
Dia merasa sangat was-was, tapi di sisi lain dia juga merasa tenang. Apalagi ketika melihat wajah Lili yang nampak acuh.
'Pantas saja Lili begitu dicintai oleh Alex, karena wanita itu begitu baik. Dia bahkan seakan tidak mau menggeser posisiku, padahal aku yang sudah membuat semuanya kacau sejak awal,' ucap Lindsay dalam hati.
Tidak lama kemudian, Lindsay berusaha untuk menghabiskan sarapannya. Walaupun rasanya begitu sulit untuk menelannya.
"Emh! Makanan buatan Tante Lili sangat enak, aku sudah selesai." Leandra mengusap ujung bibirnya dengan tisu, lalu pandangan matanya beralih pada segelas susu hangat.
Saat Leandra ingin mengambil susu hangat yang tidak jauh dari ayahnya, Leandra sempat memperhatikan wajah ayahnya tersebut.
Leandra baru sadar jika ayahnya sedang memandangi wajah Lili dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya, kecemburuan langsung terasa membakar hatinya.
Bahkan, saat melihat cara tuan Lincoln menatap Lili, Leandra menjadi curiga kepada ayahnya tersebut. Dia merasa curiga jika tanda yang ada di cerukan leher Lili adalah perbuatan ayahnya.
Untuk mengetahui kebenarannya, Leandra perlu membuktikan ucapannya. Namun, tidak mungkin bukan jika dirinya langsung bertanya kepada tuan Lincoln.
Sudah pasti ayahnya itu akan mengelak, bahkan ayahnya pasti akan menyebut dirinya mengada-ngada.
'Apa yang harus aku lakukan saat ini?" tanya Leandra di dalam hatinya.
Leandra nampak terdiam dengan alis yang terlihat saling bertaut, dia seperti sedang dalam mode berpikir keras.
Tiba-tiba saja muncul sebuah ide di dalam otaknya, dia berharap dengan seperti itu akan mengetahui ayahnya datang ke kamar Lili atau tidak.
"Ehm! Kakak iparku tersayang, sepertinya kamu harus membersihkan kamar Tante Lili deh,'' pancing Leandra.
Leonel yang sedang menikmati makanannya terlihat menghentikan kunyahannya, kemudian dia menyimpan garpu dan sendok di atas piring lalu menolehkan wajahnya ke arah Leandra.
"Maksudnya bagaimana?" tanya Leonel dengan bingung.
"Ya Tuhan, Kakak iparku, Sayang. Apakah kamu tidak sadar jika di kamar Tante Lili itu ada binatang yang sangat besar dan mengerikan, lihatlah! Leher Tante Lili saja sampai berwarna merah keunguan," keluh Leandra.
"Sepertinya ada hewan penghisap darah yang begitu nakal dan menyebalkan, dia seperti orang kehausan yang langsung menyesap cerukan leher Tante Lili," imbuh Leandra.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Leandra, tuan Lincoln langsung terbatuk karena tersedak makanannya sendiri.
Tentunya hal itu terjadi karena dia begitu kaget dengan apa yang dikatakan oleh Leandra, jika Leandra berkata seperti itu, artinya Leandra sudah mengetahui sesuatu.
Uhuk! Uhuk!
Tuan Lincoln terlihat menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak, dia merasakan tenggorokannya bahkan terasa panas sampai ke hidungnya.
__ADS_1
Melihat akan hal itu, Lili hanya bisa menatap tuan Lincoln dengan tatapan iba. Sayangnya, dia tidak bisa melakukan apa pun.
Berbeda dengan Lindsay, dia langsung mengambil segelas air putih dan memberikannya kepada suaminya tersebut.
"Sarapannya pelan-pelan saja, tidak usah terburu-buru. Sekarang minumlah terlebih dahulu," ucap Lindsay.
"Hem!" jawab Tuan Lincoln seraya mengambil air putih itu dari tangan Lindsay.
Pria paruh baya itu terlihat menenggak air putih yang diberikan oleh Lindsay hingga tandas, dengan seperti itu dia berharap jika rasa perih di tenggorokannya akan segera hilang.
Leonel sangat kaget dengan reaksi dari tuan Lincoln, karena menurutnya tuan Lincoln malah akan membuat semua orang curiga.
Tidak lama kemudian, duda itu terlihat menolehkan wajahnya ke arah Lili dan memperhatikan cerukan leher Lili.
Benar saja, pada cerukan leher Lili, Leonel bisa melihat ada tanda merah keunguan. Sepertinya Leonel tahu apa penyebabnya.
Berbeda dengan reaksi dari Leandra, dia langsung menyipitkan matanya seraya memperhatikan Lili dan juga tuan Lincoln secara bergantian.
Saat dirinya mengatakan hal itu, tuan Lincoln terlihat panik. Berbeda dengan Lili yang nampak biasa saja.
