Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 44


__ADS_3

"Rumah sederhana yang selalu mampu membuat aku merasa nyaman setiap kali datang ke sini," ucap Tuan Lincoln ketika dia tiba di depan rumah Lili.


Lili yang baru saja pulang setelah bekerja terlihat mengernyitkan dahinya, dia merasa bingung kenapa ada kekasihnya di depan rumahnya.


Padahal ini bukan waktunya karyawan kantor pulang bekerja, pikirnya. Apalagi saat Lili melihat penampilan tuan Lincoln yang acak-acakan, hal itu membuat Lili khawatir.


"Hei! Kenapa datang dengan keadaan yang begitu kusut?" tanya Lili.


Tuan Lincoln menghampiri Lili dan meminta kekasihnya itu untuk membukakan pintu, Lili menurut. Dia langsung mengambil kunci dan membuka pintu rumahnya.


"Masuklah, aku ingin mendengar kamu bercerita." Lili menuntun tuan Lincoln untuk duduk di ruang tamu.


Tuan Lincoln menurut, dia mengikuti langkah Lili dengan langkah gontai. Dia terlihat tidak bersemangat, tapi di dalam hatinya merasa sangat tenang.


"Aku diberhentikan dari pekerjaanku, katanya ada pengurangan karyawan. Soalnya keadaan perusahaan sedang tidak stabil," dusta Tuan Lincoln.


Setelah mengatakan hal itu, tuan Lincoln langsung memeluk Lili dan menyandarkan kepalanya di pundak wanitanya.


Lili tersenyum lalu mengelus lembut punggung kekasih hatinya itu, sudah sangat lama kedua orang tuanya meninggal.


Bisa berpacaran dengan tuan Lincoln membuat hati Lili merasa bahagia, apalagi tuan Lincoln adalah sosok pria yang begitu penyayang.


"Oh, seperti itu. Tidak apa-apa, pekerjaan bisa dicari lagi. Jangan bersedih, kamu semangat dong," ucap Lili menyemangati kekasihnya seraya mengusap puncak kepalanya.


Tuan Lincoln tidak menyangka jika Lili akan berkata seperti itu, padahal dia sudah membayangkan jika Lili akan marah dan meminta dirinya untuk mengakhiri hubungan mereka.


Hal itulah yang membuat tuan Lincoln semakin jatuh cinta kepada wanita itu, karena Lili benar-benar tidak memandang harta saat bersama dengan dirinya.


"Tapi, Lili. Semuanya tidak segampang itu, aku bahkan saat ini tidak bisa membayar kostan karena aku benar-benar tidak memiliki uang. Hanya ada uang sedikit saja di dompetku," adu Tuan Lincoln.


Lili tersenyum melihat kekasihnya yang terlihat bersedih dengan bibir yang sudah terlihat maju dua senti, di matanya tuan Lincoln benar-benar terlihat sangat lucu.


"Kalau begitu kamu tinggal saja di rumahku," usul Lili.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Lili, tuan Lincoln nampak mengurai pelukannya dari kekasihnya itu.


Kemudian ia menatap Lili dengan begitu lekat, sungguh dia merasa sangat aneh dengan tawaran dari kekasihnya itu.


Mereka belum menikah, bagaimana bisa Lili menawarkan dirinya untuk tinggal di rumah sederhana itu, pikirnya.


"Ya ampun, Sayang. Kalo aku tinggal di rumah kamu, yang ada nanti kita malah digerebek warga. Terus kita dinikahin dengan paksa, apa kamu mau seperti itu?" tanya Tuan Lincoln.


Lili langsung tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh tuan Lincoln, mereka itu saling mencintai tapi tidak pernah melakukan hal yang tidak-tidak.


Bahkan, untuk berciuman saja mereka tidak pernah melakukannya. Karena keduanya memang saling mencintai, bukan saling memburu napsu.

__ADS_1


"Kalau begitu, sebelum kita disuruh nikah paksa, bagaimana kalau sekarang kita menikah saja?" tanya Lili dengan senyum manis di bibirnya.


Tuan Lincoln terlihat membulatkan matanya dengan sempurna mendengar apa yang ditanyakan oleh Lili, sungguh ini adalah hal. yang tidak terduga menurutnya.


Dirinya kini sedang dalam keadaan terpuruk dan tidak mempunyai uang, hanya sedikit uang yang tersisa di dalam dompetnya.


Namun, bisa-bisanya Lili mengajak dirinya untuk menikah saat itu juga. Lili seolah tidak takut jika mereka akan hidup susah.


Apakah Lili tidak memikirkan bagaimana masa depannya dengan dirinya? Jika Lili menikahi pria yang tidak mempunyai uang seperti dirinya, apakah Lili akan bahagia?


"Tapi, Lili. Aku tidak mempunyai uang, apakah kamu tidak malu menikah dengan pria sepertiku?" tanya Tuan Lincoln dengan perasaan malu.


"Tidak, tentu saja aku tidak malu. Sekarang aku tanya, kamu punya uang berapa?" tanya Lili.


Tuan Lincoln terlihat merogoh saku celananya, lalu dia mengambil dompet miliknya dan memberikannya kepada Lili.


