Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 65


__ADS_3

Awalnya Leonel ingin sekali menjelaskan kepada tuan Lincoln bahwa dirinya tidak melakukan apa pun kepada Leandra, tetapi setelah melihat tingkah dari Leandra, Leonel merasa tertantang.


Dia merasa tertantang untuk menaklukkan hati gadis yang sudah dua kali membuat nyawanya hampir hilang itu, dia merasa penasaran apakah dia mampu menaklukkan hati gadis itu atau tidak.


Terlebih lagi gadis itu adalah adik dari mendiang istrinya sendiri, rasanya jika menikah dengan Leandra pun tidak terlalu buruk, pikirnya.


Justru menikah dengan Leandra terasa lebih baik, karena banyak kemiripan yang ada pada diri Leandra dengan Leana.


Hanya saja Leandra selalu bersikap bar-bar, sedangkan Leana begitu lembut dan juga penyayang. Untuk urusan cinta, jika memang mereka berjodoh, pasti rasa cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya, pikir Leonel.


"Jadi, bagaimana? Apakah Kakak sudah siap lahir batin untuk menikah dengan aku?" tanya Leandra.


Sebenarnya Leandra sengaja mengatakan hal itu agar Leonel mundur dan tidak mau menikahi dirinya, sayangnya Leonel bukan lelaki yang seperti itu.


"Sangat siap, Leandra, Sayang." Leonel tersenyum dengan sangat manis.


Mendengar kata sayang yang keluar dari mulut Leonel, Leandra terlihat memutarkan bola matanya dengan malas. Dia bahkan terlihat memundurkan tubuhnya dengan hidungnya yang mengernyit.


"Ieeeww! Senyuman yang sangat menyebalkan, tapi aku punya syarat. Kakak harus bisa mengabulkannya," pinta Leandra.


Leonel langsung menggelengkan kepalanya dengan apa yang dikatakan oleh Leandra, syarat apa pun yang diminta oleh Leandra pasti akan Leonel kabulkan, pikirnya.


Tentunya yang terpenting untuk saat ini adalah, mereka harus menikah terlebih dahulu sesuai dengan apa yang diinginkan oleh tuan Lincoln.


"Apa itu syaratnya?"


Leandra tersenyum dengan sangat manis, kemudian dengan cepat dia mengutarakan apa syarat yang dia inginkan.


"Aku mau kalau pernikahan kita disembunyikan, jangan sampai ada orang luar yang tahu. Aku mau fokus kuliah dulu," pinta Leandra.


Leonel nampak menganggukkan kepalanya mendengar permintaan dari Leandra, itu adalah hal yang mudah, pikirnya.


Hanya merahasiakan status pernikahan mereka, lagi pula pernikahan mereka memang dilaksanakan secara tertutup dan mereka hanya menikah agama saja.


"Oke," jawab Leonel menyanggupi. "Apa ada syarat yang lain lagi?" tanya Leonel.


Dia takut jika masih ada keinginan dari Leandra yang belum dia ucapkan, Leonel akan dengan senang hati mengabulkan. Selama permintaan dari Leandra masuk akal.


"Ada, Kakak tidak boleh menyentuh aku sebelum aku mengizinkannya," celetuk Leandra.


Leonel tersenyum, karena Leandra sudah memikirkan hal tersebut. Padahal dirinya saja belum sempat berpikir untuk menyentuh Leandra.


"Hem, boleh. Terus?"


"Kita tidurnya harus terpisah," jawab Leandra.


Mendengar permintaan Leandra yang satu ini Leonel langsung menggelengkan kepalanya, dia merasa tidak setuju dengan apa yang diucapkan oleh Leandra.


"No! Kalau untuk yang satu itu aku tidak setuju, untuk apa kita menikah jika harus tidur dalam kamar yang terpisah?" ungkap Leonel keberatan.


Mendengar kalimat penolakan dari Leonel, Leandra langsung mengerucutkan bibirnya. Dia bahkan terlihat menghentak-hentakkan kedua kakinya karena kesal.


