Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
108


__ADS_3

Lucky benar-benar kebingungan menghadapi tingkah manja dari Liliu, terlebih lagi Leonel dan juga Leandra malah meninggalkan dirinya di sana. Mereka beralasan akan bersenang-senang di atas ranjang, tentu saja Lucky tidak bisa melarang.


Karena tujuan Leonel datang ke sana memang untuk berbulan madu, mereka pasti akan terus memadu kasih agar bisa segera mendapatkan keturunan. Generasi penerus Harold.


Setelah menikmati makan malamnya, kini Liliu sudah tertidur dengan begitu pulas. Wajahnya begitu berseri, nampak sekali jika dirinya begitu bahagia hari ini.


"Lucky, Daddy dengar kamu ada waktu dua hari lagi untuk berlibur. Daddy ada pekerjaan mendesak, kamu bisa, kan, jaga putri Daddy?" pinta Tuan Leonard.


Lucky benar-benar bingung harus menjawab apa, dia memang merasa sedih karena sendirian di saat bosnya sedang berbulan madu. Namun, bukan berarti harus menjaga anak gadis orang juga.


"Tapi, Om. Ehm, maksudnya, Dad. Aku benar-benar tidak ada hubungan apapun dengan nona Liliu," ucap Lucky dengan jujur.


"Daddy tahu, dia sedang kehilangan ingatan. Dokter berkata jika Itu adalah pengaruh psikologisnya, Liliu merasa hidupnya begitu berat. Dia seolah ingin melupakan banyak hal yang hanya akan membuat dirinya sedih," tutur Tuan Leonard.


Tuan Leonard sangat paham jika selama ini pasti Liliu sangat tertekan, dia tumbuh dan besar dengan diasuh oleh pembantu. Sedangkan dirinya begitu sibuk untuk bekerja, dia bahkan sampai tidak memikirkan pasangan hidup.


Dia hanya berpikir bagaimana caranya mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang banyak, agar putrinya bisa senang. Tuan Leonard berpikir, jika dia memiliki banyak uang Liliu pasti sangat bahagia dan bisa mendapatkan apa pun yang dia inginkan.


Ternyata kini dia sangat menyadari, jika pola asuhnya salah. Seharusnya dia menyempatkan banyak waktu untuk berinteraksi dengan putrinya, bukan hanya memberi limpahan uang semata.


"Kamu tahu, Lucky? Dia itu mempunyai tempramen yang tidak baik, dia memiliki sisi yang buruk yang susah Daddy rubah. Namun, dengan kejadian ini Daddy merasa bersyukur. Karena Daddy bisa melihat kebahagiaan dari sorot mata Liliu ketika melihat kamu," jelas Tuan Leonard.


Lucky terdiam, dia bingung harus menjawab apa setiap ucapan yang dilontarkan oleh tuan Leonard. Tidak bisa dia pungkiri jika Liliu adalah gadis yang begitu manis, apalagi ketika dia mendengar jika gadis itu pergi berlibur karena saran dari dirinya.


"Jika kamu bisa, tolong temani putriku. Aku yakin dia bisa berubah di tanganmu, aku mohon." Tuan Leonard meminta dengan begitu tulus, wajahnya terlihat mengiba.


Hal itu membuat Lucky menjadi tidak tega, pada akhirnya dia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


"Aku akan menjaga nona Liliu untuk anda," ucap Lucky yakin.


"Terima kasih, aku harus pergi sekarang. Tolong jaga putriku," pinta Tuan Leonard.


"Hati-hati, aku pasti akan menjaga putri anda." Lucky membuka hormat.


Tuan Leonard menepuk pundak Lucky dengan perlahan, setelah itu dia berpamitan untuk segera pergi ke ibu kota.

__ADS_1


Selepas kepergian tuan Leonard, Lucky menatap wajah Liliu yang masih memucat. Dia tidak menyangka jika dirinya akan menjadi sebagian ingatan yang diinginkan oleh wanita itu.


"Seharusnya tuan Leon yang kamu ingat, biar aku tidak kebingungan seperti ini." Lucky yang merasa lelah langsung merebahkan tubuhnya di atas bangku tunggu.


Lalu, dia menyandarkan punggungnya dan melipatkan kedua tangannya di depan dada. Dia sangat lelah, dia ingin tidur walaupun dalam keadaan duduk.


Namun, baru saja Lucky hendak masuk ke alam mimpinya, Dia merasakan pergerakan dari Liliu, hal itu mengganggu dirinya dan Lucky pun segera membuka matanya.


"Ada apa, hem?"


"Aku mau pipi, tapi kaki aku lemes banget. Boleh minta tolong?" pinta Liliu dengan manja.


"Boleh," jawab Lucky.


Tanpa banyak bicara Lucky langsung menggendong tubuh Liliu, dengan sigap Liliu mengambil botol infus dan memegangnya dengan tangan kanannya.


