Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 105


__ADS_3

Seperti yang sudah mereka rencanakan, selepas sarapan pagi Leandra meminta Leonel untuk mengantarkan dirinya ke sungai. Dia ingin bermain di sana, karena di ibu kota tidak ada sungai yang jernih seperti di sana.


Leandra ingin memanfaatkan waktu mumpung dia berada di sana, karena kesempatan untuk menikmati keindahan alam yang ada di kota B belum tentu dia bisa nikmati kembali.


Tentu saja sebelum pergi ke sungai, Leandra mengajak serta Lucky karena takut akan membutuhkan pria itu. Dia sangat tahu karena suaminya itu memiliki alergi dingin, takut-takut akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.


"Kamu ikut ya, Kak. Temani kami," pinta Leandra.


"Saya akan menunggu di sini saja, terima kasih tawarannya." Lucky tersenyum canggung.


Mendengar ucapan dari Lucky, Leandra langsung menatap Leonel dengan lekat. Dia seolah berkata jika Lucky harus ikut bersama dengan mereka.


"Ini perintah, bukan tawaran!" jelas Leonel seraya menepuk pundak Lucky.


Lucky langsung menghela napas berat, dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Jika menolak, dia takut Leonel akan marah kepada dirinya, tetapi jika ikut dia malas bermain air.


Dia terlahir di kampung, bermain air adalah kegiatannya sehari-hari ketika dia di kampung. Jika sekarang harus bermain air, dia merasa kembali ke masa lalunya. Semakin rindu saja dia dengan kedua orang tuanya, ingin pulang rasanya.


"Tapi, Tuan, Nyonya. Masa saya hanya menjadi penonton? Saya ngga mau ah, masa kalian mesra-mesraan saya hanya diam duduk di atas batu kaya orang lagi nyari wangsit!" keluh Lucky.


"Oh ya ampun, ayolah Lucky. Kamu bisa meminjam alat pancing dan memancing di sana sambil menjaga kami," bujuk Leonel.


"Kalau untuk menjaga kalian, aku sudah menyiapkan beberapa bodyguard. Anda tidak perlu khawatir," jelas Lucky seraya menunjuk beberapa orang yang bertubuh tinggi tegap tidak jauh dari mereka.


"Aku paham, tapi rasanya aku tidak mau pergi jika kamu tidak mau ikut," rajuk Leonel. "Itu artinya, kamu harus bersiap untuk menerima kemarahan istriku," imbuh Leonel.


"Ya ampun, dasar bos lucnut!" gerutu Lucky tanpa terdengar oleh Leonel, karena walau bagaimanapun juga dia takut jika Leonel akan memecat dirinya.


Liliu yang kebetulan lewat dan melihat perdebatan di antara Lucky dan Leonel langsung menghampiri mereka, lalu gadis itu pun bertanya.


"Ada apa ini? Kenapa kalian malah berdebat di pagi hari yang indah ini?" tanya Liliu.


Bukannya menjawab pertanyaan dari Liliu, Leonel dan juga Lucky malah saling pandang. Mereka seolah bingung harus berkata apa, karena takut Leandra akan marah.


Melihat Leonel dan juga Lucky yang malah terdiam seraya saling pandang, Leandra tersenyum kecut lalu berkata.


"Kami mau ke sungai, tapi Lucky tidak mau ikut," jawab Leandra.


Mendengar akan hal itu, Liliu langsung melebarkan senyumnya. Dia merasa bosan jika harus berlibur sendirian, sepertinya ikut bergabung adalah hal yang menyenangkan, pikirnya.


"Bolehkah aku ikut?" tanya Liliu penuh harap.


Wanita itu bertanya kepada Leonel, tetapi tatapan matanya terus saja tertuju kepada Lucky. Pria yang tadi malam sudah makan bersama dengan dirinya, bahkan mereka bercanda tawa sampai tengah malam tiba.


Leonel yang takut istrinya akan cemburu langsung bertanya kepada Leandra, karena dia tidak mau terjadi kesalahpahaman di antara dirinya dan juga istrinya.


