
Cih! sepertinya jika aku rindu kepada Daddy, aku tidak perlu pulang ke rumah. Aku yakin Daddy pasti akan sering datang ke rumah Kak Leon untuk bertemu dengan Ibu," ucap Leandra dengan bibir yang mengerucut.
Leonel nampak tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Leandra, berbeda dengan tuan Lincoln yang merasa malu dengan apa yang dikatakan oleh putrinya tersebut.
"Lea!" ucap Tuan Lincoln pelan tapi penuh dengan penekanan.
Dia merasa kesal karena putrinya itu terus saja menggoda dirinya, tidak tahukah Leandra jika dia juga merasa malu dengan usianya yang sudah tidak mudah lagi?
Namun, rasa cintanya yang begitu besar terhadap Lili mampu mengalahkan segalanya. Bahkan, sejak dulu dia selalu menghargai perasaan Lindsay walaupun wanita itu sudah berbuat jahat.
Akan tetapi, kali ini dia tidak ingin mengalah kepada siapa pun. Dia ingin memperjuangkan cintanya bersama dengan Lili, istrinya yang sudah menderita selama dua puluh tiga tahun tanpa dirinya.
"Sorry, Dad. Aku hanya mengatakan hal yang sebenarnya," ucap Leandra seraya terkekeh.
Tuan Lincoln hanya bisa memelototkan matanya mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya, dia tidak berani melayangkan protesnya karena pendeta sudah berkata jika pernikahan antara Leonel dan juga Leandra sudah bisa dilaksanakan saat ini juga.
Pernikahan Leonel dan juga Leandra memang dilakukan tanpa didasari dengan rasa cinta, tetapi janji suci pernikahan di antara mereka berdua berjalan dengan lancar.
Walaupun Leonel sempat begitu gugup ketika mengucapkan janji sucinya, terlebih lagi saat dia akan mencium bibir Leandra. Pria yang melepas status dudanya itu, sangat kentara gugupnya.
Leandra yang pada awalnya terlihat begitu gugup, malah menertawakan tingkah laku dari Leonel. Pria yang baru saja mengesahkan dirinya sebagai istrinya.
"Jangan gugup, Kak. Aku tidak akan menggigit Kakak," goda Leandra.
Leonel mendengkus sebal mendengar apa yang dikatakan oleh Leandra, tidak lama kemudian pria itu nampak menunduk lalu mengecup bibir Leandra sekilas.
Leandra sempat tersipu mendapatkan perlakuan seperti itu dari Leonel, karena ini adalah pertama kalinya untuk dirinya. Namun, beberapa saat kemudian dia bisa menetralkan kembali perasaannya.
Satu jam kemudian.
Acara pernikahan Leonel dan juga Leandra sudah selesai dilaksanakan, baik Leonel ataupun Leandra memutuskan untuk segera pulang saja ke kediaman Harold.
Bukan karena sudah tidak sabar untuk melaksanakan acara penjebolan gawang keperawanan milik Leandra, tetapi Leandra sudah merasa tidak betah dengan gaun pengantin yang dia pakai.
Gaun pengantin yang dia pakai terasa begitu berat, dia merasa kesusahan untuk berjalan. Bahkan, dia merasa risih saat memakai baju tersebut.
Berbeda dengan tuan Lincoln, pria paruh baya itu mengajak Lili untuk pergi ke rumah milik Lili yang dulu ditinggalkan oleh wanita itu.
Tanpa Lili tahu, tuan Lincoln selalu merawat rumah itu. Bahkan, rumah itu pun sudah direnovasi tanpa merubah bentuk aslinya.
Hal itu dia lakukan karena dia begitu menyayangi Lili, bahkan setiap tuan Lincoln merindukan istrinya tersebut, dia akan datang ke rumah itu dan menginap di sana.
__ADS_1
"Kamu selalu merawat rumahku?" tanya Lili tidak percaya.
Dia memang tidak pernah mencoba untuk keluar dari kediaman Harold, karena takut akan bertemu dengan tuan Luke dan juga Lindsay.
Lili hanya akan keluar dari kediaman Harold untuk pergi ke pasar yang jaraknya tidak jauh dari kediaman Harold, jika dia pergi Lili selalu menggunakan masker untuk menutupi wajahnya.
"Hem, di dalam rumah ini rumah tangga kita dimulai. Aku pasti akan selalu merawat rumah ini," jawab Tuan Lincoln.
"Ohh! Kamu tuh baik sekali, Lex." Lili tanpa sadar memeluk pria paruh baya itu.
Tentu saja tuan Lincoln dengan sepenuh hati menerima pelukan dari Lili, bahkan dia langsung membalas pelukan Lili dan mengecupi puncak kepala Lili dengan penuh kasih.
Usia mereka boleh tidak lagi muda, tetapi mereka seakan kembali lagi pada saat mereka baru saja menikah. Terasa begitu saling mencintai dan tidak ingin saling terpisah.
Mereka benar-benar merindukan moment kebersamaan ini, di saat Lili memeluk tuan Lincoln seperti ini. Dia merasa jika hidupnya begitu berharga.
Lili tersenyum di dalam pelukan tuan Lincoln, karena ternyata tuan Lincoln mengajak dirinya ke rumah miliknya yang begitu banyak kenangan di antara dirinya dengan suaminya tersebut.
"Kamu senang?" tanya Tuan Lincoln.
