
"Bagaimana kalau kita saja yang membuat dedek bayi? Kamu adalah adik dari istriku, sepertinya akan sangat menyenangkan jika kita membuat dedek bayi. Mau tidak?" tanya Leonel dengan senyum jahilnya.
Leandra langsung memelototkan matanya mendengar apa yang dikatakan oleh Leonel, tidak lama kemudian dia nampak memukul pundak Leonel dengan begitu kencang.
Bukan hanya satu kali, Leandra memukul Leonel sampai beberapa kali. Hal itu membuat Leonel meringis kesakitan, dengan cepat dia menangkap tangan Leandra dan berkata.
"Awww! Sakit Leandra, hentikan!" keluh Leonel.
"Rasakan itu adalah balasan yang setimpal untuk kamu!" kesal Leandra.
Melihat Leandra yang malah berdebat dengan Leonel, tuan Lincoln langsung menengahi keduanya. Walaupun pada kenyataannya dia tidak tahu apa yang mereka berdua bisikkan.
"Sudah-sudah, jangan berantem lagi. Lea, Sayang. Kamu harus sopan sama Leon, karena dia adalah Kakak ipar kamu," ucap tuan Lincoln.
Leandra langsung menghela napas sepenuh dada mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya tersebut, dia terlihat menahan emosinya dan berkata.
"Iya, Daddy. Maaf, aku salah." Mulut Leandra memang berkata seperti itu, tapi matanya masih saja menatap Leonel dengan tatapan sengitnya.
Lindsay hanya diam saja tanpa berani berkata apa pun, dia takut akan mengatakan hal yang salah dan membuat suaminya marah.
"Sekarang tidurlah, ajak Mom kamu ke kamar," titah Tuan Lincoln.
Mendengar apa yang diperintahkan oleh ayahnya, Leandra nampak berpikir keras. Dia tidak boleh lengah, dia tidak boleh membiarkan ayahnya tidur 1 kamar dengan Lili, itulah pikirnya.
"Ehm! Dad, ayo aku antarkan dulu Daddy ke kamar tamu. Setelah itu aku akan mengajak Mom ke kamar untuk tidur denganku," pinta Leandra dengan senyum manis di bibirnya.
Tuan Lincoln terlihat menghela napas berat, dia paham jika anak perempuannya itu tidak akan membiarkan dirinya bisa bersama dengan Lili.
''Oke," jawab Tuan Lincoln.
Mendengar jawaban dari ayahnya tersebut, Leandra langsung tersenyum dengan begitu senang. Dia langsung menuntun tuan Lincoln untuk masuk ke dalam kamar tamu.
"Selamat malam, Daddy. Semoga mimpi indah, pagi-pagi sekali aku akan bangun. Aku tidak ingin terlambat untuk ikut ke makan," ucap Leandra seraya mengecup pipi ayahnya tersebut.
Wajah tuan Lincoln benar-benar terlihat sangat sedih, sungguh dia merasa bersalah dan juga kecewa karena tidak sempat melihat sama sekali putri pertamanya itu.
Bahkan, dia merasa bersalah karena tidak menemani Lili saat hamil anak mereka. Saat Lindsay hamil saja, wanita itu benar-benar tersiksa.
Setiap hari dia akan memuntahkan setiap makanan yang masuk ke dalam perutnya, bahkan Lindsay sempat sampai dirawat karena kekurangan cairan.
__ADS_1
Mulai saat itulah tuan Lincoln merasa iba dan mulai merasa harus memperhatikan istri keduanya tersebut.
Walaupun terkadang dia merasa kesal kepada wanita itu, karena dia sudah berani beraninya berusaha untuk memisahkan dirinya dengan istri pertamanya.
Lindsay yang dia jaga saja masih sering merasa sakit dan tersiksa, lalu... apa kabarnya dengan Lili yang mengandung tanpa ada yang menjaga, pikirnya.
Saat itu Lili pasti sering menangis karena terluka, pikirnya. Sungguh jika mengingat akan hal itu dia sangat ingin menebus kesalahannya di masa lalu.
"Ya, bangunlah pagi-pagi sekali. Karena Daddy sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kakakmu, walaupun hanya dengan melihat pusara terakhirnya," ucap Tuan Lincoln dengan sedih.
"Jangan sedih, Dad. Ini semua bukan salah Daddy, ini semua sudah takdir," ucap Leandra menenangkan.
"Iya, Dad paham. Sekarang temani-lah Mom untuk tidur, kasihan dia. Pasti dia sangat lelah," titah Tuan Lincoln.
"Oke!" jawab Leandra.
Setelah mengatakan hal itu, Leandra melangkahkan kakinya dengan ringan. Dia merasa sangat senang, karena akhirnya tuan Lincoln tidur sendiri di kamar tamu. Bukan berdua dengan Lili, istrinya.
