
Setelah kepergian bibi, Leonel langsung menghampiri istrinya. Dia duduk di tepian tempat tidur, kemudian dia elus puncak kepala istrinya dengan penuh kasih. Leonel bahkan terlihat menunduk dan mengecupi puncak kepala istrinya.
"Bangun, Sayang. Sudah mau jam 9, ayo sarapan dulu. Setelah itu kamu mandi," ucap Leonel.
Leandra menggeliatkan tubuhnya, lalu dia membuka matanya yang terasa sepat dan menatap Leonel dengan lekat.
"Kakak jangan deket-deket, nanti Kakak malah--"
Melihat Leandra yang ketakutan, Leonel malah semakin bersemangat untuk menggoda istrinya tersebut.
"Malah apa?" tanya Leonel seraya mendekatkan wajahnya ke arah istrinya.
Hal itu membuat Leandra ketar-ketir, Leonel menjadi ancaman terbesar untuk dirinya saat ini. Setiap berdekatan dengan suaminya itu, Leandra merasa tidak aman.
"Ck! Awas, Kak. Kakak jangan deket-deket, nanti akunya di---"
Leandra tidak meneruskan ucapannya, karena kini tubuhnya terasa melayang di udara. Leonel mengangkat tubuh mungil istrinya dan membawanya ke dalam kamar mandi.
Leandra merasa was-was, dia takut jika Leonel akan kembali mengajak dirinya untuk berpeluh kembali. Tubuhnya sudah terasa remuk, walaupun saat dia bercinta dengan Leonel memang dirasa sangatlah nikmat.
"Kakak, jangan lagi. Jangan itu lagi," rengek Leandra.
Leonel terkekeh, kemudian dia menatap wajah istrinya dan mengecup kening istrinya dengan penuh kasih.
"Aku hanya akan membantu kamu untuk berendam dengan air hangat, biar punya kamu itu bisa terasa lebih baik," jawab Leonel.
Dulu setelah dia melakukannya dengan Leana, Leana merendam tubuhnya dengan air hangat. Dia berkata dengan melakukan hal itu, tubuh dan area intinya terasa lebih baik.
"Bener ya, awas aja kalau Kakak anu-anu lagi." Leandra memonyongkan bibirnya.
Leonel yang merasa gemas langsung mengecup bibir istrinya, Leandra dengan cepat mendorong wajah Leonel.
"Jangan macam-macam, aku mau mandi!" Leandra menatap wajah suaminya dengan kesal.
Kembali Leonel tertawa, dia hanya merasa gemas saja. Tidak mungkin juga dia tega membiarkan Leandra kesakitan, walaupun dia memang masih ingin merasakan jepitan milik Leandra.
"Maaf, Sayang," ucap Leonel seraya menurunkan Leandra ke dalam bathtub yang sudah terisi dengan air hangat.
Tubuhnya yang terasa begitu remuk terasa nyaman saat menyentuh air hangat yang sudah disiapkan oleh suaminya tersebut, Leandra tersenyum kemudian dia berkata.
"Terima kasih, suamiku. Sekarang, bisakah kamu menungguku di luar saja. Aku takut kamu akan menerkamku kembali," pinta Leandra.
Padahal, Leonel ingin sekali menemani Leandra. Takutnya istrinya membutuhkan bantuannya, seperti menggosok punggungnya, pikirnya.
Namun, ternyata kehadirannya tidak diinginkan. Justru dengan adanya dirinya, Leonel bisa melihat jika Leandra merasa terancam.
"Baiklah, aku akan menyiapkan baju untuk kamu. Sekalian siapin obat juga buat kamu, kalau sudah selesai panggil aku. Nanti aku akan datang untuk menggendong kamu," pesan Leonel.
__ADS_1
Rasanya itu terlalu merepotkan, dia tidak ingin digendong kembali oleh suaminya. Takut-takut jika Leonel malah akan tergoda oleh tubuh polosnya.
"Tidak perlu, sekarang Kakak keluarlah. Aku mau mandi," pinta Leandra.
"Oke," jawab Leonel lesu.
Akhirnya Leonel keluar dari dalam kamar mandi, karena dia harus menyiapkan baju dan juga obat anti nyeri yang harus diminum oleh Leandra.
Melihat kepergian Leonel, Leandra tersenyum seraya memejamkan matanya. Dia masih merasa belum percaya jika saat ini dia sudah tidak perawan lagi, dia menyerahkan keperawanannya dengan suka rela kepada suaminya.
"Ya Tuhan, dia itu bahaya sekali. Dia bisa dengan mudah membuat aku terbuai, dia bisa dengan cepat membuat aku lemah dan jatuh di bawah pesonanya."
Leandra kini paham, kenapa Leana bisa begitu mencintai Leonel. Karena pria itu bisa bersikap dengan sangat manis, lembut dan pandai membuat dirinya seakan melayang ke atas awan.
Tidak sampai setengah jam Leandra sudah keluar dari dalam kamar mandi, dia hanya menggunakan handuk yang menutupi tubuhnya sampai sebatas dada.
Melihat istrinya yang berjalan dengan hati-hati, Leonel langsung menggendong Leandra dan mendudukkannya di depan meja rias.
"Rambutnya dikeringkan dulu, abis itu pake baju terus sarapan." Leonel dengan cepat mengambil hair dryer dan mengeringkan rambut Leandra.
