Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 86


__ADS_3

"Satu kali, kalau ngga mau ya udah." Leandra menatap Leonel dengan tatapan penuh ancaman. Pria itu langsung menundukkan kepalanya dengan lesu.


Leandra ingin sekali menertawakan tingkah dari suaminya itu, tetapi dia merasa tidak tega. Pada akhirnya dia terlihat menghela napas berat, kemudian dia bertanya kepada suaminya tersebut.


"Mau tidak? Kalau tidak mau ya udah, abis makan aku mau langsung tidur lagi." Leandra langsung menyuapkan satu sendok penuh nasi ke dalam mulutnya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, Leonel sangat ketakutan. Dia tidak mau ditinggal tidur oleh istrinya, sangat rugi kalau tidak bisa bermesraan sebelum tidur dengan istrinya itu.


"Eh? Jangan tidur, hampir seharian kamu tidur. Nanti malam kamu pasti susah tidur, jadi... kita itu dulu. Ngga apa-apa walaupun hanya sekali," ucap Leonel dengan wajah pasrah.


Namun, tanpa Leandra duga Leonel sudah merencanakan sesuatu. Dia sangat tahu jika istrinya itu begitu mudah terangsang, dia sudah berencana akan menggunakan kelemahan istrinya itu agar bisa mendapatkan haknya sebanyak dua kali.


"Iya, aku ngga bakal tidur dulu. Lagian, habis makan itu tidak boleh langsung tidur. Nanti, malah jadi penyakit. Kakak ngomong terus, mending makan yang banyak," ucap Leandra seraya menyuapi Leonel.


"He'em," jawab Leonel dengan mulut yang penuh dengan makanan.


Tidak ada lagi pembicaraan di antara keduanya, mereka melaksanakan makan malam tanpa ada lagi perdebatan.


Setelah makan malam selesai, Leandra mengajak Leonel untuk menonton serial drama. Hal itu dia lakukan karena jika Leandra langsung mengajak Leonel untuk masuk ke dalam kamar, dia takut jika suaminya itu akan langsung mengajak dirinya untuk bercinta.


"Mau nonton film apa?" tanya Leonel.


"Kakak diam saja, biar aku yang pilihkan," ucap Leandra seraya mencari-cari film kesukaannya.


"Hem," ucap Leonel pasrah.


Keesokan paginya.


Leandra nampak terdiam seribu bahasa, karena ternyata tadi malam suaminya kembali mengajak dirinya bercinta setelah istirahat selama lima belas menit.


Awalnya Leonel berkata hanya ingin memeluk istrinya agar bisa tertidur dengan pulas, tetapi perkataan suaminya itu memang tidak bisa dipegang.


Leonel langsung mengusap setiap titik sensitif pada tubuh istrinya, hal itu membuat Leandra lama-lama tidak tahan dan terperangkap kembali dalam lautan kenikmatan yang Leonel suguhkan.


"Jangan marah lagi, aku harus berangkat bekerja sekarang. Hari ini aku akan sangat sibuk, mungkin nanti siang juga Lucky akan menjemput kamu dan mengantarkan kamu untuk pulang. Bahkan, untuk makan malam pun aku tidak bisa pulang," ucap Leonel.


Untuk sesaat Leandra terdiam, tetapi tidak lama kemudian dia langsung menolehkan wajahnya ke arah suaminya tersebut.


"Memangnya Kakak mau makan malam di mana?" tanya Leonel.


Leonel langsung melebarkan senyumnya, karena akhirnya istrinya mau berbicara kembali kepada dirinya. Walaupun saat dia berucap terdengar begitu ketus di telinganya.


"Belum tahu, karena makan malam nanti akan ditentukan oleh tuan Leonard di mana tempatnya." Leonel duduk di tepian tempat tidur, lalu menarik lembut Leandra ke dalam pelukannya.

__ADS_1


"Tapi, pulangnya jangan terlalu larut. Aku tidak ada teman, kalau perlu Kakak harus mengabari aku setiap Kakak melakukan aktivitas." Leandra melerai pelukannya, lalu dia menatap Leonel dengan lekat.


Padahal, tadi dia merasa sangat kesal kepada suaminya. Namun, ketika dia mendengar Leonel akan sibuk hari ini, rasanya hatinya tidak rela.


Dia dan juga Leonel sudah terbiasa bersama, pasti dia akan merasa kesepian di dalam rumah tanpa ada suaminya tersebut.


"Iya, nanti aku akan terus memberikan kamu kabar." Leonel menunduk dan langsung menautkan bibirnya kepada bibir Istrinya.


Leandra yang awalnya diam saja, langsung membalas apa yang dilakukan oleh suaminya tersebut. Dia membalas pagutan dari suaminya.


"Kamu sangat cantik, terima kasih karena sudah mau menjadi istriku." Leonel mengusap bibir Leandra yang basah karena ulahnya.


Leandra tersipu, baru beberapa hari menikah dengan Leonel. Namun, dia merasa sangat nyaman bisa bersama dengan pria itu.


Terlebih lagi Leonel memperlakukan dirinya dengan begitu baik, dia merasa menjadi istri yang sesungguhnya. Walaupun, pernikahan mereka bukan didasari rasa cinta.


"Hem, Kakak beneran mau berangkat sekarang? tidak mau sarapan dulu gitu?" tanya Leandra yang seakan begitu enggan berpisah dengan suaminya.


Leonel bisa melihat jika Leandra masih ingin bersama dirinya, tetapi dia tidak bisa mengabaikan pekerjaannya yang sangat menumpuk.


"Iya, aku sarapannya nanti di kantor saja. Maaf tidak bisa menemani kamu sarapan," ucap Leonel penuh sesal.


