
Di lain tempat.
Lili merasa jika badannya tidak sehat, sejak pagi dia merasa lemas. Perutnya terasa di aduk dan kepalanya terasa pusing, beberapa kali dia kena tegur sahabatnya karena hampir terjatuh.
Sebenarnya saat bangun dari tidurnya, dia ingin sekali berkeluh kesah kepada suaminya. Namun, dia takut jika suaminya akan bertindak berlebihan seperti yang sudah-sudah.
Karena, jika tuan Lincoln sudah merasakan sebuah kekhawatiran, pria itu akan bertindak berlebihan. Bisa-bisa dia tidak akan bisa masuk kerja, pikirnya.
"Li, lebih baik elu pulang aja deh. Gue kok khawatir ya, sama keadaan elu. Udah gitu sekarang wajah elu pucet banget," ucap Luna.
Luna merasa tidak tahan melihat Lili yang berusaha untuk bersikap biasa saja, padahal dia sangat yakin jika keadaan dari sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja.
Dia tahu jika Lili pasti berbuat seperti itu karena tidak ingin membuat semua orang yang berada di dekatnya merasa khawatir, tapi tidak dengan menahan rasa sakitnya juga, pikir Luna.
"Iya, kah?" tanya Lili seraya mengambil cermin dan berkaca. "Oh ya ampun, padahal gue udah pake bibir merah. Kenapa bibir gue pucet banget ya?" tanya Lili ketika melihat wajahnya yang memang terlihat pucat.
Luna hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh Lili, menurutnya tidak mungkin jika Lili tidak menyadari keadaan tubuhnya yang terlihat begitu lemas dengan wajah yang memucat.
Karena sejak Lili datang saja, Luna sudah bisa melihat jika kondisi Lili benar-benar sangat tidak baik. Hanya saja Lili bertindak sok kuat.
"Makanya, elu mending pulang aja. Gue beneran khawatir," ucap Luna seraya mengelus lembut punggung sahabatnya.
Lili terdiam, jika dia pulang. Otomatis upahnya akan berkurang, rasanya di tidak mau hal itu terjadi. Apalagi uang tabungan miliknya baru saja terpakai untuk modal usaha tuan Lincoln.
Lili yang merasa kasihan karena suaminya tidak juga mendapatkan pekerjaan, akhirnya memberikan uang tabungannya untuk dipakai modal usaha.
Maka dari itu, saat ini Lili benar-benar tidak mempunyai tabungan lagi. Hanya ada sisa uang untuk biaya mereka sebulan ke depan.
Jika Lili pulang, dia takut uang gajinya akan berkurang. Dengan seperti itu, Lili tidak dapat menabung lagi.
"Kok malah bengong? Elu ken---"
Belum selesai Luna berucap, Lili sudah jatuh tersungkur di lantai. Sontak Luna langsung menjerit, dia takut Lili kenapa-kenapa.
"Ada apa ini?" tegur Lukman, salah satu pekerja yang sedang merapikan makanan di atas rak.
Dia benar-benar merasa kaget dan juga takut dalam waktu yang bersamaan, ketika mendengar Luna menjerit dan meneriaki nama Lili.
"Lili pingsan, bagaimana ini?" tanya Luna panik.
__ADS_1
Luna terlihat berusaha untuk membangunkan Lili seraya menepuk-nepuk pipi Lili. Dengan seperti itu, dia berharap jika Lili akan cepat tersadar dari pingsannya.
"Gue bawa dia ke Klinik depan, elu jangan ke mana-mana. Takut si bos marah," ujar Lukman seraya membopong tubuh Lili dan membawanya ke Klinik yang tidak jauh dari swalayan.
Rasanya saat ini yang terpenting Lili mendapatkan pemeriksaan terlebih dahulu, karena dia bingung dan tidak tahu cara membangunkan orang pingsan itu seperti apa.
Dua puluh menit kemudian.
"Engh!" terdengar lenguhan dari bibir Lili, dia terbangun seraya memegangi kepalanya yang terasa sakit.
Lukman tersenyum senang, karena akhirnya Lili tersadar dari pingsan. Sungguh Lukman sejak tadi merasa begitu khawatir, karena Lili tidak sadarkan diri dengan wajah yang begitu pucat.
"Ngga usah bangun dulu, tiduran aja lagi." Lukman menahan tubuh Lili yang seakan berusaha untuk bangun.
Lili menyipitkan matanya, dia berusaha untuk mempertegas penglihatannya. Takutnya dia salah mengenali orang, karena kepalanya terasa sangat sakit.
"Eh? Kok ada elu, Man? Gue di mana? Kenapa kepala gue--"
Lukman berdecak sebal mendengar apa yang dikatakan oleh Lili, wanita yang berada di hadapan yaitu baru saja tersadar dari pingsannya. Namun, wanita itu malah banyak bertanya.
"Elu berisik banget, kata dokter kemungkinan besar elu bunting. Mending sekarang elu langsung periksa aja, biar jelas," ujar Lukman.
Tidak adakah bahasa yang baik dan benar, pikirnya. Karena dia adalah seorang manusia, dasar Lukman, keluhnya.
