
Lucky benar-benar merasa kecewa dengan kata-kata yang dilontarkan dari bibir Liliu, jika dia tahu kalau istrinya itu akan terjatuh dan sadar dari amnesia-nya, sungguh dia tidak akan membuka hati untuk wanita itu.
Sungguh dia tidak akan mau menikahi wanita itu, walaupun wanita itu bertekuk lutut di hadapannya, seharusnya dia tidak menikahi wanita itu. Karena ternyata dia malah mengalami sakit hati yang luar biasa ketika mendengar Liliu yang seolah menghina dan merendahkan dirinya.
Dengan cepat dia pergi menuju apartemennya, dia sempat melihat tempat tidur yang masih acak-acakan karena ulah dirinya dan juga Liliu.
Rasa sakit semakin menyeruak ke dalam dasar hatinya, dia memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamar mandi tanpa merapikan kamarnya terlebih dahulu.
"Lupakan wanita seperti itu, walaupun dia istrimu tetapi wanita seperti itu tidak pantas untuk diperjuangkan. Lagian salah kamu juga, kenapa kamu bisa langsung suka kepada wanita itu?" tanya Lucky seraya memukul-mukul kepalanya.
Jika Liliu tidak ingat kepadanya, mungkin Lucky akan berjuang untuk membuat istrinya itu bisa mengingat dirinya. Namun, ketika mendengar wanita itu mengatakan kalimat hinaan kepada dirinya, tentu saja dia merasa tidak terima.
Selepas melaksanakan ritual mandinya, Lucky dengan cepat bersiap untuk pergi ke kantor. Dia merasa kasihan kepada Leonel, karena pria itu pasti sibuk sendirian tanpa dirinya.
Lebih tepatnya, Lucky ingin mencari kesibukan agar bisa melupakan istrinya. Melupakan kata-kata pedas yang keluar dari bibir istrinya.
Lucky sempat memandang tempat tidurnya, dia tersenyum kecut lalu keluar dari apartemen miliknya. Dia bahkan tidak berniat untuk sarapan, karena moodnya benar-benar sudah ancur.
Saat perjalanan menuju kantor, Lucky hanya terdiam. Pandangan matanya memang lurus menatap jalanan, tetapi otaknya seakan sedang berkelana entah memikirkan apa.
"Pagi, Tuan." Lucky langsung membungkuk hormat ketika melihat Leonel yang baru saja tiba di kantor.
Melihat Lucky dan mendengar sapaan dari mulut pria itu, Leonel langsung mengembangkan senyumnya. Karena akhirnya hari ini dia tidak akan bekerja sendirian.
Leandra mengeluh perutnya sangat mual jika berada di dekatnya, maka dari itu Leonel tidak mengajak istrinya untuk pergi ke kantor. Padahal, dia sangat ingin ditemani oleh Leandra ketika bekerja.
Keadaan terasa semakin rumit, karena dirinya selalu saja ingin berada di samping istrinya. Sedangkan Leandra selalu saja menutup hidungnya ketika berdekatan dengan dirinya.
Padahal, kemarin mereka masih baik-baik saja. Mereka berdekatan pun Leandra tidak mengeluh bau atau pun mual, tetapi di saat wanita itu bangun, dia langsung berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya.
Leonel yang merasa kasihan langsung menyusul istrinya, dia berniat untuk membalurkan minyak hangat pada tubuh istrinya tersebut.
Namun, hal itu tidak bisa Leonel lakukan. Karena Leandra malah semakin merasa pusing ketika didekati oleh dirinya, Leonel merasa begitu frustasi.
__ADS_1
Akan tetapi, demi janin yang berkembang di dalam kandungan istrinya. Akhirnya Leonel memutuskan untuk segera pergi bekerja, agar istrinya merasa bebas tanpa dirinya.
"Oh ya ampun, Lucky. Baru kali ini aku bertemu dengan dirimu dan rasanya sangat membahagiakan, ayo kita bekerja!" ajak Leonel dengan wajah yang mulai ceria.
Berbeda dengan Lucky, pria itu berusaha untuk tersenyum ke arah atasannya tersebut. Walaupun pada dasarnya hatinya benar-benar terluka.
"Oiya, Lucky. Kenapa kalian menikah secara mendadak? Lalu, bagaimana keadaan istri kamu sekarang? Terus, hadiah apa yang ingin kamu dapatkan dariku sebagai kado pernikahan kalian?" tanya Leonel beruntun.
Setelah menanyakan hal tersebut, Leonel nampak duduk di bangku kebesarannya. Lalu, dia meminta Lucky untuk duduk tepat di hadapannya.
Lucky tersenyum kecut lalu dia duduk tepat di hadapan atasannya tersebut, dia merasa jika hidupnya terasa miris. Padahal, dia menyangka akan memulai kehidupannya yang baru dengan kebahagiaan yang luar biasa bersama dengan Liliu.
Terlebih lagi ketika dia melihat Liliu yang begitu ceria dan manis akhir-akhir ini, tiba-tiba saja dia merasakan debaran jantungnya berdetak sampai berkali-kali lipat.
