
Setelah berbicara panjang lebar bersama dengan Lili, tuan Lincoln memutuskan untuk pulang karena hari sudah semakin sore.
Walaupun dia ingin menginap, tetapi Lili tidak mengizinkan. Lili berkata jika Leandra pasti membutuhkan dirinya, terlebih lagi esok hari adalah pernikahan Leandra dan juga Leonel.
Berbeda dengan Leonel, pria itu langsung meminum obat flu dan juga suplemen karena kondisi tubuhnya memang masih belum fit. Setelah itu dia langsung memejamkan matanya.
Entah berapa jam dia terlelap, Leonel pun tidak tahu. Yang pasti saat dia terbangun dia merasa sinar matahari menerpa wajahnya terasa hangat dan juga terasa ada semilir angin yang masuk ke dalam kamarnya.
Leonel mengerjapkan matanya, dia berusaha untuk bangun dan segera menggeliatkan tubuhnya. Rasanya dia begitu puas setelah melalui tidur panjangnya.
Beberapa saat yang lalu Lili masuk ke dalam kamar pria itu, niat hati ingin membangunkan Leonel tetapi merasa tidak tega.
Leonel tertidur dengan sangat pulas, padahal sudah sangat lama dia jarang tidur pulas setelah kematian Leana.
Maka dari itu Lili tidak berani mengganggunya, dia hanya membuka gorden. dan juga jendela. Hal itu dia lakukan agar ada udara segar yang masuk.
"Ya Tuhan, berapa lama aku tertidur?" tanya Leonel seraya menolehkan wajahnya ke arah jam digital yang bertengger cantik di atas nakas.
Ternyata waktu menunjukkan pukul sembilan pagi, Leonel sampai menggelengkan kepalanya karena baru kali ini dia tidur dalam waktu yang begitu lama. Terasa nyenyak, nyaman dan juga terasa tanpa beban sama sekali.
"Ya ampun, aku kesiangan." Leonel kembali menggelengkan kepalanya seraya terkekeh
Setelah mengatakan hal itu Leonel langsung turun dari tempat tidur, dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan segera membersihkan tubuhnya.
Setengah jam kemudian dia keluar dari dalam kamarnya dan langsung menemui Lili, wanita paruh baya yang sudah seperti Ibu bagi dirinya.
"Bu!" panggil Leonel kepada Lili yang terlihat sedang asyik melamun di ruang keluarga.
Mendengar ada yang memanggil namanya, Lili langsung menolehkan wajahnya ke arah Leonel. Dia tersenyum kemudian menepuk sofa kosong di sampingnya.
"Duduklah, Nak. Apakah ada yang ingin kamu bicarakan?" tanya Lili.
Leonel menurut, dia duduk tepat di samping Lili kemudian memeluk wanita paruh baya itu. Wanita yang selalu memberikan semangat untuk dirinya.
"Aku tidak ingin membicarakan apa pun, aku hanya meminta kepada Ibu agar berdandan yang cantik karena nanti sore Ibu akan menghadiri acara pernikahanku. Ibu tidak keberatan kan, jika aku menikah dengan Leandra?"
Sebenarnya Leonel merasa khawatir jika Lili tidak akan suka saat dirinya memutuskan untuk menikah dengan Leandra, karena walau bagaimanapun juga Leandra adalah putri dari wanita yang sudah berebut suaminya.
__ADS_1
Namun, ternyata Lili bukanlah orang yang picik. Lili adalah wanita yang selalu berpikiran realistis, dia bukan wanita yang suka berprasangka buruk terhadap orang lain.
"Tidak, tentu saja Ibu tidak keberatan jika kamu menikah lagi. Karena memang kamu lebih baik mempunyai istri kembali, tapi satu hal yang harus kamu ingat, Leon. Pernikahan adalah hal yang sakral, jangan pernah dijadikan bahan permainan."
Lili berbicara dengan begitu serius, karena dia sangat paham saat Leonel menikahi Leana saja Leonel berniat untuk membalas rasa sakit hatinya kepada Lyra. Bukan karena cinta.
Maka dari itu Lili dengan tegas berkata seperti itu, jangan sampai Leonel menikahi Leandra karena ada maksud tertentu.
"Tidak akan, aku tidak akan mempermainkan pernikahan ini. Walaupun Leandra tidak menyukaiku, aku akan berusaha membuat dia menyukaiku. Aku tidak ingin melepaskan wanita yang--"
Leonel terdiam, dia seakan bingung harus menjelaskan seperti apa kepada Lili. Namun, walaupun tanpa Leonel berkata apa pun, Lili seakan paham.
Wanita paruh baya itu tersenyum dengan hangat, dia mengelus lembut punggung Leonel lalu dia pun berkata.
"Ingat, Nak. Leandra dan Leana adalah dua wanita yang berbeda, jangan pernah membandingkan di antara keduanya. Jika memang kamu mau menikah dengan Leandra, kamu harus memulai semuanya dari awal dengan Leandra. Jangan pernah membiarkan bayangan Leana hidup di dalam pernikahan kalian," jelas Lili.
