Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 49


__ADS_3

"Leandra, Daddy boleh, kan, nginep di sini?"


Leandra kebingungan, haruskah dia memberi izin atau tidak. Tuan Lincoln menghela napas berat, kemudian dia berkata.


"Leandra, Sayang. Kamu sama Mom pulang aja ya, Daddy mau nginep di sini." Tuan Lincoln tersenyum hangat pada putrinya.


Leandra langsung menggelengkan kepalanya mendengar ucapan dari tuan Lincoln, dia bahkan langsung menghampiri ayahnya dan memeluk ayahnya itu dengan begitu erat.


Bukan tanpa alasan Leandra melakukan hal itu, justru dia malah membayangkan hal yang tidak-tidak saat ini.


Jika tuan Lincoln menginap di rumah Leonel, ayahnya itu akan tidur bersama dengan Lili. Walaupun dia belum pernah melakukan hubungan intim, tapi dia tahu jika tuan Lincoln pasti akan melepas rindu dengan melakukan hubungan suami istri, itulah yang ada di dalam pikirannya.


Karena di dalam drama korengan yang pernah dia tonton, dia melihat pemeran prianya dengan tidak sabar akan mengajak wanitanya ke dalam kamar dan akan melepas rindu.


Itulah contoh pria yang sudah lama tidak bertemu dengan wanitanya, sudah terbayang di dalam benaknya jika hal itu yang akan dilakukan oleh tuan Lincoln kepada Lili.


"Daddy, apakah Daddy akan membuat Dedek bayi jika kamu menginap di sini?" tanya Leandra dengan tatapan matanya yang tertuju kepada Lili.


Baik Leonel, Lili, Lindsay dan juga tuan Lincoln begitu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Leandra.


"Ma--maksud kamu?" tanya Tuan Lincoln.


Pria paruh baya itu benar-benar tidak menyangka jika putrinya akan menanyakan hal tersebut, hal yang menurutnya tidak pantas untuk ditanyakan. Namun, terdengar begitu lucu.


"Maksud aku, apakah Daddy akan bercerai dengan Mom? Terus, apakah Daddy akan membuat Dedek bayi dengan Tante Lili? Lalu, Daddy melupakan aku sebagai anak Daddy?" tanya Leandra.


Tuan Lincoln ingin sekali tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Leandra, ternyata anak gadisnya yang sebentar lagi genap berusia delapan belas tahun itu belum dewasa.


Namun, jika saja diberi kesempatan dia memang ingin melakukan hal intim dengan Lili. Namun bukan berarti dia ingin membuat Dedek bayi, karena memang usia mereka sudah sangat tua.


Tuan Lincoln merasa jika dirinya lebih pantas mendapatkan seorang cucu, bukan membuat Dedek bayi lagi.


"Tidak seperti itu juga, sekarang pulanglah. Daddy mau nginep di sini, besok kamu mau ikut tidak ke pemakaman kakak kamu?" tanya Tuan Lincoln.


"Mau, Dad. Tapi aku tidak mau pulang, mau ikut nginep juga. Mau tidur sama Daddy," pinta Leandra.


Gadis itu benar-benar ketakutan jika tuan Lincoln akan membuat adik bayi dan akan melupakan dirinya, dia tidak mau itu terjadi.

__ADS_1


"Tidak bisa, Sayang. Kamu sudah dewasa, kamu biasanya juga bobo sendiri. Masa sekarang kamu minta bobo bareng Dad?" tanya Tuan Lincoln.


"Karena aku takut kalau Daddy melupakan aku," jawab Leandra jujur.


Leonel memutarkan bola matanya dengan malas mendengar penuturan Leandra, rasanya Leandra itu terlalu berlebihan.


Tidak lama kemudian terbersit sebuah ide konyol di benaknya, Leonel lalu menghampiri Leandra dan duduk tidak jauh dari gadis itu.


"Oh ya ampun, dari pada tidur sama Daddy kamu, lebih baik kamu tidur sama aku saja. Ayo?" ajak Leonel.


Leandra langsung menggoyang-goyangkan jari telunjuknya di depan wajahnya, dia mencebikkan bibirnya seraya menatap Leonel dengan tatapan kesalnya.


"No! Iewww, tidur sendiri sana! Dasar pria messum!" keluh Leandra.


Leonel langsung tertawa melihat rekasi Leandra, berbeda dengan tuan Lincoln yang nampak tidak percaya jika Leonel mampu menggoda anak gadisnya di depan dirinya.


"Kalau begitu kamu dan Tante Lindsay menginaplah di sini, ajaklah Mom kamu untuk tidur di kamar yang kemarin kamu tiduri." Leonel berusaha menengahi, karena sepertinya Leandra tidak akan mau pulang.


