Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 73


__ADS_3

Leonel tidak menyangka jika Leandra akan melakukan hal itu, menurutnya gadis itu terlalu berani dalam mengekspresikan keadaan hatinya tanpa memedulikan apa yang orang lain akan rasakan.


Leandra tidak memikirkan apa yang akan ditimbulkan dari apa yang sudah dia lakukan, Leonel baru menyadari ternyata Leandra adalah gadis yang gampang mengekspresikan perasaannya.


"Ck! Seharusnya dia tidak melakukan hal itu," ucap Lionel saya melajukan mobilnya menuju perusahaan Harold.


Selama perjalanan menuju perusahaan Harold, Leonel terus saja mengusap pipinya dengan tangan kirinya.


Senyum di bibirnya tanpa terasa terus saja mengembang, entah karena apa dia pun tidak paham. Yang dia sadari, pagi ini dia seakan mendapatkan semangat yang lebih baik lagi.


Mungkin setelah mendapatkan kecupan dari istrinya, itulah pikirnya. Kecupan singkat yang terasa begitu hangat.


"Selamat pagi, Tuan," sapa Lucky ketika Leonel masuk ke dalam ruangannya.


Leonel tersenyum hangat lalu menganggukkan kepalanya, Lucky sampai mengusap matanya karena takut salah melihat.


Setelah kepergian Leana, Leonel memang tidak pernah tersenyum lagi. Wajahnya selalu terlihat kacau dengan raut dingin yang sulit terbaca.


Namun, hari ini Leonel begitu bersemangat dengan senyum hangat di bibirnya. Lucky ikut merasa senang.


"Selamat pagi, Lucky. Ada tugas apa saja untukku?" tanya Leonel.


Mendengar apa yang ditanyakan oleh Lionel, Lucky nampak membuka ponsel pintar miliknya, lalu dia pun segera membacakan apa saja kegiatan Leonel hari ini.


"Pagi ini ada beberapa berkas penting yang harus anda periksa dan anda bubuhkan tanda tangan, pukul 1 siang nanti kita ada meeting di Kafe X." Lucky membungkuk hormat setelah menjelaskan apa yang harus dilakukan hari ini oleh Leonel hari ini.


Leonel nampak duduk di kursi kebesarannya, lalu dia menatap Lucky dengan senyumnya yang tidak memudar dan berkata.


"Oh, oke. Berarti siang nanti setelah menjemput Leandra kita langsung meeting," jelas Leonel.


"Ya, Tuan. Kalau begitu aku pergi ke ruanganku dulu," pamit Lucky


"Hem,'' jawab Leonel hanya dengan deheman saja. Karena dia langsung mengambil ponselnya dari dalam saku.


Setelah kepergian Lucky, Linda masuk untuk memberikan beberapa berkas yang harus diperiksa dan ditandatangani oleh Leonel.


Tanpa ragu gadis berusia dua puluh tiga tahun itu menyimpan berkas-berkas yang dia bawa di atas meja milik Leonel.


"Ini berkas-berkas yang harus anda periksa dan tanda tangani," jelas Linda.


Leonel yang sedang berselancar dengan ponselnya langsung menghentikan aktivitasnya, kemudian dia menolehkan wajahnya ke arah Linda.


"Oke, terus untuk materi meeting nanti bagaimana?" tanya Leonel.


"Akan saya siapkan, nanti anda tinggal mempelajarinya saja," jawab Linda.


"Hem," jawab Leonel.


Setelah berpamitan kepada Leonel, Linda langsung keluar dari dalam ruangan atasannya tersebut. Sedangkan pria itu nampak serius dengan pekerjaannya.

__ADS_1


Sesekali Leonel akan tersenyum seraya mengusap pipinya, hal itu dia lakukan berulang-ulang sampai dia merasa jika dirinya hari ini benar-benar terasa seperti orang bodoh.


"Hastaga! Ternyata efek dari kecupan Leandra begitu dahsyat," ucap Leonel seraya tersenyum konyol.


