Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 111


__ADS_3

Lucky yang merasa terharu langsung menyambut pelukan dari tuan Leonard, dia bahkan menepuk-nepuk punggung pria paruh baya itu dengan lembut.


"Terima kasih karena sudah memberikan kebahagiaan terhadap putriku, terima kasih sudah membuat dia lebih ceria. Apakah kamu tidak mau menikahi putriku?" tanya Tuan Leonard.


"Me--menikah?" tanya Lucky dengan gugup.


Tuan Leonard langsung melerai pelukannya, kemudian dia menatap Lucky dengan senyum mengejek di bibirnya. Dia merasa lucu dengan reaksi dari Lucky, pria muda itu seakan begitu takut jika harus menikahi putrinya saat ini juga.


Padahal, dalam kesehariannya Lucky sama seperti Leonel yang selalu bersikap tegas dan juga dingin. Namun, di saat dihadapkan dengan perempuan dia malah salah tingkah dan seperti orang linglung.


"Hey! Kamu tuh lelaki, kamu takut menikah? Atau--"


"Saya tidak takut untuk menikah, hanya saja saya takut anda malu mempunyai menantu seperti saya," jawab Lucky jujur.


Walaupun tuan Leonard menyambut dirinya dengan begitu baik, tetapi dirinya adalah lelaki yang punya harga diri. Dia takut jika suatu saat nanti akan ada bangkitan tentang status dari pria itu.


Atau mungkin di saat tuan Leonard berkumpul bersama dengan rekan bisnisnya, dia akan merasa malu karena mempunyai menantu yang tidak satu kasta dengan dirinya.


"Oh ya ampun! Aku tidak peduli dari mana kamu berasal, asal kamu bisa memberikan kebahagiaan untuk putriku, aku tidak masalah memiliki menantu seperti kamu," ungkap Tuan Leonard.


"Jadilah menantuku, jadilah suami dari putriku. Aku akan menerima kamu seperti putriku menginginkan kamu," imbuhnya.


Lucky semakin terharu dibuatnya, dia tidak menyangka jika tuan Leonard akan langsung meminta dirinya untuk menjadi menantunya.

__ADS_1


"Tapi, Dad. Bagaimana kalau ingatan Liliu kembali dan dia membuangku dari kehidupannya?" tanya Lucky.


"Aku yakin kamu bisa mengatasi hal itu, aku percaya kepadamu." Tuan Leonard menepuk-nepuk pundak Lucky dengan perlahan.


Melihat Lucky dan juga tuan Leonard yang hanya mengobrol saja, Liliu merasa gemas. Padahal dia sudah sangat lelah dan juga lapar.


"Kalian tuh ngobrol mulu, aku sangat lapar. Bisakah kalian berhenti berbicara? Aku mau makan," ucap Liliu seraya mengusap perutnya.


Tuan Leonard langsung tertawa melihat tingkah dari putrinya, dengan hilangnya ingatan Liliu justru dia merasa sangat senang karena Liliu berubah dengan sangat drastis. Liliu sikapnya benar-benar terasa sangat manis.


"Maafkan Daddy, Sayang. Daddy terlalu senang bertemu dengan calon menantuku ini, ayo kita makan siang bersama," ajak Tuan Leonard.


Liliu tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya, kemudian dia menolehkan wajahnya ke arah Lucky seraya tersenyum manis.


"Nah, gitu dong. Ayo Sayang, kita makan. Nanti aku suapin," ajak Liliu.


Lucky sempat melirik takut ke arah tuan Leonard, tetapi pria itu malah tertawa seraya menepuk pundak Lucky. Lucky tersenyum canggung lalu memeluk Liliu, gadis itu nampak bahagia.


Tiba di ruang makan, Liliu dengan gesit menuangkan makanan ke atas piring. Tentunya dia bertanya terlebih dahulu kepada Lucky, makanan apa yang disukai pria itu.


Setelahnya, Liliu dengan telaten menyuapi Lucky. Perbuatan gadis itu sangatlah manis, ada rasa bahagia di dalam hatinya. Namun, ada rasa canggung ketika tatapan matanya bertemu dengan tuan Leonard.


Di lain tempat.

__ADS_1


Leandra langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dia bahkan langsung menutup tubuhnya dengan selimut sampai sebatas leher.


Padahal ini sudah saatnya makan siang, tetapi wanita itu seakan enggan untuk melakukan apa pun. Terlebih lagi dia masih merasa kesal terhadap suaminya, dia masih belum terima karena Leonel menegurnya.


"Sayang, aku tahu kamu sangat lelah. Tapi, kamu harus makan dulu. Habis itu baru kamu boleh bobo," bujuk Leonel seraya mengusap puncak kepala istrinya.


Leandra menggeser letak tubuhnya, dia masih merasa enggan untuk berdekatan dengan suaminya. Dia masih saja merasa kesel walaupun hanya mendengar suaranya.


"Tidak mau!" jawab Leandra dengan ketus.


Leonel memandang punggung istrinya dengan tidak percaya, karena wanita itu seakan menolak untuk berdekatan dengan dirinya. Padahal, biasanya Leandra akan cepat luluh dengan rayuannya.


"Sayang, kalau aku ada salah aku minta maaf. Kamu jangan marah kaya gini sama aku, aku ngga betah dicuekin kaya gini sama kamu." Leonel kembali mendekati istrinya, lalu dia kecup pipi istrinya dengan mesra.


Leandra membalikkan tubuhnya mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, lalu dia menatap wajah Leonel dengan tatapan sengit.


"Aku masih sangat kesal sama Kakak, jadi Kakak ngga boleh dekat-dekat aku dulu." Leandra mengambil guling lalu menyimpan guling itu di antara dirinya dan juga Leonel.


Lalu, Leandra tersenyum meledek ke arah suaminya. Leonel mendelik tidak suka, bahkan dia tanpa sadar langsung berteriak.


"Sayang!" pekik Leonel kaget.


Leandra langsung mengusap-usap telinganya, dia merasa jika kupingnya terasa sakit saat mendengar pekikan suaminya.

__ADS_1


"Ngga usah teriak-teriak, aku mau tidur. Jangan berisik!" ucap Leandra seraya menyimpan jari telunjuknya di bibir Leonel.


Leonel hanya bisa mengerjapkan matanya dengan tidak percaya, karena Leandra kini memberikan batasan di antara mereka.


__ADS_2