Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 40


__ADS_3

Malam gelap yang terasa begitu mengerikan kini telah berganti, sinar matahari yang menyengat terasa begitu panas menerpa kulit wajah Leandra.


Gadis nakal yang tadi malam sudah membuat panik seorang Leonel, terbangun karena merasakan ketidak nyamanan dalam tidurnya.


"Nghh!" lenguhnya seraya merentangkan kedua tangannya ke udara.


Gadis nakal itu tersenyum seraya menarik selimut untuk menutup wajahnya agar tidak terkena paparan matahari, tetapi tidak lama kemudian malah terdengar pekikan dari bibir mungilnya.


Karena dia merasakan perih pada area intinya, dia bahkan langsung merapatkan pahanya. Hal itu dia lakukan agar bisa mengurangi rasa sakitnya.


"Aduh! Kenapa sangat perih? Apakah aku---"


Leandra tidak meneruskan ucapannya, dia langsung membuka matanya. Dengan cepat dia bangun untuk mengecek area intinya.


"Aaaaaaah!" jeritnya ketika dia menyadari jika dirinya hanya memakai kemeja kebesaran milik Leonel saja.


Tidak ada bra dan juga segitiga pengaman yang dia kenakan, sungguh dia merasa sangat ketakutan.


Lalu, gadis itu terlihat mengedarkan pandangannya. Leandra syok, dia tidak menyangka jika kini dirinya berada di dalam kamar pria dewasa itu.


Leandra menjadi berpikir, mungkinkah dirinya semalam sudah menyerahkan diri kepada Leonel? Mungkinkah kini dirinya sudah tidak perawan lagi?


"Oh Tuhan! Apa yang sebenarnya sudah terjadi?" tanya Leandra dengan bingung.


Gadis itu nampak mengingat-ingat apa yang sebenarnya sudah terjadi, semakin lama dia berusaha untuk mengingat, wajah Leandra semakin memerah.


Kilasan kejadian semalam seakan menjadi potongan puzzle yang siap untuk disusun, sedikit demi sedikit apa yang sudah dia lakukan mulai terkumpul di dalam ingatan.


"Hastaga! Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku bertingkah seperti itu?" tanya Leandra.


Antara malu, kesal dan juga bingung yang Leandra rasakan saat ini. Dia merasa tidak habis pikir kenapa dia bisa bertingkah seperti itu.


"Dia pasti menganggap aku wanita murahan?" ucapnya dengan lemas. "Semoga saja dia tidak memerawani aku di saat aku tidur." Leandra berucap dengan lemah, lalu dia menggigit selimut yang dia pakai.


Tidak lama kemudian dia membuka selimutnya, lalu dia memperhatikan tempat tidur yang sedang dia tiduri. Tidak ada bercak darah, lalu dia terlihat mengedarkan pandangannya.


Di atas sofa yang tidak jauh dari tempat tidur, ada bantal dan juga selimut yang sudah terlipat. Leandra tersenyum, karena itu artinya Leonel tidur di atas sofa.


Pria dewasa itu tidak tidur satu kasur dengannya, pria itu mampu menahan hasratnya.

__ADS_1


"Ah, syukurlah. Sepertinya dia pria yang baik, buktinya dia tidak menodaiku,'' ucapnya dengan yakin.


Entah kenapa, dia merasa sangat yakin jika Leonel tidak berbuat buruk terhadap dirinya. Karena dia masih sangat ingat ketika Leonel berkata jika dia tidak akan memasukkan miliknya ke dalam inti tubuhnya.


"Kak Leana, beruntung sekali kamu mempunyai suami seperti tuan Leon." Leandra mengatakan hal itu Seraya tersenyum kalau melihat foto pernikahan leana dan juga Leonel.


Tidak lama kemudian dia nampak turun dari tempat tidur dengan tertatih karena area intinya masih terasa sangat perih, dia mengambil foto pernikahan Leana dan juga Leonel. Lalu duduk di atas sofa dan berkata.


"Kenapa setiap kali aku melihat senyumanmu, aku seakan melihat daddy dalam dirimu? Apakah ini sebuah kebetulan atau ada hal yang lain yang perlu aku selidiki?" tanya Leandra lirih.


Dia merasa jika Leana dan juga tuan Lincoln mempunyai ikatan yang begitu dekat, entah ikatan seperti apa dia tidak tahu. Namun, Leandra yakin jika mereka punya sebuah ikatan.


"Lebih baik aku mandi saja, setelah itu pergi ke kamarku untuk memakai bajuku. Rasanya tidak nyaman memakai kemeja milik tuan Leonel," ucapnya seraya mengusap kemeja yang dia pakai.


Baru saja Leandra hendak melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, tapi niatnya dia urungkan karena ada yang mengetuk pintu kamar Leonel.


Untuk sesaat dia terdiam, mungkinkah itu Leonel yang datang, pikirnya. Namun, rasanya tidak mungkin. Karena hari terlihat sudah terik, pasti Leonel sedang bekerja.


"Pasti itu adalah pelayan, atau mungkin tante Lili,'' tebak Leandra.