"Sayang, bolehkan wanita itu ikut?" tanya Leonel yang tidak berani menyebutkan nama Liliu.

__ADS_1


Untuk sesaat Leandra terdiam, dia malah memperhatikan interaksi antara Lucky dan juga Liliu. Mereka memang tidak saling bicara, tetapi saat pandangan mereka bertemu ada senyum yang tidak biasa di antara keduanya.


Melihat akan hal itu, Leandra jadi berpikir jika Liliu kini sudah dekat dengan asisten pribadi dari suaminya itu. Apa salahnya mengajak Liliu, pikirnya.


Mungkin saja dengan adanya Liliu, Lucky tidak akan keberatan menjaga mereka di sungai. Karena dia dan juga Liliu bisa bermain bersama.


"Ikutlah, lagian Kak Lucky juga sendirian. Kalau ada kamu, kalian bisa bermain bersama." Leandra menolehkan wajahnya ke arah Leonel, lalu menampilkan senyuman penuh arti.


Liliu langsung tersenyum, berbeda dengan Lucky yang salah tingkah dan langsung menolehkan wajahnya ke arah lain.


"Ehm! Sepertinya kita harus segera pergi, aku sudah tidak sabar untuk bermain air." Leandra langsung menarik lengan suaminya, Leonel tersenyum seraya merangkul pundak istrinya.


Akhirnya mereka berempat pun pergi ke sungai, dengan penuh kehati-hatian Leonel menuntun tangan istrinya.


Begitupun dengan Lucky dan juga Liliu, tanpa sadar tangan mereka saling bertaut saat berjalan menuju sungai.


"Pemandangannya sangat indah, begitu asri dan udaranya begitu segar," ucap Leandra seraya menghirup oksigen dengan rakus.


Tentu saja dia melakukan hal itu, karena di pusat kota mereka tidak pernah merasakan udara yang begitu segar seperti ini.


"Kamu benar, Nyonya Leon. udara di sini terasa begitu segar dan menyejukkan," ucap Liliu menimpali.


Leandra menolehkan wajahnya ke arah Liliu, dia tersenyum kala melihat tangan keduanya yang saling bertaut. Leandra langsung menatap wajah suaminya dan berkata.


"Sepertinya akan ada yang menyusul untuk menikah, mereka terlihat tidak sabar untuk cepat meresmikan hubungan." Leandra berbicara tanpa menolehkan wajahnya ke arah Liliu dan juga Lucky.


Melihat akan hal itu, Leonel langsung paham dengan apa yang dimaksud oleh istrinya. Dia langsung tersenyum karena ternyata wanita yang biasa menggoda dirinya kini sudah berpaling, tentunya hal itu begitu menguntungkan bagi Leonel.


"Temani istriku bermain air, aku akan duduk di tepian," ucap Leonel pada Liliu. Dia seolah tidak mau membahas apa yang terjadi di antara keduanya, takutnya keduanya akan saling menjauh karena malu.


"Siap, Tuan Leon." Liliu tersenyum hangat lalu menghampiri Leandra.


Leonel dan Lucky hanya berdiam diri di atas batu seraya memperhatikan kelakuan Liliu dan juga Leandra yang begitu asik bermain air, sesekali mereka akan tertawa melihat keseruan di antara keduanya.


Tidak jauh dari sana, Luna dan juga suami serta anaknya sedang bermain air. Dia sempat memperhatikan kedekatan antara Lucky dan juga Liliu.


Walaupun mereka berkata sudah berpacaran, tetapi tetap saja dia merasa cemburu. Dia merasa kesal dan juga merasa mual kala melihat keduanya saling pandang dan tersenyum dengan malu-malu.


"Liat apa sih, Bun? Dari tadi liatin ke sana mulu?" tanya Latif, suami dari Luna.


"Itu, Yah. Mereka kayaknya asik banget main airnya," tunjuk Luna pada Leandra dan juga Liliu.


"Eh? Itu ada tuan Leonel sama tuan Lucky juga," ucap Latif.


