
Dia benar-benar takut jika Leonel akan mengatakan bahwa pria itu tidak mencintai Leandra sama sekali, yang namanya pria pasti membutuhkan hubungan seksualitas.
Terlebih lagi Leonel adalah seorang duda, sudah dapat dipastikan ketika dia menikah dengan Leandra dia merasa senang karena kebutuhan seksualitasnya akan terpenuhi.
Sungguh Leandra takut jika Leonel hanya memanfaatkan dirinya untuk kebutuhan seksualitasnya saja, tidak ada rasa sedikit pun di dalam hatinya untuk dirinya. Leonel tersenyum, lalu dia mengusap pipi Leandra dengan begitu lembut.
"Sebenarnya dari awal aku menikahimu, aku sudah mulai mencintai kamu. Aku suka kamu yang nakal dan ceroboh, apalagi setelah menikah. Aku semakin menyukai kamu yang berusaha untuk menjadi istri yang baik untuk aku, aku mencintai kamu, Leandra." Leonel langsung mengecup kening Leandra cukup lama.
Leandra merasa terharu dengan ungkapan cinta dari Leonel, dia benar-benar tidak menyangka jika pria itu bisa secepat itu menyukai dirinya.
Leandra yang begitu senang langsung memeluk Leonel dengan begitu erat, dia sama sekali tidak menyesal sudah menikah dengan pria yang usianya lebih jauh darinya itu.
Justru, dia merasa bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan karena sudah mempertemukan dirinya dengan Leonel. Pria yang dulu terlihat sangat dingin dan galak, tetapi kini berubah menjadi pria yang begitu lembut dan penyayang.
"Aku sudah mengatakan perasaanku kepada kamu, lalu... bagaimana perasaanmu kepadaku?" tanya Leonel.
Mendengar pertanyaan dari Leonel, Leandra malah menyusupkan wajahnya pada dada bidang suaminya itu. Dia terlihat malu-malu, Leonel langsung tertawa dibuatnya.
"Katakan, Sayang. Katakan kalau kamu juga mencintai aku," pinta Leonel.
Leandra langsung menggelengkan kepalanya, dia belum pernah berpacaran. Dia belum paham dari arti mencintai itu seperti apa, tapi dia yakin jika hatinya merasa nyaman dan tenang ketika berdekatan dengan Leonel.
"Tidak tahu, aku tidak tahu apa aku mencintai kamu atau tidak," jawab Leandra.
"Curang," jawab Leonel yang langsung mempererat pelukannya.
Leonel sangat paham jika istrinya juga mulai mencintai dirinya, dia pernah menikah dan pernah dicintai oleh Leana. Tentu saja dia tahu perasaan Leandra saat wanita itu menatap dirinya, dia juga bisa merasakan debaran jantung Leandra yang tidak karuan ketika berdekatan dengan dirinya.
Sungguh Leonel merasa menyesal karena dulu saat dia berpacaran dengan Lyra, dia malah tidak bisa menyadari arti tatapan dari perempuan itu.
"Baiklah, aku tidak perlu mengetahui bagaimana perasaan kamu terhadap aku. Satu hal yang harus kamu lakukan, kamu cukup setia dan selalu menjadi istri yang baik untuk aku. Kalau kamu tidak mau mencintai aku, cukup aku yang memberikan cintaku yang besar ini untuk kamu."
Rasanya tubuh Leandra langsung meleleh mendengar ungkapan cinta dari Leonel, sungguh perkataan Leonel itu membuat dirinya begitu tenang dan juga senang.
Dia merasa sangat beruntung bisa menikah dengan pria yang lebih dewasa dari dirinya, pria yang begitu pengertian, perhatian dan selalu memperlakukan dirinya dengan penuh cinta.
"Hem, aku akan selalu setia sama Kakak.'' Leandra mendongakkan kepalanya lalu dia mengecup bibir Leonel dengan mesra.
