Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 103


__ADS_3

Wanita yang sedang menengadahkan wajahnya itu langsung menatap wajah Lucky, dia terkekeh kala melihat Lucky yang berada di sampingnya. Dia merasa jika dunia itu sangatlah sempit, karena bisa kembali bertemu dengan Lucky.


Padahal, dia pergi ke luar kota untuk berlibur. Dia ingin menyendiri, menata hatinya dan berusaha untuk melupakan pria yang begitu dia sukai.


Dia ingin merenungi dan menyelami perasaannya, dia ingin membuktikan ucapan pria yang sudah menolongnya kemarin malam. Apakah benar perasaan yang dia rasakan adalah sebuah obsesi semata atau benar-benar cinta.


"Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?" tanya Lucky yang melihat wanita itu hanya diam saja.


Wanita itu kini berhadapan dengan Lucky, dia melipat kedua tangannya di depan dada lalu dia tersenyum dan berkata.


"Ada seorang pria yang berkata kepadaku, aku itu tidak boleh terobsesi kepada suami orang lain. Aku harus berlibur untuk menata hati dan pikiranku," jawab wanita itu.


Mata Lucky langsung mengerjap tidak percaya mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu, dia bahkan sampai mengusap kupingnya karena takut salah dengan apa yang dia dengar.


Wanita itu malah tertawa dengan terbahak-bahak melihat tingkah dari Lucky, bahkan tanpa sadar dia langsung memukul dengan Lucky yang bertingkah dengan sangat lucu, menurutnya.


"Benarkah seperti itu?" tanya Lucky untuk meyakinkan.


"He'em, kamu sendiri ngapain di sini? Sendirian lagi," tanya gadis itu.


Lucky langsung menekuk wajahnya mendengar pertanyaan dari gadis itu, kalau saja boleh memilih dia lebih baik pulang kampung daripada mengikuti atasannya untuk berlibur.


Karena memang dia tidak memiliki pasangan, terlebih lagi Leonel benar-benar membuat dirinya kesal. Karena dia memesankan kamar pengantin untuk pria lajang itu.


Apa yang dilakukan oleh bosnya itu, sudah seperti penghinaan untuk pria lajang seperti dirinya. Namun, dia tidak bisa melakukan protes dan tidak bisa mengatakan apa pun kepada atasannya itu.


"Aku---"


Baru saja Lucky akan menjelaskan tentang apa yang terjadi kepada dirinya, tiba-tiba saja ada seorang wanita yang datang menghampiri dirinya.


Wanita yang benar-benar membuat dirinya hilang mood, entah kenapa setiap kali dia melihat wanita itu rasanya dia tidak suka. Padahal, dulu dia begitu mencintai wanita tersebut.


Namun, saat ini dia merasa benci dengan kelakuan yang ditunjukkan oleh wanita itu. Terlebih lagi wanita itu kini sifatnya malah terlihat seperti wanita jambang.


"Hai Lucky, Ternyata di sini sangat sempit ya. kita bertemu lagi," ucap Luna.


Ya, wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah Luna. Wanita yang sepertinya ingin mendekati Lucky karena perubahan dari pria itu.


"Hanya kebetulan," jawab Lucky sekenanya.


Luna lebih mendekat lagi ke arah Lucky, kemudian dia mengusap kedua pundak Lucky dengan tatapan matanya yang begitu sulit untuk diartikan.


"Bagaimana kalau kita makan malam bersama? Kebetulan suamiku sedang menemani bosnya untuk makan malam dengan klien, putriku juga sudah tidur. Jadi--"


Belum juga Luna menyelesaikan ucapannya, Lucky malah memeluk pinggang Liliu dengan erat. Dia bahkan menunduk dan mengendusi rambut wanita itu.


Liliu yang merasa tidak nyaman sempat menolehkan wajahnya ke arah Lucky, dia bahkan menautkan kedua alisnya seolah bertanya dengan apa yang dilakukan oleh pria itu.


"Maaf, Luna. Aku sudah mempunyai kekasih, kami akan malam bersama. Maaf," ucap Lucky seraya menatap Liliu dan mengedipkan sebelah matanya.


Bukan karena genit, tetapi dia seolah mengirimkan kode kepada Liliu. Kode permintaan tolong agar Lucky bisa berjauhan dari wanita itu.