"Ayah kenal?" tanya Luna pura-pura bodoh.


"Kenal, Sayang. Tuan Lucky itu berasal dari kampung yang sama dengan kita, dulu dia hanya anak petani sayur loh. Tapi sekarang sudah sukses di kota," jawab Latif.

__ADS_1


Luna mengerucutkan bibirnya, kalau saja dulu dia tidak meninggalkan Lucky, mungkin saja Luna sudah hidup bahagia dengan Lucky di kota, pikirnya.


Tidak seperti dengan Latif yang selalu berkata tidak tega untuk meninggalkan kedua orang tuanya, Luna harus tinggal satu atap dengan mertuanya.


"Kita ikut nimbrung sama mereka yuk, Yah. Siapa tahu nanti Ayah bisa dapet kerjaan juga dari tuan Leonel," bujuk Luna.


"Ah, kamu tuh ada-ada saja. Kalau untuk menyapa Ayah ayo aja, kalau untuk meminta pekerjaan ya ngga bisa. Bekerja di sebuah perusahaan itu tidak bisa asal pindah seperti Tupai yang loncat dari satu pohon ke pohon lainnya, Bun," jelas Latif.


"Iya, iya. Ayo cepet kita temui mereka," ajak Luna yang merasa tidak sabar.


Hatinya merasa kesal saat melihat Liliu hampir terjatuh, tetapi dengan sigap Lucky menarik tangan Liliu sampai gadis itu memeluk erat tubuh Lucky karena takut jatuh kembali.


"Ehm! Kayaknya bakalan ada yang jadian nih pulang dari sini," goda Leandra.


Leonel tidak berkata apa pun, dia hanya terkekeh seraya memperhatikan wajah Lucky dan juga Liliu yang memerah.


"Waaah! Sepertinya sangat seru, boleh kami bergabung?" tanya Latif.


Lucky langsung melerai pelukannya, lalu dia menolehkan wajahnya ke arah Latif. Begitupun dengan Leonel dan juga Leandra, mereka langsung menatap Latif dan juga Luna secara bergantian.


"Eh, Tuan Latif. Sedang liburan juga?" tanya Leonel menyapa.


"Lagi kerja, Tuan. Tapi sekalian ngajak anak dan istri liburan," jawab Latif.


"Hem! Kita memang harus pandai memanfaatkan situasi, bekerja dan juga bisa berlibur dalam waktu yang sama," ucap Leonel.


"Ya anda benar, untuk kalian yang sudah berkeluarga bisa berlibur. Aku hanya jadi penonton," celoteh Lucky.


"Kalau begitu cepatlah menikah, bukankah wanita yang ada di samping anda sangat cantik?" usul Latif seraya memandang wajah Lucky dan juga Liliu secara bergantian.


Lucky dan Liliu saling pandang, tidak lama kemudian mereka tersenyum seraya menatap Luna yang terlihat begitu kesal.


"Kami memang akan segera menikah, nanti aku akan mengantarkan undangannya khusus untuk kalian. Iya, kan, Sayang?" tanya Liliu seraya menatap wajah Lucky.


"Iya," jawab Lucky yang sengaja menimpali ucapan Liliu, mereka mengatakan hal itu agar Luna tidak lagi mendekati Lucky.


Leonel dan juga Leandra nampak menatap Lucky dan Liliu dengan tatapan tidak percaya, mereka bahkan langsung mengusap kupingnya karena takut salah mendengar.


Berbeda dengan Luna yang nampak kesal, dia bahkan berusaha untuk mendorong tubuh Liliu yang berada tidak jauh darinya.


Dengan perlahan Luna menurunkan putrinya, lalu dia menyengkat kaki Liliu dari balik tubuh putrinya itu. Liliu yang tidak siap langsung terjengkang dan....


Brugh!


"Argh!" teriak Liliu yang sudah terjatuh ke dalam air, kepalanya bahkan terlihat berdarah karena terbentur batu.


"Nona!" teriak Lucky dengan panik.

__ADS_1


"Tolong aku, ini sangat--"


__ADS_2