itu loh," kilah Leandra dengan senyum manis di bibirnya.
"Hem, sekarang turunlah. Belajar dengan baik, nanti siang aku akan menjemputmu," titah Leonel.
"Mana mungkin langsung belajar, orang baru masuk juga. Kakak itu semakin aneh, ya udah aku kuliah dulu. Kakak yang semangat ya, kerjanya." Setelah mengatakan hal itu Leandra nampak membuka sabuk pengaman, kemudian dia mengecup pipi Leonel dan langsung turun dari mobil mewah milik suaminya tersebut.
__ADS_1
Mendapatkan perlakuan seperti itu dari oleh Leandra, Leonel tidak bisa berkata apa pun. Dia hanya bisa melihat kepergian Leandra yang semakin menjauh seraya memegangi pipinya.
"Apa yang sudah dia lakukan tadi?" tanya Leonel seperti orang linglung.