
"Lili!"
Tuan Lincoln memanggil wanita yang ada di hadapannya dengan bibir yang bergetar, dia tidak menyangka akan bertemu kembali dengan Lili setelah hampir dua puluh tiga tahun tidak bertemu.
Lili yang sedang menunduk langsung menolehkan wajahnya ke arah suara, matanya langsung membulat dengan sempurna kala dia melihat tuan Lincoln yang berada di hadapannya.
"A--Alex," ucapnya lirih.
Leandra dan juga Leonel terdiam dengan wajah kebingungan karena ternyata Lili dan juga tuan Lincoln saling mengenal, bahkan tatapan tuan Lincoln terkesan berbeda saat memandang wajah Lili.
Seperti ada rasa cinta yang begitu besar yang sudah sangat lama terpendam, bahkan lelaki paruh baya itu seakan ingin memeluk Lili dengan begitu erat.
"Lili, aku sangat merindukan kamu."
Tuan Lincoln berkata seperti itu terhadap Lili tanpa merasa canggung dengan keberadaan Lindsay di sampingnya, dia terkesan ingin mengungkapkan perasaannya terhadap Lili tanpa memedulikan Lindsay yang menatap tuan Lincoln dengan air mata ya sudah mengalir di kedua pipinya.
Lili memalingkan wajahnya ke arah lain, dia seakan ingin berlari. Sayangnya, kaki Lili seakan begitu sulit untuk digerakkan.
"Lili, aku--"
Tuan Lincoln tidak meneruskan ucapannya, dia langsung menepis tangan Lindsay dengan perlahan yang melingkar di lengannya.
Lalu, dia berjalan menghampiri Lili dan tanpa ragu memeluk wanita yang begitu dia rindukan itu. Lili terdiam tanpa membalas pelukan dari tuan Lincoln, dia terlihat syok.
Leonel benar-benar bingung harus bersikap seperti apa, karena pada kenyataannya dia tidak tahu sebenarnya ada hubungan apa antara Lili dan juga tuan Lincoln.
Walaupun Lili tinggal di kediaman Harold sejak dia kecil, tapi Lili merupakan orang yang tertutup dan tidak pernah menceritakan apa pun yang menyangkut kehidupan pribadinya.
Leandra sangat syok melihat akan hal itu, dia hanya terdiam seraya menatap ayahnya yang sedang memeluk wanita lain di depan ibunya sendiri.
"Aku mencintai kamu, Lili. Aku masih sangat mencintai kamu, perasaanku dari dulu tetap sama kepadamu. Kenapa kamu meninggalkan aku, hem? Kenapa kamu sangat tega?" tanya Tuan Lincoln dengan suara parau karena terus saja menangis.
Lili tidak bisa menjawab apa pun, dia hanya terdiam seraya menghirup aroma tubuh yang sangat dia rindukan.
Dia hanya terdiam seraya mendengarkan debaran jantung tuan Lincoln yang terdengar begitu kencang, dia hanya dia dan menikmati pelukan dari tuan Lincoln.
Lindsay yang melihat Leandra begitu syok langsung menghampiri putrinya, lalu dia menarik lembut putrinya ke dalam pelukannya.
Leandra meregangkan pelukannya, kemudian dia menatap wajah Lindsay dengan begitu lekat.
__ADS_1
"Ada apa ini, Mom? Ada hubungan apa antara Daddy dengan Tante Lili?" tanya Leandra lirih.
Untuk sesaat Lindsay terdiam, dia kebingungan harus menjelaskan apa terhadap putrinya tersebut. Namun, tidak lama kemudian terdengar helaan napas berat dari bibir Lindsay.
"Biar Daddy yang nanti menjelaskan," bisiknya.
Leandra ingin sekali melayangkan protesnya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya, tetapi setelah melihat kesedihan yang begitu dalam di mata ibunya, dia tidak berani mengatakan apa pun.
Dia hanya mampu berdehem sebagai tanda jika dia patuh kepada orang tuanya, dia tidak bisa gegabah karena tidak tahu apa pun.
"Hem," jawab Leandra seraya menganggukan kepalanya dan kembali memeluk ibunya.
Melihat keadaan yang sangat canggung, Leonel berdehem beberapa kali. Lalu, dia sengaja berbicara agar suasana di ruang makan tersebut tidak terasa aneh seperti saat ini.
"Ehm! Tuan Lincoln, bisakah kita makan malam terlebih dahulu?" tanya Leonel seraya menggaruk pelipisnya.
Dia sebenarnya merasa sangat bingung dengan apa yang dia lihat, tapi dia tidak mampu bertanya. Bibirnya seakan kelu.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Leonel, tuan Lincoln yang sedang meluapkan rasa rindunya terhadap Lili langsung melerai pelukannya.
Dia mengusap air matanya yang terus saja mengalir tanpa henti di kedua pipinya, dia berusaha tersenyum kepada Leonel dan berkata.
Mendengar apa yang dikatakan oleh tuan Lincoln, Leandra dan juga Leonel terlihat begitu kaget.
"Istri!" pekik Leandra dan Leonel secara bersamaan.
