Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 51


__ADS_3

Saat Leonel handak membuka pintu kamarnya, tepat di saat itu pula pintu kamar yang ditempati oleh Leandra nampak terbuka.


Leandra yang melihat Leonel hanya memakai handuk kecil yang melilit di pinggangnya langsung menjerit karena kaget, sedangkan Leonel hanya menutup telinganya seraya memutarkan bola matanya dengan malas.


Ini bukan pertama kalinya Leandra melihat dirinya bertelanjang dada, tapi sikap Leandra dia rasa sangatlah lebay.


"Hastaga! Bisakah anda memakai baju dengan benar?" tanya Leandra dengan kesal.


Leonel menghela napas sepenuh dada, lalu dia keluarkan dengan perlahan. Tidak lama kemudian, dia menurunkan kedua tangannya yang dia pakai untuk menutup kedua telinganya.


"Aku baru selesai mandi, Leandra. Jadi, ini adalah hal yang wajar."


Leandra menghela napas kasar mendengar apa yang dikatakan oleh Leonel, dia juga tahu Leonel baru saja selesai mandi. Karena dia bisa mencium aroma sabun dari tubuh Leonel.


Hanya saja, bisa tidak jika pria itu memakai baju terlebih dahulu sebelum dia keluar dari dalam kamar? Karena tubuh Leonel itu bisa membuat pikiran Leandra tercemar.


"Hem, hal yang wajar. Terserah kamu aja deh mau ngomong apa," ucap Leandra seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.


Leonel yang tidak ingin meladeni ucapan Leandra nampak membuka pintu kamarnya, dia hendak masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.


Namun, niatnya dia urungkan kala dia melihat Leandra yang malah melangkahkan kakinya menuju kamar tamu.


"Mau ke mana kamu?" tanya Leonel.


Leandra menghentikan langkahnya, lalu dia menolehkan wajahnya dan menatap Leonel dengan tatapan jengah.


"Mau ke kamar tamu, mau liat daddy. Kenapa? Kakak iparku yang sukanya bertelanjang dada ini mau ikut?" tanya Leandra.


Leonel sangat kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Leandra, karena jika Leandra masuk ke dalam kamar tamu, maka Leandra akan tahu jika tuan Lincoln tidak berada di dalam kamarnya.


Jika itu terjadi, tamatlah riwayatnya. Karena dialah yang memberikan kunci cadangannya, Leandra bisa-bisa marah kepada dirinya dan juga tuan Lincoln.


"Eh? Aku baru saja dari kamarnya. Dia sudah tidur, katanya tidak mau diganggu. Dia begitu lelah, besok dia harus bangun pagi."


Leonel sengaja mengatakan hal itu, karena dia takut jika Leandra akan kecewa saat mengetahui ayahnya yang tidak ada di dalam kamarnya hanya untuk menemui Lili.

__ADS_1


Selain itu, dia juga tidak mau jadi tersangka. Karena dirinya sudah pasti akan menjadi sasaran juga sebagai pemilik rumah.


"Haish! Aku tidak percaya, pasti kamu berbohong!" ketus Leandra.


Leandra langsung melangkahkan kakinya menuju kamar tamu, Leonel yang panik langsung menarik tangan Leandra dan mendorongnya sampai punggung Leandra terbentur ke tembok.


"Aww! Sakit," keluh Leandra.


Leonel merasa sangat bersalah sudah melakukan hal itu, tapi dia melakukan hal itu demi kebaikan semuanya. Bukan untuk mencari kesempatan untuk berbuat tidak baik.


"Sorry, aku tidak sengaja. Sekarang kamu masuklah ke dalam kamar, tidurlah dengan nyenyak. Kalau tidak--"


Leonel tidak meneruskan ucapannya, dia malah mengulurkan kedua tangannya untuk melepaskan handuk yang dia pakai.


Hal itu dia lakukan hanya untuk menggoda Leandra saja, agar gadis itu tidak jadi pergi. Karena dia tidak ingin ada keributan lagi di dalam rumahnya.


"Hastaga! Dasar pria gila! Bisa-bisanya Leana mencintai pria gila sepertimu," ucap Leandra seraya mendorong tubuh Leonel dan segera masuk ke dalam kamar.


Niat untuk menjaga daddynya agar tidak keluar dari dalam kamarnya untuk menemui Lili, dia urungkan. Lebih baik dia istirahat dari pada harus berhubungan dengan Leonel, pikirnya.


