Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 27


__ADS_3

Leandra yang baru saja keluar dari kediaman Harold langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di samping pak sopir, Lucky terlihat terbengong karena biasanya dia yang duduk di samping pak sopir.


Namun, pria itu tidak berani berkata apa pun, dia hanya terdiam seraya menatap wajah Leonel yang terlihat berjalan ke arahnya.


"Lucky, kamu duduk di depan. Suruh Leandra duduk denganku," ucap Leonel seraya membuka pintu mobilnya lalu dia duduk anteng di bangku penumpang.


"Eh? Iya, Tuan." Lucky terlihat menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, kemudian dia membukakan pintu mobil lalu menunduk dan dia pun berkata.


"Maaf, Nona Leandra. Anda disuruh duduk di bangku penumpang bersama dengan Tuan Leon." Lucky terlihat membungkuk hormat.


"Aku duduk di sini saja," ucap Leandra yang merasa takut karena Leonel mengedipkan sebelah matanya saat pandangan mata mereka bertemu lewat pantulan kaca tengah.


Leonel sengaja bersikap seperti itu untuk menakuti Leandra, karena melihat wajah Leandra yang menatap dirinya penuh rasa takut menjadi sebuah hiburan tersendiri untuk dirinya.


Berbeda dengan Leandra, dia terlihat takut jika pria dewasa itu akan mengerjai dirinya atau berbuat hal yang tidak-tidak terhadap dirinya.


Walaupun memang di dalam tas selempang yang dia bawa sudah ada sprei cabe dan juga alat kejut listrik, tapi tetep saja dia harus menjaga jarak, pikirnya.


"Maaf, Nona. Tapi ini adalah perintah dari Tuan Leon," tegas Lucky.


"Tapi, aku---"


"Maaf, Nona," ucap Lucky memangkas ucapan dari Leandra.


Kalau Leonel sudah berkata A, maka kata A itu tidak bisa berubah menjadi kata B. Maka dari itu Lucky berkata dengan tegas, agar Leandra mau menurut.


"Iya, aku turun," ucap Leandra dengan terpaksa.


Setelah mengatakan hal itu Leandra terlihat menuruti apa yang dikatakan oleh Lucky, dia terlihat duduk di samping Leonel yang kini sedang asyik berselancar dengan benda pipih berteknologi tinggi yang dia pegang dengan tangan kanannya.


"Jalan, Pak. Hari ini aku harus segera sampai, karena ada berkas penting yang menunggu untuk ditandatangani," ucap Leonel dengan nada perintah tanpa menolehkan wajahnya.


"Ya, Tuan," jawab Pak sopir.


Setelah menjawab ucapan dari Leonel, pak sopir terlihat mulai menyalakan mesin mobilnya. Lalu dia pun melajukan mobil tersebut menuju perusahaan Harold.


Saat di perjalanan menuju perusahaan Harold, Leonel terlihat menanyakan tentang kegiatan apa aja yang akan dia lakukan hari ini kepada Lucky.


Lucky pun menjelaskan jika pagi ini dia harus memeriksa berkas-berkas penting dan menandatangani secara langsung, siang harinya mereka akan ada meeting di luar.


Untuk sore harinya dia akan bertemu dengan sahabat lamanya yang meminta dirinya untuk bekerja sama, bersantai sejenak seraya membahas kerja sama.


Selama perjalanan menuju perusahaan Harold, Leonel dan juga Lucky terlihat berbicara tentang pekerjaan. Sedangkan Leandra terlihat memakan sarapannya tanpa bersuara sedikit pun.


Saat tiba di perusahaan Harold, Leonel terlihat mengajak Leandra untuk masuk ke dalam ruangannya. Karena dia harus segera memulai pekerjaannya.


Begitupun dengan Lucky, dia terlihat masuk ke dalam ruangannya untuk mengambil beberapa berkas yang sudah dia kerjakan kemarin dan harus diperiksa oleh Leonel.


"Ehm! Tuan, apa yang harus aku lakukan?" tanya Leandra ketika dia melihat Leonel duduk di atas kursi kebesarannya.