Leandra mengeratkan pelukannya, dia bahkan terlihat mengusakkan wajahnya pada dada bidang suaminya.


"Hem, hati-hati." Leandra menarik tengkuk leher Leonel dan mengecup bibir suaminya.


Dalam hati Leonel ingin sekali tertawa, karena gini istrinya itu mulai bersikap dengan berani. Leonel sangat suka, terlebih lagi Leandra melakukannya tanpa paksaan.


"Nakal!" seru Leonel.


Jika saja hari ini tidak banyak pekerjaan yang sudah menunggu, rasanya dia begitu enggan untuk pergi dan meninggalkan istrinya sendirian di dalam rumah.


Lebih tepatnya, dia ingin mengajak istrinya berlibur dan menghabiskan waktu bersama. Dia ingin seperti pengantin baru lainnya, bisa berbulan madu ke tempat yang sangat mereka inginkan.


"Nggak apa-apa, nakalnya sama suami sendiri," jawab Leandra seraya menuntun suaminya agar segera keluar dari kamar utama.


Tentu saja tujuannya untuk mengantarkan suaminya yang hendak bekerja, agar suaminya semangat setelah diantarkan sampai ke halaman depan.


"Hati-hati," ucap Leandra seraya melambaikan tangannya.


Leonel tersenyum seraya membalas lambaian tangan istrinya, lalu dia menaikan kaca mobilnya yang sudah mulai melaju menuju perusahaan Harold.


"Ck! Kalau dia ada terasa sangat menyebalkan, tapi kalau sudah berangkat rasanya malah kangen." Leandra tersenyum, kalau dia langsung melangkahkan kakinya menuju ruang makan.

__ADS_1


Perutnya terasa sangat lapar, badannya juga terasa begitu lemas. Karena Leonel mengajak dirinya untuk bercinta sampai pukul 1 malam.


Selepas sarapan, Leandra kembali masuk ke dalam kamar utama. Dia yang masih merasa penasaran langsung menghubungi tuan Lincoln, dia ingin bertanya tentang Lana dan juga Lingga kepada ayahnya tersebut.


"Halo, Dad!" sapa Leandra.


"Ya, Sayang," jawabnya dengan riang.


Hati Leandra menghangat mendengar sapaan dari ayahnya, dia ikut senang karena dia bisa menebak jika keadaan ayahnya saat ini begitu baik.


Leandra juga merasa senang, karena tadi malam dia mendapatkan kabar dari Lindsay jika wanita itu kini sedang pergi berlibur ke luar negeri.


Dia ingin mengurus hidupnya tanpa membebani pikiran, dia akan mulai menyibukkan diri dengan banyak aktivitas. Dia tidak mau lagi memikirkan tuan Lincoln yang pastinya sedang merasa sangat senang berada di samping Lili.


"Ehm! Dad, bolehkah aku bertanya?"


Sebenarnya Leandra merasa ragu untuk menanyakan hal ini, tetapi tetap saja dia merasa penasaran. Walaupun jika memang benar ayahnya yang melakukan hal tersebut, Leandra tahu dia melakukannya karena ingin memberikan efek jera kepada kedua sahabatnya itu.


"Tanyakanlah apa yang ingin kamu ketahui, tidak usah sungkan." Tuan Lincoln terkekeh mendengar putrinya bertanya seperti itu.


Dia merasa jika putrinya semakin dewasa saja setelah menikah, bahkan untuk bertanya pun dia meminta izin terlebih dahulu.


"Dad, Lana dan Lingga sekarang keadaannya sangat mengkhawatirkan. Apakah itu semua ada campur tangan Daddy?" tanya Leandra.


Mendengar pertanyaan dari putrinya, tuan Lincoln terdiam. Dia memang ingin mengerjai Lana dan juga Lingga, karena kedua sahabat dari Leandra itu sudah berani-beraninya berniat jahat terhadap putrinya.


Namun, hal itu belum dia wujudkan. karena dia begitu sibuk mengurusi dirinya bersama dengan Lili, dia begitu sibuk pergi ke sana kemari mengenang tempat-tempat di mana dia dan Lili Dulu sering pergi bersama.


"Maksud kamu bagaimana? Campur tangan Daddy seperti apa? Beberapa hari ini Daddy sangat sibuk, jadi Daddy tidak memikirkan kedua teman kamu itu."


Leandra langsung mengerutkan dahinya dengan dalam, walaupun perusahaan milik ayah Lana dan juga Lingga tidak sebesar perusahaan Axton dan juga Harold. Namun, perusahaan yang mereka jalankan masih bisa berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan.


Tentunya karena memang mereka berlindung di balik orang-orang besar, kecuali memang ada orang yang berpengaruh dan berniat untuk menghancurkan kedua perusahaan dari ayah sahabatnya itu.


"Oh, Aku kira Daddy tahu. Soalnya perusahaan ayah Lana dan juga Lingga langsung bangkrut dalam waktu yang sangat singkat," ucap Leandra.


"Coba tanya sama suami kamu, mungkin dia tahu." Tuan Lincoln memberikan saran kepada putrinya.


Karena setahunya Leonel begitu marah dengan apa yang dilakukan oleh kedua sahabat dari Leandra itu, dia memang seorang pria. Menurutnya, pria sejati tidak akan melakukan hal konyol seperti apa yang dilakukan oleh Lana dan juga Lingga.


"Suami aku? Kak Leon? Apa untungnya dia melakukan ini semua untukku?" tanya Leandra dengan bingung.


"Dia suami kamu, Lea. Dia pasti akan sangat marah ketika ada orang lain yang berniat jahat terhadap kamu," jelas Tuan Lincoln.

__ADS_1


"Benarkah? Kak Leon--"


__ADS_2