
"Terima kasih sudah menikahiku," ucap Liliu tulus.
"Hem, sekarang kita sudah resmi menikah. Apakah aku boleh melanjutkan yang tadi pagi?" tanya Lucky.
"Ehm! Boleh ngga, ya?" tanya Liliu.
Lucky yang begitu gemas melihat tingkah istrinya langsung menggendong Liliu dan merebahkan Liliu di atas tempat tidur, dia bahkan langsung mengungkung pergerakan istrinya.
"Tadi pagi kamu sudah membuat aku tersiksa, sekarang rasakan pembalasan dariku." Lucky membuka baju Liliu dengan tidak sabar.
Liliu tertawa karena Lucky kesusahan membuka baju yang dia pakai, bahkan Lucky sampai menggerutu dengan kesalnya.
"Ck! Kenapa baju kamu susah banget dibukanya? Perasaan kalau lihat film, aktor cowoknya gampang banget ngerobekin baju aktris ceweknya!" protes Lucky
(Aye sebagai Othor langsung ketawa ngakak, felem kok dipercaya. Itu pan hanya adegan rekayasa, mana ada baju disobeknya gampang.)
"Kamu tuh aneh banget, udah diem aja. Aku aja yang buka," ucap Liliu.
Wanita yang sudah resmi menjadi istri dari Lucky tersebut langsung bangun, lalu dengan cepat dia membuka dress yang dia pakai. Lucky tersenyum dan langsung mengecupi bibir istrinya dengan tidak sabar.
Lucky bahkan dengan tidak sabarnya memberikan ciuman panas kepada istrinya tersebut, hal itu membuat Liliu kehabisan oksigen.
"Tunggu sebentar, aku sesak napas. Kamu tuh ngga sabaran banget," keluh Liliu dengan napas tersenggal.
Lucky langsung nyengir kuda mendapatkan teguran dari istrinya, melihat kemolekan tubuh Liliu, dia benar-benar merasa tidak tahan ingin segera memasuki inti tubuh istrinya.
"Aku tuh beneran ngga sabar, pokoknya hari ini aku mau habisin waktu buat bercinta dengan kamu. Itu sebagai hukuman karena tadi pagi kamu sudah menggodaku," ucap Lucky.
Liliu langsung mengerjapkan matanya dengan tidak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, mereka memang sudah resmi menikah.
Namun, bukan berarti Lucky harus menghabiskan waktu untuk bercinta dengan dirinya. Itu artinya, Lucky akan menyiksa dirinya, bukan memberikan kenikmatan surgawi.
"Tapi jangan seharian juga, nanti kalau aku tidak bisa jalan gimana?" tanya Liliu panik.
"Ck! Udah nikmatin aja napa, biarkan aku bekerja dengan baik." Lucky dengan tidak sabarnya langsung mencumbui istrinya kembali.
Tentu saja hal itu membuat Liliu keenakan, bahkan tidak ada lagi kalimat protes dari bibir wanita cantik itu.
Hanya ada erangan kenikmatan yang lolos dari bibir tersebut, hal itu membuat Lucky semakin bersemangat untuk menjamah tubuh Istrinya.
Setelah melihat istrinya begitu siap, Lucky dengan tidak sabarnya langsung memasukkan miliknya ke dalam inti tubuh Liliu dengan sekali dorongan.
Sontak saja hal itu membuat Liliu menjerit dengan begitu kencangnya, Lucky langsung menghentikan aktivitasnya dan menatap tidak percaya kala dia melihat darah keluar dari inti tubuh Liliu.
"Sakit! Ini sangat perih, kenapa kamu langsung masukin semuanya?" keluh Liliu dengan lelehan air mata di pipinya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Sayang. Aku tidak tahu kalau kamu masih perawan," ujar Lucky
Liliu yang sedang menangis langsung memukuli dada suaminya dengan kasar, dia tidak menyangka jika Lucky akan mengatakan hal itu.
"Kamu tuh jahat banget, masa bilangnya kayak gitu? Memangnya kamu pikir aku ini wanita apaan?" tanya Liliu dengan begitu kesal.
Lucky berusaha untuk menenangkan hati istrinya, dia bahkan mengucapkan kata maaf berkali-kali kepada istrinya tersebut.
Bukan tanpa alasan dia mengira jika Liliu sudah tidak perawan, dulu dia begitu genit dan juga ganjen saat mendekati Leonel. Maka dari itu dia menyangka jika Liliu adalah wanita yang gampang tidur dengan pria mana pun.
"Maaf, Sayang. Maksudnya bukan seperti itu, maksudnya aku terlalu terburu-buru. Aku sudah tidak tahan, makanya tadi aku masukin semuanya." Lucky menatap istrinya dengan penuh penyesalan.
"Iya aku maafin, tapi punya kamunya keluarin aja dulu. Rasanya ngga enak, lemes-lemes gimana gitu!" ucap Liliu dengan bibir yang mengerucut.
Lucky langsung menatap sedih miliknya yang kini sudah terkulai dengan lemah, dia merasa kaget ketika istrinya kesakitan. Miliknya yang sudah menegang dengan sempurna, langsung ciut begitu saja.
Di lain tempat.