Terus terang saja Leandra merasa takut jika dirinya dan ibunya akan dicampakkan setelah tuan Lincoln menemukan istrinya, karena walau bagaimanapun juga, Leandra bisa melihat cinta yang begitu besar di mata ayahnya ketika menatap Lili.
"Ya Tuhan, kenapa putriku posesif sekali?" tanya Tuan Lincoln.
Selesai mandi, dia terlihat keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya menggunakan bathrobe saja. Lalu, dia mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan chat kepada sopirnya.
"Lalan, tolong bawakan baju ke kamar tamu. Aku lupa membawa baju."
Lalan yang memang berada di luar dan sedang asik mengobrol dengan security, langsung melaksanakan perintah dari tuannya.
Hanya dalam waktu kurang dari sepuluh menit saja, Lalan sudah datang dan memberikan baju yang diminta oleh tuan Lincoln.
"Terima kasih," ucap Tuan Lincoln saat menerima koper kecil berisikan baju miliknya.
"Sama-sama, Tuan. Apa ada yang anda butuhkan lagi?" tanya Lalan.
"Tidak usah, ini saja sudah cukup," jawab Tuan Lincoln.
Akhirnya, tuan Lincoln mengambil baju tidurnya dari koper dan memakainya. Tidak lama kemudian, dia terlihat keluar dari dalam kamar untuk menemui Leonel.
Tentunya dia bertanya terlebih dahulu kepada pelayan di mana letak kamar dari Leonel, pria paruh baya itu terlihat berjalan dengan sangat pelan sekali, karena dia sudah mengetahui jika letak kamar Leandra berada tepat di samping kamar Leonel.
__ADS_1
Pada saat tiba di depan kamar Leonel, tuan Lincoln terlihat mengambil ponselnya. Lalu, dia mengirimkan pesan singkat kepada Leonel.
"Aku berada di depan pintu kamar kamu, tolong keluar sebentar. Aku ada perlu sebentar, kumohon."
Tidak sampai lima menit dia mengirim pesan, Leonel nampak membukakan pintu kamarnya. Tuan Lincoln langsung mengembangkan senyumnya.
"Ikut aku sebentar," pinta Tuan Lincoln seraya menarik tangan Leonel menuju dapur.
Leonel benar-benar merasa kaget karena tiba-tiba saja tuan Lincoln menarik dirinya untuk pergi dari sana, padahal dia baru saja mandi dan belum berpakaian.
"Hastaga! Anda ini kenapa?" tanya Leonel yang hanya menggunakan handuk kecil yang melilit di pinggangnya.
Tuan Lincoln nampak memindai penampilan Lionel dari atas sampai bawah, lalu dia tersenyum dengan tidak enak hati.
"Waduh! Maaf, aku hanya ingin minta tolong. Aku ingin masuk ke kamar Lili, kumohon. Aku tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak, aku hanya ingin meminta maaf kepadanya."
"Ck! Anda mau melakukan apa pun saya tidak keberatan, toh anda suaminya. Tapi, saya takut ibu akan marah," jawab Leonel.
"Aku hanya meminta kunci cadangannya saja, sisanya itu urusanku," pinta Tuan Lincoln.
"Ck! Anda itu keras kepala sekali," ketus Leonel.
"Oh, ayolah menantuku, Sayang. Aku mohon," pintanya mengiba.
"Cih! Lea pasti tidak akan suka," keluh Leonel.
Bibir Leonel boleh saja berkata seperti itu, tapi pria itu melangkahkan kakinya untuk mengambil kunci cadangan yang tersimpan di dalam lemari dekat kamar Lili.
"Ini kuncinya, ini kamarnya." Leonel memberikan kuncinya, lalu menunjuk kamar Lili.
"Oh ya ampun, kamu sangat baik. Kamu memang menantu yang sangat baik," puji Tuan Lincoln seraya mengambil kuncinya dari tangan Leonel.
Setelah mengatakan hal itu, tuan Lincoln nampak membuka pintu kamar Lili dengan sangat perlahan. Lalu dia masuk dan mengunci pintunya kembali.
Leonel hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah dari mertuanya itu, lalu dia memutuskan untuk segera pergi ke kamarnya.
Saat Leonel handak membuka pintu kamarnya, tepat di saat itu pula pintu kamar yang ditempati oleh Leandra nampak terbuka.
Leandra yang melihat Leonel hanya memakai handuk kecil yang melilit di pinggangnya langsung menjerit karena kaget, sedangkan Leonel hanya menutup telinganya seraya memutarkan bola matanya dengan malas.
__ADS_1
"Hastaga! Bisakkah anda memakai baju dengan benar?" tanya Leandra dengan kesal.