
Lucky mengirimkan pesan jika Lyra berusaha melarikan diri, beruntung orang kepercayaan Lucky bisa dengan cepat menangkap wanita licik itu dan kembali memasukkannya ke dalam penjara yang khusus Leonel siapkan untuk Lyra.
Ya, Leonel menciptakan sebuah penjara khusus untuk menghukum Lyra. Dia menghukum wanita itu dengan caranya, Lyra diberikan kegiatan yang membuat dia tersiksa dalam setiap harinya.
Jika kegiatannya berakhir, wanita itu akan ditempatkan pada sebuah penjara dengan dinding yang begitu dingin.
Wanita itu akan tidur di atas kasur tipis dengan kondisi tangan dan kakinya terikat, tidak jarang dia akan mengompol di celana karena penjaga yang tidak kunjung datang. Sedangkan dia sudah tidak tahan untuk berkemih.
Jika Leonel menyerahkan Lyra kepada polisi, rasanya hukuman itu terlalu ringan. Maka dari itu Leonel memberikan hukuman yang menurutnya sangat pantas untuk wanita itu.
Wanita yang dulu begitu dia cintai, tapi saat ini wanita itu merupakan manusia yang paling dia benci dalam seumur hidupnya. Karena wanita itu sudah menghilangkan nyawa istrinya dan juga calon buah hatinya.
"Sebaiknya aku mandi dan bersiap," ucap Leonel ketika dia melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 6 sore.
Leonel nampak masuk ke dalam kamar mandi, lalu dia membersihkan tubuhnya. Lima belas menit kemudian, dia sudah selesai dengan ritual mandinya dan langsung memakai kemeja berwarna navy dipadupadankan dengan celana bahan panjang berwarna hitam.
"Sebaiknya aku makan malam terlebih dahulu," ucap Leonel seraya melangkahkan kakinya menuju ruang makan.
Saat Leonel melewati ruang keluarga, dia nampak menghentikan langkahnya. Pria dewasa itu malah terdiam saat melihat Lili yang sedang menyisir rambut Leandra.
Lili dengan telaten menata rambut Leandra, tidak lama kemudian raut wajah Leonel terlihat berubah. Rahangnya bahkan terlihat mengeras, dengan cepat pria itu menghampiri kedua wanita cantik berbeda usia itu.
"Apa yang sedang ibu lakukan? Kenapa Ibu mendandani Leandra seperti ini? Kenapa juga dia tidak memakai baju?" tanya Leonel dengan kesal karena dia melihat Leandra mencepol rambutnya seperti yang selalu Leana lakukan.
Mendengar Leonel yang berbicara dengan cukup lantang, hal itu membuat Leandra dan juga Lili ketakutan. Leandra langsung menunduk seraya menutupi dadanya dengan kedua telapak tangannya.
Berbeda dengan Lili, dia berusaha untuk tersenyum. Karena dia memang sudah paham dengan sikap Leonel. Lalu, dia mengusap lengan Leonel dengan lembut dan berkata.
"Maafkan ibu, ya, Nak. Kalau kamu tidak suka akan ibu urai rambutnya," ucap Lili seraya tersenyum hangat.
Entah ide dari mana, tapi ketika melihat Leandra, Lili malah ingin mencoba untuk mendandani Leandra. Dia ingin tahu apakah Leandra akan mirip dengan Leana atau tidak, ketika Leandra berpenampilan seperti Leana.
Hasilnya sangat mengejutkan, Leandra benar-benar terlihat begitu mirip dengan Leana. Hanya senyumnya saja yang nampak berbeda, Lili paham jika kini Leonel marah.
__ADS_1
"Hem, suruh dia pake baju juga." Leonel nampak memalingkan wajahnya kala melihat tubuh seksi Leandra.
Walaupun usianya baru delapan belas tahun, tapi tubuhnya sudah terbentuk. Nampak indah di beberapa bagian, hal itu membuat Leonel gagal fokus.
Terlebih lagi saat dia bersitatap dengan Leandra, wajah gadis itu sembilan puluh persen begitu mirip dengan Leana.
"Maaf, Nak. Bajunya sudah siap kok, hanya saja tadi ibu yang meminta Leandra untuk membukanya." Lili menunjukkan kemeja yang tersampir di atas sofa, kemeja berwarna senada dengan kemeja yang dia pakai.
Leonel langsung memelototkan matanya, dia sungguh merasa jika semua yang terjadi seakan sudah ada yang mengaturnya dengan sedemikian rupa.
"Hastaga!" keluh Leonel ketika dia menyadari jika kemeja mereka berwarna sama.
Mendengar kata keluhan yang keluar dari bibir Leonel, Lili dibuat bingung dan juga bertanya-tanya dalam waktu bersamaan.