Siang ini Leonel sedang begitu sibuk dalam mengerjakan pekerjaannya, beruntung ada Leandra yang menjadi penyemangat baginya.
Wanita itu kini sedang duduk seraya menyuapi Leonel, karena waktu memang sudah menunjukkan pukul dua belas siang.
"Enak?" tanya Leandra.
"Kamu tuh bisa aja," ucap Leandra seraya mengulurkan tangannya lalu mengusap milik suaminya.
"Jangan nakal, Yang. Aku lagi kerja," ucap Leonel.
"Hem, aku tahu. Pekerjaan kamu sebentar lagi akan selesai, makan siangnya juga udah mau selesai. Aku boleh minta sesuatu, ngga?" tanya Leandra.
"Minta apa?" tanya Leonel dengan bingung karena tiba-tiba saja istrinya mengajukan permintaan.
"Mau **** itu," jawab Leandra seraya menunjuk milik Leonel dengan dagunya.
"Aih! Jangan, Yang. Nanti aku pengen," ucap Leonel.
Bercinta dengan Leandra adalah hal yang begitu dia inginkan, tetapi jika mengingat kemungkinan Leandra sedang mengandung, Leonel seakan ingin meredam hasratnya.
"Loh kok tumben ngomongnya kayak gitu? Memangnya kamu udah nggak mau lagi itu sama aku? Kamu udah bosan ya, sama aku?" tanya Leandra dengan sedih.
Leonel menyimpan berkas yang sedang dia pegang, lalu dia menarik lembut istrinya ke dalam pelukannya.
"Bukan seperti itu, Sayang. Kamu tuh udah kecapean bantuin aku, kamu mending boboan aja. Biar aku yang kerja, oke?" tawar Leonel.
"Tidak mau, aku mau isepin lolipop. Lagi pengen banget, ngga usah masuk sini juga. Cukup aku aja yang **** punya kamu," pinta Leandra.
__ADS_1
"Ya ampun, tapi nantinya kamu malah kecapean loh!"
Leonel masih berusaha untuk membujuk istrinya, dia merasa kasihan jika istrinya itu harus memuaskan dirinya. Sungguh Leonel akan berusaha untuk menahan diri, karena takut Leandra sedang mengandung benihnya.
"Sayang!"
Leandra meluruhkan tubuhnya lalu mengusap-usap milik Leonel, diperlakukan seperti itu oleh Leandra, tentu saja membuat Leonel tidak tahan.
"Mau ini, ya?" pinta Leandra seraya membuka gesper mahal yang sedang dipakai oleh Leonel, lalu dia menurunkan resleting celana milik suaminya.
''Leandra!" pekik Leonel kala istrinya mulai mengecupi milik Leonel dengan begitu lembut.
Leandra dengan nakalnya langsung memasukan milik suaminya ke dalam liang bergerigi miliknya, Leonel sampai harus menahan napasnya seraya mencengkram kuat sofa yang sedang dia duduki.
"Ouch, Sayang! Kenapa bisa enak banget?" tanya Leonel ketika kepala Leandra mulai maju mundur untuk menelan milik suaminya yang berukuran jumbo itu.
Bahkan, milik Leonel tidak bisa masuk semua ke dalam mulut Leandra. Hanya setengah bagian saja, tetapi itu sudah membuat tubuh Leonel menggelinjang dengan gelombang kenikmatan yang datang.
"Sayang! Kamu tuh pinter banget, aku mau sampe!" pekik Leonel setelah hampir setengah jam Leandra bermain dengan milik suaminya.
Dengan cepat Leandra mengeluarkan milik suaminya dari dalam mulutnya, lalu dia mengambil tisu dan menutupi milik suaminya yang sedang muntah-muntah karena ulahnya.
"Oh ya ampun, Sayang. Ini enak banget," ucap Leonel dengan napas terengah-engah.
"Hehehe, tadi bilangnya kamu ngga mau loh. Tapi malah muntah-muntah, mana banyak lagi!" keluh Leandra.
"Abisan enak, Yang." Leonel tersenyum seraya merapikan celananya.
Leandra tersenyum bangga mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, entah kenapa dia merasa jika suaminya takut kurang puas karena hanya bercinta satu kali saja tadi malam.
Rasanya dia ingin kembali kembali mengajak suaminya untuk bercinta, tetapi dia takut akan mengganggu pekerjaan suaminya. Terlebih lagi dia melihat sendiri jika pekerjaan suaminya saat ini sedang begitu banyak.
Maka dari itu Leandra berinisiatif untuk memuaskan suaminya, walaupun dia sendiri tidak merasakan kepuasan tersebut.
"Bangun, Yang. Jangan duduk di lantai," ujar Leonel seraya mengulurkan tangannya ke arah Leandra.
"Iya, Sayang," ucap Leandra seraya menerima uluran tangan dari suaminya.
Leandra berusaha untuk bangun, tetapi tiba-tiba saja dia merasakan kepalanya berputar-putar. Bahkan, dia merasa jika pandangannya kabur. Leandra langsung memejamkan matanya dengan kuat.
"Sayang, kepala aku pu--"
Belum juga Leandra menyelesaikan ucapannya, tetapi tubuh wanita itu sudah ambruk ke atas pangkuan suaminya.
"Sayang!" pekik Leonel yang kaget.
__ADS_1