Entah kenapa Lili merasa saat Leonel menyetujui untuk menikah Leandra, bukan karena Leonel yang menyukai garis itu.
Leonel seakan melihat bayangan Leana di dalam diri Leandra, maka dari itu Leonel menyanggupi untuk menikahi gadis itu. Lili tidak mau hal itu terjadi.
Lili tidak mau bayangan Leana hidup di antara Leonel dan juga Leandra, Leana sudah meninggal. Dia sudah bahagia di surga.
"Iya, Bu. Aku akan berusaha untuk berumah tangga dengan baik, jawab Leonel.
"Bagus, kalau seperti itu kamu harus ingat. Jangan pernah membandingkan Leana dan juga Leandra, karena mereka adalah dua wanita yang berbeda. Walaupun pada kenyataannya mereka memiliki ayah yang sama," nasehat Lili.
"Iya, Bu," jawab Leonel seraya melerai pelukannya.
"Oh ya, Bu. Nanti sore Ibu mau memakai gaun apa? Aku mau melihat ibu tampil cantik," ucap Leonel.
Dia merasa tidak enak hati karena dia malah lupa untuk membelikan gaun untuk Lili, padahal Lili adalah bagian terpenting dari hidupnya.
"Sebenarnya tadi pagi Alex mengirimkan gaun untuk Ibu, tetapi rasanya Ibu tidak pantas memakai gaun tersebut," ucap Lili.
Leonel nampak kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Lili, karena ternyata tuan Lincoln benar-benar mencintai Lili. Bahkan untuk pernikahan dirinya dan Leandra saja tuan Lincoln sampai membelikan gaun untuk Lili.
"Pakailah, Bu. Jangan sungkan, Ibu masih terlihat cantik. Ibu masih muda, jangan biarkan daddy sedih karena merasa tidak dihargai atau merasa tidak dicintai," ucap Leonel.
__ADS_1
Leonel adalah seorang pria, dia bisa merasakan apa yang tuan Lincoln rasakan jika Lili tidak memakai baju pemberian dari pria itu.
Lili langsung mencebikkan bibirnya mendengar apa yang dikatakan oleh Leonel, mentang-mentang dia akan menikah dengan Leandra kini Leonel langsung membela mertuanya tersebut, pikirnya.
"ya, terserah kamu saja," jawab Lili.
Leonel tersenyum, kemudian dia teringat akan kemarin sore di saat ada tuan Lincoln yang asik berduaan dengan Lili di kediaman Harold. Akan tetapi dia tidak menemukan Lili dan juga tuan Lincoln di mana pun.
Leonel yang merasa penasaran terlihat memperhatikan penampilan Lili, Leonel langsung tersenyum penuh arti ketika dia melihat ada beberapa tanda merah keunguan di cerukan leher Lili.
Leonel jadi membayangkan, seberapa ganas tuan Lincoln saat bercinta di atas ranjang di usianya yang sudah tidak muda lagi.
"Hei! Kenapa kamu menatap Ibu seperti itu? Senyum-senyum pula, sudah seperti orang gila saja!" celetuk Lili dengan bingung.
"Tidak apa-apa, Bu. Aku hanya sedang membayangkan ada seekor nyamuk yang begitu besar dan menghisap tubuh manusia lalu meninggalkan bekas," jawab Leonel.
Lili yang melihat cara Leonel saat menatap cerukan lehernya seakan tersadar dengan tanda cinta yang ditinggalkan oleh tuan Lincoln, dengan cepat dia bangun dan pergi dari sana.
Entah kenapa dia merasa sangat malu, di usianya sudah tua dia malah kembali memadu kasih seperti pengantin baru dengan tuan Lincoln.
Bahkan, di saat Lili dan tuan Lincoln bercinta. Lili tiada hentinya mengerang dan juga meneriakkan nama pria itu.
Pria yang sudah membuat dirinya jatuh cinta, pria yang sudah membuat dirinya merasa sengsara karena bertahun-tahun lamanya tidak bisa bertemu.
Namun, pria itu kembali datang membawa kebahagiaan yang luar biasa walaupun dengan cara yang sederhana.
"Cie, Ibu malu tuh. Makanya langsung pergi," goda Leonel setengah berteriak.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Leonel, Lili menghentikan langkahnya. Dia mengambil bantal kecil di atas sofa lalu melemparkannya ke arah menantunya itu.
"Ngga usah godain ibu, nanti ibu tinggalin tau rasa kamu!" kesal Lili. kesal dan juga malu, itulah yang Lili rasakan saat ini.
"Ehm! Ada yang marah tuh," goda Leonel lagi.
Wajah Lili semakin memerah dibuatnya, Lili benar-benar malu karena Leonel sudah mengatakan hal yang memang benar adanya.
"Leon!" teriak Lili dengan kesal.
__ADS_1
Bukannya lari, Leonel malah menghampiri Lili lalu memeluk Ibu dari mendiang istrinya tersebut. Wanita yang selalu membuat dirinya merasa tenang dengan perkataan yang keluar dari bibir wanita itu.
"Maaf, Bu. Aku---"