Leonel yang pada awalnya ingin menyalakan laptopnya dan memeriksa email yang dikirimkan oleh tuan Lincoln terlihat mengurungkan niatnya, dia terlihat menolehkan wajahnya ke arah Leandra.

__ADS_1


Untuk sesaat dia terdiam, dia seperti sedang memikirkan sesuatu yang akan dia tugaskan kepada Leandra. Tidak lama kemudian dia tersenyum, lalu pria itu pun berkata.


"Tolong buatkan aku kopi, jangan terlalu manis. Pantri ada di dekat ruangan Lucky," pinta Leonel.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Leonel, Leandra terlihat mengedarkan pandangannya. Kemudian dia melihat ada pantri kecil di pojok ruang kerja Leonel yang terlihat begitu luas itu.


"Tapi, Tuan. Aku buat kopinya di sini saja, ya?" pinta Leandra.


Mendengar permintaan dari Leandra, Leonel terlihat menghela napas berat. Dia lupa jika di dalam ruang kerjanya ada pantri dan juga ada ruangan rahasia untuk dia beristirahat.


"No! Di pantri luar saja," tolak Leonel.


Leandra langsung mengerucutkan bibirnya, dia merasa kesal karena Leonel malah menyuruh dirinya untuk membuatkan kopi di pantri luar.


"Oh ya ampun, memangnya kenapa kalau di sini saja?" tanya Leandra.


Dalam hati Leonel ingin tertawa, tentu saja untuk mengerjai gadis itu. Karena jika Leandra membuatkan kopi untuknya di dalam ruangannya sendiri, Leandra tidak akan mengeluarkan tenaga yang banyak, pikirnya.


"Dispensernya tidak berfungsi," bohong Leonel.


Leandra tidak percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Leonel, apalagi ketika dia melihat jika dispensernya terlihat menyala. Baik tombol dingin atau tombol panasnya pun terlihat menyala.


"Oh, tapi kok itu nya--"


"Cepatlah buatkan aku kopi di luar, aku sudah haus!" ucap Leonel dengan tegas.


Leandra terlihat mengernyitkan hidungnya ketika Leonel berkata jika dirinya haus, padahal di atas mejanya sudah ada air putih yang disediakan oleh Linda.


"Iya," jawab Leandra seraya menghentak-hentakkan kedua kakinya.


Melihat Leandra yang begitu kesal Leonel langsung tersenyum dengan begitu senang, dia sudah berniat di dalam hatinya jika hari ini akan terus mengerjai gadis itu.


Saat tiba di pantri, Leandra dengan cepat membuatkan kopi yang diinginkan oleh Leonel. Tentu saja hal itu dia lakukan agar Leonel tidak marah terhadap dirinya.


Namun, jiwa jahilnya kembali meronta ketika dia melihat toples kecil berisikan garam. Leandra yang awalnya akan mengambil gula dia urungkan.


Leandra akhirnya memutuskan untuk mengambil garam dan memasukkan tiga sendok garam pada cangkir kopi yang sudah siap dituang dengan air panas.


"Pasti kopinya akan sangat enak, rasakan dasar Tuan pemarah!" kesal Leandra seraya menuangkan air panas pada cangkir kopi tersebut.


Setelah mangaduk kopinya, Leandra terlihat berdehem beberapa kali. Lalu dia berusaha untuk tersenyum manis dan segera masuk ke dalam ruangan Leonel.


"Ini, Tuan kopinya," ucap Leandra seraya memberikan secangkir kopi kepada Leonel.


Leonel tidak langsung menerima kopi yang dibuatkan oleh Leandra, dia terlihat menatap kopi tersebut dan juga Leandra secara bergantian.


Entah kenapa saat melihat senyum manis di bibir Leandra dia merasa curiga, Leonel membalas senyuman Leandra, kemudian dia pun berkata.


"Sepertinya aku sudah tidak menginginkan kopinya, bagaimana kalau kamu saja yang meminumnya?" tanya Leonel.


Leandra terlihat begitu kaget dengan apa yang diucapkan oleh Leonel, dia bahkan terlihat menelan salivanya dengan susah saat membayangkan rasa asin yang akan memenuhi rongga mulutnya ketika dia meminum kopi tersebut.