"Ck! Kakak itu menyebalkan," keluh Leandra.


Melihat Leandra yang marah, Leonel berusaha untuk merayu gadis itu. Pria dewasa itu bahkan terlihat mengelus lembut punggung Leandra lalu dia pun berkata.

__ADS_1


"Ya ampun Leandra, aku ini seorang lelaki sejati. Kalau kamu memang belum ingin aku menyentuhmu, aku tidak akan pernah menyentuhmu. Walaupun setiap malamnya kita akan tidur dalam satu ranjang yang sama, aku jamin tidak akan menyentuh kamu. Kamu bisa memegang ucapanku," ucap Leonel.


"Okeh, kalau begitu aku setuju," ucap Leandra pada akhirnya.


Lili, Lindsay dan juga tuan Lincoln bisa bernapas dengan lega mendengar apa yang dikatakan oleh Leonel dan juga Leandra.


"Bagus kalau kalian sudah sepakat, sekarang pergilah ke butik untuk membeli gaun pengantin," ucap Tuan Lincoln.


Leandra langsung menolehkan wajahnya ke arah tuan Lincoln, dia nampak tidak senang dan dengan cepat melayangkan protesnya.


"Dad, pernikahan kami hanya secara agama saja. Apa perlu memakai gaun pengantin?" tanya Leandra.


Semua orang yang berada di ruangan tersebut nampak menggelengkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh Leandra, wanita mana pun pasti akan menginginkan tampil cantik seperti puteri di saat hari pernikahannya.


Namun, berbeda dengan Leandra. Wanita itu bahkan mengatakan tidak perlu memakai gaun pengantin di saat hari pernikahan mereka. Ini sangat aneh.


"Lea, Sayang. Jangan pernah mengatakan hal seperti itu, besok adalah hari pernikahan kamu, Sayang. Kamu harus tampil cantik dan sempurna, walaupun pernikahan kalian hanya dilaksanakan secara agama."


Tuan Lincoln berusaha untuk berbicara dari hati ke hati dengan putrinya tersebut, walau bagaimanapun juga, sebagai seorang ayah dia ingin melihat penampilan terbaik dari putrinya di saat hari pernikahannya.


Leandra hanya bisa tersenyum kecut seraya menganggukkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya tersebut, walaupun pernikahan ini diadakan secara dadakan, apa yang dikatakan oleh ayahnya memang benar adanya. Dia harus tampil cantik.


"Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi, Kak. Biar cepat selesai, setelah itu aku mau pulang," ajak Leandra seraya bangun dari duduknya lalu menarik tangan Leonel untuk segera keluar dari ruangan tersebut.


Melihat Leonel dan juga Leandra yang melangkahkan kakinya untuk keluar dari kediaman Harold, Lucky langsung berpamitan kepada Lili, Lindsay dan juga tuan Lincoln untuk mengawal kedua insan berbeda jenis kelamin yang besok akan melaksanakan pernikahan itu.


"Saya permisi, Tuan," pamit Lucky.


"Ya, pergilah. Jagalah putriku," jawab Tuan Lincoln.


Setelah mengatakan hal itu Lucky langsung keluar dari kediaman Harold untuk menyusul Leonel dan juga Leandra, ternyata mereka sudah menunggu di dekat mobil milik Leonel.


"Silakan, Tuan, Nona," ucap Lucky seraya membukakan pintu mobil.


"Terima kasih," ucap Leandra seraya masuk ke dalam mobil milik Leonel itu.


Setelah memastikan Leandra dan juga Leonel duduk dengan nyaman di dalam mobil tersebut, Lucky langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di bali kemudi.


Tanpa banyak bicara, Lucky langsung melajukan mobilnya ke butik yang sempat disebutkan oleh tuan Lincoln. Butik khusus gaun pengantin termahal di kota tersebut.


Hal itu sengaja tuan Lincoln lakukan karena menurutnya walaupun Leandra hanya menikah secara agama saja, Leandra harus tampil sempurna di acara pernikahannya.