Leonel tidak menyia-nyiakan hal itu, dia langsung menahan tengkuk leher Leandra dan memperdalam ciumannya. Berciuman dengan istrinya adalah hal yang selalu membuat dirinya candu dan memabukkan.
"Stop, Sayang. Nanti kamu bisa minta itu lagi," ucap Leandra seraya mendorong dada suaminya.
Leandra takut jika Leonel akan terbuai dan kembali akan mengajaknya untuk bercinta, rasanya memang sangat begitu nikmat ketika Leonel terus saja memompa inti tubuhnya.
__ADS_1
Namun, saat ini miliknya benar-benar terasa sangat sakit. Dia takut akan pingsan karena terlalu terbuai akan kenikmatan.
Berbeda dengan Leonel, jika Leandra sedang ketakutan karena suaminya takut meminta haknya kembali, Leonel malah terbengong karena mendengar Leandra yang mengatakan kata sayang, saat melarang dirinya untuk tidak mencium bibirnya.
''Kakak, kenapa Kakak malah bengong?" tanya Leandra dengan bingung.
Leonel berdehem beberapa kali, dia menatap wajah istrinya dengan lekat lalu dia bertanya kepada wanita itu.
"Tadi kamu bilang apa?" tanya Leonel.
Leandra mengernyitkan dahinya, dia merasa tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh suaminya. Dia benar-benar tidak paham.
"Bilang apa? Aku harus mengatakan apa?" tanya Leandra yang tidak sadar menyebut suaminya dengan kata sayang.
Leonel berdecak, karena ternyata Istrinya tidak sadar dengan apa yang sudah dia katakan. Padahal, Leonel dengan jelas mendengar apa yang dikatakan oleh Leandra.
"Yang tadi, pas tadi kamu panggil aku sayang. Coba panggil aku sayang lagi," pinta Leonel.
Leandra merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh suaminya, dia sama sekali tidak menyadari kapan dia mengatakan kata sayang kepada Leonel.
"Memangnya tadi aku panggil Kakak dengan sebutan Sayang, ya?" tanya Leandra seraya mengusap-usap keningnya.
Dia seolah-olah sedang mengingat-ingat kapan dia mengatakan kata sayang itu, karena dia benar-benar tidak ingat.
Leandra tersenyum dengan sangat lebar saat melihat suaminya yang begitu berharap kepada dirinya, Leandra yang merasa tidak tega untuk merusak suasana hati suaminya pun akhirnya berkata.
"Sayang, aku sangat lelah. Bisakah kamu menggendongku ke tempat tidur?" pinta Leandra.
Leonel langsung bersorak dengan begitu riangnya mendengar panggilan sayang dari Leandra, dia bahkan sampai melompat seraya meninjukan tangan kanannya ke udara.
"Aku sangat bahagia, Sayang." Leonel langsung mengangkat tubuh Leandra dan membawanya berputar-putar.
"Kakak, kepalaku pusing." Leandra berteriak seraya memukul-mukul pundak suaminya.
"Eh? Maaf, Sayang. Aku terlalu senang," ucap Leonel seraya menurunkan tubuh istrinya di atas tempat tidur.
Setelah itu, dia juga ikut merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Lalu, dia memeluk Leandra dengan penuh kasih.
Hatinya merasa sangat lega karena sudah mengakui rasa cintanya kepada Leandra, dia juga merasa senang karena walaupun istrinya tidak mengutarakan isi hatinya secara langsung, tetapi Leandra berjanji akan tetap setia berada di sampingnya.
"Tidurlah, Sayang. Besok kita akan jalan-jalan ke sungai, sesuai dengan keinginan kamu." Leonel mengecup bibir Leandra, lalu dia mengusap-usap punggung Leandra agar segera tidur.
"Hem, temani aku. Aku mau bermain air," ucap Leandra seraya menguap dan segera menyusupkan wajahnya pada dada bidang suaminya.
__ADS_1
"Ya, Sayang," jawab Leonel.
