Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
109


__ADS_3

Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Liliu, Lucky melerai pelukannya dengan wanita itu. Kemudian, dia bangun dan duduk di tepian bed pasien.


Awalnya Lucky ingin mengikuti apa yang dikatakan oleh tuan Leonard, dia akan berpura-pura menjadi pacar dari Liliu. Akan tetapi, jika dia melakukan hal itu, artinya dia membohongi dirinya dan juga membohongi Liliu.


Lucky berpikir jika dia lebih baik berkata jujur saja, karena jika dia sudah berbohong satu kali, maka dia akan mencari kebohongan lainnya untuk menutupi kebohongan sebelumnya.


"Kenapa kamu malah seakan menghindariku? Apakah aku mengatakan hal yang salah?" tanya Liliu dengan sedih.


Lucky sempat menolehkan wajahnya ke arah Liliu, gadis itu sepertinya sangat terluka ketika dia menjauh dari wanita itu. Hati Lucky semakin tidak tega dibuatnya.


Walaupun pada awalnya dia sempat menyangka jika Liliu sedang bersandiwara, tetapi kini dia bisa melihat dengan jelas dari sorot mata Liliu. Wanita itu tidak sedang berbohong, sepertinya wanita itu benar-benar pernah merasakan trauma yang luar biasa di dalam kehidupannya.


Maka dari itu Liliu ingin melupakan semua kenangan yang dia anggap buruk, dia hanya ingin mengenang masa-masa indah saja di dalam memorinya.


Sepertinya selama ini dia tidak merasa bahagia akan kehidupan yang dia jalani, dia selalu dimanjakan oleh harta. Namun, dia begitu jauh dengan sang ayah.


Bahkan, dia hampir tidak pernah berkomunikasi secara langsung dengan tuan Leonard. Akan tetapi, jika dia menginginkan apa pun tuan Leonard akan dengan cepat mewujudkannya. Karena dia memiliki uang yang banyak.


Terkadang ada orang tua yang tidak sadar, jika yang dibutuhkan oleh anak bukan disuapi oleh uang yang banyak secara terus-menerus. Akan tetapi kasih sayang dan arahan yang baik dan benar dari kedua orang tuanya.


Lucky tersenyum, lalu dia menggenggam tangan Liliu dan mengelus punggung tangan wanita itu dengan ibu jarinya. Liliu langsung membalas senyuman dari pria yang dia anggap sebagai kekasihnya itu.


"Aku mau jujur sama kamu, boleh?" tanya Lucky.


Walaupun Lucky merasa kasihan kepada Liliu, tetapi dia tidak mau berbohong kepada wanita itu. Dia takut akan terjadi hal yang tidak diinginkan ke depannya.


"Ya ampun, Sayang. Kalau mau jujur ya jujur aja. Kenapa harus nanya dulu?" tanya Liliu seraya tersenyum.


Lucky ikut tersenyum, Liliu terlihat semakin manis saat tersenyum seperti itu. Lucky sangat suka melihat senyum wanita itu.


"Sebenarnya, aku bukan kekasih kamu. Bau tubuh aku tentu saja akan tercium berbeda, karena pria yang kamu selalu kamu kejar dan kamu ingin jadikan sebagai kekasih bukanlah aku."


Liliu langsung mengernyitkan dahinya, dia seakan kebingungan dengan apa yang dikatakan oleh Lucky. Padahal dia sangat ingat pernah menghabiskan waktu dengan Lucky sampai tengah malam.


Dia merasa begitu nyaman saat berdekatan dengan pria itu, tetapi dia merasa heran dengan apa yang Lucky katakan.


Hal tersebut membuat Liliu bertanya-tanya, apakah mungkin Lucky sudah merasa bosan kepada dirinya dan apa yang diungkapkan oleh Lucky adalah sebagai kata putus dari pria itu, pikirnya.


"Apakah itu benar? Atau, mungkin saja kamu sudah bosan sama aku?" tanya Liliu dengan sedih.


Lucky dengan cepat menggelengkan kepalanya, dia tidak mau terjadi kesalahpahaman di antara dirinya bersama dengan Liliu.

__ADS_1


"Sebenarnya pria yang kamu kejar adalah tuan Leonel, aku hanya asisten pribadinya." Lucky tersenyum kecut.


Dia ikut bersama atasannya bukan untuk menjalankan drama bersama dengan Liliu, tetapi untuk menemani atasannya berbulan madu dengan istrinya.


"Tapi, aku tidak kenal siapa itu tuan Leonel. Yang ku tahu aku sangat nyaman bersama dengan kamu, bisakah kamu untuk tetap tinggal dan menjadi kekasihku? Kalau perlu, bisakah kita menikah? Aku tidak mau kehilangan pria yang baik seperti kamu," ucap Liliu.


Lucky merasa gamang dengan permintaan dari wanita yang kini berada dihadapannya, rasanya ini begitu sulit. Walaupun Liliu sangat cantik dan juga memesona, tetapi dia tidak bisa memanfaatkan Liliu begitu saja.


Lucky memang menyukai sifat dari Liliu yang sekarang, tetapi dia tidak bisa begitu saja menjadi kekasih wanita itu. Karena tidak ada cinta di dalam hatinya.


"Tapi, Nona. Aku hanya orang biasa, aku takut jika kamu akan malu bersanding denganku," ucap Lucky dengan jujur. "Lagi pula aku tidak mencintai kamu," imbuhnya.


"Aku tidak peduli, sekarang aku tanya sama kamu. Apakah kamu suka saat dekat denganku?" tanya Liliu.


Entah kenapa Liliu merasa tidak peduli saat Lucky mengatakan jika pria itu tidak mencintai dirinya, karena cinta bisa datang jika mereka selalu bersama, pikir Liliu.