Saat tiba di kamar mandi, Lucky langsung mendudukan Liliu pada closet tertutup. Lalu, dia bersiap untuk pergi. Namun, hal itu tidak dia lakukan karena mendengar suara Liliu.


"Jangan pergi, setidaknya tolong pegang botol infusnya." Liliu menyerahkan botol infusnya kepada Lucky.


''Baiklah," ucap Lucky pada akhirnya.


Lucky memegangi botol infusnya seraya membelakangi Liliu, sedangkan gadis itu nampak menuntaskan hajatnya walaupun masih terlihat kesusahan.


"Terima kasih, aku sudah selesai." Liliu menarik kemeja yang Lucky pakai.


Lucky menyerahkan botol infusnya kepada Liliu, setelah itu dia kembali menggendong gadis itu untuk beristirahat di atas bed pasien.


"Tidurlah, biar cepat sembuh," ucap Lucky seraya menarik selimut untuk menutupi tubuh Liliu.


Menurutnya, Liliu harus segera tidur agar bisa cepat sembuh. Karena dengan seperti itu, dia akan segera terbebas dari wanita itu.


"Aku akan tidur, tapi... bisakah kamu tidur bersamaku? Aku tidak tega kalau harus lihat kamu tidur sambil duduk," pinta Liliu.


Lucky langsung membulatkan matanya dengan sempurna mendengar apa yang dikatakan oleh Liliu, dia tidak menyangka jika gadis itu akan mengatakan hal tersebut.

__ADS_1


"Eh? Mana boleh, kita belum menikah. Tidak boleh tidur dalam satu ranjang yang sama," tolak Lucky.


Rasanya akan sangat canggung jika mereka tidur dalam satu ranjang yang sama, terlebih lagi mereka tidak memiliki ikatan apa pun. Jika saja gadis itu tidak kehilangan ingatannya, Lucky tidak akan mau berada di sana.


"Hanya tidur bareng, Yang. Masa ngga mau?" ucap Liliu dengan bibir mengerucut.


Dia bukan mau mencari kesempatan dalam kesempitan, dia hanya merasa tidak tega saat membayangkan Lucky yang tidur seraya duduk di bangku tunggu.


"Eh? Nanti aku khilaf, terus aku malah tidurin kamu. Itu bahaya, aku ini lelaki normal. Mana bisa tidur gitu aja sama kamu," tolak Lucky.


"Ya Tuhan! Aku yakin kamu tidak akan melakukan hal itu, kamu pasti merasa kasihan saat melihat keadaanku yang menyedihkan ini."


Untuk sesaat Lucky terdiam, dia memperhatikan Liliu dengan seksama. Kepalanya diperban karena terbentur batu, di tangan kirinya menancap jarum infus dan wajahnya begitu pucat.


"Oh ayolah, Sayang. Aku tahu kamu pria baik, kemarilah. Tidur denganku," rengek Liliu.


"Baiklah,'' jawab Lucky pada akhirnya.


Liliu begitu senang mendengar jawaban dari Lucky, dia bahkan langsung menggeser letak tidurnya. Hal itu dia lakukan agar ranjang tersebut muat untuk tidur mereka berdua.


Dengan ragu Lucky merebahkan tubuhnya di samping Liliu, berbeda dengan Liliu yang tanpa ragu langsung memeluk Lucky dan menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu.


"Eh? Jangan peluk aku kaya gini!" larang Lucky karena jantungnya berdetak dengan sangat cepat.


Perasaannya benar-benar tidak karuan, berada di dekat Liliu membuat dirinya hampir pingsan karena sesak napas. Oksigen di dalam ruangan tersebut seakan tidak ada, Lucky benar-benar merasa sulit untuk bernapas.


"Ngga apa-apa, Yang. Kan kita itu pasangan dewasa, melakukan itu pun sudah boleh. Tapi, kamu nikahin aku dulu. Baru boleh minta itu," ucap Liliu seraya mendongakkan kepalanya lalu menatap Lucky dengan intens.


Tangan Liliu mulai nakal dan mengusap dada Lucky, pria itu bahkan sampai menahan napasnya saat mendapatkan perlakuan seperti itu dari Liliu.


"Mana ada kaya gitu, ngga boleh aneh-aneh. Kamunya cepet tidur, biar cepat sembuh." Lucky berusaha untuk menenangkan hati dan pikirannya, dia bahkan terlihat menghela napas berkali-kali.


Lalu, dia menangkap tangan Liliu. Karena tangan itu terus saja mengusap dadanya, hal itu membuat tubuhnya meremang dalam seketika.


"Bentar dulu deh, Yang. Kok bau parfum kamu lain? Apa kamu ganti parfum baru?" tanya Liliu

__ADS_1


'Mampuuus!' jerit Lucky dalam hati.


__ADS_2