Liliu seolah paham, dia berusaha untuk tersenyum lalu membalas pelukan dari Lucky. Dia akan menganggap jika ini adalah balasan untuk Lucky yang kemarin malam sudah menolong dirinya.

__ADS_1


Berbeda dengan Luna, wanita itu menatap Lucky dan juga Liliu secara bergantian. Dia menatap kemesraan di antara keduanya dengan tatapan tidak suka.


"Pacar? Benarkah? Kenapa kalian tidak terlihat mesra?" tanya Luna seakan menantang kebenaran akan hubungan Lucky dan juga Liliu.


Luna yakin jika Lucky pasti bohong, karena dia sangat tahu jika Lucky bukan pria yang gampang jatuh cinta.


Lagi pula dia sempat berbicara dengan ibu dari Lucky, jika pria itu masih betah melajang. Ibu dari Lucky beralasan jika Lucky belum mendapatkan wanita yang pas untuk dia jadikan istri.


Namun, dia sangat yakin jika Lucky belum memiliki pasangan karena masih belum bisa move on dari dirinya.


"Ya, aku dan Liliu berpacaran. Iya, kan, Sayang?" tanya Lucky yang seolah mencari perlindungan.


Liliu tersenyum ke arah Luna, dia berusaha untuk menghayati perannya. Dia tidak mau mengecewakan Lucky, gadis itu pun lalu berkata.


"Ya, aku dan Lucky sudah berpacaran." Liliu menimpali ucapan dari Lucky seraya tersenyum hangat.


Luna mencebikkan bibirnya seraya menggelengkan kepalanya, dia sangat yakin jika Lucky dan juga Liliu hanya sedang berbohong kepada dirinya.


"Ngga percaya, aku yakin kamu tuh belum bisa move on dari aku." Luna berbicara dengan percaya diri, bahkan dia menatap sengit ke arah Liliu.


Lucky terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Luna, dia benar-benar menyesal karena dulu sudah mencintai wanita seperti itu.


"Ternyata anda masih sama seperti dulu, terlalu percaya diri. Maaf kami tidak punya waktu lagi, kami harus pergi. Satu hal lagi, anda hanya mantan saya, yang namanya mantan itu... anda pasti sudah paham."


Setelah mengatakan hal itu Lucky langsung menatap wajah Liliu, dia tersenyum dengan sangat manis sekali ke arah Liliu. Lalu, dia mengusap pipi wanita itu dengan begitu lembut.


Untuk sesaat Liliu bahkan terdiam seraya memandangi senyum Lucky yang terlihat begitu manis, senyuman yang tidak pernah dia lihat dari bibir pria yang selalu bersikap dingin itu.


Sengaja Lucky mengatakan hal itu agar Luna tidak mendekati dirinya lagi, bisa-bisa akan ada badai dan angin topan jika dia meladeni wanita itu.


"Iya, Sayang. Aku mau, lagi pula kalau makan malam di dalam kamar lebih enak. Biar ngga canggung pas makan hidangan penutupnya," ucap Liliu seraya mengerling nakal.


"Eh? Kamu kok nakal gitu, ayo." Lucky langsung menuntun Liliu untuk segera pergi dari sana, Luna terlihat marah.


Dia bahkan nampak menghentak-hentakkan kedua kakinya karena begitu kesal, berbeda dengan Lucky dan juga Liliu mereka berjalan seraya tertawa.


Bukan tertawa karena senang bisa berduaan, tetapi mereka sangat senang karena bisa mengerjai Luna.


"Terima kasih karena sudah mau membantu, kamu menginap di mana?" tanya Lucky.


"Di penginapan Mentari," jawab Liliu.


"Wah, sama. Ayo aku antar," ajak Lucky.


Di saat tiba di depan kamar Liliu, Lucky langsung berpamitan. Dia ingin segera masuk ke dalam kamarnya untuk segera memesan makanan. Namun, langkahnya tertahan kala Liliu mencekal pergelangan tangan Lucky.


"Ada apa?" tanya Lucky.


"Aku juga belum makan, boleh ngga aku ikut makan malam bersama dengan kamu, Sayang?" goda Liliu.


"Eh? Aku--"


Lucky kebingungan harus menjawab pertanyaan dari Liliu seperti apa, dia malah menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa gatal.

