
Setelah melaksanakan ritual mandinya, Leonel sempat menolehkan wajahnya ke arah Leandra. Gadis itu terlihat sedang duduk di atas sofa seraya memandangi suaminya.
Leonel yang hanya menggunakan bathrobe saja menghampiri Leandra dan duduk tepat di sampingnya. Lalu, dia mengusap puncak kepala Leandra dan berkata.
"Mandi, gih. Ini sudah sangat sore, mandinya yang bersih biar enak diciumnya." Leonel terkekeh setelah mengatakan hal itu, sedangkan Leandra malah mengerucutkan bibirnya.
Leandra merasa tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Leonel, walaupun dia belum mandi, tetapi rasanya dia tidak memiliki bau badan yang menyengat.
Bahkan, saat dia mencoba untuk mencium bau tubuhnya, hanya ada wangi parfum yang melekat di tubuh mungilnya. Tidak ada bau keringat sedikit pun.
"Walaupun tidak mandi aku tetap tercium wangi, buktinya tadi Kakak mau menciumku. Padahal aku belum mandi," ucap Leandra.
Leonel terkekeh, dia mengendusi leher Leandra. Lalu, mengecup leher jenjang istrinya tersebut. Leandra yang merasa merinding langsung mendorong wajah Leonel.
"Kakak ngapain sih? Jangan suka kaya gitu, aku merinding tau," kesal Leandra.
"Hanya sedang membuktikan ucapan istriku, ternyata kamu memang sangat wangi. Jadi, biar tambah wangi kamu harus mandi lagi. Biar semakin bersih, aku mau pakai baju dulu. Atau kamu mau melihatku memakai baju?" tanya Leonel.
Leandra langsung mengerucutkan bibirnya, buat apa melihat Leonel memakai baju, pikirnya. Lebih baik dia mandi saja.
"Tidak perlu, aku mandi saja," jawab Leandra.
Setelah mengatakan hal itu, Leandra langsung masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Leonel masuk ke dalam walk in closet untuk memakai pakaiannya.
Karena hari sudah menunjukkan pukul
enam sore, Leonel memutuskan untuk memakai piyama tidurnya saja.
Baru saja dia selesai memakai piyama tidurnya, Leandra keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang menutupi tubuhnya sampai sebatas dada saja.
"Wow, kamu seksi dan wangi." Leonel langsung menghampiri Leandra dan mengusap pundak polos Leandra.
Leandra menatap tangan Leonel dengan tatapan horornya, sedangkan Leonel malah terkekeh mendapatkan tatapan seperti itu dari istrinya.
"Ck! Jangan pegang-pegang, aku merinding. Mending Kakak bantu aku mengeringkan rambutku," pinta Leandra.
Setiap kali Leonel menyentuhnya, rasanya sekujur tubuh Leandra seakan meremang dalam seketika. Seperti ada aliran listrik yang mengalir di tubuhnya. Dia tidak mengerti kenapa, tetapi dia takut jika terlalu lama disentuh oleh Leonel.
"Hem," jawab Leonel.
Leonel menuntun Leandra untuk duduk di depan meja rias, lalu dia pun mulai mengeringkan rambut Leandra menggunakan hair dryer.
"Sudah selesai, kamu mau makan di ruang makan atau di dalam kamar saja?" tanya Leonel seraya menatap dada Leandra yang menyembul ke atas.
Pria yang sudah melepas status dudanya itu seakan begitu tergoda oleh keindahan dada dari istrinya tersebut, Leonel bahkan seolah tidak bisa melepaskan pandangannya ke arah yang lain.
"Aku nggak mau makan di dalam kamar, nanti kotor. Sekarang kakak keluar dulu, aku mau pakai baju. Nanti aku nyusul," pinta Leandra.
__ADS_1
Leandra merasa tidak nyaman dengan tatapan mata dari Leonel, pria itu seperti Singa lapar yang sedang mengintai mangsa.
"Baiklah, kalau begitu aku keluar duluan," ucap Leonel pasrah. Walaupun dia masih ingin menemani istrinya, tetapi dia tidak berani saat melihat tatapan mata dari istrinya.
Setelah mengatakan hal itu, Leonel nampak menunduk lalu mengecupi pundak polos Leandra. Gadis yang sudah menikah itu terlihat memejamkan matanya untuk merasakan kelembutan dari kecupan bibir Leonel.
Saat kecupan bibir Leonel berhenti, Leandra membuka matanya. Untuk sesaat, tatapan mata mereka bertemu lewat pantulan cermin.
Namun, tidak lama kemudian baik Leonel ataupun Leandra langsung menolehkan wajah mereka ke arah lain.
"Jangan lama-lama, aku sudah lapar." Leonel tersenyum hangat lalu keluar dari dalam kamar utama.
Leandra tidak berani menolehkan wajahnya ke arah Leonel, dia hanya menatap kepergian Leonel dari pantulan cermin yang berada di hadapannya.
Setelah melihat Leonel menghilang di balik pintu, Leandra menghela napas panjang seraya mengusap dadanya.
"Oh Tuhan, kenapa jantungku berdetak dengan sangat cepat? Apakah mungkin aku sudah jatuh cinta kepada suamiku?" tanya Leandra dengan senyum malu-malu di bibirnya.
Leandra merasa jika perasaannya terlalu cepat berubah, mereka baru dua hari menikah. Akan tetapi dia sudah merasakan perasaan yang berbeda, dia takut jika Leonel tidak merasakan hal yang sama dengannya.
