
"Aih! Percaya diri sekali anda, tapi itu memang benar. Aku pasti akan terus menatap wajah cantik istriku ini, istri cantik yang selalu membuat aku---"
Leandra yang takut suaminya akan mengatakan hal yang tidak tidak, langsung membekap mulut suaminya dengan tangan kanannya.
"Membuat aku apa?" tanya Leandra penasaran.
Leonel menurunkan tangan Leandra dari bibirnya, dia tersenyum dengan sangat manis dan memandang wajah istrinya dengan tatapan menggoda.
"Kasih tau ngga, ya?" goda Leonel seraya menggelitiki perut istrinya.
Leandra langsung menggoyangkan badannya ke kiri dan ke kanan, bukan karena ingin bertingkah. Akan tetapi, dia merasa kegelian karena ulah dari suaminya.
"Kakak, iih!" pekik Leandra. "Jangan, Kak. Nanti aku pipis di celana!" pekik Leandra.
Dia merasa jika perutnya begitu sakit, karena terus saja tertawa akibat gelitikan tangan Leonel pada perutnya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, Leonel malah sengaja menggoda istri kecilnya tersebut.
"Eh? Jangan pipis di celana, nanti biar aku aja yang pipisin kamu." Leonel langsung menghentikan kelitikannya.
Saat Leandra mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, dia langsung memelototkan matanya karena dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.
Berbeda dengan Lucky, pria lajang itu sampai tersedak ludahnya sendiri. Dia bahkan tanpa banyak bicara langsung turun dari mobil dan segera masuk ke dalam Resto.
Melihat kepergian Lucky yang seakan menghindari kedua insan yang sedang dimabuk asmara itu, Leandra dan juga Leonel malah saling pandang. Tidak lama kemudian, keduanya tertawa karena merasa lucu.
"Lain kali Kakak tidak boleh berkata seperti itu lagi di depan orang lain, itu adalah hal yang tidak baik." Leandra melayangkan protesnya.
Urusan ranjang adalah rahasia, bukan hal yang perlu diumbar di depan orang lain. Mau sehangat apa pun hubungan mereka di atas ranjang, tetap saja itu bukan hal yang pantas untuk dibicarakan di depan orang lain.
"Maaf, ayo kita masuk. Takutnya orangnya sudah datang," ajak Leonel.
Dia merasa tidak perlu membahas hal itu lagi, dia juga merasa tidak sengaja mengatakan hal itu. Karena dia lupa jika di sana masih ada Lucky.
"Oke," jawab Leandra.
Setelah turun dari dalam mobil, Leandra dan juga Leonel langsung masuk ke dalam Resto. Lucky yang sudah tiba terlebih dahulu langsung melambaikan tangannya.
Hal itu membuat Leandra dan juga Leonel bisa langsung menghampiri Lucky dan juga klien mereka, klien wanita yang terlihat begitu cantik dan juga seksi.
"Selamat sore Tuan Leon, terima kasih sudah datang untuk membicarakan masalah kerja sama antara perusahaan Harold dan juga perusahaan Wijaya," ucap wanita itu seraya mengulurkan tangannya.
Leonel tersenyum lalu menerima uluran tangan wanita itu, Leandra yang melihat akan hal itu merasa cemburu. Karena wanita itu tidak kunjung melepaskan tautan tangan mereka.
"Ehm!"
Leandra sengaja berdehem agar wanita itu melepaskan tangannya dari tangan suaminya, Leonel sempat menolehkan wajahnya ke arah Leandra.
__ADS_1
Dia tersenyum kala melihat raut kecemburuan di wajah istrinya, dengan cepat dia menarik tangannya dan mengajak Leandra untuk duduk bersama.
"Duduk yang anteng di samping aku, akunya mau kerja dulu sama Nona Lulu." Leonel langsung menautkan tangannya pada tangan istrinya.
Leandra tersenyum mendapatkan perlakuan seperti itu dari Leonel, itu artinya dia tidak perlu khawatir karena suaminya begitu memanjakan dirinya di depan wanita lain.
Berbeda dengan Lulu, wanita itu menatap Leandra dengan tatapan tidak suka. Kemudian, dia dengan cepat bertanya.
"Wanita ini siapa?" tanya Lulu dengan raut wajah tidak suka.
Leonel mengusap-usap lengan Leandra dengan begitu lembut, dia tersenyum hangat lalu menjawab pertanyaan dari Lulu.
"Ini istri saya, Nona Lulu. Kami mau sekalian berlibur, jadi... bisakah kita mulai meetingnya? Biar saya bisa segera pergi," ucap Leonel.
Sengaja dia mengatakan hal itu agar Lulu tidak berharap lebih kepada dirinya, karena memang beberapa hari yang lalu Lulu sempat beberapa kali mengirimkan pesan chat kepada dirinya.
Wanita itu mengajak dirinya untuk berlibur bersama, Leonel hanya tertawa mendengar ajakan dari perempuan itu.
"Oh, boleh," jawab Lulu dengan kesal. Wajahnya yang tadi sumringah kini nampak berubah muram.
Akhirnya meeting pun dimulai, selama meeting berlangsung mulut dan mata Leonel memang fokus pada pekerjaan. Namun, tangan pria itu terus saja mengelusi paha Leandra.
Sesekali tangan Leonel akan merangkul pundak istrinya, lalu mengusap lengan sampai ke telapak tangannya. Bahkan, tanpa ragu dia akan mengecup punggung tangan istrinya.