Lili langsung menganggukan kepalanya dengan penuh semangat, tentu saja dia begitu senang karena bisa kembali masuk ke dalam rumah peninggalan kedua orang tuanya.
"Sangat, Lex. Sangat senang," jawab Lili.
Leandra dan juga Leonel sudah yang baru saja sampai langsung masuk ke dalam kamar utama, Leonel yang merasa gerah langsung membuka pakaian yang melekat pada tubuhnya.
Dia seolah tidak memedulikan keberadaan Leandra, dia berbuat semaunya tanpa menolehkan wajahnya sama sekali ke arah istrinya tersebut.
Berbeda dengan Leandra, wanita itu memang pura-pura acuh dengan hanya berdiri di depan meja rias. Namun, sesekali dia akan mencuri pandang ke arah lelaki yang sudah menikahinya itu dari pantulan cermin.
Namun, sesekali dia juga berusaha untuk membuka aksesori yang bertengger cantik di atas kepalanya untuk mengalihkan perhatiannya dari Leonel.
"Kak, ini susah sekali dibukanya." Leandra berusaha untuk membuka resleting gaun pengantin yang dia pakai, sayangnya tangannya tidak sampai.
Leonel yang baru saja selesai melepaskan kain yang melekat di tubuhnya langsung menghampiri Leandra, lalu dia mulai menarik resleting belakang gaun pengantin istrinya.
"Kak! Bisakah kamu memakai handuk atau kimono mandi terlebih dahulu?" tanya Leandra seraya memejamkan matanya.
Leandra merasa tidak tahan saat melihat Leonel yang hanya menggunakan celana boxer saja, ada tonjolan di antara kedua paha pria itu yang membuat mata Leandra terasa sakit.
"Memangnya kenapa kalau aku tidak memakai handuk?" tanya Leonel yang pura-pura tidak paham. Namun, tangannya terus bekerja.
__ADS_1
"Aku sangat risih melihatnya. Cepatlah pakai handuknya!" kesal Leandra.
"Aku rasa tidak perlu, lagi pula kita sudah sah sebagai suami istri. Kamu memandang tubuhku dalam keadaan polos pun sudah boleh, kok." Leonel menjawab dengan santai dan tanpa beban.
Tentu saja hal itu membuat Leandra kesal bukan main, tidak tahukah Leonel jika dirinya benar-benar merasa canggung berada di dalam keadaan seperti ini, pikirnya.
"Wow! Ternyata punggung kamu sangat mulus," puji Leonel ketika gaun pengantin yang Leandra pakai sudah terlepas dari tubuh mungil gadis itu.
Gaun pengantin itu sudah terjatuh di atas lantai, hal itu membuat tubuh Leandra terekspos. Leandra hanya memakai cangkang yang menutupi aset berharga miliknya.
Leandra yang menyadari ke mana arah tatapan dari Leonel langsung membalikkan tubuhnya, kemudian dia menutup mata Leonel dengan telapak tangannya.
"Kakak ngga boleh lihatin aku seperti itu, Kakak harus ingat kalau aku tuh masih anak-anak. Jangan macam-macam, sekarang matanya ditutup dulu. Jangan ngintip, aku mau pake handuk dulu," ucap Leandra.
Setelah mengatakan hal itu, Leandra langsung berlari untuk mengambil handuk yang tersampir di dekat kamar mandi.
Leonel yang tidak menuruti ucapan dari Leandra hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat Leandra yang sedang melilitkan handuk sampai sebatas dadanya.
"Oh ya ampun, Leandra. Kita itu sudah resmi menjadi suami istri, walaupun aku menyentuh kamu seperti ini, aku tidak akan berdosa," ucap Leonel seraya memeluk tubuh Leandra dan meremat dada istrinya yang terbungkus handuk.
Ada rasa yang tidak biasa yang Leandra rasakan kala Leonel melakukan hal itu, kepalanya bahkan seakan terbentur batu besar dan dia merasa lupa ingatan.
Tubuhnya seakan oleng dan pikirannya seakan linglung, ingin rasanya dia menubrukkan tubuhnya dan menempelkan dadanya akan bisa menempel pada tubuh pria itu.
Namun, dengan cepat dia menepis tangan. Leonel sebelum kewarasannya hilang, dia tidak mau di usinya yang masih delapan belas tahun sudah menyerahkan keperawanannya dengan suka rela.
"Aduh, sakit Leandra. Nanti aku laporin kasus KDRT kamu," ucap Leonel dengan bibir yang mengerucut.
"Laporin aja sono, badan gede begini mana ada yang percaya kalau kamu mendapatkan kekerasan dari gadis kecil seperti aku," tantang Leandra.
"Shitt! Jangan nantangin aku, Leandra. Kalau aku marah tahu rasa kamu," ancam Leonel.
Leandra tertawa mendengar ucapan dari Leonel, dia seolah meremehkan ancaman dari pria tersebut.
"Memangnya kalau Kakak marah mau lakuin apa sama aku?" tantang Leandra lagi.
Leonel membalikkan tubuh Leandra, lalu dia menarik tubuh Leandra dan memeluknya dengan erat. Leonel menunduk lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Leandra.
"Eh? Kakak mau apa?" tanya Leandra dengan wajahnya yang memucat karena takut.
Leonel langsung menyeringai, dia semakin mendekatkan bibirnya pada bibir Leandra. Gadis nakal yang baru saja berubah statusnya menjadi istri itu terlihat begitu ketakutan.
__ADS_1
"Aku akan--"