"Terus, Daddy bobonya sama siapa?" tanya Leandra.


"Daddy mau bobo sama Ibu Lili," jawab Tuan Lincoln dengan cepat.


Berbeda dengan Lili, dia merasa tidak suka dengan apa yang dikatakan oleh suaminya. Rasanya tidak pantas jika tuan Lincoln berkata seperti itu.


Walau pada kenyataannya Lili juga begitu merindukan tuan Lincoln, tapi dia tidak bisa mengatakan perasaannya dengan jujur. Karena dia masih menghargai perasaan dari Lindsay dan juga Leandra.


"Kamu tidur sendiri saja di kamar tamu, aku tidak terbiasa tidur berdua," tolak Lili.


Rasanya tidak mungkin jika dirinya tidur bersama dengan lelaki yang masih menjadi suaminya itu, karena ada hati Leandra dan juga Lindsay yang harus di jaga.


Tuan Lincoln nampak kecewa, dia terlihat lesu dan berusaha untuk bernegosiasi. Dengan seperti itu dia berharap jika Lili mau melepas rindu bersama dirinya.


"Tapi Lili--"


"Menginap di kamar tamu atau pulang sekarang juga?" tanya Lili memangkas ucapan Tuan Lincoln.


Dia sengaja mengatakan hal itu, karena melihat ketakutan di wajah Leandra. Dia tidak mau membuat Leandra sedih.

__ADS_1


"Ck! Mentang-mentang kamu--"


Lili yang merasa jengah langsung memotong ucapan dari tuan Lincoln, karena rasanya hal tersebut tidak patut dibicarakan di depan orang banyak.


"Berisik!" keluh Lili seraya memelototkan matanya kepada tuan Lincoln, setelah mengatakan hal itu Lili langsung menolehkan wajahnya ke arah Leonel. "Ibu tidur duluan," pamit Lili kepada Leonel.


"Ya, Bu!" jawab Leonel.


Setelah mengatakan hal itu, Leonel nampak tertawa dengan tertahan. Dia merasa lucu melihat Lili yang kesal, malu dan juga rindu tapi masih berusaha untuk menjaga perasaan orang lain.


Berbeda dengan Lili, wanita itu terlihat melangkahkan kakinya menuju kamar yang biasa dia tempati tanpa menolehkan kepalanya.


Leandra merasa bahagia melihat sikap Lili yang tidak berusaha untuk menguasai daddynya, tapi dia juga merasa kasihan terhadap ayahnya itu.


"Daddy, kita tidur bertiga saja, oke?" tawar Leandra.


Tuan Lincoln langsung menggeleng-gelengkan kepalanya, selama ini tuan Lincoln memang tidur satu kamar dengan Lindsay.


Namun, jika malam hari tiba mereka akan tidur terpisah. Jika mereka melakukan hubungan suami istri pun, itu karena Lindsay yang selalu datang menghampirinya.


"No! Daddy mau tidur di kamar tamu saja, kamu tidurlah dengan Mom," tolak Tuan Lincoln.


Leandra langsung mengerucutkan bibirnya, dia merasa kesal karena daddynya tidak mau tidur bertiga dengan dirinya dan juga Lindsay.


"Haish! Daddy tidak asik," keluhnya.


Setelah mengatakan hal itu, Leandra menghampiri Leonel. Gadis itu terlihat menunduk dan mencondongkan tubuhnya, lalu dia berbisik tepat di telinga Leonel.


"Kakak iparku yang tampan, tolong jaga daddyku. Jangan sampai dia pergi untuk membuat dedek bayi dengan tante Lili, aku tidak mau punya adik bayi. Oke?"


Leonel tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Leandra, kemudian Leonel terlihat membalas ucapan dari gadis itu.


"Bagaimana kalau kita saja yang membuat dedek bayi? Kamu adalah adik dari istriku, sepertinya akan sangat menyenangkan jika kita membuat dedek bayi. Mau tidak?" tanya Leonel dengan senyum jahilnya.


Leandra langsung memelototkan matanya mendengar apa yang dikatakan oleh Leonel, tidak lama kemudian dia nampak memukul pundak Leonel dengan begitu kencang.


Bukan hanya satu kali, Leandra memukul Leonel sampai beberapa kali. Hal itu membuat Leonel meringis kesakitan, dengan cepat dia menangkap tangan Leandra dan berkata.

__ADS_1


"Awww! Sakit Leandra, hentikan!" keluh Leonel.


"Sukurin, itu adalah balasan yang setimpal untuk kamu!" ketus Leandra.


__ADS_2