__ADS_1


"Aku tadi sudah menolong kamu, tidak bisakah aku mendapatkan upah makan malam geratis?" tanya Liliu.


"Ah, iya. Hanya makan malam, kan?" tanya Lucky berusaha bersikap tenang, padahal hatinya sudah terasa tidak karuan.


"Hem, hanya makan malam. Tapi, kalau boleh. Aku mau tidur satu kamar dengan anda," goda Liliu dengan senyum meledek di bibirnya karena Lucky malah salah tingkah.


Di lain kamar.


Leandra duduk di atas sofa dengan bibir yang diteluk, dia benar-benar merasa kesal terhadap suaminya. Karena kini dia benar-benar tidak bisa berjalan dengan normal.


Padahal, rencananya mereka akan makan malam romantis di sebuah Resto di dekat kebun teh. Namun, rencana mereka gagal total. Karena Leandra merasa kesakitan saat dia berjalan.


"Sayang, maafin aku. Aku janji bakal libur dulu, abisan kamunya bikin aku tergoda terus. Akunya jadi ngga tahan," jelas Leonel.


Leandra masih kesal, dia bahkan mengerucutkan bibirnya kala Leonel mengucapkan maafnya berkali-kali. Kalau saja dia tega, rasanya Leandra ingin memesankan kamar yang berbeda untuk suaminya tersebut.


"Sayang, aku minta maaf." Leonel langsung merebahkan tubuhnya, lalu dia tidur di atas paha istrinya dan memeluk pinggang istrinya dengan posesif.


Leandra mendesis, bukan karena berubah menjadi ular derik. Namun, dia merasa kegelian karena Leonel malah mengusakkan wajahnya pada perutnya.


"Kakak ih, aku baru saja makan. Jangan aneh-aneh, aku bisa pingsan. Ini udah sakit banget," keluh Leandra.


"Pokoknya aku mau lagi, kalau kamu mau aku berhenti. Panggil aku sayang," pinta Leonel.


"Kak," panggil Leandra.


"Ya, Sayang." Leonel menyingkap piyama tidur milik Leandra, lalu dia mengecupi perut istrinya.


"Diem dulu, aku mau ngomong serius. Kakaknya bangun dulu," pinta Leandra.


Leonel menurut, dia bangun dan memeluk Leandra. Pria itu benar-benar bertingkah dengan begitu manja.


"Kakak jawab pertanyaan aku dengan jujur. Jawaban dari Kakak akan menentukan panggilan yang akan aku sebutkan untuk Kakak," ucap Leandra.


"Tanyakan saja, aku akan menjawabnya selama aku bisa," ucap Leonel.


"Kak, kita sudah bersama selama beberapa minggu. Bahkan kita selalu melakukan itu, apakah Kakak melakukannya karena mencintai aku?" tanya Leandra.


Leonel terdiam, pria itu bahkan langsung melerai pelukannya. Dia menatap wajah Leandra dengan intens.


"Kenapa menanyakan hal itu? Apakah kamu tidak bisa menebak perasaanku dengan perlakuan aku terhadap kamu?"


Leonel malah bertanya kembali, bukannya menjawab pertanyaan dari istrinya. Leandra yang mendengar akan hal itu langsung mengerucutkan bibirnya.


"Aku itu seorang wanita, seorang wanita itu tidak suka menebak-nebak. Mereka maunya diberitahu dengan ucapan, jadi... apakah Kakak mencintai aku?" tanya Leandra seraya menggigit bibir bawahnya.


Dia benar-benar takut jika Leonel akan mengatakan bahwa pria itu tidak mencintai Leandra sama sekali, yang namanya pria pasti membutuhkan hubungan seksualitas.


Terlebih lagi Leonel adalah seorang duda, sudah dapat dipastikan ketika dia menikah dengan Leandra dia merasa senang karena kebutuhan seksualitasnya akan terpenuhi.


Sungguh Leandra takut jika Leonel hanya memanfaatkan dirinya untuk kebutuhan seksualitasnya saja, tidak ada rasa sedikit pun di dalam hatinya untuk dirinya. Leonel tersenyum, lalu dia mengusap pipi Leandra dengan begitu lembut.


"Sebenarnya aku--"

__ADS_1


__ADS_2