"Kenapa lagi? Apa ada yang salah?" tanya Lili.
"Tidak apa-apa, aku akan ke ruang makan duluan. Kalian cepatlah menyusul," ucap Leonel seraya memijat pangkal hidungnya.
Dia benar-benar merasa pusing dan juga moodnya tiba-tiba berubah menjadi campur aduk, antara kesal, marah dan juga serba salah.
Jika saja tuan Lincoln tidak sedang berada di luar kota dan tidak menitipkan Leandra kepada dirinya, sudah barang pasti dia akan segera memulangkan Leandra ke kediaman Axton.
Setelah kepergian Leonel, Lili mengambil kemeja yang tersampir di atas sofa. Kemudian, dia memakaikannya kepada Leandra. Dia juga membantu mengurai rambut Leandra dan menyisirnya sampai rapi.
"Maaf ya, Nak. Ini semua salah Tante," ucap Lili dengan tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, lebih baik kita makan saja," ajak Leandra dengan hati ketar-ketir karena takut Leonel akan marah lagi.
"Hem, kamu benar." Lili berusaha untuk tersenyum dan segera menuntun Leandra untuk melangkahkan kakinya menuju ruang makan.
Saat tiba di ruang makan, Leandra dan juga Lili langsung duduk tepat di samping Leonel. Pria dewasa itu sempat melirik ke arah Leandra, tapi tidak lama kemudian dia menunduk dan meneruskan makan malamnya.
"Aku sudah selesai," ucap Leonel seraya menyeka ujung bibirnya.
Leonel bangun dari duduknya, menghampiri Lili dan mengecup pipi ibu mertuanya itu sebagai tanda jika dia telah berpamitan kepada mertuanya itu.
__ADS_1
"Aku pergi dulu. Tidak usah menungguku pulang, aku bawa kunci cadangan." Setelah mengatakan hal itu Leonel langsung melangkahkan kakinya untuk keluar dari rumah megah itu
"Eh? Tunggu aku, Tuan!" seru Leandra.
Dengan cepat dia meminum air putih dan menyusul Leonel, dia bahkan sampai lupa untuk berpamitan dengan Lili.
"Duduk di belakang, Leandra!" titah Leonel ketika melihat Leandra duduk di samping pak sopir.
"Eh? Iya, Tuan. Aku pindah," jawab Leandra dengan wajah pucat-nya. Karena Leonel malam ini terlihat menakutkan, menurutnya.
Akhirnya Leandra pun duduk bersama dengan Leonel di bangku penumpang, tidak ada yang mengeluarkan suara saat perjalanan menuju Kafe tempat di mana Leonel dan Lukas janji temu.
"Selamat malam Brother, lama tidak jumpa. Aku lihat kamu semakin tampan saja," ucap Lukas seraya memeluk Leonel dan menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu
"Kamu juga semakin sukses saja, pulang ke ibu kota langsung bisa memajukan usaha keluarga," puji Leonel seraya melerai pelukannya.
Lukas tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Leonel, saat dia hendak berbicara kembali, tatapan mata Lukas beralih pada Leandra. Dahinya nampak berkerut dalam karena dia seakan pernah bertemu dengan gadis itu, tapi entah di mana.
"Dia siapa?" tanya Lukas.
Lukas bertanya kepada Leonel, tapi Leandra dengan cepat berbicara sebelum Leonel membuka suaranya.
"Ya ampun Tuan Lukas, masa lupa sama aku. Padahal kita dulu sering bertemu saat aku liburan di negara A, aku yang tinggal di apartemen yang sama dengan kekasih anda."
Leandra berbicara dengan riang, berbeda dengan Lukas yang terlihat panik. Dia bahkan terlihat menelan salivanya dengan susah, lalu dia menghampiri Leandra dan menepuk-nepuk pundak gadis itu dengan cukup kencang.
Hal itu membuat Leandra meringis menahan sakit, tapi dia tidak berani melayangkan protesnya. Entah kenapa saat dia melihat tatapan mata dari Lukas, tatapan mata pria itu terlihat begitu mengerikan di matanya.
"Sepertinya anda salah orang!" ucapnya dengan tatapan yang seakan menusuk.
Leandra mengernyitkan dahinya, dia tidak paham dengan maksud dari Lukas. Karena pria itu seolah sedang menyuruh dirinya untuk tidak mengatakan sesuatu, tapi apa dia tidak tahu.
"Tapi, Tuan--"
Leandra langsung menghentikan ucapannya, karena Lukas terlihat meremat lengan Leandra dengan cukup kencang.
__ADS_1
"Kami tidak pernah bertemu!" tegas Lukas seraya menatap wajah Leonel dengan senyum yang dipaksakan.