__ADS_1


"Eh? Tidak usah, Tuan. Aku tidak meminum kopi," ujar Leandra seraya menyimpan kopi tersebut di atas meja. Lalu, dengan cepat dia berjalan ke arah sofa dan duduk dengan gugup.


Melihat gelagat aneh dari Leandra, Leonel menjadi curiga dibuatnya. Dia terlihat bangun dari kursi kebesarannya, lalu membawa kopi tersebut dan memberikannya kepada Leandra.


"Minumlah kopinya, Leandra!" ucap Leonel dengan nada perintah.


"Ti--tidak mau," ucap Leandra seraya menggelengkan kepalanya.


Leonel terlihat menghembuskan napasnya dengan berat, kemudian dia menyimpan kopi tersebut di atas meja dan menatap Leandra dengan tatapan mengintimidasi.


"Tolong jawab dengan jujur, apa yang kamu masukkan ke dalam kopi yang ingin kamu berikan kepadaku?" tanya Leonel seraya duduk tepat di samping Leandra.


Leandra langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia bahkan terlihat menggoyang-goyangkan kedua telapak tangannya di depan dadanya.


"Tidak ada, aku tidak memasukkan apa pun. Mana berani aku memasukkan sesuatu yang aneh ke dalam kopi anda, Tuan."


"Jawab dengan jujur Leandra!" sentak Leonel seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Leandra.


Leandra yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Leonel terlihat memundurkan wajahnya, dia benar-benar merasa takut jika Leonel akan memarahi dirinya atau melakukan hal yang tidak-tidak terhadapnya.


"Tuan, menjauhlah." Leandra terlihat mendorong wajah Leonel yang dirasa semakin dekat dengan wajahnya.


Mendapatkan perlakuan seperti itu dari Leandra, Leonel terlihat tidak terima. Dia langsung melayangkan protesnya terhadap gadis muda itu, tentunya Leandra terus saja menjawab apa yang dilontarkan oleh Leonel.


Hal itu Leandra lakukan agar Leonel bisa percaya jika dirinya tidak memasukkan apa pun pada kopi yang Leonel pesan.


"Aku yakin pasti kamu memasukkan sesuatu," tuduh Leonel.


"No!" teriak Leandra.


Saat kedua insan berbeda jenis kelamin itu terlihat sedang berdebat, tiba-tiba saja pintu nampak terbuka.


Linda terlihat datang dengan memegang berkas di tangan kananya, dia ingin berbicara dengan Leonel.


Namun, niatnya dia urungkan. Dia hanya terdiam seraya menatap ke arah Leandra dan juga Leonel dengan tatapan penuh pertanyaan.


Leonel yang menyadari kehadiran Linda langsung mendorong bahu Leandra agar menjauh darinya, karena gadis itu terus saja membantah ucapannya.


"Ehm! Linda, ada apa?" tanya Leonel


"Anu, Tuan. Ini berkas yang harus Anda periksa, berkas dari tuan Lucky juga sudah dititipkan sekalian," ucap Linda tanpa berani mendekat ke arah keduanya.


"Kemarilah, Linda." Leonel terlihat mengayunkan tangannya.


"Ada apa, Tuan?" tanya Linda.


"Berikan berkasnya kepadaku, selain itu aku juga ingin memintamu untuk meminum kopi yang Leandra buatan untuk diriku," jawab Leonel.


Linda menurut, dia menghampiri Leonel lalu menyimpan berkas yang dia bawa di atas meja. Kemudian, dia mengambil kopi yang berada di atas meja dan langsung meminumnya.


Tidak lama kemudian wajah Linda terlihat berubah pias, tanpa sengaja Linda langsung menyemburkan kopi yang sudah berada di dalam mulutnya itu.

__ADS_1


"Aduh!" keluh Leandra ketika semburan kopi dari mulut Linda mengenai baju kemeja yang Leandra kenakan, wajahnya pun bahkan terlihat basah karena semburan dari mulut Linda yang begitu kencang.


__ADS_2