Namun, setelah lama dia berpikir, sepertinya Leonel tidak seperti itu. Karena justru pria itu yang mengajak dirinya untuk berumah tangga dengan benar dan memulai semuanya dari awal.
Itu artinya, Leonel mau berusaha untuk mencintai dirinya. Jadi, tidak ada salahnya bukan jika memang dia sudah mempunyai rasa cinta terhadap Leonel?
"Ya ampun, dia itu suami gue. Wajar dong, kalau gue mulai cinta sama dia?" ucap Leandra seraya menggoyang-goyangkan badannya karena begitu senang.
Setelah cukup lama berdiam diri di depan cermin, akhirnya Leandra pun masuk ke dalam walk in closet dan memakai piyama tidurnya.
Saat tiba di ruang makan, Leonel langsung menepuk kursi kosong tepat di sampingnya. Leandra tersenyum, lalu dia pun duduk tepat di samping suaminya tersebut.
"Kita makannya berdua saja, Ibu belum pulang." Leonel mengendok nasi lengkap dengan lauk-pauknya, kemudian dia mulai menyuapi Leandra.
"Akunya nggak usah disuapin," ucap Leandra seraya melahap makanan yang disodorkan oleh Leonel.
Leonel tersenyum karena Leandra berkata jika dirinya tidak usah disuapi, tetapi Leandra terlihat begitu bersemangat dalam menerima suapan darinya.
Leonel merasa kembali ke masa lalu, di mana saat pertama kali dia memutuskan untuk berumah tangga dengan baik dan benar bersama dengan Leana.
Leana begitu bersemangat dalam menjalani harinya bersama dengan dirinya, dia selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik dan selalu berusaha untuk menyenangkan dirinya.
Bahkan, tanpa ragu Leana berpenampilan dengan begitu seksi ketika malam tiba. Hal itu dia lakukan untuk menyenangkan Leonel.
Leonel sempat berkata jika Leana mirip seperti wanita penghibur, karena istrinya itu tanpa tahu malu berpenampilan seksi untuk menggoda dirinya.
Namun, dengan tegas Leana berkata jika wanita penghibur melakukan hal itu tentunya demi uang. Berbeda dengan dirinya yang melakukan hal tersebut untuk ibadah, karena melayani suami di atas ranjang adalah ibadah.
"Kamu makannya sangat lahap, padahal tadi siang makannya banyak banget," celetuk Leonel.
__ADS_1
Leandra langsung nyengir kuda ketika Leonel mengatakan hal tersebut, entah kenapa saat menerima suapan dari tangan Leonel rasanya begitu berbeda. Terasa lebih enak dan juga lebih nikmat.
"Habisnya Kakak yang suapin, aku makannya jadi lahap."
Leonel tersenyum, kemudian dia pun mulai memakan makanannya setelah menyuapi Leandra. Karena perutnya juga sudah minta diisi.
**
"Aku sudah selesai, apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Leonel.
Leandra menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia sudah memakan banyak makanan. Bahkan, dia sudah meminum segelas susu. Rasanya sudah sangat kenyang.
"Aku sudah kenyang," jawab Leandra.
"Kalau begitu kamu minum obatnya," ucap Leonel seraya memberikan pil kontrasepsi kepada Leandra.
"Ini apa?" tanya Leandra seraya menerima pil kontrasepsi dari tangan Leonel.
"Yang tadi sore kita bahas," jawab Leonel.
Leandra mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti dengan apa yang Leonel katakan, karena memang dia sudah menyetujui untuk meminum pil kontrasepsi.
"Oh, tapi kalau aku minum obat ini, rahim aku tidak akan kering, kan? Maksudnya kalau misalkan aku mengkonsumsi pil kontrasepsi, apakah nantinya aku bisa mengandung?" tanya Leandra.
"Entah, aku hanya tahu jika obat itu bisa mencegah kehamilan," jawab Leonel jujur.
"Tapi, Kak. Aku takut, apakah tidak ada cara lain agar tidak hamil selain meminum obat ini?" tanya Leandra.
Leonel tersenyum dengan pertanyaan dari istrinya, tentu saja ada cara lain. Akan tetapi, apakah istrinya mau atau tidak, pikirnya.
''Ada, nanti kalau--"
Leonel terlihat mencondongkan wajahnya, lalu dia pun berbisik tepat di telinga istrinya. Leandra langsung membulatkan matanya dengan sempurna mendengar apa yang dibisikkan oleh Leonel.
"Serius, Kak.? Nanti dibuang di atas perut aku gitu?" tanya Leandra dengan polosnya.
"Hem, tapi kalau akunya keenakan, terus lupa nyabut ya, kamu bisa hamil."
Leandra mengerutkan keningnya, dia merasa semuanya terasa ribet. Padahal dia pikir semuanya akan terasa mudah.
"Ribet banget ya," keluh Leandra.
Leonel langsung menggelengkan kepalanya, karena menurutnya tidak ada yang ribet. Justru yang membuat ribet adalah Leandra sendiri.
"Ehm! Leandra, Sayang. Ditembak di dalem itu enak loh, kamu yakin ngga mau?" tanya Leonel.
Leandra terdiam, dia yang belum berpengalaman sama sekali tidak bisa langsung memberikan jawaban. Dia ingin meminum pil kontrasepsi itu, tapi takut di masa nanti dia malah tidak akan punya bayi.
__ADS_1
Akan tetapi, jika dia tidak meminumnya, dia takut jika dirinya akan hamil setelah menyerahkan keperawanannya kepada suaminya.
"Leandra, Sayang. Bagaimana?" tanya Leonel seraya mengusap pangkal paha istrinya.