Leandra hanya terdiam mendapatkan perlakuan yang begitu manis dari suaminya, setelah rambut Leandra kering, Leonel langsung memberikan satu stel baju yang sudah dia siapkan kepada Leandra.
"Pakailah, setelah itu kita sarapan."
Leandra menganggukan kepalanya seraya menerima pakaian yang diberikan oleh Leonel, setelah itu Leandra berkata.
"Aku akan memakai bajunya, Kakaknya madep sono dulu," ucap Leandra.
"Pakailah bajunya, tidak perlu meminta aku untuk menghadap ke mana pun. Karena aku akan tetap memperhatikan kamu," jawab Leonel.
Leonel sama sekali tidak berniat untuk menggauli istrinya kembali, dia hanya ingin memperhatikan istrinya. karena dia takut jika istrinya akan membutuhkan bantuan darinya.
"Tapi aku malu, sekarang Kakak'nya madep sono dulu!"
Leandra terlihat kesal karena Leonel tidak mau menurutinya, walaupun mereka sudah bergumul tanpa busana, tetap saja Leandra merasa sangat malu jika Leonel harus melihat dirinya berganti baju.
"Ya ampun, Leandra, Sayang. Aku sudah melihat semuanya, apalagi yang membuat kamu malu?" tanya Leonel.
Setiap lekuk tubuh istrinya bahkan Leonel sudah sangat paham, Leandra memiliki dada yang lumayan besar. Leandra juga memiliki bokong yang nampak menggoda di matanya.
Lehernya terlihat begitu jenjang, hal itu membuat dirinya ingin terus mengecupi setiap inci leher istrinya tersebut.
"Kakak ngga paham, ya sudah. Kalau kakak nggak mau madep sono, aku nggak bakal pakai baju. Aku juga nggak bakal kuliah, aku mau diam aja di kamar. Aku juga ngga mau ngomong sama Kakak!" seru Leandra.
"Ya sudah, kamu pakai bajunya. Aku tunggu kamu di atas sofa," ucap Leonel mengalah karena dia melihat istrinya yang mulai marah.
Leonel duduk di atas sofa membelakangi Leandra, Leandra tersenyum lalu memakai bajunya dengan cepat. Dia juga memoles wajahnya dengan make up tipis dan memakai gincu berwarna merah muda.
__ADS_1
Tidak lupa dia mengikat rambutnya tinggi-tinggi, tetapi dahinya langsung mengernyit ketika dia melihat ada tanda merah keunguan di leher bagian belakangnya.
Tidak lama kemudian dia tersenyum, karena tadi malam Leonel memang mengecupi leher sampai ke pundaknya.
"Ck! Ini pasti kerena kelakuan suamiku yang nyebelin itu," keluh Leandra seraya mengurai rambutnya.
Walaupun merasa kesal, tetapi dia tidak mengatakan apa pun lagi. Dia hanya terdiam, lalu dia duduk tepat di samping Leonel.
"Aku sudah selesai," ucap Leandra.
"Hem, sekarang kita makan." Leonel langsung menyuapi istrinya dengan telaten, Leandra dengan senang hati menerima setiap suapan dari suaminya.
"Enak?" tanya Leonel.
Leandra mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu dia tersenyum dengan sangat manis ke arah suaminya itu.
"Enak, aku sudah kenyang. Sekarang giliran Kakak makan," ucap Leandra seraya mengambil alih sendok dari tangan Leonel.
"Aku makan sendiri saja, kamu minum obatnya." Leonel menyerahkan obat anti nyeri kepada Leandra.
"Terima kasih," ucap Leandra.
Lima belas menit kemudian, kedua insan rupawan yang sudah menjadi suami istri itu akhirnya pergi menuju kampus tempat di mana Leandra menimba ilmu.
Sepanjangan perjalanan menuju kampus, tangan kiri Leonel terus saja menggenggam tangan kanan istrinya. Dia seolah tidak rela untuk melepaskan tangan istrinya tersebut.
"Sudah sampai, kamu tunggu sebentar."
Setelah mengucapkan hal itu, Leonel turun dengan cepat dari mobilnya. Kemudian, dia membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Turunlah, Sayang." Leonel tersenyum hangat.
"Hem, terima kasih," ucap Leandra. ''Aku mau ke kampus, Kakak pulanglah."
"No! Aku akan menemani kamu seharian," ucap Leonel disertai gelengan kepala.
Leandra langsung membulatkan matanya dengan sempurna mendengar apa yang dikatakan oleh Leonel, jika seperti itu, maka teman-temannya akan tahu jika Leonel sudah menjadi suaminya.
"Kakak pulang saja, aku mau kuliah. Atau ngga, Kakak kerja aja," usir Leandra halus.
"Tidak bisa, aku akan tetap ikut bersamamu. Aku akan mengawasimu, kalau kamu nanti sakit aku bisa dengan cepat membawamu pulang."
Leonel begitu enggan untuk meninggalkan istrinya, sedangkan Leandra merasa kesal karena Leonel dirasa begitu posesif.
"Tidak usah, aku sudah sembuh," ucap Leandra.
Untuk saat Leonel terdiam, dia memperhatikan wajah istrinya yang seakan enggan untuk berdekatan dengan dirinya.
__ADS_1
"Jangan bilang kalau kamu malu jika aku temani?" tanya Leonel.
"Eh? Aku---"