Tentu saja harapan tuan Lincoln jika Leandra hanya akan menikah satu kali saja di dalam hidupnya, menikah dengan Leonel saja.


Walaupun pernikahan mereka diawali dengan hal yang tidak terduga, tetapi tuan Lincoln tetap mendo'akan yang terbaik untuk putrinya.


Dia berdo'a semoga putrinya bisa berbahagia dan tidak akan pernah ada kata perceraian di antara keduanya, harapan sederhana dari sang ayah.


Setelah melakukan perjalanan sekitar tiga puluh menit, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Lucky berhenti tepat di depan lobi sebuah butik yang begitu mewah.


Lucky turun dari mobil dengan cepat, lalu membukakan pintu mobilnya untuk Leonel dan juga Leandra.


"Silakan, Tuan," ucap Lucky seraya membungkukkan badannya.


"Terima kasih," jawab Leonel seraya turun dari mobilnya itu.

__ADS_1


Leandra tanpa banyak bicara langsung ikut berjalan di belakang Leonel, Lucky pun melakukan hal yang sama.


Setelah mengunci pintu mobilnya, dia ikut masuk kedalam butik dan berdiri di belakang kedua insan rupawan tersebut.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya sang pemilik butik.


"Aku ingin membeli gaun pengantin untuk calon istriku," jawab Leonel.


Pemilik butik tersebut nampak memperhatikan postur tubuh Leandra, dia tersenyum lalu berkata.


"Badan Nona sangat mungil, akan banyak gaun indah yang pas di tubuh anda. Mari ikut saya," ajak sang pemilik butik.


"Oke," jawab Leandra.


Sebelum Leandra mengikuti langkah sang pemilik butik, dia mendekat ke arah Leonel lalu berkata.


"Kakak duduklah dulu di atas sofa tunggu, aku akan mencoba gaun pengantinnya. Nanti kalau aku sudah mendapatkan gaun yang cocok, aku akan menunjukkannya kepada Kakak," ucap Leandra.


"Iya," jawab Leonel singkat.


Setelah mendapatkan izin dari Leonel, akhirnya Leandra pun mengikuti langkah dari sang pemilik butik.


Cukup lama Leandra memilih gaun pengantin cantik yang berjajar rapi di dalam butik tersebut, tidak lama kemudian dia melihat sebuah gaun cantik berwarna putih tulang yang dia rasa sangat cocok di tubuh mungilnya.


Bagian pundaknya terlihat terekspose, tetapi tetap saja gaun pengantin itu terlihat sangat cantik dan juga elegan.


"Aku mau yang ini," tunjuk Leandra.


"Boleh, Nona. Sangat boleh, ini adalah gaun cantik keluaran terbaru dan terbatas," ucap sang pemilik butik.


Leandra tersenyum, lalu dia segera. membawa gaun pengantin tersebut dan segera mencobanya di dalam ruang ganti.


Tentunya dia memakai gaun pengantin itu dibantu oleh dua asisten cantik dari sang pemilik butik, karena gaun itu lumayan berat dan susah jika dipakai sendiri.


"Cantik, Nona. Sangat cantik," puji sang pemilik butik.


"Anda bisa saja," ucap Leandra tersipu.


"Memang kenyataannya seperti itu, oiya, Nona. Apa tidak sebaiknya anda segera memperlihatkannya kepada calon suami anda?" tanya sang pemilik butik.


"Ah, anda benar," jawab Leandra.


Leandra langsung keluar dari ruang ganti tersebut, lalu dia melangkahkan kakinya untuk menghampiri Leonel.


"Kak, aku cantik tidak?" tanya Leandra.


Leonel yang sedang menunduk seraya memainkan ponselnya langsung menolehkan wajahnya ke arah Leandra, untuk sesaat dia dia terpaku melihat Leandra yang ada di hadapannya.


Namun, tidak lama kemudian Leonel nampak mengerjapkan matanya dan berkata.


"Cantik, kamu sangat cantik," celetuk Leonel.


"Hah? Benarkah?" tanya Leandra tidak percaya.


"Eh? Maksudku---"

__ADS_1


__ADS_2