"Hastaga! Gue bukan kucing!" ketus Lili saat mendengar Lukman yang mengatakan jika dirinya hamil tapi dengan bahasa yang menurutnya tidak lajim.
Mungkin bahasa itu untuk Lukman adalah bahasa sehari-harinya, berbeda dengan dirinya yang merasa kurang suka dengan bahasa yang Lukman katakan.
"Iya, maaf. Elu ngga seneng? Memang kenyataannya seperti itu, elu hamil. Gue jadi penasaran sama calon bayi elu, ayo buruan kita periksa ke ruang obgyn," ajak Lukman.
Lili yang benar-benar baru sadar dengan apa yang dikatakan oleh Lukman nampak terdiam, dia masih tidak percaya saat mendengar dirinya kini tengah hamil.
"Li, elu beneran ngga seneng sama kabar yang gue kasih?" tanya Lukman was-was.
Lili baru berusia dua puluh dua tahun, rasanya usianya memang masihlah muda. Mungkinkah Lili belum siap untuk mengandung dan memiliki anak, pikirnya.
"Hah?" tanya Lili dengan keadaan yang masih terlihat bingung.
Lukman berdecak sebal melihat kebingungan di wajah Lili, dia merasa bingung dengan wanita. Kenapa harus terlihat syok jika ada kabar yang menurutnya merupakan kabar bahagia ini, pikirnya.
__ADS_1
"Elu ngga seneng kalau elu hamil?" tanya Lukman lagi.
Tidak lama kemudian, tersungging sebuah senyuman dari bibir Lili, lalu tangannya terulur untuk memegangi perutnya yang masih terlihat rata.
"G--gue beneran hamil?" tanya Lili seraya mengelus lembut perutnya.
Lukman bernapas dengan lega, karena sepertinya Lili bukan belum siap untuk menjadi seorang ibu. Hanya saja dia masih syok karena belum percaya jika dirinya kini tengah mengandung.
"Belum yakin juga gue, ayo kita periksa. Biar pasti, biar gue tahu pasti kalau di dalam perut elu ada calon keponakan gue," ajak Lukman.
Lukman mengatakan hal itu dengan senyum yang mengambang di bibirnya, tapi Lili tidak tahu jika di dalam hatinya dia merasa terluka.
Pria itu sudah lama mencintai Lili, sayangnya Lili tidak pernah menyadari akan hal itu. Lukman yang memang tidak berani mengatakannya, hanya bisa memendam rasa cintanya di dalam hati.
"Anterin gue periksa, tapi badan gue lemes," ucap Lili dengan wajah yang terlihat syok tapi tersungging sebuah senyuman yang begitu manis di bibirnya.
Lukman tertawa mendengar permintaan dari Lili, tanpa diminta pun Lukman akan dengan senang hati mengantar Lili dan menemaninya.
"Mau gue bopong atau mau pake kursi roda?" tanya Lukman.
Jika memang bisa, Lukman ingin menggendong Lili. Sebuah kesempatan dalam kesempitan yang bisa dia lakukan dan sepertinya itu adalah hal yang manis, pikirnya.
Lukman menatap Lili dengan penuh harap, dia benar-benar berharap jika Lili mau digendong oleh dirinya. Berbeda dengan Lili, dia terlihat menatap Lukman dengan tatapan tidak suka.
"Gue bisa jalan sendiri," ucap Lili dengan wajah yang cemberut.
Lili berusaha untuk turun dari ranjang pasien, sayangnya tubuhnya yang masih oleng membuat Lili hampir jatuh.
Beruntung Lukman dengan cepat menangkap tubuh Lili, hal itu membuat Lili berada di dalam pelukan Lukman. Karena merasa sangat intens, Lili langsung mendorong tubuh Lukman.
"Ck! Gue bisa jalan sendiri," ucap Lili dengan ketus. Sayangnya Lili kembali hampir jatuh, karena tubuhnya yang memang masih lemas.
"Oh ya ampun, elu kumat lagi. Ketusnya keluar lagi," ucap Lukman. Tanpa banyak bicara Lukman langsung membopong tubuh Lili dan membawa teman kerjanya itu menuju ruang obgyn.
Dia tidak mau mengambil resiko, Lili masih begitu lemah. Dia tidak mau melihat wanita yang sangat ia cintai itu berjalan dengan kesusahan menuju ruang obgyn.
Lili merasa tidak enak hati, dia bahkan terlihat menolehkan wajahnya ke arah Lain. Rasanya dia sangat malu untuk mengakui jika dirinya masih sangat lemah untuk berjalan.
Namun, dia juga merasa malu untuk mengakui jika dia membutuhkan bantuan Lukman. Lelaki yang sudah menjadi temannya semenjak dia bekerja di swalayan, dua tahun yang lalu.
__ADS_1
"Padahal gue bisa jalan sendiri, gue ngga enak tau. Masa udah nikah malah digendong sama cowok lain, bukan sama suami gue." Lili terlihat mengerucutkan bibirnya di dalam gendongan Lukman.