'Ya Tuhan, sepertinya aku tahu yang menyebabkan leher tante Lili seperti itu. Pasti daddy yang melakukannya, tapi tante Lili tidak menyadarinya. Lalu, bagaimana bisa daddy masuk ke dalam kamar tante Lili?' tanya Leandra dalam hati.
"Eh? Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apakah aku punya salah kepadamu?" tanya Leonel.
Leonel tiba-tiba saja merasa was-was mendapatkan tatapan seperti itu dari Leandra, tatapan dari gadis yang usianya berbeda 9 tahun darinya itu terasa menusuk sampai ke jantungnya.
"Aku butuh waktu untuk bicara berdua denganmu, Kakak iparku yang tampan," pinta Leandra.
Perasaan Leonel tiba-tiba saja tidak enak saat melihat tatapan tajam dari Leandra, sepertinya Leonel tahu kenapa gadis itu menatap dirinya seperti itu.
"Kalau mau berbicara denganku nanti saja, karena sebentar lagi kita akan pergi ke pemakaman," jawab Leonel.
Leandra langsung menggelengkan kepalanya seraya menggoyang-goyangkan jari telunjuknya tepat di depan wajahnya, dia merasa tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Leonel.
"Tidak bisa, aku maunya berbicara dengan kamu saat ini juga." Leandra mengucapkan hal itu dengan bibir mengerucut.
Setelah mengatakan hal itu, Leandra nampak bangun dari duduknya. Kemudian, dia menghampiri Leonel dan menarik lengan pria itu agar mau mengikuti dirinya.
Lili, tuan Lincoln dan juga Lindsay menatap kepergian kedua manusia berbeda jenis kelamin itu dengan tatapan aneh, bingung dan juga penuh tanda tanya.
"Kamu mau membawaku ke mana, hem?" tanya Leonel.
__ADS_1
Untuk sesaat Leandra terdiam, dia bingung harus membawa Leonel ke mana agar dia bisa berbicara dengan tenang tanpa ada gangguan.
Tidak lama kemudian, Leandra tersenyum. Leandra merasa jika tempat yang paling aman untuk berbicara dengan pria itu adalah di dalam kamar pria itu sendiri, makanya Leandra menarik Leonel menuju kamar dari pria tersebut.
"Eh? Mau ke mana sih?" tanya Leonel.
"Udah, ikut aja!" ajak Leandra.
Saat tiba di depan kamar Leonel, Leandra melepaskan tangan dari kakak iparnya tersebut. Kemudian, dia menunjuk pintu kamar Leonel dengan ujung matanya.
"Apaan sih, kamu tuh nggak jelas banget deh!" keluh Leonel.
"Buka pintunya, aku mau ngomong sebentar," ucap Leandra.
"Kalau mau bicara di sini saja, ngga usah di dalam kamar juga," ucap Leonel.
Rasanya tidak enak jika mereka harus bicara di dalam kamar berduaan saja, rasanya begitu aneh. Apalagi setelah dia tahu jika Leandra ternyata adalah adik dari istrinya yang sudah tiada.
"Tidak bisa, ini pembicaraan rahasia. Harus bicara di dalam kamar kamu," jelas Leandra.
"Ehm! Boleh deh, sekalian kita--"
Leonel tidak meneruskan ucapannya, dia malah tersenyum jahil seraya menaik turunkan alisnya. Hal itu membuat Leandra kesal, alhasil Leandra pun langsung berkata.
"Ngga usah macam-macam, sekarang buka pintunya!" pungkas Leandra.
"Oke, oke," jawab Leonel seraya mengambil kunci pintu kamarnya dan membuka pintu kamar tersebut dengan segera.
Saat mereka berdua sudah berada di dalam kamar, Leandra dengan cepat mengunci pintu kamar tersebut dan menarik Leonel untuk duduk di atas sofa
"Sekarang jelaskan kepadaku? Apakah Kakak yang sudah memberikan kunci kepada Daddy?" tanya Leandra dengan tatapan menyelidik.
Leonel terdiam, dia seolah sedang berpikir tentang jawaban apa yang akan dia katakan kepada Leandra.
Jika dia berkata jujur, dia merasa tidak enak hati terhadap tuan Lincoln. Namun, jika dia berbohong, dia takut jika Leandra akan kecewa terhadap dirinya.
"Kunci, kunci apa? Kamu nanya apa sih? Aku ngga paham, please deh jangan nanya yang aku ngga tahu jawabannya," ucap Leonel pura-pura bodoh.
Leandra memutar bola matanya dengan malas mendengar pertanyaan dari Leonel, dia tahu jika Leonel sedang berpura-pura bodoh di hadapannya.
"Kunci kamar Tante Lili!" sentak Leandra.
__ADS_1