**


Pukul dua belas siang Lucky datang ke dalam ruangan Leonel, dia membawakan makan siang untuk tuannya tersebut. Karena Leonel berkata jika dia sedang tidak ingin pergi ke mana-mana.


"Terima kasih," ucap Leonel.


"Sama-sama, Tuan," jawab Lucky.


Leonel langsung melahap makanan yang sudah Lucky siapkan, setelah itu dia langsung mengajak Lucky dan juga Linda untuk pergi ke Kafe X, karena mereka harus segera melakukan meeting.


Tentunya sebelum mereka pergi ke Kafe, Leonel terlebih dahulu menjemput Leandra, istrinya. Lebih baik mengajak Leandra pergi meeting dari pada membiarkan wanita itu pulang ke kediaman Harold, pikir Leonel.


Tentu saja Leonel berpikiran seperti itu karena di sana tidak ada Lili, pasti Leandra akan merasa bosan dengan tidak adanya teman berbicara.


Saat tiba di depan kampus, Leonel langsung turun dari mobil dan menunggu kedatangan istrinya. Dia terlihat mengedarkan pandangannya mencari keberadaan istri kecilnya.


Tidak lama kemudian, dia melihat Leandra yang keluar dari gerbang kampus. Leandra tersenyum seraya melambaikan tangannya ke arah Leonel.


"Aih! Kakak beneran jemput, memangnya Kakak mau langsung pulang? Memangnya pekerjaan Kakak udah selesai?" tanya Leandra.


Leonel langsung menggelengkan kepalanya, tentu saja dia tidak ingin mengajak Leandra untuk pulang. Akan tetapi dia akan mengajak Leandra untuk pergi meeting.


"Tapi aku belum makan siang," adu Leandra.


"Nanti kamu boleh memesan makanan saat tiba di Kafe," jelas Leonel.


"Oke," jawab Leandra.


Leonel tersenyum, kemudian dia membukakan pintu mobil untuk Leandra. Dahi Leandra nampak mengernyit dalam, pasalnya Leonel membukakan pintu depan untuk dirinya.


Itu artinya dia harus duduk tepat di samping Lucky, bukankah Leandra sekarang sudah menjadi istri dari Leonel? Lalu, kenapa dirinya malah harus duduk berdampingan dengan asisten dari suaminya tersebut?


"Kenapa kamu malah diam saja? Ayo masuk, aku tidak punya banyak waktu," ajak Leonel.


Leandra memeluk lengan Leonel, dia mendongakkan kepalanya dan menatap wajah suaminya itu dengan lekat.


"Tunggu dulu, kenapa aku duduknya di depan? Kenapa aku duduknya nggak sama Kakak aja di belakang?" tanya Leandra dengan bingung.


"Di depan saja, Leandra. Di belakang ada Linda, dia adalah sekretarisku. Aku sedang mempelajari materi untuk meeting, jadi kamu di depan dulu duduknya. Aku mau bicara dulu dengan Linda," jelas Leonel.


Leandra langsung mengerucutkan bibirnya, dia merasa tidak suka kala Leonel mengatakan hal itu. Terlebih lagi saat Leandra melihat ke arah Linda.


Gadis itu merasa tidak suka saat melihat penampilan Linda yang menurutnya begitu seksi, Linda memakai kemeja tanpa lengan. Namun, dia memakai blazer untuk menutupi tubuh bagian atasnya.


Linda juga terlihat sangat seksi, karena wanita itu memakai rok span berwarna hitam yang hanya menutupi setengah pahanya saja. Entah kenapa hati Leandra merasa panas.

__ADS_1


"Hastaga Leandra! Aku sedang terburu-buru sebentar lagi aku mau meeting, tolong pengertiannya. Duduklah dengan tenang, aku akan berbicara dengan Linda untuk membahas masalah meeting. Hanya sebentar, oke?" pinta Leonel.


Walaupun merasa tidak rela mendengar apa yang diminta oleh Leonel, Leandra tetap menurut. Dia masuk ke dalam mobil dan duduk tepat di samping Lucky.


