Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 117


__ADS_3

Setelah menuntaskan hasratnya dan juga menyelesaikan ritual mandinya, Lucky langsung keluar dari dalam kamar mandinya. Dia sempat mengedarkan pandangannya, tentu saja dia mencari sosok wanita yang sudah membangunkan ular Derik miliknya.


"Ke mana dia?" tanya Lucky seraya membuka lemari pakaiannya. Walaupun dia merasa kesal karena pagi ini Liliu sudah mengganggu dirinya, tetapi tetap saja dia peduli terhadap wanita itu.


Lucky bergegas memakai pakaiannya, karena dia ingin segera mencari wanita yang sudah menjadi kekasihnya itu. Setelah selesai berpakaian, Lucky keluar dari dalam kamarnya.


Dia melangkahkan kakinya menuju dapur, karena dia mencium aroma yang begitu menggugah selera dari arah tersebut.


"Kamu ngapain?" tanya Lucky seraya memeluk tubuh Liliu dari belakang.


Dia cium pipi kekasihnya, lalu dia elus perut rata wanita itu. Lucky Liliu yang seakan memanjakan indra penciumannya.


"Eh? Aku bikin roti isi, tadi aku bawa bahanya dari rumah," jawab Liliu.


Liliu sengaja membawa bahan untuk dia sarapan bersama dengan Lucky, karena dia sangat yakin jika di dalam lemari pendingin milik kekasihnya itu pasti tidak akan ada apa-apa.


Bukan tanpa alasan Liliu berprasangka seperti itu, satu minggu ini Lucky begitu sibuk dalam bekerja. Sudah dapat dipastikan jika Lucky tidak akan sempat untuk berbelanja.


"Ck! Padahal tadi udah keluar, sekarang dia malah lapar lagi!" keluh Lucky ketika dia merasakan miliknya kembali menggeliat karena bersentuhan dengan Liliu.


Padahal pada awalnya dia merasa tidak akan menyukai wanita itu, tetapi setelah mereka bertemu dalam setiap harinya, rasa suka dan juga sayang pun mulai tumbuh.


Terlebih lagi Liliu selalu datang ke kantor di saat jam makan siang, dia selalu membawakan makanan untuk Lucky.


"Keluar? Lapar? Maksudnya bagaimana?" tanya Liliu tidak paham.


"Ehm! Tidak apa-apa, aku akan menunggu di meja makan." Lucky melepaskan pelukannya, lalu dia duduk di salah satu kursi yang ada di sana.


Dia terlihat begitu gelisah karena miliknya kini sudah kembali menegang, hal itu membuat celana yang dia pakai terasa begitu sesak dan tidak nyaman saat dikenakan.


"Ck! Tidurlah! Jangan bangun terus, jangan mempermalukanku seperti itu," gumam Lucky yang tentunya Liliu tidak bisa mendengarnya.


"Roti isinya sudah jadi, aku satu dan kamu satu." Liliu menyimpan roti isi yang sudah dibuat di atas meja makan, kemudian dia duduk di atas pangkuan Lucky.

__ADS_1


Hal itu membuat Lucky benar-benar salah tingkah dan juga malu, karena Liliu pasti merasakan milik yang sudah menegang.


"Eh? I--itunya bangun," ucap Liliu dengan wajah yang memerah.


"Ehm!"


Lucky tidak bisa berkata apa-apa, dia malah berdehem beberapa kali. Lalu, dia mengangkat tubuh Liliu dan mendudukkannya di atas kursi yang ada di sampingnya.


"Duduklah, siang ini kedua orang tuaku akan datang. Nanti malam aku akan datang untuk melamar kamu," ucap Lucky.


Liliu begitu bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh Lucky, tanpa sadar wanita itu langsung kembali duduk di atas pangkuan lelaki itu.


Bahkan, kali ini dia duduk seraya menempelkan tubuhnya pada tubuh calon suaminya. Dia menatap wajah Lucky dengan begitu lekat, tidak lama kemudian dia mengecup bibir pria itu.


"Terima kasih, Sayang. Aku sudah tidak sabar untuk dihalalkan," ucap Liliu dengan senang.


"Hem! Aku tahu, tapi tolong turun dulu. Aku merasa tidak nyaman, ini sangat sakit." Lucky menatap wajah Liliu dengan tatapan penuh permohonan.


Jika saja bisa, rasanya dia ingin melucuti pakaian yang Liliu pakai. Lalu, mengangkat tubuh mungil itu ke atas meja makan dan menghentaknya dengan cepat.