Leandra sudah mulai masuk ke alam mimpinya, tetapi tidak lama kemudian dia malah teringat akan kedua sahabatnya. Leandra langsung membuka matanya kembali, lalu dia bertanya kepada suaminya.
"Sayang, apakah kamu tahu kenapa perusahaan ayah Lana dan juga ayah Lingga bangkrut?" tanya Leandra dengan hati-hati.
Leandra berpikir lebih baik dia bertanya seperti itu, daripada mengatakan argumennya secara langsung. Karena takutnya Leonel malah akan tersinggung, dia takut itu akan menjadi pertengkaran untuk mereka berdua.
Ini adalah saat mereka untuk bersenang-senang, bukan saatnya untuk bertengkar. Apalagi jika mereka harus berdebat.
Leonel yang sudah mulai tertidur kembali membuka matanya, karena dia begitu kaget dengan apa yang sudah Leandra tanyakan.
"Ada apa, Sayangku? Kenapa kamu malah menanyakan Lana dan juga Lingga? Apakah mereka mengganggu kamu lagi?" tanya Leonel.
"Bukan, Sayang. Bukan seperti itu, aku hanya ingin bertanya saja. Kenapa perusahaan ayah mereka tiba-tiba saja bangkrut? Apakah Kakak tahu?" tanya Leandra seraya mengusap pipi Leonel dengan lembut.
Leonel paham jika Leandra sudah mengetahui akan hal itu, tetapi istrinya itu bersikap lembut agar tidak membuatnya tersinggung.
"Ya, itu karena ulah aku. Aku merasa kesal karena mereka dengan teganya melakukan hal keji seperti itu. Apakah mereka tidak tahu apa kerugian yang akan kamu derita jika benar-benar mereka bisa melakukan hal itu kepadamu?"
Leandra terdiam, karena apa yang dikatakan oleh Leonel adalah benar adanya. Jika saja tidak ada pria yang kini sudah menjadi suaminya itu datang menolongnya, entah bagaimana nasibnya saat ini.
Bisa saja Leandra hamil karena ulah kedua sahabatnya, tetapi kedua sahabatnya itu tidak akan bertanggung jawab.
Atau mungkin, bisa saja dia disuruh untuk menggugurkan kandungannya. Lalu, dia akan diungsikan ke luar negeri agar aibnya tidak terbongkar.
Melihat Leandra yang diam saja, Leonel mengira jika istrinya itu marah kepada dirinya. Dia berusaha untuk menjelaskan kepada istrinya tersebut, bahwa dia tidak ada niatan untuk berbuat jahat. Dia hanya ingin memberikan pelajaran yang berharga kepada keduanya.
"Maaf jika aku mengambil keputusan sepihak, aku hanya takut kamu akan mengalami hal buruk nantinya. Makanya aku memberikan sedikit pelajaran kepada mereka, karena kalau mereka terus berada di atas awan, pasti mereka tidak akan sadar."
Leandra membenarkan apa yang dikatakan oleh suaminya, karena kedua sahabatnya itu memang selalu saja haus akan perempuan.
"Tidak apa-apa, justru aku berterima kasih kepada suamiku yang tampan ini. Karena kamu begitu peduli terhadapku," ucap Leandra.
Leonel langsung melebarkan senyumnya mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, sebuah ide tiba-tiba saja muncul di kepalanya.
"Kalau begitu, sebagai ucapan terima kasihnya aku mau minta itu sekali lagi," ucap Leonel seraya nyengir kuda.
Leandra langsung memelototkan matanya dengan apa yang diminta oleh Leonel, tidak tahukah suaminya itu jika inti tubuhnya terasa sakit dan membengkak, pikirnya.
"Kakak!" jerit Leandra seraya menarik selimut untuk menutupi wajah Leonel dan menekannya.
"Leandra, Sayang. Aku tidak bisa napas!" jerit Leonel.
__ADS_1