
"Ehm! Ada yang marah tuh," goda Leonel lagi.
Wajah Lili semakin memerah dibuatnya, Lili benar-benar malu karena Leonel sudah mengatakan hal yang memang benar adanya.
"Leon!" teriak Lili dengan kesal.
Bukannya lari, Leonel malah menghampiri Lili lalu memeluk Ibu dari mendiang istrinya tersebut. Wanita yang selalu membuat dirinya merasa tenang dengan perkataan yang keluar dari bibir wanita itu.
"Maaf, Bu. Aku minta maaf, aku hanya bercanda."
Lili menghela napas berat kemudian dia mengeluarkannya dengan perlahan, dia tahu jika Leonel hanya ingin menggodanya saja.
"Hem, sekarang pergilah ke dapur. Ibu sudah menyiapkan sarapan untuk kamu," ucap Lili seraya melerai pelukannya.
"Ya, Bu," jawab Leonel.
Leonel hendak melangkahkan kakinya menuju dapur, karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh pagi.
Dia sudah merasa sangat lapar, karena belum ada satupun makanan yang masuk ke dalam perutnya. Namun, Leon langsung menghentikan langkahnya ketika Lili memanggil dirinya kembali.
"Oiya, Leon. Tadi ada Lucky ke sini, untuk urusan pekerjaan kamu tidak usah khawatir karena Lucky sudah menghandle semuanya."
Leonel yang terlalu fokus dalam memikirkan pernikahannya dengan Leandra sampai lupa akan pekerjaannya, beruntung ada Lucky yang selalu bergerak dengan cepat.
"Oh, syukurlah. Dia memang selalu bisa diandalkan," ucap Leonel seraya tersenyum senang.
Setelah mengatakan hal itu, Leonel langsung pergi ke ruang makan untuk mengisi perutnya, sedangkan Lili langsung masuk ke dalam kamarnya untuk mencoba gaun yang sudah diberikan oleh tuan Lincoln.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, Leonel sudah terlihat tampan dengan tuxedo yang dia pakai. Lili juga sudah terlihat cantik dengan gaun sederhana yang tuan Lincoln belikan.
Saat mereka tiba di halaman rumah, seorang sopir dengan sigap langsung membukakan pintu untuk Leonel dan juga Lili.
"Silakan, Nyonya. Silakan, Tuan," ucap sopir seraya membungkuk hormat.
"Terima kasih," jawab keduanya.
Lili duduk di samping pak sopir, sedangkan Leonel duduk di bangku penumpang. Tentu saja hal itu dilakukan karena mereka akan menjemput pengantin wanita.
__ADS_1
Lili duduk di depan agar nantinya Leonel bisa duduk berdua dengan Leandra, calon mempelai pengantin wanita dari Leonel.
Selama melakukan perjalanan menuju kediaman Axton, Leonel terlihat begitu gugup. Dia bahkan terlihat menunduk seraya meremat kedua tangannya secara bergantian.
Padahal ini adalah pernikahan keduanya, tetapi dia benar-benar merasa gugup. Dia menikah dengan Leandra bukan karena cinta, hanya karena sebagai tanggung jawab saja, karena pria itu sudah melihat tubuh polos Leandra.
Namun, tetap saja dia merasa jika jantungnya berdebar dengan sangat kencang. Bahkan, Leonel bisa mendengar dengan jelas debaran jantungnya sendiri.
Lili yang sejak tadi memperhatikan Leonel langsung menolehkan wajahnya ke arah pria itu, lalu Lili berkata.
"Jangan gugup, Nak. Tarik napas lalu keluarkan dengan perlahan," ujar Lili.
Leonel langsung menggelengkan kepalanya dengan bibir yang mengerucut, dia merasa jika apa yang Lili katakan tidak akan membantu meredakan kegugupannya.
''Bu, aku bukan mau melahirkan. Aku mau menikah dan aku sangat gugup," jawab Leonel dengan jujur.
Lili hanya bisa tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Leonel, dia tahu jika pria itu belum memiliki rasa apa pun terhadap Leandra.
Akan tetapi, dia merasa tidak paham kenapa Leonel terlihat begitu gugup. Apakah mungkin dia begitu gugup karena mendapatkan calon istri yang barbar seperti Leandra, pikirnya.
Atau mungkin, dia merasa gugup karena akan menikah dengan wanita yang begitu mirip dengan Leana.
