
Walaupun Lili merasa bingung, tapi dia tetap melanjutkan ritual mandinya. Dia berpikir jika di sana ada tuan Lincoln, maka dari itu dia bisa merasakan bau tubuh dari suaminya tersebut.
Mungkin karena dia terlalu rindu, maka dari itu dia merasa begitu dekat dengan tuan Lincoln. Bahkan saat dia tidur pun, Lili merasa tidur dengan nyaman di dalam dekapan hangat sang suami.
Padahal, pada kenyataannya tuan Lincoln memang menyelinap masuk ke dalam kamar Lili. Karena dia sangat paham, jika Lili tidak akan membiarkan dia mendekati wanita itu selama ada Lindsay dan juga Leandra.
Sebenarnya, saat Lili bertemu dengan tuan Lincoln, ingin sekali dia berlari dan memeluk suaminya itu. Karena dia begitu merindukan lelaki yang sampai saat ini masih merajai hatinya.
Sayangnya, dia tidak bisa mengabaikan perasaan dari Leandra dan juga Lindsay. Karena walau bagaimanapun juga, kedua wanita itu yang selama ini selalu berusaha untuk membuat tuan Lincoln bahagia.
"Oh ya Tuhan, aku harus berbuat apa saat ini?" tanya Lili seraya menyalakan keran air.
Jika Lili kini sedang menikmati ritual mandinya, berbeda dengan Leandra. Gadis itu ternyata sudah selesai dengan ritual mandinya dan hendak keluar dari dalam kamar.
Lindsay yang baru saja terbangun dari tidurnya, langsung mengernyitkan dahinya dengan heran kala mengetahui putrinya sudah terbangun dan hendak pergi.
Padahal anak gadisnya itu biasanya sangat susah jika dibangunkan, tapi Lindsay merasa jika putrinya kali ini nampak berbeda.
"Kamu mau ke mana Leandra? Kenapa sudah cantik sekali?" tanya Lindsay seraya merapikan rambutnya yang berantakan karena baru saja bangun dari tidurnya.
Leandra menghentikan langkahnya, lalu dia menolehkan wajahnya ke arah ibunya tersebut. Dia tersenyum dengan sangat manis kemudian dia berkata.
"Mau ke kamar daddy, Mom. Aku mau memastikan sesuatu," jawab Leandra dengan menggebu.
Menurut Leandra, dia harus segera menemui ayahnya. Dia tidak boleh kecolongan dan membiarkan ayahnya bersama dengan Lili, karena hal itu akan mengancam kesejahteraan hidupnya dan juga Lindsay.
Leandra cukup paham dengan apa yang sudah diceritakan oleh tuan Lincoln tadi malam, tetapi tetap saja dia merasa tidak rela jika harus kehilangan ayahnya.
Padahal, tuan Lincoln sama sekali tidak berniat untuk menyingkirkan Leandra ataupun Lindsay.
Tuan Lincoln sudah berdamai dengan hidupnya, dia sudah menerima kenyataan jika Lindsay memanglah istri keduanya. Walaupun hanya dia nikahi secara agama
Dia juga menerima Leandra dengan baik, karena walau bagaimanapun juga Leandra adalah putri kandungnya.
Tuan Lincoln hanya ingin membahagiakan Lili, wanita yang sudah tersiksa karena kekejaman ayahnya sendiri. Dia ingin menebus kesedihan yang pastinya dirasakan oleh Lili selama tidak berada di sampingnya.
Lindsay hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari putrinya, dia juga merasakan ketakutan yang sama dengan Leandra.
Namun, Lindsay lebih bisa menahan diri dan tidak ingin mencari tahu apa yang tuan Lincoln lakukan di belakang dirinya. Karena dia takut jika dia tidak akan sanggup menahan sakit hatinya.
Sejak dulu Lindsay sangat tahu jika tuan Lincoln begitu mencintai Lili, bahkan di dalam ruang kerjanya saja, pria itu menyimpan banyak foto Lili.
__ADS_1
Jika mengingat akan hal itu saja, dia merasa sakit hati. Maka dari itu dia tidak ingin merasakan sakit yang lebih lagi.
"Tidak usah Lea, Mom percaya jika daddy tidak akan macam-macam." Lindsay berusaha untuk merayu putrinya agar tidak menemui tuan Lincoln.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Lindsay, Leandra kecewa. Karena ibunya itu sama sekali tidak menaruh curiga kepada ayahnya, padahal seharusnya ibunya bersikap lebih waspada.
Walaupun, pada kenyataannya dia sudah tahu yang sebenarnya, jika ibunyalah yang memang sudah jahat sejak awal.
Namun, jika kakeknya tidak mendukung niat jahat dari ibunya, sudah dapat dipastikan hal ini tidak akan terjadi.
Akan tetapi, Leandra sangat sadar jika ini adalah takdir Tuhan. Ini adalah ketentuan Tuhan, semua sudah diatur oleh Sang Maha Pencipta.
"No, Mom! Aku tidak bisa percaya kepada daddy begitu saja seperti Mommy, maaf."
Setelah mengatakan hal itu, Leandra langsung keluar dari dalam kamar. Lalu, dia melangkahkan kakinya menuju kamar di mana tuan Lincoln berada.
"Dad!" teriak Leandra seraya membuka pintu.
