Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 98


__ADS_3

Setelah Lucky bersiap dan bertanya di mana alamat rumah Liliu, akhirnya dia mengantarkan gadis itu. Gadis tempramen yang selalu ingin mendapatkan apa yang dia mau.


Selama perjalanan menuju kediaman tuan Leonard, tidak ada yang berbicara sama sekali di antara Lucky dan juga Liliu.


Keduanya sama-sama bungkam dengan pemikiran masing-masing, satu hal yang Liliu syukuri, pria yang berada di sampingnya itu tidak berniat jahat sekali pun kepada dirinya.


Walaupun Lucky sangat tahu jika Liliu adalah wanita yang sudah berusaha untuk merusak hubungan antara Leandra dan juga Leonel, pria itu masih mau menolong dirinya.


Jika saja Lucky tidak menolong dirinya, entah apa yang akan terjadi terhadap Liliu. Gadis itu pun tidak tahu, yang pasti dia merasa sangat bersyukur.


"Apakah ini rumah anda, Nona?" tanya Lucky seraya menepikan mobilnya tepat di sebuah bangunan mewah tepat pada alamat yang sudah disebutkan oleh Liliu.


Liliu yang sedang asyik melamun langsung mengedarkan pandangannya, dia tersenyum ke arah Lucky kala dia melihat rumah ayahnya.


"Ya, ini rumah daddy. Terima kasih sudah mau mengantar aku," ucap Liliu dengan tulus.


"Hem," jawab Lucky.


Liliu berpamitan kepada Lucky untuk masuk ke dalam rumahnya, dia sudah melepas sabuk pengamannya dan hendak membuka pintu mobil.


Namun, gerakannya terhenti kala Lucky mencekal pergelangan tangan dari Liliu. Liliu mengernyitkan dahinya dengan dalam seraya menatap wajah Lucky dengan tatapan penuh pertanyaan.


Lalu, dia juga memperhatikan pergelangan tangannya yang mulai memerah karena Lucky mencekal pergelangan tangannya dengan cukup kencang.


"Ada apa, Tuan. Kenapa anda mencekal pergelangan tangan saya?" tanya Liliu.


Lucky melepaskan cekalan tangannya, dia merasa bersalah karena sudah seenaknya mencekal pergelangan tangan wanita itu.


Terlebih lagi saat dia menyadari jika tangan putih mulus milik Liliu memerah karena ulahnya, dengan cepat dia pun meminta maaf.


"Maaf, aku hanya mau bilang. Anda adalah wanita cantik dan berpendidikan, di luar sana pasti banyak pria yang ingin menjadikan anda sebagai istrinya. Saya harap anda tidak mengganggu hubungan antara tuan Leon dan juga nyonya Leandra lagi."


Bukan tanpa alasan Lucky mengatakan hal itu, karena setelah dia perhatikan Lucky merasa jika Leonel sudah benar-benar mencintai Leandra.


Tatapan Leonel begitu penuh cinta saat menatap istrinya, sama persis seperti tatapan mata Leonel ketika dulu menatap wajah Leana.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Lucky, Liliu terdiam. Dia seperti sedang memikirkan apa yang dikatakan oleh pria itu, tidak lama kemudian Liliu menolehkan wajahnya ke arah Lucky lalu berkata.


"Bagaimana kalau aku tidak bisa berhenti untuk mengejar kak Leonel? Karena aku begitu ingin menjadikan dia sebagai suamiku, apa yang akan kamu mau lakukan, hem?" tantang Liliu.


Lucky langsung menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh Liliu, wanita itu benar-benar membuat dirinya kesal.


Namun, dia masih berusaha untuk menjaga kewarasannya. Menghadapi wanita seperti Liliu membutuhkan dua cara, menghadapi Liliu dengan penuh kesabaran, atau Lucky juga harus bersikap lebih gila dari Liliu.

__ADS_1


"Dengar, Nona Liliu yang cantik dan juga menggemaskan. Yang namanya cinta itu tidak seperti itu, jika anda mencintai seorang pria, maka anda akan memperjuangkannya jika memang dia adalah seorang pria lajang. Namun, jika pria yang anda cintai adalah seorang pria yang sudah beristri, maka anda akan merelakan cinta anda dengan kebahagiaannya."


Lucky berusaha menjelaskan tentang arti cinta kepada Liliu, tentunya dengan tingkat kesabaran yang luar biasa.


Dia juga berusaha untuk mencegah agar Liliu tidak mengganggu rumah tangga atasannya tersebut, karena walau bagaimanapun juga dia tidak ingin melihat kehancuran seorang Leonel


Cukup sudah dulu dia melihat Leonel begitu hancur ketika kehilangan Leana, dia tidak ingin Leonel hancur kembali karena kehilangan Leandra.


Walaupun Leandra terkesan begitu nakal, tetapi wanita itu mampu menaklukkan hati Leonel dengan begitu mudahnya.


"Tapi, aku sudah sangat lama ingin menjadikan kak Leon sebagai suamiku. Lalu, apakah aku harus mengikhlaskan begitu saja dia menikah dengan wanita lain?" tanya Liliu.


Lagi pula Leonel hanya nikah agama saja, tidak ada salahnya bukan jika dia berusaha untuk merebut Leonel dan menjadikan Leonel sebagai suaminya?


"Itu artinya kamu tidak mencintai dia, tetapi hanya berambisi saja. Karena pada dasarnya cinta tidak akan memaksakan," jelas Lucky lagi.


Lucky memang pernah mencintai seorang wanita, tetapi dia merelakan wanita yang dia cintai itu untuk memilih pria yang wanita itu cintai.