"Suka," jawab Lucky tanpa sadar. "Eh? Maksudnya--"


Lucky tersenyum malu seraya menggaruk tengkuk lehernya yang tiba-tiba saja terasa gatal, Liliu langsung tertawa melihat tingkah dari Lucky.


"Aku sangat menyukaimu, bisakah kamu menjadi kekasihku?" tanya Liliu.


Lucky sangatlah manis, rasanya Liliu tidak ingin ditinggalkan begitu saja oleh pria itu. Lucky terlihat kebingungan harus menjawab apa pertanyaan dari Liliu, tetapi tidak lama kemudian dia berkata.


"Kamu tuh banyak nanya? Mau ngga jadi kekasih aku?" tanya Liliu.


"Mau," jawab Lucky cepat.


Liliu langsung tertawa, dia merasa sangat senang karena Lucky mengatakan mau untuk menjadi kekasihnya.


"Oh ya ampun, peluk!" ucap Liliu seraya merentangkan kedua tangannya.


Lucky langsung terkekeh, kemudian dia menarik lembut wanita itu ke dalam pelukannya dan mengelus lembut punggung Liliu.


"Jangan tinggalkan aku, aku tidak peduli pria mana yang dulu aku kejar. Yang aku tahu, saat ini aku merasa begitu nyaman saat dekat dengan kamu."


"Hem, mari kita jalani semuanya dari awal." Lucky mengeratkan pelukannya, setelah 2 tahun tidak pernah berdekatan dengan wanita, pada akhirnya Lucky memiliki kekasih yang sangat cantik.


Walupun dulunya Liliu merupakan wanita yang selalu saja menyebalkan, tetapi saat ini. wanita itu begitu cantik pesonanya yang baru.


Di lain tempat.

__ADS_1


Leonel baru saja pulang bersama dengan Leandra, mereka baru pulang makan malam romantis. Rencana yang kemarin sempat gagal akhirnya kini kesampaian.


Selain mengajak makan malam romantis, Leonel juga memberikan hadiah kalung yang begitu indah kepada Leandra. Kalung berlian limited edition yang khusus pesan dari luar negeri untuk istri tercintanya itu.


Bahkan, Leonel meminta untuk dipasangkan alat pelacak pada kalung yang dia berikan kepada Leandra. Buka tidal ada rasa percaya kepada Leandra, justru ini adalah bentuk perhatiannya kepada istrinya tersebut.


Dia takut akan ada yang mengincar keselamatan Leandra, maka dari itu dia sengaja memberikan kalung itu agar dia bisa memantau ke mana pun perginya istrinya tersebut.


"Terima kasih, Sayang. Aku suka dengan makan malam yang kamu siapkan untuk aku," ucap Leandra seraya memeluk suaminya dengan erat.


"Sama-sama, Sayang. Tapi, aku maunya kamu berterimakasih dengan cara yang lain." Leonel menggendong istrinya dan merebahkan tubuh istrinya tersebut ke atas tempat tidur.


"Jangan mulai lagi, Kakak itu ngga pernah ada puasnya. Aku mau tidur, hari ini sangat melelahkan," ujar Leandra.


"Ya ampun, Sayang. Aku tahu kamu itu sangat lelah, maka dari itu kamu diam dan nikmati saja. Biarkan aku saja yang bekerja, maksud aku yang akan memijat kamu," ralat Leonel.


"Memangnya Kakak bisa memijat tubuh aku?" tanya Leandra.


"Bisa dong, kaya gini." Leonel menurunkan dress yang dipakai oleh istrinya, lalu dia meremat kedua dada Leandra dengan lembut.


"Sayang! Ini bukan memijat, tapi--"


Leandra tidak bisa mengatakan apa pun lagi, karena Leonel langsung membungkam bibir istrinya dengan ciuman lembut penuh cinta.


"Sudah aku bilang kamu diam dan nikmati saja, biarkan aku yang akan memijat tubuh indah kamu." Lagi-lagi tangan Leonel memijat tubuh Leandra, tetapi kali ini bukan dadanya.


Dia memberikan pijatan kecil pada inti tubuh istrinya, hal itu membuat Leandra tidak tahan. Wanita itu kembali mengeluarkan nyanyian syahdu dari bibirnya.


"Ouch, Sayang. Jangan lagi, ini. terlalu--"


Leandra tidak bisa berkata-kata lagi, karena Leonel sudah mulai memasuki inti tubuh istrinya kembali dengan tempo lambat tapi terasa sangat nikmat.


"Nikmatilah, Sayang."


Leandra tidak mengatakan apa pun lagi, dia hanya mengerang setiap kali gelombang kenikmatan datang menggulung dirinya ke dalam indahnya surga duniawi.


Dia seolah hilang kesadaran, padahal sudah dari awal dia katakan jika dirinya tidak mau melakukan itu lagi. Namun, pada kenyataannya dia tidak bisa menolak suguhan kenikmatan dari Leonel.


"Emph! Cepetin, Yang." Leandra meracau karena merasa jika Leonel begitu lambat dalam bergerak, padahal awalnya dia sendiri yang berkata tidak mau.


"Seperti keinginan kamu, Sayang." Leonel menjawab dengan wajahnya yang sudah memerah, karena dia kini sudah mulai dikuasai oleh hasrat.

__ADS_1


"Aduh! Sayang, jangan seperti itu!" keluh Leandra kala Leonel membalikkan tubuhnya dan langsung memasuki istrinya dengan gerakan cepat.


"Maaf," ucap Leonel tanpa menghentikan apa yang sedang dia lakukan.


__ADS_2