
"Ada apa? Kenapa kamu malah membekap mulut putriku?" tanya Tuan Leonard.
Mendengar pertanyaan dari tuan Leonard, sontak Lucky dengan cepat melepaskan tangan kanannya dari bibir Liliu.
"Anu, Dad. Itu, aku ingin segera menikah dengan Liliu. Tapi, itupun kalau Daddy mengizinkan." Lucky langsung tertunduk takut setelah mengatakan hal itu.
Tuan Leonard langsung tertawa dengan terbahak-bahak melihat tingkah dari calon menantunya tersebut, dia merasa senang karena akhirnya Lucky mau menikahi putrinya.
Dia juga merasa senang karena setelah Liliu kehilangan sebagian ingatannya, gadis itu terlihat begitu manis dan penyayang. Bahkan, Liliu ini begitu perhatian terhadap dirinya.
Liliu berubah menjadi sosok yang lebih baik, dibalik musibah selalu ada berkah yang bisa diambil, mungkin benar adanya dengan pepatah yang mengatakan seperti itu.
"Kalau begitu sekarang juga kita ke gereja, Daddy akan menikahkan kalian," putus Tuan Leonard.
Liliu begitu bahagia mendengar apa yang dia katakan oleh tuan Leonard, dia bahkan langsung memeluk ayahnya dengan begitu erat.
Berbeda dengan Lucky, pria itu nampak syok karena tuan Leonard langsung menyetujuinya tanpa berpikir terlebih dahulu. Tentu saja di satu sisi dia merasa senang, itu artinya dia akan segera menikah.
Namun, di sisi lainnya dia merasa takut akan diomeli oleh bosnya. Karena hari ini dia banyak pekerjaan, kalau dia menikah hari ini juga bersama dengan Liliu, itu artinya bosnya akan kelimpungan.
Padahal, tadi malam sebelum Lucky tidur. Leonel sempat mengirimkan pesan chat kepada dirinya, Leonel izin tidak masuk kerja karena ingin pergi ke suatu tempat untuk memastikan sesuatu hal.
Jika dia hari ini menikah, itu artinya dia tidak bisa masuk untuk bekerja. Dia takut jika Leonel akan marah, dia takut jika Leonel sudah membuat janji penting untuk pergi ke suatu tempat dan harus batal hanya karena dirinya.
"Tapi, Dad. Hari ini aku banyak pekerjaan, aku---"
Belum juga Lucky menyelesaikan ucapannya, tuan Leonard langsung melayangkan tangan kanannya ke udara. Itu artinya ucapannya tidak bisa dibantah.
"Aku akan menelpon bosmu itu, sekarang kita pergi ke gereja. Oiya, apa kamu sudah menyiapkan cincin kawin kalian?" tanya Tuan Leonard.
Lucky langsung nyengir kuda mendengar pertanyaan seperti itu dari calon mertuanya, karena pada kenyataannya dia memang belum mempersiapkan apa pun.
''Belum," jawab Lucky dengan jujur.
Tuan Leonard bisa menduga jika putrinya sengaja datang ke tempat Lucky, entah apa yang putrinya lakukan di sana, tetapi hal itu membuat Lucky menyetujui untuk segera menikahi putrinya.
Itu artinya, semuanya serba mendadak. Pasti tidak akan ada persiapan apa pun, tidak ada cincin nikah. Pastinya, tidak akan ada gaun pengantin.
"Kalau begitu kalian pake cincin kawin Daddy saja dengan mom," usul Tuan Leonard.
"Jangan, Dad. Nanti saat perjalanan ke gereja aku bisa membelinya," ucap Lucky yang tidak mau harga dirinya diinjak.
"Jangan, tidak apa-apa. Pakailah, biar rumah tangga kalian seperti Daddy dan mom. Kami hidup bahagia setelah menikah, kami berpisah karena maut yang memisahkan." Mata Tuan Leonard nampak berkaca-kaca setelah mengatakan hal itu.
"Sorry, Dad. Karena aku sudah membuat Daddy kembali mengingat akan mendiang mom," ucap Lucky tidak enak hati.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, bersiaplah untuk pergi. Dad akan menelpon Leon," ucap Tuan Leonard.
"Yes, Dad. Aku tidak perlu bersiap, hanya saja untuk baju pernikahannya bagaimana?" tanya Lucky.
Liliu langsung melerai pelukannya dengan tuan Leonard, selalu dia duduk tepat di samping
lucky dan berkata.
"Tidak usah beli baju pengantin, Yang. Lagi pula nanti kita akan mengadakan resepsi pernikahan, aku tidak keberatan jika kita menikah terlebih dahulu. Walaupun tanpa gaun pengantin," ucap Liliu yang sudah tidak sabar untuk menjadi istri dari Lucky.
"Benarkah?" tanya Lucky tidak percaya.
''Hem!" jawab Liliu yakin.
Liliu dan juga Lucky terlihat saling bicara, bisa sekali mereka saling tertawa bahagia entah apa yang mereka bicarakan.
Berbeda dengan tuan Leonard, pria paruh baya itu berusaha untuk menelpon Leonel. Dia ingin memberitahukan kepada Leonel, jika Lucky akan menikah dengan Liliu.
Dia juga ingin meminta cuti kerja untuk calon menantunya tersebut, karena setelah menikah tidak mungkin Lucky langsung bekerja di perusahaan Harold.