Senyum di bibir Leandra nampak mengembang ketika dia melihat sang ayah sedang tidur di balik selimut tebal, tapi pria itu langsung bangun karena terganggu dengan suara teriakan putrinya.
Setidaknya ayahnya tidak melakukan hal yang tidak-tidak dengan Lili, pikirnya. Ayahnya tetap ada di dalam kamar tamu, sendirian.
"Yes, Lea, Sayang. Masuklah, ada apa pagi-pagi seperti ini sudah menemui Daddy?" tanya Tuan Lincoln seraya menolehkan wajahnya ke arah jam digital yang berada di atas nakas.
Dia terus saja mendekap tubuh Lili seraya menatap wajah cantik istrinya, wajah wanita yang selalu dia rindukan tapi begitu sulit untuk dia temukan keberadaannya.
Tanpa ragu Leandra langsung masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya di samping daddynya tersebut, lalu ia memeluk pria paruh baya itu dengan begitu erat seakan takut kehilangan.
"Daddy baru bangun? Katanya mau ke makam kak Leana, kalau Daddy tidur terus kapan kita berangkatnya?" tanya Leandra.
Leandra memang takut jika ayahnya akan kembali kepada Lili, tapi dia begitu menyukai sosok Leana dan entah mengapa setiap kali dia mengingat akan Leana, Leandra seakan memiliki keterikatan yang begitu kuat dengan istri dari Leonel yang sudah tiada itu.
"Daddy masih mengantuk, sangat lelah. Mungkin karena kemarin baru saja pulang dari kota B, bolehkah Daddy tidur lagi?" tanya Tuan Lincoln.
Leandra terdiam, dia sangat paham jika ayahnya memang baru saja pulang dari kota B. Dia bahkan pulang dengan tergesa karena mendengar keadaan dirinya yang tidak baik-baik saja.
Mau protes pun dia tidak bisa, karena nyatanya dia bisa melihat sendiri jika wajah ayahnya begitu lelah.
"Boleh, Dad. Daddy bobo aja, aku mau bantu Tante Lili bikin sarapan," jawab Leandra tanpa curiga.
Tuan Lincoln merasa bersyukur karena putrinya tidak merasa curiga, beruntung pukul tiga pagi dia sudah keluar dari dalam kamar Lili. Sehingga putrinya tidak melihat dirinya saat masih di dalam kamar istrinya.
__ADS_1
Jika saja Leandra tahu kalau dirinya tadi mapam tidur bersama dengan Lili, pasti Leandra akan marah.
"Hem, bangunkan Daddy pukul tujuh. Karena kita mau berangkat pukul delapan," pesan Tuan Lincoln.
"Oke, Daddy bobo yang anteng aja. Nanti aku bangunkan," ucap Leandra
Setelah mengatakan hal itu, Leandra nampak mengecup pipi tuan Lincoln. Lalu, dengan cepat dia turun dari tempat tidur dan meninggalkan daddynya yang katanya begitu lelah dan ingin tidur kembali.
Menurut Leandra, lebih baik tuan Lincoln tidur di dalam kamarnya. Dari pada ikut keluar di saat pagi hari, karena dia takut jika Lili dan tuan Lincoln akan kembali bersama dan meninggalkan dirinya.
Setelah melihat putrinya keluar dari dalam kamar dan menutup pintu, tuan Lincoln bisa bernapas dengan lega. Lalu dia kembali memejamkan matanya yang terasa sangat sepat.
Rasanya dia begitu mengantuk dan ingin tidur untuk beberapa saat, semoga saja Lindsay tidak curiga, pikirnya.
Setelah menemui tuan Lincoln, Leandra memutuskan untuk pergi ke dapur. Dia sangat yakin jika Lili sedang membuat sarapan, dia ingin membantu wanita tersebut.
Walaupun dia tahu jika wanita itu merupakan sebuah ancaman yang begitu besar untuk dirinya dan juga ibunya, tapi dia merasa nyaman saat bersama dengan wanita itu.
Saat tiba di dapur, di Leandra nampak tersenyum saat melihat Lili yang sedang memotong sayuran.
Tanpa banyak bicara, Leandra langsung menghampiri wanita paruh baya yang sedang menggunakan daster lengan panjang tanpa kerah itu.
"Hai, Tante. Selamat pagi," sapa Leandra.
Lili menghentikan aktivitasnya, lalu dia menolehkan wajahnya ke arah Leandra. Gadis muda yang terlihat begitu mirip dengan suaminya dan putrinya, Leana.
"Selamat pagi, Leandra. Kamu sudah bangun?" tanya Lili.
"Hem, aku mau bantu Tante buat sarapan. Apa boleh?" tanya Leandra
"Boleh, kamu tolong potong bawang bombainya saja." Lili terlihat menyerahkan bawang bombai kepada Leandra.
Bukannya menerima bawang bombay yang diberikan oleh Lili kepada dirinya, Leandra malah gagal fokus karena saat ini dia melihat ada tanda merah di cerukan leher Lili.
"Tante," panggil Leandra lirih.
"Ya, Sayang," jawab Lili.
"Itu, itu, anu. Itu kenapa merah-merah keunguan gitu?" tanya Leandra seraya mengusap cerukan leher Lili.
"Eh? Ada apa? Merah-merah kenapa?" tanya Lili bingung
__ADS_1
"Cerukan leher Tante merah keunguan, persis seperti---"