Leonel yang merasakan kegugupan yang luar biasa hanya bisa terdiam seraya menatap wajah Leandra yang sedang berdiri di depan pintu utama.
Leandra begitu cantik dan juga seksi dengan gaun yang dia pilih, rambutnya yang dicepol ke atas membuat leher jenjang Leandra terekspos.
Wajah Leandra bahkan teramat cantik dengan polesan bedak tipis, bibir mungilnya juga terlihat menggoda setelah dipakaikan gincu berwarna nude.
Leonel sampai pangling dibuatnya, dia terlihat begitu mengagumi Leandra. Sampai-sampai dia hanya terdiam seraya menatap wajah cantik calon istrinya.
"Tuan!" panggil Pak sopir.
Berulang kali dia memanggil Leonel, sayangnya pria itu malah asik menatap wajah Leandra tanpa berkedip.
Lindsay dan juga tuan Lincoln yang melihat tingkah Leonel hanya bisa tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, mereka tidak menyangka jika Leonel malah akan diam saja bukan menjemput calon pengantinnya.
Karena Leonel hanya diam saja, akhirnya pak sopir turun dari mobil dan segera menjemput pengantin wanita yang terlihat sudah siap itu.
"Mari, Nona," ajak Pak sopir.
__ADS_1
"Ya, Pak," jawab Leandra.
Leandra yang kesusahan hendak berpegangan kepada pak sopir, Leonel yang melihat akan hal itu seakan tersadar dan langsung turun dari mobil. Dengan segera dia menghampiri Leandra.
"Biar aku bantu," ucap Leonel.
"Terima kasih," jawab Leandra yang langsung berpegangan pada lengan Leonel.
"Hati-hati, jaga putriku dengan baik," ucap Tuan Lincoln.
"Yes, Dad," jawab Leonel.
Setelah Leandra dan juga Leonel masuk ke dalam mobil, akhirnya pak sopir melajukan mobilnya menuju Gereja yang tidak jauh dari sana.
Tuan Lincoln dan juga Lindsay terlihat mengikuti mobil Leonel dari belakang, mereka terlihat begitu gugup saat mengantarkan Leandra dan juga Leonel menuju Gereja.
Ada rasa haru karena putri tercintanya akan menikah dengan Leonel, tetapi ada rasa sedih karena pernikahan itu dilakukan karena ketidaksengajaan. Bukan karena cinta di antara keduanya.
'Semoga pernikahan mereka berjalan dengan lancar, tidak ada hambatan di dalam rumah tangga keduanya,' do'a Tuan Lincoln dalam hati.
Saat tiba di Gereja, Leonel dan juga Leandra langsung berdiri di atas altar yang disaksikan oleh keluarga inti saja.
Sebelum acara pernikahan dimulai, tuan Lincoln menghampiri Leonel. Lalu dia pun berkata kepada menantunya tersebut.
"Tolong jaga putriku, tolong bimbing dia agar menjadi istri yang baik. Jika kamu merasa tidak cocok saat berumah tangga dengan putriku, kembalikan dia kepadaku. Jangan pernah kamu sakiti dia," pesan Tuan Lincoln.
Leonel tersenyum lalu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, bibirnya seakan kelu untuk berkata. Entah kenapa dia merasa sangat gugup saat ini.
Leandra yang mendengar ucapan dari ayahnya terlihat hampir menangis, air matanya sudah menggenang di pupuk matanya.
Namun, dengan cepat tuan Lincoln menghampiri putrinya itu. Dia berusaha tersenyum walaupun sebentar lagi putrinya akan dibawa pulang oleh pria yang sebentar lagi akan berstatus sebagai suaminya.
"Jangan menangis, nanti kamu akan terlihat jelek. Riasannya akan luntur, berbahagialah. Jika rindu kepada Daddy, segera pulang dan peluk Daddy. Karena Daddy akan selalu ada untuk kamu," ucap Tuan Lincoln.
"Cih! sepertinya jika aku rindu kepada Daddy, aku tidak perlu pulang ke rumah. Aku yakin Daddy pasti akan sering datang ke rumah Kak Leon untuk bertemu dengan Ibu," ucap Leandra dengan bibir yang mengerucut.
Leonel nampak tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Leandra, berbeda dengan tuan Lincoln yang merasa malu dengan apa yang dikatakan oleh putrinya tersebut.
"Lea!" ucap Tuan Lincoln pelan tapi penuh dengan penekanan.
__ADS_1
"Sorry, Dad. Aku hanya--"