Jangan tanya bagaimana raut wajah Leandra, karena gadis itu kini sedang menatap Linda dari pantulan kaca tengah dengan tatapan tidak suka.


Setelah memastikan Leandra duduk dengan benar, Leonel menutup pintu mobilnya. Lalu, dia juga masuk ke dalam mobil dan duduk tepat di samping Linda.


Lucky terlihat melajukan mobilnya menuju Kafe X, Leonel nampak serius mempelajari materi untuk meeting siang ini. Linda juga terlihat serius memberitahukan poin-poin penting kepada Leonel.


Linda terlihat begitu dekat dengan Leonel, hal itu membuat Leandra geram. Entah kenapa dia merasa tidak ikhlas ketika melihat kedekatan suaminya dengan Linda.


Walaupun Leonel sudah menjelaskan jika mereka sedang membicarakan masalah pekerjaan, bahkan Linda pun hanya berbicara masalah pekerjaan saja.


'Ck! dia itu menyebalkan sekali, awas aja nanti pasti wanita itu akan aku kerjai,' keluh Leandra dalam hati.


"Jadi seperti itu, Tuan. Saya tahu anda pasti sudah sangat paham," ucap Linda seraya menutup berkas yang sejak tadi dia pegang.


Leonel nampak mengangguk-anggukan kepalanya tanda paham, Linda tersenyum kemudian dia menolehkan wajahnya ke arah Leandra.


"Oh iya, Tuan. Siapa gadis manis yang ada di depan? Dia sangat cantik, aku saja terpesona melihat kecantikannya. Bagaimana dengan anda, Tuan?" tanya Linda seraya tersenyum hangat ke arah Leonel.


Untuk sesaat Leonel terdiam, dia bingung harus menjawab seperti apa. Karena Leandra sempat berkata jika pernikahan mereka harus dirahasiakan.


Tidak boleh ada orang yang tahu kecuali keluarga mereka saja, karena Leandra memang belum cukup umur untuk menikah dan dia tidak mau diejek oleh teman-teman.


Cukup lama Leonel terdiam, tidak lama kemudian Leonel pun tersenyum kepada Linda dan berkata.


"Dia adalah anak dari klien kita, kamu tahu tuan Lincoln, kan?" tanya Leonel.


Linda sempat terdiam, dia seolah-olah sedang mengingat-ingat siapa orang yang ditanyakan oleh Leonel. Tidak lama kemudian, Linda nampak tersenyum.


"Tentu saja, Tuan. Anda dan tuan Lincoln bekerja sama untuk sebuah project besar, jadi saya tahu tentang pria itu. Oh iya, Tuan. Bukannya tuan Lincoln itu sudah memiliki istri bernama nyonya Lindsay, ya?" tanya Linda.


Leonel terdiam, haruskan dia membahas mertuanya dengan Linda, pikirnya. Namun, Linda pasti curiga jika dia tidak mau membicarakan masalah tersebut.


"Ya, benar. Istrinya bernama Lindsay, memangnya kenapa?" tanya Leonel.


Linda begitu ragu untuk berucap, tetapi jiwa keponya begitu meronta-ronta. Dia ingin tahu dengan apa yang dia lihat tadi pagi.


"Anu, Tuan. Tadi pagi saya melihat dia di alun-alun sedang makan bubur ayam, tapi bukan dengan nyonya Lindsay. Tapi dengan mertua anda," ucap Linda dengan ragu.


Linda langsung menunduk takut setelah mengatakan hal itu, dia takut jika Leonel akan marah kepada dirinya.


Untuk sesaat Leonel terdiam, dia dan juga Leandra terlihat saling pandang. Mereka bingung harus berkata apa.


Karena Leonel hanya diam saja, Linda memberanikan diri untuk menatap wajah atasannya itu. Lalu, dia kembali bertanya.


"Kok malah diam saja, Tuan? Apakah tuan Lincoln dan juga mertua anda--"

__ADS_1


__ADS_2