"Ini cukup untuk biaya kita menikah, ayo kita menikah?" ajak Lili.


Lili merasa jika menikah dengan tuan Lincoln akan menjadi awal kebahagiaan untuk dirinya, dia tidak peduli walaupun tuan Lincoln tidak mempunyai harta. Karena harta bisa dicari dengan bekerja keras tanpa putus asa.


"Ta--tapi, aku bahkan tidak memiliki baju lagi selain baju yang aku pakai," ucap Tuan Lincoln terbata.


Dia benar-benar merasa malu dengan keadaannya saat ini, tapi dia juga tidak mungkin pergi ke tempat lain untuk meminta bantuan.


"Tidak apa, ada uang tabunganku," ucap Lili.


"Baiklah, ayo kita menikah. Aku janji akan berusaha untuk membahagiakan kamu, aku janji akan mencari pekerjaan yang layak agar kita tidak hidup susah," ujar Tuan Lincoln.


"Ya," jawab Lili.


Dua bulan setelah menikah, Lili masih saja bekerja sebagai pelayan di sebuah swalayan. Sedangkan tuan Lincoln belum juga mendapatkan pekerjaan.


Tuan Luke sudah menutup akses agar putranya tidak bisa mendapatkan pekerjaan di mana pun, hal itu dia lakukan agar putranya menyerah dan kembali ke kediaman Axton.


Sayangnya, tuan Lincoln tidak putus asa. Dia bahkan mau berjualan makanan siap saji di depan rumah Lili, dengan seperti itu tuan Lincoln berharap bisa memberikan kehidupan yang baik untuk istrinya.


Tuan Luke yang merasa begitu kesal, akhirnya merencanakan sesuatu hal yang buruk bersama dengan Lindsay.


Tuan Luke datang ke kediaman Lili, dia tersenyum miris ketika melihat putranya sedang menggoreng kentang pesanan pelanggan.


"Alex," ucapnya lirih.


Tuan Lincoln yang sedang mengerjakan pekerjaannya terlihat begitu kaget saat melihat kedatangan ayahnya, dia tidak menyangka jika tuan Luke mau menginjakan kakinya di rumah Lili.


"Kalau kamu ingin membujukku untuk pulang, maaf." Tuan Lincoln kembali melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


"Dad datang untuk berdamai, kita harus bicara. Setelah selesai dengan pekerjaan kamu, Dad ingin kita bicara dari hati ke hati." Tanpa banyak bicara, tuan Luke langsung masuk ke dalam rumah Lili dan duduk di ruang tamu.


Tuan Lincoln mendengkus sebal, tapi dia tidak mengatakan apa pun. Dia segera menyelesaikan pekerjaannya, lalu dengan cepat menemui ayahnya.


"Tidak usah bersandiwara, Dad. Aku tahu Daddy tidak akan mau menerima Lili sebagai menantu," ucap Tuan Lincoln to the point.


Tuan Luke langsung tertawa, dia langsung memeluk putranya. Dia berusaha meyakinkan tuan Lincoln jika dirinya benar-benar ingin berdamai dengan putranya itu.


"Dad!"


"Besok pulanglah, bawa istrimu ke rumah. Dad pulang dulu," ucap Tuan Lincoln seraya melerai pelukannya.


"Benarkah?" tanya Tuan Lincoln.


"Yes, Boy. Daddy haus, sebelum pulang, bolehkah Daddy meminta air minum?" tanya Tuan Luke.


"Boleh, Dad. Boleh," jawab Tuan Lincoln dengan perasaan campur aduk.


Tuan Lincoln melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengambil air minum, setelah itu dia memberikannya kepada tuan Luke.


"Hanya air putih?" tanya Tuan Luke.


Dia sengaja bertanya seperti itu agar dia bisa menjalankan rencananya dengan mulus, jangan sampai tuan Lincoln tahu, pikirnya.


"Hem, Dady sudah tua. Tidak boleh minum kopi," ujar Tuan Lincoln.


"Hanya sekali saja, tolong buatkan kopi." Tuan Luke nampak menepuk pundak putranya.


"Iya, iya. Dasar banyak maunya!" umpatnya seraya kembali ke dapur.


Tuan Luke nampak tertawa mendengar umpatan dari putranya, karena walaupun seperti itu tuan Lincoln tetap menuruti apa keinginannya.


Tidak lama kemudian, tuan Lincoln datang dengan membawa secangkir kopi hitam yang diminta oleh tuan Luke.


"Terima kasih, Boy. Dad akan minum kopinya, air putihnya kamu saja yang minum. Dad tidak mau," ujar Tuan Luke seraya memberikan segelas air putih untuk tuan Lincoln.


"Oke," jawab Tuan Lincoln tanpa curiga sedikit pun.


Tuan Lincoln nampak meminum air putih tersebut hingga tandas, tidak lama kemudian dia merasa pandangannya kabur.


"Daddy, apa yang Daddy berikan pada mi---"


Tuan Lincoln tidak bisa meneruskan ucapannya, karena pria itu sudah terjatuh ke atas lantai dan tidak sadarkan diri.


"Maaf," ucap Tuan Luke lirih.

__ADS_1


__ADS_2