Akhirnya leandra mengurungkan niatnya untuk mandi, dia membukakan pintu kamar dari pria dewasa tersebut.


Lili terkekeh kala melihat penampilan dari Leandra, penampilan gadis nakal itu terlihat begitu berantakan. Rambutnya bahkan terlihat acak-acakan dan tubuhnya terlihat tenggelam dengan kemeja yang dia kenakan.


Sebelum berangkat bekerja Leonel sudah menceritakan semuanya yang terjadi kepada Leandra, hal itu dia lakukan agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara Leonel dengan Lili.


Leonel tidak menceritakan semuanya, karena ada satu hal yang dia sembunyikan. Dia terangsang dan mengeluarkan cairan cintanya karena ulah dari Leandra.


Lili sangat bersyukur karena Leonel ternyata begitu menghargai dirinya sebagai seorang ibu mertua, walaupun putrinya sudah tiada.


"Tante sudah membuatkan sup untuk kamu, nak Leon juga sudah membelikan obat anti nyeri. Setelah mandi cepatlah ke ruang makan, takutnya supnya akan dingin."


Dia merasa hatinya menghangat kala berhadapan dengan Lili, dia merasa jika Lili dan Lindsay memiliki sifat yang sama. Lembut dan penyayang.


"Ah! Iya, habis mandi aku akan langsung makan," ucap Leandra tidak enak hati.


"Jangan lama-lama!" ucap Lili.


"Ya, Tante."

__ADS_1


Setelah berbicara dengan Leandra, Lili langsung melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Karena masih ada yang perlu disiapkan untuk Leandra.


Berbeda dengan Leandra, setelah melihat kepergian Lili, Leandra langsung masuk ke dalam kamar mandi. Dia langsung membersihkan tubuhnya dengan air hangat


Di perusahaan Harold.


Leonel begitu marah ketika melihat rekaman cctv yang ditunjukkan Lucky, dalam rekaman cctv tersebut terlihat dengan jelas jika Lana dan juga Lingga meminta seorang pelayan untuk memasukkan obat perangsang ke dalam minuman yang dipesan oleh Leandra.


Padahal mereka bertiga sudah berteman sejak kecil, Leonel tidak habis pikir kenapa kedua sahabatnya itu malah ingin menghancurkan masa depan dari sahabatnya sendiri.


"Setelah anda mengetahui semuanya, apa yang akan anda lakukan, Tuan?" tanya Lucky.


Sebenarnya Leonel ingin sekali menemui Lana dan juga Lingga, dia ingin menghajar kedua bocah itu sampai wajahnya tidak terbentuk.


Sayangnya dia bukan siapa-siapanya Leandra, dia berpikir lebih baik hal ini diberitahukan saja kepada tuan Lincoln. Karena sepertinya ayah dari Leandra itu yang harus memberikan tindakan lebih lanjut kepada Lana dan juga Lingga.


"Sepertinya aku akan menelpon tuan Lincoln untuk memberitahukan kejadian ini, karena dia yang lebih tepat memberikan hukuman kepada kedua pemuda brengsek itu!" ucapnya dengan penuh amarah.


"Ya, Tuan. Saya setuju," ucap Lucky.


Setelah mengatakan hal itu Lucky nampak berpamitan untuk masuk kembali ke dalam ruang kerjanya, sedangkan Leonel langsung menghubungi tuan Lincoln.


Tentu saja dia memberitahukan apa yang sudah terjadi kepada Leandra, tapi dia tidak memberitahukan sepenuhnya dengan apa yang Leandra lakukan kepada dirinya dan juga yang terjadi kepadanya.


"Tolong kirimkan rekaman cctv-nya," pinta Tuan Lincoln dengan penuh perintah.


"Ya, Tuan. Akan segera saya kirimkan," ucap Leonel


Leonel menutup sambungan telepon tersebut, lalu dia mengirimkan rekaman cctv-nya kepada tuan Lincoln. Tidak lama kemudian, dia mendapatkan pesan dari tuan Lincoln.


"Terima kasih karena anda sudah menjaga kesucian putriku, saat ini juga aku akan pulang dan menjemput putriku. Aku pastikan akan memberikan hukuman yang setimpal kepada kedua pemuda brengsek itu, kalau perlu aku akan menghancurkan bisnis kedua orang tuanya."


"Saya tunggu kedatangan anda," balas Leonel.


Leonel bisa bernapas dengan lega membaca pesan dari tuan Lincoln, karena dengan seperti itu dia tidak perlu menindaklanjuti kedua sahabat lucnut dari Leandra tersebut.


Untuk urusan Lana dan juga Lingga, Leonel akan menyerahkan sepenuhnya kepada tuan Lincoln. Orang tua dari Leandra sendiri.


Dia juga merasa tenang karena tidak tinggal satu atap lagi bersama dengan Leandra, karena rasanya akan sangat canggung jika mereka bertemu.

__ADS_1


"Sepertinya aku pulang pada saat makan malam tiba saja, rasanya akan sangat canggung jika saat ini aku harus bertemu dengan gadis itu."


__ADS_2