Leandra hanya diam seraya memperhatikan wajah Lulu, wanita itu terlihat begitu kesal. Leandra paham jika wanita itu sama seperti Liliu, sama-sama menginginkan Leonel.
Satu jam kemudian meeting pun sudah selesai, tanpa banyak bicara Leonel langsung mengajak Leandra untuk pergi ke tempat yang sudah dia persiapkan.
Sebuah penginapan di dekat pegunungan, suasananya sangat asri, tenang, hijau dan tempatnya cocok untuk pengantin baru.
"Selamat datang di tempat persinggahan kita untuk sementara," ucap Leonel ketika membuka pintu penginapan yang sudah dia pesan.
"Waah, tempatnya nyaman banget, Kak." Leandra memandang kagum pada dekorasi kamar yang terbuat dari kayu jati itu.
"Hem! Sangat nyaman, apalagi berduaan bersama kamu,'' ucap Leonel seraya memeluk istrinya dari belakang.
"Kamu juga harus lihat pemandangan di luar, sangat indah dan pasti kamu suka," imbuh Leonel.
Leonel menuntun Leandra untuk menatap ke luar jendela, mata Leandra langsung berbinar. Dia begitu senang kala menatap pepohonan yang begitu hijau.
Bahkan, tidak jauh dari sana dia melihat sungai dengan air yang begitu jernih. Leandra dengan cepat membuka jendela kamarnya, senyum di bibirnya nampak mengembang kala mendengar kicauan burung yang bersahutan.
"Kakak! Ini sangat indah, aku suka. Besok pagi aku mau ke sungai, airnya sangat jernih. Kayaknya berenang di sungai seger deh," pinta Leandra.
Leonel tersenyum kecut, jika saja dia tidak memiliki alergi dingin, sudah pasti dia ingin menemani istrinya untuk bermain di sungai.
Sayangnya, hal itu hanya jadi keinginan saja. Karena dia bisa sesak napas kalau terlalu lama berada di dalam air, sungguh miris, pikirnya.
__ADS_1
"Hem, pasti seger. Tapi aku alergi dingin, Yang. Ngga bisa nyebur ke sungai, paling aku temenin kamu aja,'' jawab Leonel bijak.
Walaupun Leonel memiliki alergi dingin, tetapi dia tidak mau membiarkan Leandra pergi sendirian ke sungai, karena itu akan sangat berbahaya.
"Oooowh! So sweet," ucap Leandra seraya membalikkan tubuhnya lalu berjinjit yang mengecup bibir suaminya.
Semakin hari, dia semakin menyukai suaminya itu. Bahkan, rasanya Leandra ingin terus berada di samping suaminya tersebut.
"Nakal! Karena di sini sangat dingin, aku mau diangetin. Leonel mengangkat tubuh Leandra dan membawanya ke atas tempat tidur.
Leandra menyangka jika suaminya kedinginan dan ingin dihangatkan, dia pun teringat akan minyak hangat yang sudah dia bawa dari kota.
"Sebentar, aku ada minyak hangat. Tadi disuruh bawa sama Ibu, kamu mau aku balurin minyak hangat?" tanya Leandra.
"No! Aku maunya diangetin sama kamu aja, lebih enak dan panas."
Tanpa menunggu perkataan dari istrinya, Leonel langsung membungkam mulut istrinya dengan ciuman yang begitu mesra, sedangkan tangannya begitu sibuk membuka pakaian yang dikenakan oleh Leandra.
"Tunggu sebentar, aku haus!" rengek Leandra setelah tautan bibir mereka terlepas.
Leonel yang sudah tidak sabar nampak kecewa, tetapi dia tetap menuruti apa keinginan dari istrinya tersebut.
"Iya, aku ambilkan air dulu. Tapi jangan kabur, nanti aku minta jatahnya jadi 3 kali," ancam Leonel.
"Iya, suamiku," jawab Leandra seraya terkekeh.
Leonel bangun dan mengambilkan air minum untuk Leandra, sedangkan wanita itu langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya.
Di lain tempat.
Setelah keluar dari Resto, Lucky terlihat kebingungan. Haruskah dia pergi ke kamar penginapan yang sudah dipesankan oleh Leonel, pikirnya.
Dia memang sangat lelah, tapi dia juga merasa kesal karena Leonel memesankan kamar khusus pasangan untuk dirinya. Leonel seakan meledek dirinya.
"Dasar atasan sialan! Sebaiknya aku jalan-jalan sore saja," ucap Lucky dengan lesu.
Akhirnya Lucky memutuskan untuk pergi sebuah Kafe yang ada di pinggir sawah, dia berpikir akan merasa lebih tenang jika bersantai seraya menatap hamparan sawah dan kebun sayuran.
"Kopi hitam satu," pesan Lucky.
Hanya kopi yang ingin dia nikmati, karena perutnya terasa belum lapar. Setelah memesan kopi, dia memilih untuk duduk di depan Kafe. Karena di sana dia bisa langsung menatap hamparan sawah yang begitu hijau.
"Lucky, sedang apa kamu sendirian di sini?"
Lucky mengernyitkan dahinya, rasanya suara itu adalah suara yang dulu selalu ingin dia dengar. Dengan cepat Lucky menolehkan wajahnya ke arah suara, wajahnya langsung berubah lebih muram ketika menatap wajah orang itu.
"Aku sedang berlibur, kamu---''
__ADS_1