"Ck! Itu semua karena kamu, kamu tuh bikin dia bangun dan pengen masuk." Lucky mulai mengusakkan wajahnya pada dada Liliu.


"Jangan seperti itu! Aku tidak tahan," ucap Liliu dengan wajah yang sudah memerah.


"Ini salah kamu, kita nikah yuk. Kita nikah di depan pendeta aja dulu, nanti kalau kedua orang tuaku datang kita baru nikah resmi," ajak Lucky.


"Kalau begitu kita sarapan dulu, habis itu kita temui daddy untuk meminta restu!" kekeh Liliu.


"Ck! Kamu tuh curang banget, godain aku terus tapi ngga bisa aku ajak main bola. Kamu tuh nyebelin emang," keluh Lucky.


Kembali Lucky mengangkat tubuh Liliu dan mendudukkannya di atas meja, lalu dia melahap roti isi yang sudah Liliu buat. Setelah selesai, dengan cepat dia mengajak Liliu untuk pergi ke kediaman tuan Leonard.


Dia sudah tidak sabar untuk meminta restu kepada pria itu, dia sudah tidak tahan jika terus diperlakukan seperti itu oleh Liliu.

__ADS_1


Dia adalah pria yang normal, dia juga sama seperti pria yang lainnya. Ingin merasakan yang namanya nikmatnya surga dunia, terlebih lagi dengan pasangan halalnya.


Saat tiba di kediaman tuan Leonard, Liliu langsung memeluk lengan Lucky dengan mesra. Lalu, dia mengajak pria itu untuk menemui ayahnya.


Tuan Leonard yang sedang menikmati teh hangat di ruang keluarga, langsung menolehkan wajahnya ke arah Liliu dan juga Lucky. Kemudian, pria paruh baya itu pun bertanya.


"Liliu, Sayang. Kok kamu datang dari luar? Terus, kenapa datangnya sama Lucky? Jangan bilang kalau kamu pagi-pagi sudah pergi ke rumah Lucky dan meminta dia untuk datang kemari?" tanya Tuan Leonard.


Liliu tersenyum saat mendengarkan pertanyaan seperti itu dari ayahnya, dia langsung duduk tepat di samping ayahnya dan memeluknya dengan begitu erat.


"Daddy, aku sudah tidak sabar untuk menikah dengan Lucky. Bolehkah aku menikah sekarang juga dengan kekasihku?" tanya Liliu.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Liliu, tuan Leonard dan juga Lucky saling pandang. Mereka seolah sedang membicarakan sesuatu lewat tatapan mata mereka.


"Kamu serius mau nikahin anak saya, Lucky? Kenapa malah anak saya yang meminta restu untuk dinikahkan?" tanya Tuan Leonard.


"Bukannya begitu, Dad. Kedua orang tuaku siang ini akan datang, mereka akan datang ke sini untuk melamar Liliu untukku. Tapi--"


Lucky seakan begitu susah untuk mengatakan tentang apa yang diminta oleh Liliu, dia malah menolehkan wajahnya ke arah Liliu seraya menatap wajah cantik wanita itu dengan intens.


Liliu paham dengan arti tatapan dari calon suaminya tersebut, dia tersenyum hangat ke arah tuan Leonard dan berkata.


"Jadi gini, Dad. Boleh ngga kalau kami menikah terlebih dahulu di gereja? Nanti setelah persiapan pernikahan kami selesai, kami akan meresmikan pernikahan kami sekalian melaksanakan acara resepsinya. Boleh, kan?" tanya Liliu.


"Memangnya kenapa kalian harus menikah dengan terburu-buru?" tanya Tuan Leonard.


"Soalnya aku sudah tidak tahan ingin segera tinggal bersama dengan Lucky, Dad. Lucky juga sudah tidak tahan ingin segera bisa tidur bersama denganku, Daddy tahu? Setiap kali kami bersentuhan, milik--"


Belum juga Liliu menyelesaikan ucapannya, tetapi Lucky dengan cepat membekap bibir wanita itu dengan telapak tangan kanannya.


Dia tidak mau jika sampai Liliu membongkar rahasianya, mau disimpan di mana wajahnya jika tuan Leonard tahu bahwa miliknya selalu saja bangun setiap berdekatan dengan Liliu.


"Ada apa? Kenapa kamu malah membekap mulut putriku?" tanya Tuan Leonard.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan dari tuan Leonard, sontak Lucky dengan cepat melepaskan tangan kanannya dari bibir Liliu.


"Anu, Dad. Itu---"


__ADS_2