"Ya, Tuan. Ada apa?" tanya Leonel ketika sambungan teleponnya tersambung.
"Maaf mengganggu waktunya, aku hanya ingin memberitahukanmu bahwa hari ini Lucky dan juga Liliu akan menikah. Kamu tidak perlu datang, karena mereka hanya akan menikah di hadapan pendeta. Kamu nanti saja datangnya pada saat acara resepsi," ucap Tuan Leonard.
"What? Jadi Lucky--"
Karena Lucky izin untuk melaksanakan pernikahannya, itu artinya Lucky ingin memulai kebahagiaannya bersama dengan Liliu.
"Hem! Mereka akan menikah, aku minta maaf karena menantuku tidak bisa membantumu hari ini," ucap Tuan Leonard dengan penuh sesal.
"Hem, tidak apa-apa. Aku akan mengerjakan semuanya sendiri," ucap Leonel dengan sedih.
Setelah terjadi obrolan singkat antara Leonel dan juga tuan Leonard, akhirnya Leonel memutuskan sambungan teleponnya.
Dia mendadak begitu lemas, karena rencananya untuk pergi ke rumah sakit dan mengajak istrinya untuk memeriksakan kandungan pupus sudah.
Dia malah duduk di atas sofa dengan wajah ditekuk, melihat perubahan raut wajah suaminya, Leandra langsung menghampiri pria itu. Dia duduk di samping suaminya dan berkata.
''Kamu kenapa, Yang?" tanya Leandra.
"Aku sedang sedih, Lucky tidak bisa masuk kerja. Padahal, tadinya aku mau ngajakin kamu pergi. Mumpung kamunya off kuliah," adu Leonel.
"Hem, kalau begitu suamiku ini harus segera berangkat bekerja. Karena pekerjaan sudah menunggu," ucap Leandra seraya memasangkan dasi di leher suaminya.
"Tapi, Yang. Aku---"
__ADS_1
"Aku akan menemani, kamu senang?" tanya Leandra.
Leonel langsung mengembangkan senyumnya mendengar apa yang diucapkan oleh istrinya, setidaknya dia dan juga Leandra berada di dalam kantor yang sama. Walaupun dia tidak jadi pergi ke rumah sakit untuk memastikan kehamilan istrinya.
"Senang, Sayang. Sangat senang, terima kasih." Leonel langsung mengecup bibir istrinya.
Setelah itu, Leonel dan juga Leandra langsung berangkat ke perusahaan Harold. Tidak ada raut kecewa lagi di wajah Leonel, justru dia begitu bersemangat karena ada Leandra di sampingnya.
Di lain tempat.
Lucky dan juga Liliu sudah sah menjadi suami istri, kebahagiaan terpancar jelas dari wajah keduanya. Begitupun dengan tuan Leonard, Dia benar-benar sangat bahagia.
Walaupun pernikahan putrinya dilaksanakan secara dadakan, dia tidak menyesal. Karena yang terpenting baginya adalah kebahagiaan putrinya.
"Semoga kalian bahagia," ucap Tuan Leonard seraya memeluk Lucky dan juga Liliu secara bergantian.
"Thanks, Dad," ucap keduanya.
"Daddy mau ke luar kota dulu, ada yang harus Daddy kerjakan. Kalian mau pulang atau mau pergi?" tanya Tuan Leonard.
''Pulang aja, Dad!" jawab Liliu cepat.
Ini adalah hari pertama mereka resmi sebagai pasangan halal, Liliu ingin menghabiskan waktunya berduaan saja bersama dengan suaminya.
Tidak perlu pergi ke tempat yang jauh, karena memang mereka tidak punya waktu
Lebih tepatnya, Lucky yang tidak punya banyak waktu.
Tentu saja, Liliu tidak ingin menyia-nyiakan hari ini untuk pergi ke mana pun. Dia ingin merasakan yang namanya surga dunia, Karena dia sudah benar-benar penasaran dengan rasanya seperti apa.
"Ya, Daddy paham. Tolong jaga putri Daddy," ucap Tuan Leonard seraya menepuk pundak Lucky.
"Pasti!" jawab Lucky dengan yakin.
Setelah terjadi obrolan singkat antara pasangan pengantin baru dan juga tuan Leonard, akhirnya mereka pergi ke tempat tujuan masing-masing.
Tuan Leonard pergi keluar kota untuk melakukan perjalanan bisnis, sedangkan Lucky dan juga Liliu langsung pergi menuju apartemen Lucky. Selama perjalanan menuju apartemen, keduanya hanya saling diam. Mereka seakan masih begitu canggung untuk berkomunikasi.
"Masuklah!" titah Lucky seraya membuka pintu apartemennya.
"He'em," jawab Liliu dengan wajah yang sudah memerah karena sudah memikirkan hal yang tidak-tidak.
Setelah pintu apartemennya tertutup, Liliu langsung memeluk Lucky dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu. Lucky tersenyum canggung lalu membalas pelukan istrinya.
"Terima kasih sudah menikahiku," ucap Liliu tulus.
__ADS_1
"Hem, sekarang kita sudah resmi menikah. Apakah aku boleh melanjutkan yang tadi pagi?" tanya Lucky.
"Ehm! Boleh ngga, ya?" tanya Liliu.