"Ya, dia masih istriku. Walaupun kamu sudah sangat lama tidak bertemu," jawab Tuan Lincoln.
Jika Leonel dan juga leandra terlihat begitu kaget, berbeda dengan Lindsay. Dia hanya diam dengan air mata yang kembali mengalir di kedua pipinya.
Dia merasa jika sebentar lagi tuan Lincoln akan meninggalkan dirinya yang sudah menemani tuan Lincoln sejak ditinggalkan oleh Lili, pergi karena ulahnya dan juga tuan Luke, ayah dari tuan Lincoln.
"Ya, dia istriku. Dia sangat tega meninggalkan aku di saat aku susah, tapi satu hal yang membuat aku masih sangat mencintai dirinya dan ingin mengejarnya walau sampai ke ujung dunia sekalipun. Dia--"
Lili yang sejak tadi diam saja terlihat menutup mulut tuan Lincoln dengan telapak tangannya, dia merasa tidak enak hati saat melihat Leandra dan juga Lindsay yang menatap dirinya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Maafkan aku, Alex. Aku meninggalkan kamu untuk kesuksesan yang pantas kamu dapatkan, untuk saat ini kamu tidak perlu menganggap aku Istri lagi. Karena sudah ada wanita lain yang--"
"Jangan berbicara lagi Lili, selama ini aku berusaha untuk mencari kamu. Aku selalu mencintai kamu walaupun Lindsay selalu ada di samping aku, aku mau kamu kembali kepadaku. Kumohon, Lili!" pinta Tuan Lincoln mengiba.
__ADS_1
Lili langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, walaupun sampai saat ini dia begitu mencintai tuan Lincoln. Rasanya sangat tidak mungkin untuk dia kembali lagi kepada pria paruh baya itu.
"Maaf, aku tidak mungkin menyakiti hati istri kamu. Lagi pula kita sudah lama tidak bersama, biarkan aku sendiri dengan kehidupanku. Kamu berbahagialah dengan kehidupan kamu saat ini," pinta Lili.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Lili, tuan Lincoln langsung menggenggam erat kedua tangan dari wanita yang masih menjadi istrinya itu.
"Tidak bisa, kamu harus ikut pulang dengan aku. Jangan tinggalkan aku lagi," pinta Tuan Lincoln.
Setelah mengatakan hal itu, tuan Lincoln kembali memeluk Lili. Hal itu membuat hati Leandra memanas, dia langsung menarik tangan ayahnya dengan kasar.
"Daddy, tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi!" pinta Leandra dengan tatapan tidak suka, karena dia merasa jika tuan Lincoln tidak menghargai perasaan Lindsay sama sekali.
Menyadari jika di sana ada putrinya juga, tuan Lincoln tersenyum seraya mengelus lembut puncak kepala putrinya itu.
"Baiklah, akan Daddy jelaskan. Akan Daddy ceritakan, mari kita makan dulu. Aku sangat lapar, apalagi yang masak adalah Lili. Aku sangat merindukan masakan istriku," ucap Tuan Lincoln.
Akhirnya, malam ini Leonel, Leandra, Lili dan juga Lindsay terlihat makan malam dengan canggung.
Berbeda dengan tuan Lincoln, dia terlihat begitu menikmati setiap makanan yang dibuatkan oleh Lili. Pria paruh baya itu melakukan makan malamnya dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.
Leandra bahkan baru kali ini melihat ayahnya begitu bahagia, padahal biasanya tuan Lincoln akan bersikap datar dan cendrung pemarah.
"Masakan kamu tetap enak, Sayang. Aku sangat suka, aku sangat rindu dengan masakan kamu. Apalagi saat ini aku bisa bersama kamu lagi," ucapnya seraya menatap Lili dengan tatapan penuh cinta.
Leandra langsung menolehkan wajahnya ke arah Lindsay ketika mendengar tuan Lincoln mengatakan hal itu, dia memperhatikan wajah ibunya itu dengan seksama.
Ada raut kesedihan yang sangat dalam dari wajah Lindsay, tapi wanita itu seakan tidak ingin mengatakan apa pun. Hal itu benar-benar membuat Leandra. kebingungan.
Leandra saja begitu kesal melihat tuan Lincoln yang menatap Lili dengan penuh cinta, tapi kenapa ibunya seolah tidak keberatan dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya itu, pikirnya.
"Mom, kenapa Mom diam saja. Apa Mom tidak cemburu?" tanya Leandra dengan begitu penasaran karena Lindsey hanya diam saja.
Di dalam serial drama yang pernah dia tonton, jika suaminya bermesraan dengan wanita lain atau memuji wanita lain maka sang istri akan berbuat hal yang nekat.
Setidaknya sang istri akan menampar atau menjambak rambut wanita yang dianggap mengambil alih perhatian suaminya, tetapi dia merasa jika Lindsay begitu berbeda.
Lindsay yang sedang menunduk dan berusaha untuk menelan makanan dengan susah payah menolehkan wajahnya ke arah putrinya, lalu dia memaksakan senyumnya dan berkata.
"Mom hanya, hanya---"
__ADS_1