Terdengar helaan napas lega dari bibir Leonel, dia merasa tenang karena akhirnya Leandra masuk ke dalam kamar tamu dan tidak jadi menemui tuan Lincoln.


"Semoga saja dia tidak keluar kamar lagi," harap Leonel.


Setelah mengatakan hal itu, Leonel langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia ingin memakai baju dan beristirahat, dia sudah sangat lelah.


Hari ini dia merasa sangat lelah, baik tubuh dan juga pikirannya. Hari ini juga merupakan hari yang tidak terduga baginya.


Di dalam kamar Lili.


Tuan Lincoln mengunci pintu kamar Lili, dia tersenyum ketika melihat Lili yang sedang tertidur pulas di atas ranjangnya.


"Kamu tetap cantik, Lili. Walaupun usia kamu terus bertambah, tapi kamu tidak berubah." Tuan Lincoln tersenyum seraya menatap Lili dengan tatapan penuh rindu.


Tidak lama kemudian, tuan Lincoln nampak duduk di tepian tempat tidur seraya menatap wajah Lili dengan Lekat.

__ADS_1


Dia tatap wajah wanita yang selalu dia rindukan itu dalam setiap helaan napasnya, dia pandang wajah wanita yang sudah berpisah dalam waktu yang begitu lama dengan dirinya itu.


"Maaf, karena aku tidak pernah ada di saat kamu membutuhkan aku. Maaf karena sampai putri kita tiada, aku tidak ada di samping kamu."


Terlihat raut wajah penyesalan yang begitu dalam dari wajah tuan Lincoln, tapi nasi sudah menjadi bubur. Kini bukan waktunya dia meratapi nasibnya, dia merasa harus memperbaiki hubungannya dengan Lili tanpa menyakiti Lindsay dan juga Leandra.


Setelah puas menatap wajah Lili, tuan Lincoln nampak mengedarkan pandangannya. Tatapannya terhenti kala dia melihat foto di mana ada Lili dan juga Leana yang sedang saling memeluk dengan senyum yang terlihat begitu bahagia di bibir mereka.


Tuan Lincoln merasa begitu sedih, karena dia hanya bisa menatap wajah putrinya dari sebuah foto yang terpanjang di dinding kamar istrinya tersebut.


Andai saja waktu bisa terulang kembali, dia ingin sekali memeluk putrinya. Dia ingin merawat dan menjaga putrinya agar tidak mengalami hal yang teragis.


"Maafkan Daddy, Sayang. Berbahagialah kamu di sana, karena ada Daddy yang akan menjaga ibumu," ucap Tuan Lincoln.


Setelah mengatakan hal itu, tuan Lincoln nampak merebahkan tubuhnya dengan begitu perlahan. Dia ingin tidur dengan istrinya, walaupun tanpa melakukan apa pun.


Tidak lama kemudian, tuan Lincoln langsung memelotot matanya. Dia merasa kaget karena Lili tiba-tiba saja memeluk dirinya seperti guling, Lili memeluk dirinya dengan posesif.


Lili menyandarkan kepalanya di dada bidangnya, sedangkan kaki Lili berada di atas paha tuan Lincoln.


"Alex, aku rindu," ucapnya dengan mata terpejam.


Tuan Lincoln langsung tertawa di dalam hatinya, karena istrinya begitu merindukan dirinya. Itu artinya perasaan mereka berdua masih sama.


"Tidurlah Lili, Sayang. Aku juga sangat merindukan kamu," ucap Tuan Lincoln.


Setelah mengatakan hal itu, tuan Lincoln nampak menutup matanya. Dia berusaha untuk menikmati malam ini yang belum tentu bisa dia dapatkan di malam-malam berikutnya.


**


Pagi telah menjelang, Lili terbangun dari tidurnya dengan perasaan yang begitu lega. Bahkan, tidurnya teasa begitu lelap.


"Sudah lama sekali aku tidak tidur pulas, kenapa malam aku seperti tidur di dalam pelukan Alex?" tanya Lili lirih.


Lili turun dari tempat tidur, lalu dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dia ingin membersihkan diri, tapi saat dia membuka bajunya, dia merasakan bau tubuhnya seakan berbeda.

__ADS_1


"Kenapa tubuhku terasa begitu wangi? Sangat wangi parfum Alex," ucap Lili seraya mengendus baju yang sudah dia lepaskan dari tubuhnya.


__ADS_2