Lucky yakin jika wanita itu akan bahagia dengan pria pilihannya, maka dari itu Lucky berusaha untuk merelakan dan pergi ke kota besar untuk memulai kehidupan barunya.


Liliu terdiam, dia seolah begitu enggan untuk berdebat dengan Lucky. Otaknya sudah sangat lelah untuk memikirkan semuanya.


"Saya yakin anda adalah wanita yang baik, hanya penampilan anda saja yang bar-bar. Saya yakin anda pasti akan merelakan tuan Leonel untuk bahagia dengan istrinya," ucap Lucky.


Setelah mengatakan hal itu, Lucky nampak tersenyum. Kemudian, dia turun dari mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Liliu.


Semua ucapan yang diutarakan oleh Lucky seakan merasuk sampai ke dalam hatinya, tetapi dia masih enggan untuk memikirkan memutuskan apa pun.


"Sama-sama, saya permisi dulu. Saya harap anda akan memikirkan apa yang sudah saya katakan, anda bisa mulai menyibukkan diri dengan bekerja ataupun dengan berlibur agar anda bisa melupakan tuan Leonel."


Setelah mengatakan hal itu, Lucky kembali tersenyum. Lalu dia masuk ke dalam mobilnya dan segera pergi dari sana, karena dia harus segera pergi bekerja.


Walaupun tubuhnya begitu lelah, pikirannya pun terasa terkuras, tetapi dia harus segera pergi untuk bekerja. Karena pastinya pekerjaan sudah menunggu untuk dikerjakan, walaupun pekerjaan itu tidak akan berteriak.


Selepas kepergian Lucky, Liliu nampak memijat kepalanya yang terasa sakit. Lalu, dia segera masuk ke dalam kamarnya dan merenungkan apa yang sudah dikatakan oleh Lucky.


"Apakah benar aku hanya terobsesi saja kepada kak Leon? Benarkah yang aku rasakan bukan cinta?" tanya Liliu seraya menghela napas berat.


Di lain tempat.


Leonel tidak juga berangkat bekerja, pria itu malah terus saja menggoda istrinya. Di saat dia akan memakai dasi, dia meminta Leandra untuk memakaikannya.


Namun, di saat Leandra sedang berjinjit untuk memakaikan dasi untuk suaminya, Leonel malah mengangkat tubuh istrinya dan menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya.

__ADS_1


Hal itu membuat Leandra kesal dan memukul pundak suaminya dengan manja, Leonel malah tertawa dengan apa yang dilakukan oleh istrinya.


Begitupun ketika saat sarapan tiba, Leonel tidak kunjung memakan sarapannya. Di berkata ingin disuapi oleh Leandra, tetapi harus dari bibir istrinya.


Tentu saja permintaan dari suaminya itu membuat Leandra sangat kesal, menurutnya permintaan dari suaminya itu sangat aneh.


"Kakak, udah ih jangan ngerjain aku terus. Kalau Kakak ngga buru-buru berangkat kerja, aku pastikan nanti malam aku akan tidur dengan Ibu!" ancam Leandra yang sudah merasa kesal dengan tingkah suaminya yang terkesan aneh itu.


"Iya, iya. Aku berangkat kerja dulu, kamu baik-baik di rumah. Nanti siang kamu ke kantor ya? Abis makan siang aku akan ke luar kota, aku mau ngajakin kamu," ucap Leonel.


Hari ini Leandra tidak masuk kuliah, karena masa ospeknya sudah berakhir. Hari senin baru dia mulai aktif belajar.


"Berapa hari?" tanya Leandra.


"Tiga hari, Sayang. Kita akan pulang pas malam Senin, jadi kuliah kamu tidak akan terganggu," jawab Leonel.


"Kerja sambil honeymoon dong," ucap Leandra.


Entah kenapa dia merasa senang akan diajak ke luar kota, itu artinya dia bisa berlibur walaupun harus sambil menemani suaminya berlibur.


"Mana ada, aku tuh mau kerja. Sengaja ngajak kamu biar ada hiburan," bohong Leonel.


Wajah Leandra berubah muram, dia tidak menyangka jika Leonel akan berkata seperti itu. Dia benar-benar merasa sangat kesal.


"Kakak iih! Kamu tuh suka kejam," keluh Leandra seraya berlalu dari ruang makan menuju kamar utama.


Leonel yang melihat kemarahan di wajah istrinya segera menghampiri istrinya tersebut, dia takut jika Leandra benar-benar marah dan akan mendiamkan dirinya.


"Sayang!" panggil Leonel seraya mendorong pintu kamarnya.


Namun, ternyata Leandra mengunci pintu kamarnya. Hal itu membuat Leonel benar-benar ketakutan, istri kecilnya itu berhasil membuat dirinya was-was.


"Buka pintunya, Sayang. Akh minta maaf," ucap Leonel memelas.


Dia akan bekerja di luar kota, tapi hanya untuk menemui pemilik perusahaan yang akan bekerja sama dengan dirinya.


Selepas itu dia akan mengajak Leandra ke sebuah penginapan dan akan mengajak istrinya untuk berlibur, dia ingin menghabiskan waktu untuk berkencan dengan istri kecilnya itu.


"Mohon maaf, orang yang anda panggil sedang marah. Silakan tinggalkan pesan," jawab Leandra seraya menirukan gaya operator.


Leonel langsung berdecak sebal mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, dia tidak tahu jika Leandra akan semarah itu terhadap dirinya.


"Leandra, Sayang. Buka pintunya," ucap Leonel mengiba.

__ADS_1


Dia tidak tahu jika istrinya akan semarah itu, padahal biasanya istrinya hanya akan menanggapi ulahnya dengan wajah cemberutnya.


"No! Aku sedang marah dan sedang--"


__ADS_2