"Sepertinya anda tidak usah repot-repot, pernikahan kami sudah berakhir." Lucky tersenyum getir setelah mengatakan hal itu.
"Berakhir? Maksudnya bagaimana?" tanya Leonel dengan penasaran.
Leonel terlihat begitu syok dengan apa yang dikatakan oleh Lucky, dia tidak menyangka jika nasib dari asisten pribadinya itu begitu buruk. Belum sampai dua puluh empat jam menikah, tetapi mereka harus sudah berpisah.
"Yang sabar ya, Lucky. Karena aku pun sekarang sedang serba salah, kamu tahu Lucky? Istriku sedang hamil dan aku sangat bahagia, sayangnya aku tidak bisa mendekatinya. Karena setiap kami dekat, dia akan merasakan mual yang luar biasa."
Leonel malah berkeluh kesah di hadapan asisten pribadinya tersebut, Lucky hanya bisa terkekeh mendengar penuturan dari atasannya itu.
Jika dia berpisah dengan Liliu, rasanya hatinya memang sakit, tetapi dia tidak bertemu dengan wanita itu. Sepertinya akan mudah untuk melupakan kejadian yang sudah terjadi di antara mereka.
Berbeda dengan Leonel, dia pasti akan sangat tersiksa karena tidak bisa berdekatan dengan istrinya. Padahal, mereka tinggal dalam satu atap yang sama.
"Selamat ya, Tuan. Akhirnya anda akan memiliki momongan kembali, saya harap kali ini anda bisa menjaga janin yang ada di dalam kandungan nyonya Leandra. Anda harus memberikan penjagaan yang ketat," usul Lucky.
Di saat tuannya begitu kesakitan karena kehilangan istri dan calon buah hatinya, Lucky ikut terluka akan hal itu. Maka dari itu, dia tidak mau kejadian yang mengenaskan terhadap Leana bisa terjadi kepada Leandra.
"Sudah aku pikirkan, aku akan membebaskan istriku untuk pergi ke mana pun selama dia senang. Tapi, aku juga mengajukan syarat kepadanya untuk dijaga ketat oleh para pengawal," jelas Leonel.
__ADS_1
"Hem, aku setuju. Kalau begitu, aku akan bekerja dulu," pamit Lucky yang ingin segera menyibukkan diri dan segera melupakan Liliu.
"Ya, pergilah untuk bekerja." Leonel tersenyum hangat kepada Lucky.
Lucky keluar dari dalam ruangan atasannya dengan perasaan campur aduk, sedangkan Leonel menatap kepergian asisten pribadinya dengan begitu kasihan.
"Semoga masalah rumah tangga kalian bisa cepat terselesaikan," doa Leonel.
Jika Lucky kini sedang bekerja dengan begitu serius karena ingin melupakan Liliu, berbeda dengan Liliu. Wanita itu sedang cemberut karena tuan Leonard memarahi dirinya.
"Kalau memang aku sudah menikah dengan Lucky, di mana buku nikah kami? Lalu, mana foto pernikahan kami?" tanya Liliu.
Liliu yang masih tidak percaya sengaja bertanya seperti itu kepada ayahnya, karena memang dia ingin melihat bukti jika memang dia sudah menikah dengan Lucky.
"Ya ampun, Sayang. Tentu saja ada di apartemen suami kamu, pergilah ke sana kalau tidak percaya!" kesal Tuan Leonard kepada putrinya itu.
Selepas Lucky dan juga Liliu menikah, putrinya bahkan membawa beberapa barang miliknya ke dalam apartemen pria itu.
"Baiklah, aku akan pergi ke apartemen pria itu. Aku ingin membuktikan semuanya benar atau tidak," ucap Liliu pada akhirnya.
Dia benar-benar merasa bingung dengan apa yang sebenarnya sudah terjadi, dia benar-benar tidak mengingat apa pun. Seingatnya, dia pergi ke luar kota untuk menenangkan diri.
Dia bertemu dengan Lucky di kota tersebut, lalu dia berpura-pura menjadi pacar dari pria itu. Namun, dia tidak yakin jika Lucky sudah menikah dengan dirinya.
"Hem, kita akan pergi ke apartemen suamimu. Kamu mandilah terlebih dahulu, Daddy akan mengurus kepulanganmu."
Tuan Leonard memberikan paper bag berisi baju ganti untuk putrinya, lalu dia pergi dari ruang perawatan putrinya. Setelah kepergian tuan Leonard, Liliu berusaha turun dari ranjang pasien.
"Aduh! Kenapa ini sangat sakit? Pinggangku juga terasa seperti ingin patah, kenapa, ya?" keluh Liliu kalau merasakan area intinya yang begitu perih dan sakit. Bahkan, dia merasakan pinggangnya begitu pegal dan juga panas.
Liliu terdiam, dia malah teringat akan kata-kata Lucky dan juga kata-kata dari tuan Leonard jika dirinya sudah menikah dengan pria yang menjadi asisten dari Leonel itu.
"Apakah mungkin sudah menikah dengan Lucky? Apakah mungkin kami sudah--"
__ADS_1